
Hari itu Amira duduk di taman kampus, langit gelap membawa angin dingin di sekitarnya. Namun walau begitu, suasana kampus masih sangat ramai dengan mahasiswa yang kebanyakan mengambil kelas karyawan.
Membuka bolak-balik sebuah buku pelajaran sambil tersenyum, mungkin karena baru dua minggu menjalani kegiatan belajar di kampus, rasa semangat belajar masih menyelimuti Amira.
“Amira!”, Rani berlari kecil menghampiri Amira.
“Waaahh, kamu tobat sekarang?”, Rani meledek sembari duduk di hadapan Amira.
“Haha, hanya masa puber sudah terlewati”, Amira terkekeh.
“Kenapa malah ambil kelas karyawan?, kelas reguler aja padahal, lebih asik”. Rani bertanya.
“Aku harus kerja”, Amira menjawab dengan mudah.
“Memangnya kamu belum baikan sama bapakmu?”, Rani bertanya penasaran.
“Yah begitulah, tapi kayaknya aku lebih nyaman hidup jauh dari ayahku, emosiku juga terasa jadi lebih stabil, dan bisa berpikir dengan lebih jernih”. Amira menjelaskan.
“Haha”, Rani melirik menatap Amira, dia jelas merasa lega dengan kondisi Amira saat itu.
“Kamu ada kelas di hari Sabtu?”, Amira bertanya karena kebanyakan kelas reguler libur di akhir pekan.
“Oh, aku ada kegiatan klub”, Rani menjawab.
“Kamu masih ada kelas?”, Rani bertanya balik.
“Ada, satu lagi”. Jawab Amira.
“Sampai jam berapa?”, tanya Rani.
“Yah sekitar jam 9 malam”, Amira menjawab.
“kita makan malam yuk pas kamu pulang”, Rani dengan semangat mengajak Amira.
“Oh, emmm.. Ayo”, Amira meng iyakan ajakan Rani setelah beberapa saat berpikir.
“Oke, nanti kabari aku kalau sudah bubaran kelas. Aku balik ke temen-temenku dulu”, Rani menepuk pundak Amira sebelum kemudian pergi.
Hari itu jam sembilan malam, Amira menyelesaikan kelasnya, Amira berjalan menuju arah taman yang kebetulan arahnya sama dengan arah gerbang keluar lingkungan kampus. Dia berniat menghubungi Rani sesuai janji sembari menunggu di bangku taman.
“Hei!”, suara Rani membuat Amira yang berfokus pada ponselnya langsung mencari asal suara.
“Eh, nunggu lama?”Amira melihat Rani duduk di salah satu bangku taman menunggunya.
“enggak, mau makan dimana nih?”, Rani berjalan menemui Amira.
“Terserah, aku ikut aja”. Amira dan Rani berjalan beriringan menuju luar kampus.
Rani dan Amira memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan yang lokasinya paling dekat dengan kampus. Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja besar yang tersisa.
“Kamu udah ketemu Nadia lagi?”, Rani bertanya.
“Oh, belum”. Amira menjawab canggung.
“Kamu tahu sejak awal?”, Rani berbisik pelan.
“Hah?”, Amira yang canggung bingung menanggapi ucapan Rani yang terlihat memulai gosip.
“Aku jadi mengerti kenapa kamu memilih untuk tidak meminta maaf ke Nadia dulu”, Rani mulai mengaduk-aduk kuah soto yang dia pesan. Sedang mata Rani menatap Amira yang sama sibuknya mengaduk-aduk kuah soto miliknya.
“Dulu kupikir kamu sangat keterlaluan saat memperlakukan teman yang sangat perhatian seperti itu”, Rani melanjutkan.
“Haha, tenang saja, dia sepertinya memutuskan untuk tak merahasiakannya lagi”, Ucap Rani saat melihat Amira yang tak nyaman saat membicarakan Nadia.
Amira menatap Rani beberapa saat.
“Jangan-jangan ke kamu, dia?”, Amira bertanya dengan hati-hati.
“Ah nggak, cuman awalnya dia ada masalah dengan salah seorang teman tongkrongan, kita biasanya nongkrong berlima, tapi salah satu dari kami tiba-tiba seperti membenci Nadia tanpa alasan, memperlakukannya dengan jijik, jadi kami mencoba menengahi mereka berdua, dan akhirnya kami tahu ternyata Nadia memiliki preferensi yang agak menyimpang. Awalnya kami mencoba untuk menerima dia, tapi ya kita semua jadi agak canggung, karena dia agak agresif kepada orang yang dia sukai dan itu pula yang membuat salah satu dari kami menjadi membencinya, jadi akhirnya perlahan dia menjauh dari kami”, Rani menjelaskan.
“begitu?, haha”, Amira bingung mau merespon apa.
“Jangan-jangan kamu menerima kak Ryan juga karena dia?”, Rani bertanya.
“Yaah itu salah satu alasan, tapi bukan alasan utama”, Amira menjawab.
“Haha, jadi kamu beneran suka sama kak Ryan dulu?”, Rani meledek Amira.
“Yahh, dia menarik pada saat itu”, Amira tersenyum.
“Dan hal menarik itu membuatmu harus drop out dari sekolah?, tapi itu mending karena ku pikir kamu akan tewas atau cacat hari itu, karena kak Ryan seperti sedang gelap mata”. Rani mengenang masa lalu.
“Haha, yah walau begitu sepertinya dulu aku memang butuh untuk istirahat, dan aku mendapatkannya”. Amira tersenyum puas.
“Hah?, yah aku berada di rumah teman”. Amira menjawab.
“Teman?, yang mana?”, Rani menatap Amira tajam.
“Baiklah, aku bisa menyebutnya mantan sekarang”, Amira menyerah tanpa paksaan berarti.
“Hmmm, kamu sekarang tinggal di mana?”, Rani menyerah untuk mengulik mantan Amira selain Ryan.
“Di dekat sini, aku kos di dekat sini”, jawab Amira.
“Oww, enak tuh, aku bisa nebeng tidur kalau ada kegiatan kampus sampai malam”, Rani bersemangat.
“Yah, kamu bisa”, Amira tersenyum sebelum kemudian memasukan suapan terakhir dari mangkuknya.
“Kamu mau nginap malam ini?”, Amira bertanya sembari membereskan alat makannya.
“Oh boleh tuh, udah malam juga, aku malas pulang jauh-jauh”, ucap Rani.
“Kebetulan ada kamar kosong di samping kamarku”, Ucap Amira.
“Kamu gamau aku nebeng terus ya?, tenang aja, aku gak akan sering-sering kok”, Rani cemberut.
“Haha, bukan begitu, aku hanya menawarkan saja”, Amira terkekeh.
Rani dan Amira berjalan menyusuri gang, mereka berbicara mengenai kenangan-kenangan SMA sepanjang jalan, suasana riang membuat sudut bibir Amira mengembang tanpa sadar. Namun tepat di depan gerbang area kosnya, Arthur berdiri mematung disana, membuat Amira terhenti dari langkahnya, mata mereka saling menatap memperjelas tujuan Arthur yang berniat ingin menemui Amira.
“Rani kamu masuk duluan gih, pintu nomor lima”, Ucap Amira sembari menyerahkan kunci pintu kamarnya.
“Hah?, Oh ya”, Rani yang mencoba memahami situasi bergegas menerima kunci dari Amira dan masuk ke gerbang kos dimana Amira tinggal.
Namun bahkan saat Rani terdengar sudah masuk ke dalam kamar, Arthur hanya terdiam menatap Amira lekat.
“Jika tak ada keperluan denganku, aku masuk sa..”, Amira yang hendak melangkah memasuki gerbang kos nya terhenti karena tiba-tiba Arthur memeluknyadari belakang.
“Hei, apa yang..?”, Amira berusaha melepaskan pelukan Arthur, namun dia menyadari bau alkohol menyeruak dari tubuh Arthur.
“Haahh, Arthur kamu naik motor kesini?”, Amira bertanya sambil menatap motor Arthur yang memang sudah terparkir mepet di pinggiran gang yang agak sempit itu.
“Pulanglah, aku pesankan taksi, besok ambil motornya kesini”, Amira mencoba mencari ponsel di dalam tas kecil miliknya.
“Tolong berdiri dengan benar!”, Amira mengoceh sendirian sementara Arthur sepertinya tak berniat untuk melepaskan pelukannya dari Amira.
“Arthur!!, lepaskan aku, kamu menghalangiku!”, Amira mengomel mencoba menyadarkan Arthur sembari menyalakan ponselnya, mencoba masuk ke aplikasi pesan taksi online.
“Tak bisakah kamu ikut denganku?, Amira aku lelah”, Arthur mendengus tepat di telinga Amira sembari terisak menangis.
Kini bergantian Amira terdiam, tangannya sibuk memesan taksi lewat ponselnya.
“Hey cepat berjalan dengan benar!”, Amira mencoba menyeret Arthur.
“Kamu ikut dengan ku kan?”, ucap Arthur berulang kali seperti mengigau.
“Ya, ya aku ikut, jadi berjalanlah dengan benar, taksinya tak bisa masuk ke jalan kecil ini”, Jelas Amira sekenanya.
Amira berdiri di pinggiran jalan, dekat dengan jalan gang menuju kos nya. Tubuhnya yang berkeringat tak bisa merasakan hembusan angin, karena Arthur masih saja memeluknya erat. Rasa malu karena orang-orang menatap mereka berdua membuat Amira mencoba fokus menatap GPS aplikasi taksi online, menatap perpindahan gambar mobil dari GPS itu dengan seksama.
Mana kunci motor mu?”, Amira menyikut perut Arthur pelan.
“Hihi, kamu mau motorku?”, Arthur tertawa cekikikan sembari membenamkan wajahnya ke lekukan leher Amira, sedangkan tangan kanannya merogoh saku jaketnya, dan kemudian menyerahkan kunci motor ke Amira.
“Kamu mau apa lagi?”, hawa panas dari mulut Arthur membuat Amira tak lagi bisa berkutik, wajahnya memerah menahan rasa malu dan salah tingkah sekaligus.
“Aku ingin kamu masuk ke dalam mobil itu”, Amira menunjuk mobil yang berhenti di sampingnya.
“kamu mau mobil itu?”, Arthur berjalan menghampiri kursi supir dan mengetuk kacanya.
“Pak, apa bapak menjual mobil ini?”, Arthur berceloteh, menabung rasa malu yang akan dia rasakan pagi nanti.
Amira bergegas membuka pintu belakang mobil, menarik Arthur masuk ke dalam mobil dengan sekuat tenaga.
“Pak, pacar saya ingin mobil ini, jadi bisakah bapak menjualnya?”, Arthur masih tetap berceloteh bahkan saat Amira menengok ke arah pak supir yang sepertinya masih mencoba memahami apa yang pelanggannya ucapkan.
“Pak maaf, tolong antarkan sampai tujuan dengan selamat ya, pastikan dia masuk ke rumahnya, saya mohon, dan ini ongkos dan tipnya, terimakasih”, Amira dengan terburu-buru menjelaskan dan menyerahkan uang ke supir taksi itu.
“Tolong kunci pintu mobilnya pak”, Amira menambahkan intruksinya, saat menyadari Arthur seperti sedang berusaha membuka pintu mobil.
“Amira katanya kamu ikut!, Amira..”, Arthur memangil-manggil Amira seperti orang gila, wajahnya seperti panik karena mobil mulai meluncur sedangkan Amira masih berada di luar mobil.
“Hahhhhh!”, Amira menghembuskan nafas dalam sembari berjalan menuju kosnya, sembari sesekali memijat kepalanya.