
Arthur membuka matanya pagi itu, walau sebenarnya dirinya belum tidur cukup malam itu, namun alarm tubuhnya membuatnya terbangun di jam lima pagi secara otomatis, jam di mana Arthur memang terbiasa bangun.
Beberapa saat Arthur melamun memperhatikan pundak ramping Amira yang tidur membelakanginya, suara nafas yang cukup dalam berulang kali terdengar seirama dengan kembang-kempisnya tubuh Amira bergerak samar. Senyuman tiba-tiba merekah di mulut Arthur, sembari lengannya menggapai ujung rambut Amira, Arthur hampir tertawa menertawakan dirinya sendiri.
“Jika memang semudah ini, kenapa sangat sulit sekali selama ini?”, Arthur bergumam pelan sembari tangannya mempermainkan ujung rambut Amira.
“Haah”, Arthur membuang nafasnya disaat tiba-tiba ingatannya tentang Amira yang berusaha keluar dari rumahnya dulu kembali. Memang bukan hal baru untuk sepasang kekasih untuk merenggang disaat konflik terjadi, dan semuanya akan baik-baik saja disaat kesalahpahaman atau letak masalahnya teratasi. Namun kejadian dimana Amira sampai sebegitunya memaksa keluar dari rumah dulu meninggalkan rasa sakit dan trauma yang cukup serius bagi Arthur tanpa ada yang tahu hal itu. Bahkan mungkin Amira sebagai pihak terkait pun tak mengetahui kalau konflik yang telah berlalu itu melekat di ingatan Arthur sebagai rasa sakit dan rasa takut secara bersamaan.
Arthur yang menyadari langit biru padam di luar mulai semakin terang, bangkit dari tidurnya lalu keluar dengan tenang ke luar kamar dengan tubuh berbalut handuk.
“Orang ini benar-benar menyusahkan!”, suara samar terdengar dari lantai satu, Arthur berjalan menuruni tangga sembari mengancingkan lengan kemejanya, rambut yang masih belum kering sempurna melambai-lambai bersamaan dengan melangkahnya kaki Arthur menuruni tangga.
“Hahaha, kenapa juga orang-orang itu mencari uang dengan cara menempel seperti parasit”, Bima yang menanggapi ucapan Heru sebelumnya menatap ke arah tangga saat menyadari Arthur sedang menuruni tangga.
“Waah, lihat wajah yang tiba-tiba cerah hanya dalam semalam itu!”, Farhan mengejek Arthur.
“Aku tak tahu kalau kamu memiliki sirat wajah yang sangat jelas seperti itu”, Heru tersenyum saat menyadari hal baru dari Arthur.
“Hanya pengecualian, semuanya mengenai Amira selalu menjadi berlebihan bagi Arthur kita ini”, Bima tersenyum lepas.
“Kudengar istrimu melahirkan tadi malam?”, Arthur tersenyum menatap Bima.
“Yaa, mereka berdua sudah datang melihat anakku, tapi kamu sepertinya baru membaca chat grup sejam yang lalu”, Bima menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Maafkan aku”, Arthur menepuk pundak Bima beberapa kali.
“Ayo kesana nanti sore, apa aku boleh membawa Amira?”, Arthur duduk di salah satu kursi kosong sambil menatap beberapa lembar kertas yang menyebar di atas meja.
“Amira?, kamu benar-benar sudah baikan?”, Bima semakin tersenyum lebar, melihat betapa mudahnya Bima tersenyum lebar pagi itu, memperlihatkan begitu bersyukurnya dia atas kelahiran anak pertamanya.
“Hmm, ya”, Arthur mengambil selembar kertas yang menarik baginya.
“Padahal perusahaan masih belum aman, apa aku salah?”, Bima menatap Arthur penasaran.
“Yah, aku mengubah rencana”, Arthur tersenyum lebar tanpa menjelaskan lebih dalam tentang ucapannya itu.
“Ini, kenapa orang ini terus ikut campur?, siapa sebenarnya dia?”, Arthur menyimpan kertas yang dia pegang sebelumnya ke tengah-tengah meja.
“Nah, dia adalah olah yang paling membuatku lelah akhir-akhir ini”, Heru memukul-mukul kan ujung bungkus rokok di tangannya.
“Dia mengaku-ngaku sebagai orang dari pemerintahan”, Heru melanjutkan penjelasannya sembari menarik sebatang rokok dari bungkusnya itu.
“Lalu?”, Arthur mengerutkan keningnya, bersiap menerima laporan dan pembahasan serius mengenai pekerjaan pagi itu.
Sementara itu, Amira terbangun dari tidurnya, mungkin karena silau mentari menyelinap dan berhasil menggapai wajahnya.
“Hmmm”, Amira yang masih belum bisa membuka matanya dengan lebar tiba-tiba mengerutkan kening, bersamaan dengan tangan yang mencoba membuka pintu menuju tangga yang ternyata tak bisa di buka.
“Apa dia lupa?”, Amira menggaruk kepalanya pelan sembari melirik ke arah tirai yang masih tertutup.
“Sraakk!”, tirai terbuka lebar karena ulah tangan Amira, suasana di luar masih terlihat berembun walau tak bisa Amira rasakan dari dalam, matahari masih belum sepenuhnya mengambil alih pagi itu.
“Tok,tok,tok”, dengan tenang amira mengetuk pintu itu beberapa kali.
“Ada orang?, Arthur !, aku harus keluar kau tahu”, Amira mendengus setelah ucapan itu keluar namun tak ada jawaban.
“Brakkk!, braakk!”, Amira memperkuat pukulannya pada pintu berharap ada seseorang yang akan merespon.
"Halooo, ada orang?, aku perlu ke luar!", Amira berteriak sekeras tangannya memukul pintu.
“Haahhh”, Amira yang merasa lelah dengan hal itu berjalan menuju dapur lalu meneguk segelas air putih, beberapa saat Amira melamun tanpa tujuan, memperhatikan sekitar dan hanya itu hingga kaca-kaca lebar yang menyalurkan cahaya dari luar mulai menghangat.
Samar terdengar suara beberapa kendaraan menyala hampir bersamaan, sepertinya itu adalah mobil atau motor, tanpa berpikir panjang Amira berjalan mengintip dari kaca lebar itu. Sekitar tiga motor terlihat melewati jalan yang berada di balik pagar yang cukup tinggi, dan yang terakhir mobil rubicon hitam yang Amira kenali melintas setelah beberapa saat.
“Hahh, yang benar saja”, Amira yang merasa percuma untuk teriak saat itu memutuskan untuk mengurus diri, mandi dan berganti baju lalu sarapan dalam keheningan, menahan rasa jengkel yang di pendamnya.
Sementara itu, siang hari di kantor Tya memandangi ponselnya yang sedang melakukan panggilan ke nomor Amira, namun nomornya tak aktif. Tya kemudian keluar dari halaman panggilan membuka ruang obrolan bersama sepupunya Galih.
“Amira masih tak bisa di hubungi, bagaimana ini?”, chat dari galih pagi itu terpampang di layar ponsel Tya.
“Biar kucoba hubungi lagi, masih ada waktu sampai besok bukan?”, balasan dari Tya pagi tadi sepertinya sudah di baca oleh sepupunya itu.
“Bagai mana Tya?, ada kabar dari Amira?”, pesan baru dari Galih siang itu menyita perhatian Tya dari makan siangnya
“Tak ada, masih belum bisa di hubungi. Kalau sampai besok tak bisa, kita bilang Amira sedang sakit saja ke bibi, dan pertunangan akan kita lakukan setelah operasi”, Tya mengetik panjang lebar.
“Kalau melihat kesan pertama ku kepada Amira, kupikir sekarang aku malah khawatir dari pada merasa di khianati. Apa dia baik-baik saja?”, pesan balasan dari Galih itu membuat Tya mengerutkan dahi.
“Haah”, lenguhan panjang Tya hari itu menggambarkan perasaan yang mirip dengan apa yang di ucapkan Galih. Tya sadar betul selama beberapa bulan dirinya mengenal Amira, dia tak berpikir bahwa Amira akan kabur ataupun tak peduli dengan apa yang sudah dia mulai. Tapi walau begitu waktu beberapa bulan itu terlalu singkat untuk mempercayai tabiat seseorang yang sebenarnya, karena hal itulah Tya sebenarnya memang sudah menyiapkan diri kalau saja Amira tiba-tiba ingin berhenti membantunya ataupun hilang tanpa kabar.
“Drrrtt”, panggilan dari bu Jesi membuyarkan lamunan Tya.
“Ya bu?”, Tya dengan cepat menjawab panggilan dari atasannya itu.
“Tya kamu dimana?”, tanya bu Jesi.
“Di kantin bu”, Tya menatap makanan di piringnya yang baru di makan setengahnya
“Ohh, setelah selesai makan bisa mampir ke ruangan pak Farhan?, sebaiknya tak perlu menunggu sampai jam istirahat habis, sepertinya ada masalah penting”, terang bu Jesi.
“Masalah apa bu?”, Tya menatap Rudi yang masih asik dengan game di ponselnya sejak tadi sambil duduk berhadapan di satu meja dengan Tya.
“Ibu juga kurang tahu, apa kamu melakukan kesalahan atau sebagainya?”, tanya bu jesi.
“Hmm, entah, saya rasa tidak”, Tya mencoba mengingat-ingat apa kiranya yang bisa membuatnya bisa di panggil karena kesalahan, namun Tya merasa dirinya sudah sangat berhati-hati dalam pekerjaan ataupun hubungan sosial di tempat kerjanya.
“Yasudah , pokoknya datanglah ke kantor pak Farhan sehabis makan”, bu Jesi mengakhiri panggilannya dengan suara mulut yang penuh, sepertinya dirinyapun sedang makan siang entah dimana.
"Hah, apa mungkin aku ketahuan?", Tya memijat kepalanya yang terasa pening sambil bergumam sendirian.