The Hell

The Hell
Diskusi



"Baiklah, mari kita lihat responnya dulu", Amira bergumam hampir tertawa setelah dirinya puas melihat Arthur mematung terbelalak menatap ke arahnya tadi.


" Aaakkkh! ", Amira kaget saat bertemu pandang dengan Rudi yang sedang jongkok di samping mobilnya.


" Ha, halo kak.. hahahah", Rudi mengangkat tangannya sembari berdiri perlahan dan kemudian mengintip ke arah mobil Arthur yang sudah pergi menjauh.


"Sejak kapan kalian? ", Amira tergagap dengan wajah merah melihat ke arah Rudi dan Azka bergantian.


" yah, sejak ..", Rudi menggaruk kepalanya ragu.


Sedangkan di sampingnya Azka terdiam tanpa terlihat niat untuk berbicara .


" Kenapa kalian malah jongkok !" ,Amira merungut malu .


" Yah itu refleks ,tanpa sadar kami jongkok ,maaf kak. Kami baru sampai setelah tugas survei dari luar, kami masuk berturut-turut dengan mobil orang itu" . Ucap Rudi merasa bersalah .


" yah tak apa ,bukan masalah besar juga sebenarnya " .Amira menutup wajah menggunakan kedua tangannya .


"Kuharap kalian tidak mendengarkan apa-apa " ,Amira berjalan mendahului Rudi dan Azka .


"tapi kak ,kakak beneran mau tunangan ?", Rudi bertanya dengan hati-hati namun penasaran .


" Ya?, oh itu.. ,sebenarnya tidak ,hanya saja kumohon rahasiakan apa yang kalian dengar tadi", Amira bergantian menatap Rudi dan Azka dengan tatapan memohon.


"Ya tenang saja!", Rudi menyiratkan sinyal bahwa dirinya bisa dipercaya. "Ya", sedangkan Azka menjawab dengan ekspresi tak tertarik.


" Tapi siapa dia kak?", Rudi bertanya dengan ekspresi wajah menggoda.


"Ya tuhan, ini memalukan. Dia mantanku". Amira menyembunyikan wajahnya lagi.


" Kumohon jangan bilang pada siapapun", Amira kembali memohon dengan menyatukan kedua telapak tangan nya.


"Hahh...", Amira melenguh sesaat setelah duduk .


" Bagaimana?, berhasil?, dilihat dari berkas yang tidak kamu bawa kembali berarti kamu berhasil menemui pimpinan ", Bu Jessi yang penasaran menatap Amira sembari meregangkan tubuhnya.


" Ya, aku sudah, ini berkat dukungan dari bu Jessi", Amira tersenyum sembari mengangkat kedua tangannya dan memberikan finger heart kepada bu Jessi.


"Hahaha, dasar bocah ini", bu Jessi tersenyum geli melihat tingkah anak buahnya.


" Tunggu, apa?, orang tadi itu pimpinan?", Rudi berteriak sembari berdiri dari duduknya.


"Bukankah dia terlalu muda?", Rudi terlihat syok.


" Ya, itu karena walaupun muda dia punya modal yang kuat, dan sepertinya dia benar-benar ahli bisnis", Bu Jessi menganggukkan kepalanya disaat bu Ratih menerangkan.


"Itu sangat jelas dia anak orang kaya", Rudi berargumentasi pada penjelasan bu Ratih.


" Aku tak terlalu tahu, tapi kalau dipikir secara sekilas, memang dari mana lagi modal besar yang terus menerus menopang perusahaan di tahun pertama kalau bukan dari keluarga. tapi aku belum pernah mendengar tentang orang tua pimpinan", Amira terdiam mendengar diskusi rekan-rekannya itu.


"Ya, ya baiklah!, Tenanglah!, Aku yakin itu tidak mungkin" Tiba-tiba terdengar suara Farhan mendekat dari luar ruangan. Orang-orang di dalam kantor bergegas kembali fokus pada pekerjaan.


"Amira!", Farhan terlihat menatap Amira dengan tatapan bertanya-tanya dengan ponsel yang masih dia tempelkan di telinganya.


Namun beberapa saat Farhan hanya terdiam dan terlihat fokus pada pendengarannya.


beberapa saat kemudian Farhan melambaikan tangannya kepada Amira seolah mengungkapkan bahwa dia tak jadi memanggil Amira, lalu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


"Iya lalu kamu maunya aku harus bagaimana?", suara Farhan yang terdengar menahan rasa kesal itu entah kenapa membuat Amira terkekeh sendirian.


Hari itu Amira beberes di meja kerjanya. mengucapkan salam perpisahan ke semua rekan kerjanya.


Di perjalanan pulang tiba-tiba terdengar suara klakson, di samping motor yang sedang Amira kendarai, sebuah motor menggiring motor Amira menepi ke bahu jalan.


Amira terdiam menatap pengendara motor yang Sebenarnya dia kenali itu.


"Kak Ayo bicara", ucap Azka sembari melepaskan helm dari kepalanya . Suasananya kala itu membuat Amira kurang nyaman. Namun Amira mengikuti arahan Azka menuju ke sebuah kafe di seberang jalan.


" Kenapa Azka? ", Amira memegangi gelasnya berusaha bersikap seperti biasanya di tengah tatapan Azka yang terlihat tertekan.


" Kak, kakak menyadarinya kan?, perasaanku.. " Azka menyesap sedikit kopi pahit di gelasnya sembari mengalihkan pandangannya ke jalanan.


Amira terdiam beberapa saat, kecanggungan menguat di setiap detik jarum jam bersuara.


"Yah, mungkin", Amira akhirnya menjawab pertanyaan Azka itu setelah dirinya menghabiskan setengah dari kopi susu dingin miliknya.


Respon dari Amira itu membuat Azka terdiam .


" Lalu kenapa?.. ", Azka terlihat bingung bercampur kesal melihat respon ringan dari Amira.


waktu yang seperti membeku meningkatkan kecanggungan diantara keduanya, hingga tegukan dan sedotan minuman diantara keduanya terdengar cukup jelas.


" Maafkan aku Azka, Aku sudah berusaha memperjelas ketidak tertarikan ku kepadamu selama ini, tapi jika itu kurang tepat dan membuatmu merasa sakit hati atau sejenisnya, aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh karena merespon perasaan mu dengan cara yang kurang bijaksana.", Amira menyelesaikan semua isi gelasnya, lalu berdiri dari duduknya.


"Sampai nanti, oh dan aku mungkin sudah berhenti bekerja mulai besok", Amira menatap rekan kerjanya itu dengan canggung, lalu pergi meninggalkan Azka yang masih menatap gelas kopinya dengan wajah yang tak terlalu jelas berekspresi seperti apa.


" Drrttt, drrrttt" suara ponsel Amira siang itu membangunkan Amira dari tidur siangnya yang berharga.


"Halo ibu Amira, kami dari tim hukum UTH Grup ingin mengabarkan persidangan yang terkait masalah kontrak kerja anda, persidangan tersebut akan mulai di laksanakan minggu depan, kami mengabarkan ini terlebih dahulu kepada Anda sebelum mengajukan tuntutan perdata atas pelanggaran kontrak yang anda lakukan, agar jika anda memiliki itikad baik dan bersedia berdiskusi dengan kami, kami mungkin akan memikirkan kembali tuntutan kami terhadap anda. Jika anda berniat berdiskusi dengan kami, anda bisa datang ke perusahaan ke kantor kepengurusan hukum di gedung UTH Groupe, jln xxxx, no xx, lantai 5. Kami akan memberikan waktu selama dua hari untuk anda memikirkan kembali keputusan anda kedepannya, Terimakasih."


Amira bengong hampir selama lima belas menit membaca pesan panjang dan formal itu beberapa kali.


"Sialan! ", Amira bangun dengan sempoyongan, mengeluarkan kata umpatan yang sangat jelas.


padahal hari itu baru hari pertamanya berhenti bekerja, tapi dia sudah menerima pesan ancaman di tengah harinya.


" Dan lagi kenapa harus minggu depan?, padahal kan minggu depan adalah hari pertunangan ku", Amira mengeluh sembari tersenyum lebar menatap wajahnya di cermin.


"Hahahhah hahahh" Amira tertawa dengan keras sendirian di kontrakannya itu.


"Haruskah aku tak usah datang ke tawaran diskusi itu?", Amira bertanya kepada dirinya sendiri yang sosoknya di pantulkan oleh cermin di hadapannya.


" Tapi bagaimana kalau aku salah paham, dan aku benar-benar di tuntut?, jika seperti itu aku akan kerepotan" Amira kebingungan sendirian, mengobrol dengan dirinya sendiri di hadapan cermin setengah badan yang menampilkan bayangan wanita dengan rambut yang kusut.