
“Ya tuhan Mirr, Hahhh”, Rani tergeletak di atas ubin kamar kos Amira sambil terengah-engah.
“Kenapa gak di bawa ke rumah sakit aja si?, untung bapak supirnya mau bantuin angkat”, Rani mengeluh karena sulitnya menyeret Arthur ke kamar kos Amira.
Namun keluhan Rani itu tak begitu di gubris Amira, itu karena Amira sibuk mengelap Arthur, mengganti baju dan kemudian mengompres kening Arthur.
“Dia, orang mabuk yang terakhir kali berdiri di depan gerbang ya?”, Rani mulai mencoba bertanya dengan serius kepada Amira.
“Kenapa gak di bawa ke rumah sakit aja?, kayaknya dia sakit cukup parah”, Rani kembali menyarankan agar Arthur di bawa ke rumah sakit.
“Gak usah”, Amira menjawab dengan serius.
“Kamu mau makan siang apa?, kita beli online aja”, Amira bertanya kepada Rani.
“makan baso sama es jeruk enak kayaknya”, Rani menjawab dengan cepat.
“Oh kalo gitu aku beli di depan aja, tunggu bentar ya”, Amira berucap sembari menyabut beberapa uang dari dalam dompetnya.
“Ngga deh aku aja deh”, Rani merebut uang dari tangan Amira dan kemudian pergi ke luar.
“Memangnya gak masalah dia tidur di sini?”, Rani bertanya sembari mengunyah bakso di mulutnya.
“Kalo gak ada yang tahu, ya gak masalah”, Amira menjawab dengan santai.
“Heii, tapi tadi kita gotong dia masuk aja udah ribut begitu, ada sekitar empat orang tetangga yang liat”, Rani mengingat bagaimana gaduhnya menggotong Arthur masuk ke kamar.
“Di tambah dia terus-terusan batuk gitu”, Rani menambahkan.
“Yah gimana nanti aja lah, orang tetangga juga banyak yang bawa pacar mereka masuk jarang ada yang peduli, di tambah ini kos campuran, jadi tenang aja”, Amira mencoba tak peduli. Sesekali dirinya menatap Arthur, dia jelas sadar jaket itu adalah jaket yang Arthur kenakan terakhir kali saat merampok minimarket tempat Amira bekerja. Tubuh Arthur pun jelas terlihat lebih ramping dengan pipi yang terlihat lebih cekung.
Terasa ironis bagi Amira untuk melihat Arthur sembari merasakan rasa prihatin, karena dulu Amira cenderung melihat Arthur dengan rasa kagum atau muak dengan superioritas yang di miliki Arthur.
Malam itu Arthur mendapatkan kembali kesadarannya, hangatnya selimut yang memeluknya menyadarkan Arthur bahwa dirinya tidak berada di bawah jembatan terakhir kali. Dia memang agak sadar ada beberapa orang yang membopongnya, namun tak memiliki cukup tenaga untuk menyadari siapa itu.
Arthur terduduk perlahan di atas kasur yang terdampar langsung di ubin dingin itu, lantai yang berbau cairan pembersih, ruangan sempit yang menampung semua kebutuhan hidup, dan suara air yang berkecamuk di kamar mandi kecil tepat di sampingnya. Arthur jelas kini sadar dimana dirinya berada.
“Oh, kamu bangun?”, Amira berdiri tepat di depan pintu kamar mandi menggunakan celana training dan baju kaos lengan pendek, sedangkan rambutnya terbalut handuk merah.
“Kamu harus cepat makan, kamu benar-benar tak punya tenaga bukan?”, Amira segera mengambil mangkuk yang dia letakan di atas lemari kecil, meletakan mangkuk berisi bubur yang hampir dingin itu Amira suguhkan tepat di hadapan Arthur.
“Kamu bisa makan sendiri?”, Amira yang terus berbicara sendiri meletakan tangan dinginnya di dahi Arthur.
“Y.. ya”, Arthur dengan canggung mengambil mangkuk itu dan mulai memakan bubur menggunakan sendok.
Amira kemudian mengisi gelas dengan air dari galon yang berada di pojokan kamar.
“Mau mandi pakai air hangat atau air dingin?”, Amira terlihat begitu bersungguh-sungguh mengurusi Arthur.
“Te.. terimakasih, aku pikir aku harus pergi sekarang”, Arthur dengan canggung berusaha berdiri.
“Tidak bisa”, Amira menjawab sembari meletakan panci berisi air di atas tungku kompor gas.
“Aku sedang memasak airnya, kamu harus mandi”, Amira berceloteh sembari kemudian memberikan handuk kepada Arthur, lalu membuka lemarinya dan mengeluarkan celana training dan kaos yang masih berada di dalam plastik bening.
“Nah, ini celana, baju juga dalaman, kamu bisa ganti pakai ini. Simpan baju bekasmu di ember ini”, ucap Amira sembari menunjukan apa yang harus di lakukan Arthur.
“Menyerah lah, dan tinggallah disini, kamu sepertinya tak masalah dengan hidup kesulitan di jalanan, jadi sepertinya tak masalah juga dengan hidup sederhana disini”, Amira menatap Arthur tepat di mata Arthur.
“Jika kamu terlalu sering berinteraksi denganku seperti ini, kamu akan di sangka ikut andil dalam perampokan terakhir kali”, Arthur menjelaskan apa yang sedang dia khawatirkan.
Amira terdiam tak bisa melontarkan jawaban apapun, selama beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap dengan mata berembun.
“Airnya sudah siap”, kesunyian itu terselamatkan oleh suara air yang mendidih.
Malam itu Amira tidur di samping Arthur menggunakan alas karpet, tubuhnya di lilit selimut untuk mengurangi rasa dingin. Sebenarnya Arthur sudah memaksa Amira untuk tidur di atas kasur, namun Amira dengan tegas tak ingin membiarkan Arthur yang masih sakit tidur tak beralaskan kasur.
Malam itu Arthur menatap punggung kecil Amira yang tidur membelakanginya, rasa bersalah, malu juga rindu menggentayangi pikiran Arthur malam itu. Dalam benak Arthur terus berandai, andai semua kekayaannya masih tepat di genggamannya, mungkin akan lebih mudah untuk membujuk Amira kembali menjadi kekasihnya. Sebenarnya Arthur sadar, bahkan saat Amira secara langsung melihat titik terendah dan terhina dirinya, Amira masih tetap menunjukan kepeduliannya seperti hari ini. Tapi harga diri Arthur terlalu dia junjung tinggi untuk memohon kepada Amira dalam keadaan tak memiliki apapun seperti sekarang, terlebih dirinya adalah buronan serta masih harus waspada atas ancaman anggota Under The Hell.
“Amira?”, Arthur memanggil nama Amira pelan.
“Apa?”, Amira yang ternyata belum tidur itu menjawab.
“Apa kamu tak membenciku?”, Arthur menanyakan pertanyaan yang menghantuinya sejak dirinya mengunci Amira di kamar dulu.
“Tentu saja, bagaimana aku tak bisa membenci orang menyebalkan sepertimu?”, Amira menjawab sembari tetap membelakangi Arthur.
“Lalu kenapa?”, Arthur menelentangkan tubuhnya menatap ke langit-langit kamar.
“Kanapa Apa?”, Amira bertanya.
“Kenapa kamu mengurusku seperti ini?”, Arthur bergumam kurang jelas.
“Ayo menikah denganku”, Amira tiba-tiba mengucapkan lamaran sembari berbalik menatap Arthur tajam.
“Ap.. apa yang sedang kamu bicarakan?”, Arthur menoleh menatap Amira.
“Mau bagaimanapun aku berusaha melupakanmu, itu terlalu sulit, dan sepertinya kamu pun begitu. Ayo kita menikah saja dan hidup bersama dengan sederhana”, Amira sepertinya cukup sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Jangan mengucapkan omong kosong seperti itu, dan cepat tidur”, Arthur membalikan badan memunggungi Amira.
“Bagian mana dari ucapanku yang terdengar omong kosong?”, Amira terduduk sembari mengeluarkan rasa kecewanya karena ucapan sungguh-sungguh nya di anggap sebagai omong kosong.
“Akan menjadi omong kosong menyusahkan bagimu untuk menikahi lelaki bermasalah sepertiku”, Arthur mengucapkan fakta menurut dirinya.
“Maka berhentilah berbuat masalah”, Amira kembali merebahkan tubuhnya.
Namun ucapan Amira itu di respon oleh keheningan tanpa tanda-tanda Arthur akan mengucapkan kalimat apapun. Hingga kelopak mata Amira tertutup perlahan merespon rasa kantuk.
Amira terbangun dari tidurnya, dia melamun menatap tembok tepat di hadapannya, rasanya ada yang salah, kasur di hadapannya kosong tanpa Arthur di atasnya.
Amira bangkit dari tidurnya, membuka pintu kamar mandi yang memang hening, memastikan keberadaan seseorang, namun tak mendapati siapapun di sana.
Perlahan dirinya membuatka pintu kamar kos dengan rambut yang masih kusut, angin pagi meniup Amira, meningkatkan kesadarannya cukup cepat.
Mata Amira melirik ke arah secarik kertas yang berada tepat di atas meja belajar Amira.
“Maafkan aku, tapi The Hell benar-benar penting untukku”, kalimat singkat itu membuat sudut kanan bibir Amira terangkat. Dia merasa menyedihkan karena merasa di tolak mentah-mentah oleh Arthur atas lamarannya tadi malam.