The Hell

The Hell
Rumah Utama



“Ya, kami akan langsung ke rumah utama, baik..”, wanita paruh baya yang duduk di samping Amira sibuk dengan ponselnya, entah berbicara dengan siapa.


“B.. bu, siapa itu?”, Amira berbicara setengah berbisik, namun wanita paruh baya itu terus fokus pada panggilan di ponselnya dan mengabaikan Amira.


Dalam beberapa saat Amira membayangkan dirinya merebut ponsel itu lalu berteriak mengumpat kepada Arthur yang dia yakini sedang mengobrol dengan wanita itu melalui ponsel.


“Haah”, Amira menutupkan matanya sambil bersandar di sandaran jok mobil, pikiran konyolnya beberapa saat yang lalu malah membuat Amira semakin lelah.


“Kita mau kemana?, saya pikir saya perlu ke suatu tempat, bisakah anda menurunkan saya di depan?”, Amira berbicara sembari menatap tiga orang lain yang berada di mobil itu, dua orang lelaki di depan (termasuk yang menyetir mobil), lalu seorang lain yang adalah wanita paruh baya yang duduk di samping Amira.


“Oh, mau kemana bu?, apa itu mendesak?”, lelaki yang sebenarnya lebih tua dari Amira itu berbicara dengan sopan sambil menatap melihat Amira.


“Hmmm, ya ini cukup mendesak, saya perlu ke suatu tempat sendirian”, Amira menatap lelaki yang duduk di samping supir itu dengan penuh harap. Sementara itu wanita paruh baya di samping Amira masih sibuk dengan ponselnya terlihat beberapa kali mengganti panggilan ke beberapa orang.


“Mmmm, anda bisa mengatakan itu ke pak Arthur nanti, ini tak akan lama untuk sampai ke rumah utama”, ucap lelaki itu ragu.


“emm, ya”, Amira menutup mulutnya segera setelah mendapat penolakan.


Kini dia yakin sepenuhnya, kalau hari ini bukanlah tak sengaja dirinya terkunci di rumah itu karena Arthur lupa, tapi sepertinya memang sengaja, Arthur tak membiarkan dirinya keluar seenaknya. Amira menekuk wajahnya karena merasa tak nyaman dengan apa yang dilakukan Arthur. Jika dua hari pengurungan Amira bisa memahaminya dan mungkin lebih ke bersyukur karena menunjukkan kecemburuan Arthur dengan jelas, satu hari pengurungan terakhir hari itu, membuat Amira agak kecewa dengan sikap Arthur yang tak bisa dia mengerti.


Amira melihat mobil memasuki kawasan rumah yang cukup besar, tampilan rumah yang simple dan terasa modern memang membuat Amira merasakan sedikit kemiripan dengan rumah Arthur dulu. Saat mobil melewati gerbang, Amira melihat mobil yang pagi tadi di kendarai Arthur sudah terparkir sembarang di depan rumah, dengan Arthur yang berdiri di sampingnya, terlihat melihat ke arah mobil yang Amira tumpangi dengan serius.


“Amira!”, Arthur berjalan cukup cepat, sampai Amira bahkan tak sempat membuka pintu mobil yang baru saja berhenti, karena Arthur sudah mengetuk kaca mobil supir, lalu membuka pintu belakang, dimana disisi tersebut Amira duduk.


“Amira kamu baik-baik saja?”, Amira yang refleks keluar dari mobil karena pintunya sudah terbuka, melihat Arthur yang memasang wajah khawatir.


“Kamu tidak terluka kan?”, Arthur memegangi kedua pundak Amira, melihat seluruh tubuh Amira, memastikan tak ada lecet di sana.


“Pak, saya langsung ke dalam untuk menyiapkan kamar”, ucap wanita paruh baya yang tadi duduk bersama Amira di dalam mobil, memecah kepanikan Arthur.


“Ah, ya”, Arthur menjawab sembari kemudian menarik pelan lengan Amira.


Mobil yang tadi membawa Amira ke rumah itu melesat pergi ke arah belakang rumah, melewati taman-taman sederhana yang hijau, sedangkan di depan rumah, Arthur menatap Amira, bertanya-tanya kenapa Amira membatu menolak untuk di bawa oleh tuntunan tangan Arthur.


“Ada apa?, ayo masuk dulu”, Arthur yang sepertinya sudah mengerti dengan rajukan Amira melemahkan suaranya, seolah memohon.


“Kamu mengurungku lagi dengan sengaja?”, Amira merungut kesal.


“Maafkan aku”, Arthur sempat terdiam sebelum meminta maaf, sedang tangannya yang menggenggam lengan Amira menjadi semakin kuat.


“Ayo masuk dulu”, ucapan Arthur itu membuat Amira yang hampir membuka mulutnya kembali tertutup karena tersalip ucapan Arthur.


“Tidak!”, Amira menjawab tarikan tangan Arthur dengan kata tidak.


Arthur mengernyitkan dahinya, menatap Amira yang terlihat memasang wajah pasrah.


“Kamu tahu aku punya urusan, aku sudah menceritakannya, aku sudah menerangkannya”, Amira melepaskan tangan Arthur pelan.


“Mana ponselku”, Amira menyodorkan telapak tangannya kehadapan Arthur yang terlihat membatu memperhatikan tangannya yang di paksa lepas dari tangan Amira beberapa ssaat yang alu.


“ARthuuuurr”, Amira mendengus menyatakan ke tidak percayaannya.


“Ayo masuk dulu, aku akan menyuruh Farhan mengambilkannya sekalian pulang kerja nanti”, Arthur masih menggunakan nada membujuk dengan tenang.


“Kamu akan mengurungku lagi?”, Amira mengerungkan alisnya, sembari merasakan rasa merinding karena membayangkan mungkin saja Arthur akan memaksanya masuk dan mengurungnya dengan blak-blakan kala itu.


“Tidak, aku tidak akan, aku berjanji”. Arthur menggapai lengan Amira lalu mengelus-elus punggung tangan Amira dengan jari jempolnya pelan.


“Lagian aku tak akan bisa mengurung mu di rumah dengan ventilasi yang baik ini”, Arthur menjelaskannya dengan nada memohon untuk di percaya.


Amira terdiam beberapa saat, melihat wajah memelas Arthur yang terlihat sangat berusaha keras untuk meyakinkannya.


“hmmmh, baiklah”, Amira membuang nafasnya pelan, mencoba menenangkan dirinya. Lalu kemudian mengikuti tuntunan Arthur dengan wajah tersipu malu.


“Aku benar-benar lemah”, Amira mengakui hal itu kepada dirinya sendiri karena rasa marahnya mendadak sirna hanya dengan bujukan sederhana saja.


“Tinn!”, Tya melihat ke ujung jalan, melihat lelaki yang tak asing baginya melambaikan tangan dari dalam mobil.


Sembari menatap ke segala arah, Tya yang tadinya duduk di halte bus beberapa meter dari perusahaan tempatnya bekerja, berjalan mendekati mobil itu lalu masuk.


“Kenapa kamu datang kesini?, aku kan sudah bilang jangan menemui ku di sekitar kantor UTH group”. Tya mengomel sembari dengan terburu-buru menutup kaca jendela mobil yang tadinya terbuka.


“Kenapa kamu semarah itu sih?, aku berkeliling di sekitaran sini berharap bisa melihat Amira”, lelaki dengan wajah manis dan tubuh bongsor itu mulai menyalakan lampu sen, mencoba untuk masuk ke aliran kendaraan di jalanan yang cukup macet.


“Kupikir kamu tak usah terlalu khawatir tentang Amira lebih baik kamu fokus untuk memberi alasan kepada ibumu, agar dia tetap memiliki semangat hidup yang baik sampai kesehatannya pulih”, Tya memicingkan sudut kanan bibirnya.


“Ada apa?, apa kamu bisa menghubungi Amira?” Galih menatap Tya dengan penasaran.


“Tidak, hanya saja aku baru dapat informasi, kalau ternyata Amira itu kekasih pimpinan UTH, dan sepertinya kekasihnya itulah yang melarang kak Amira untuk terus membantumu”, Tya mengambil sebotol air mineral kecil yang ada di wadah diantara dua jok depan.


“Pimpinan UTH?”, Galih yang sebenarnya cukup fokus pada jalanan menunjukan ekspresi syok.


“Hmm, dia terlihat polos, tapi ternyata dia punya kekasih dari kalangan atas?, apa kamu ketahuan?” Galih tersenyum simpul.


“kupikir tidak, sepertinya kak Amira benar-benar tak tahu siapa kita, dan pimpinan UTH pun sepertinya tak menyadari siapa kita”, Tya berbicara sembari memainkan tutup botolnya, dengan mata yang menatap ke depan namun kosong.


Drrrttt, drrrrtt, ponsel Tya bergetar. Dengan santai Tya membuka tasnya dan mengambil ponsel itu.


“Kak Amira!”, Tya terkesiap melihat siapa yang membuat panggilan kepadanya.


“Ha, halo kak?”, “Ya, tidak apa-apa”, “kakak baik-baik saja kan?”, “ya, ya baiklah”, “Oh ya aku sedang bersamanya”, “Baiklah ayo kita bertemu di sana”, Tya yang melakukan percakapan dengan ponselnya terdengar melakukan percakapan satu arah oleh Galih, Galih yang penasaran beberapa kali menengok melihat Tya dalam diam.


"Apa?, apa katanya?", Galih langsung bertanya dengan terburu-buru kepada Tya yang baru saja menutup panggilannya.


“Balik arah!, kak Amira mengajak kita bertemu di kafe dekat rumah sakit”. Jelas Tya.