The Hell

The Hell
Sebuah kebenaran



Hari itu senja mulai kehilangan cahayanya, rumah tua di pertengahan komplek terasa hening di banding rumah-rumah lain.


Tak!, suara saklar lampu di hidupkan, dalam sekejap ruangan gelap itu menjadi terang benderang, ayah Amira berjalan keluar dari kamar setelah menyalakan lampu kamar, meninggalkan istrinya yang terbujur kaku di bawah selimut.


Tubuh wanita paruh baya itu menggigil di bawah selimut, sayup dia mendengar suara televisi di nyalakan di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga itu.


Wanita itu menatap jam dinding yang menunjuk pukul 6:30 sore, dengan tergopoh-gopoh ibu tiri Amira itu bangun dari kasurnya dan berjalan perlahan menuju kamar mandi, dia berusaha mengambil wudhu untuk melaksanakan ibadahnya. Di depan cermin kamar mandi, ibu tiri Amira menatap wajahnya yang di penuhi lebam. Dan saat dia membasuh lengannya, pergelangan tangannya terlihat membiru seperti bekas cengkraman.


Perlahan wanita itu berjalan kembali menuju kamarnya, setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Sembari berjalan, dia menatap suaminya yang duduk di kursi depan tv, sang suami sepertinya tak berniat untuk menoleh ke arahnya dan hanya fokus ke layar tv.


Dua jam berlalu, ibu tiri Amira membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah menutup pintu kamar, dia jelas tahu kebiasaan suaminya yang akan tidur di sofa ruang tengah setiap kali mereka dalam ketegangan setelah bertengkar.


Uhuk!, suara batuk yang cukup keras dari luar sudah cukup membuat tubuh wanita paruh baya itu tersentak kaget. Semenjak Amira keluar dari rumah, ibu tiri Amira menjadi satu-satunya target pelampiasan emosi ayah Amira, dan tentu saja secara otomatis penderitaan ibu tiri Amira menjadi dua kali lipat.


Wanita itu kemudian terduduk dari tidurnya, menatap laci dari meja kecil yang berada di samping ranjangnya. Sekilas suasana kamar itu sangat sunyi, namun cukup bising di dalam pikiran wanita itu.


Wanita itu menjelajah ke masa lalu, dia mengingat awal mula dirinya bertemu dengan duda di tinggal mati itu, dia di perkenalkan tetangganya. Sesama duda dan janda, terlebih sesama orang tua tunggal, wanita bernama Lia itu cenderung lebih tenang dan dewasa dalam menanggapi permasalahan keluarga. Saat pertama kali masuk ke keluarga itu, Lia mendapatkan tatapan tajam dari anak sang suami baru, namun Lia menanggapinya dengan senyuman dan mencoba paham terhadap penolakan dari anak remaja itu.


Satu bulan berjalan, sang anak sambung pernah sekali memintanya untuk keluar dan mencari suami baru saja saat ayahnya sedang berbisnis di luar kota. Namun Lia hanya menelan perasaan pahit itu, dan berpikir lambat laun anak sambungnya akan menerimanya.


Sekitar satu bulan setengah bahtera rumah tangga berjalan, Lia dengan syok menyaksikan anak sambungnya melindungi kepalanya sembari berguling-guling di lantai saat ayahnya tanpa henti memukulinya hanya karena anak perempuannya itu pulang sedikit terlambat.


Pada awalnya dia (ibu tiri Amira) akan mencoba menengahi dan memohon agar sang suami tak perlu terlalu keras kepada anak perempuannya, namun sering kali dirinya malah mendapatkan perlakuan yang sama pada akhirnya. Dan pada akhirnya Lia menitipkan anak perempuan kandungnya agar tinggal di rumah mantan suaminya yang adalah ayah kandung anaknya itu, karena takut mengalami penyiksaan dari suami barunya.


Ada kalanya Lia memahami emosi suaminya yang memiliki harga diri tinggi, namun merasa sang suami benar-benar buruk dalam mengelola emosi.


Pada beberapa waktu Lia beberapa kali menerima permintaan dari Amira agar dirinya meninggalkan ayah Amira yang merupakan suaminya itu, dengan kata lain meminta ibu tirinya agar bercerai dan pergi meninggalkan ayahnya. Sangat sulit rasanya untuk mendekati Amira dan mengakrabkan diri, walau begitu anak sambungnya itu tak menyusahkan karena cukup mandiri mengurus dirinya sendiri, dan sebenarnya cenderung sopan dan menghargai dirinya sebagai ibu sambung. Jadi Lia seringkali bingung kenapa anak sambungnya itu tak kunjung menerimanya sebagai ibu dan terus meminta dirinya untuk meninggalkan sang ayah.


“Kalau sebagai gantinya ibu mau keluar dari sana, mungkin aku bisa tinggal di rumah untuk merawat ayah”, tiba-tiba ucapan anak sambungnya terakhir kali terngiang jelas di telinga Lia, sambil gemetar tangannya membuka laci yang sejak tadi dia tatap sembari mengingat-ingat awal mula penderitaannya selama ini.


“Ah, hahaha”, wanita paruh baya itu tertawa-tawa sembari meremas rambutnya sendiri setelah melihat sebungkus paket kecil yang belum dia buka.


“Ah jadi begitu Amira?, kamu terus memintaku meninggalkan ayahmu karena tahu aku akan mengalami penderitaan seperti ini”, gumaman wanita itu tak begitu jelas.


“Tapi kalau aku bercerai dan meninggalkan lelaki ini, sebagai gantinya kamu akan kembali ke neraka ini?”, wanita itu jelas frustasi. Entah karena sudah terlalu sering melihat anak sambungnya tersiksa, dirinya tak bisa mengabaikan hal itu dan pergi dari rumah itu tanpa memikirkan akibatnya untuk sang anak sambung.


Pagi hari datang, ibu tiri Amira keluar dari kamarnya dengan mata merah dan wajah bonyok yang lebih kusam di banding kemarin. Di ruang tengah sang suami masih mendengkur keras di atas sofa.


Pagi itu seperti biasa, Ibu tiri Amira bergelut di dapur sembari beberes di beberapa sudut rumah.


“Buatkan aku kopi!”, Ayah Amira menengok di pintu dapur.


“Ya”, Jawab sang istri seolah tak terjadi apapun kemarin malam, padahal wajahnya benar-benar berantakan.


Setelah mengaduk kopi hitam di gelas bening, Ibu tiri Amira berjalan menuju meja makan, dimana di sana sang suami duduk menikmati gorengan.


Lia meletakan gelas kopi itu dengan tangan yang gemetaran, sang suami menatap tangan gemetaran sang istri dengan pergelangan tangan yang menggelap.


“Kemarin, maafkan aku”, ucap ayah Amira sembari mengangkat gelas yang mengepulkan asap itu.


“Tidak apa, jangan meminta maaf”, ucap Lia terlihat ragu.


Mata ibu tiri Amira itu terus menatap lekat ke gelas kopi yang sedang di minum ayah Amira.


“Kenapa?”, Ayah Amira yang selesai meneguk seperempat isi dari gelas itu bertanya dengan sedikit bingung karena istrinya itu tiba-tiba melarangnya meminta maaf, padahal selama ini biasanya jika dirinya minta maaf wanita itu akan tersenyum dengan bahagia karena menerima permintaan maaf dari dirinya.


“Maafkan aku mas”, ayah Amira semakin bingung karena sang istri terlihat berkaca-kaca, namun kebingungan itu berganti menjadi rasa takut karena tiba-tiba dirinya merasakan sesak nafas dan kepala keleyengan.


Lia hanya berdiri menatap lelaki itu dengan tubuh gemetaran dan air mata bercucuran.


“Ma..af mas”, wanita itu berlutut dengan tingkah bingung melihat suaminya menahan sakit, sekelebat rasa sesal menghantuinya.


“Buu?, ibuuu?”, suara ketukan pintu terdengar jelas dari pintu depan.


Namun karena tak ada jawaban, orang tersebut terdengar berlari mengitari rumah menuju pintu belakang.


“Trakk!”, suara selot dan gembok di buka, Nabila terlihat panik sembari berlari ke arah dapur dan menengok ke setiap ruangan.


“Bu?, ibu?”, Nabila berteriak beberapa kali memanggil ibunya.


Nabila terdiam syok saat mendapati ayahs ambungnya tergeletak di ruang makan dengan wajah yang benar-benar pucat.


“B..bu?”, mencoba untuk tenang Nabila kembali mencari keberadaan ibunya. Nabila mendapati ibunya terduduk di pojokan kamar sambil gemetaran.


“Na.. nabila, bagaimana ini?”, ibu Nabila yang seperti nya sudah tak memiliki energi untuk menangis terlihat pucat sembari menggenggam ponsel dan mencubit-cubit bibirnya.


“Bu tenanglah, tenang dulu”, Nabila bergegas mengambil gelas berisi air yang dia lihat di atas meja kecil di samping ranjang tidur.


“Tenang dulu dan ceritakan kepadaku dengan benar”,Nabila menyodorkan air itu sembari mengambil ponsel sang ibu dan memeriksa ponsel itu.


Saat ponsel di hidupkan terlihat sang ibu hendak mengirimkan pesan chat berupa permintaan maaf dan pengakuan dosa karena telah membunuh ayah Amira kepada Amira.


“Tidak ibu jangan lakukan ini”, Nabila yang sedikit jelas tahu apa yang terjadi setelah menerima panggilan singkat dari sang ibu segera menghapus chat yang hampir di kirim itu.


“Dengar ibu, tak ada yang membunuhnya, dia bunuh diri karena emosi yang tidak stabil, dan kalaupun ada yang membunuhnya itu adalah aku”, Nabila yang sebenarnya masih begitu syok mencoba berpikir dengan benar.


“Itu tidak mungkin kamu..”, Sang ibu yang terlihat sudah kehabisan tenaga mencoba melarang anaknya untuk mengorbankan diri.


“Ibu racun apa itu?, dari mana ibu mendapatkannya?”, Nabila bertanya sembari mengatur nafasnya.


“S.. sianida, ibu beli lewat online shop”, Lia menjawab pertanyaan sang anak dengan intonasi yang lemah.


“O.. Online?, akun mana?”, Nabila bertanya kembali memastikan, karena setahu dirinya sang ibu tak memiliki akun online shop, karena ponselnya hanya memuat aplikasi chat dan satu media sosial saja.


“Lewat ponsel lama ayah Amira”, ibu kandung Nabila itu menjawab.


“Bagus, mari kita anggap bahwa kita tak tahu kalau dia memesannya.


Dengan terburu-buru Nabila kembali ke ruang makan dan memeriksa leher ayah tirinya, tentu saja sudah tak ada denyutan lemah sekalipun.


“Dimana ibu buang bungkus dan sisanya?”, Nabila berjalan melangkahi mayan yang kaku itu menuju dapur. Dirinya mengorek-ngorek tong sampah namun tak ada apapun.


“I..ini”, Lia membukakan pintu lemari kecil di dapur, dan terdapat bungkusan paket serta sebuah botol kecil berwarna putih berbahan plastik.


Nabila menatap sang ibu yang berdiri lemah di bawah sinar lampu, jelas begitu banyak bekas pukulan di sekujur tubuhnya. Sembari menahan airmata karena rasa sedih atas apa yang menimpa sang ibu, Nabila mengambil sarung tangan plastik yang biasa di gunakan untuk memasak, dan memasangkannya ke kedua tangannya. Nabila mengambil bungkusan dan wadah sianida itu dan tanpa ragu menempelkannya ke genggaman tangan kaku yang tubuhnya terbujur dengan kursi yang masih pada posisinya, berharap akan ada sidik jari yang tertempel di sana. Setelah itu meletakan benda itu di atas meja di samping kopi yang mulai dingin.


“Bu dengar, ibu tak keluar kamar hingga agak siang karena tubuh ibu masih sakit setelah di pukuli, dan saat keluar kamar ibu sudah mendapati semua ini, seperti ini”, Nabila menerangkan dengan menggebu-gebu sembari berjalan ke dapur.


Nabila mengemasi makanan yang sudah siap di dalam ketel dan panci, dan kemudian memasukannya ke kulkas, dan membiarkan ketel dan panci kotor di tempat cucian piring.


“T..tapi Nabila…”, “Bu dengarkan aku, kalau ibu tak mau aku ikut di tahan karena sudah mencoba membantu ibu memanipulasi bukti, tolong dengarkan aku dan berusahalah untuk tidak di curigai. Dengan mata sembab dan keringat dingin yang menjalar, Nabila mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menghela nafas mempersiapkan diri untuk memanggil ambulan alih-alih polisi.