The Hell

The Hell
Pem***uh bibi



“Apa maksud ucapanmu yang baru saja aku dengar”, Tya bergegas berjalan ke hadapan Galih. Galih beberapa kali menatap ke arah pintu yang tak tertutup dengan bena bergantian menatap ke arah Tya yang terlihat setengah emosi.


“Tunggu sebentar”, Galih berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu untuk menutup pintu dengan benar, setelah itu kembali mendekat ke arah Tya yang terlihat sudah tidak sabar menunggu penjelasan.


“Apa maksudnya bibi di b**uh suruhan Arthur?”, Tya yang sepertinya sudah menyadari maksud ucapan Galih sebelumnya, setelah berpikir selama jeda waktu Galih menutup pintu bertanya dengan alis yang mengerung.


“Sstt, jangan keras-keras”, Galih dengan tak tenang melihat kearah pintu memastikan tak ada lagi orang yang akan menguping dirinya seperti Tya.


“Ya, itu awalanya karena..”, Galih dengan frustasi menarik nafas panjang, memotong omongannya sendiri, seolah tak sanggup untuk mengatakannya.


“Kenapa?, jelaskan!”, Tya yang sama frustasinya mencengkram lengan area sikut Galih dengan mata yang melotot.


“Dia.., ini salahku”, Galih mengusap wajahnya sembari menghindari menatap Tya.


“Ucapkan dengan benar!”, Tya memaksa untuk menatap wajah sepupunya itu dengan mencengkram kedua sisi lengannya dan menengadah menatap ke arah wajah Galih.


“Saat itu, ada orang yang memintaku untuk menolak Amira membantu sandiwara kita lebih dari seminggu setelah operasi, tapi karena aku merasa perkembangan kesehatan ibu benar-benar sangat bagus setelah aku bertunangan dengan Amira, aku merasa aku tak perlu menghiraukannya, karena sepertinya Amira-nya sendiripun tak keberatan”, Galih menjelaskan hal itu dengan ragu, tapi karena tekanan dari tatapan Tya, dia sepertinya tak bisa menyembunyikan apapun lagi.


“Beberapa kali aku menerima teror yang menyatakan ancaman tentang keselamatan ibuku melalui ponsel yang di retas, aku..”, Galih tiba-tiba terdiam tak sanggup melanjutkan cerita itu dengan intens, matanya beberapa kali melihat ke arah Tya, melihat ekspresi Tya yang sepertinya tak menentu.


“Ini tak benar, kita harus lapor..”, Tya yang sepertinya merasa bahwa sepupunya itu mengalami tekanan batin, merasa perlu mengambil tindakan dengan benar secepatnya, selagi tanah kuburan bibinya masih basah.


“Tidak, jangan!”, Galih menarik tangan Tya yang hendak meninggalkannya.


“Tidak, itu akan membahayakan keluarga kita yang lain, itu.., mungkin dirimu selanjutnya”, Galih terlihat sangat putus asa.


“Kamu gila?, memangnya keluarga kita selemah apa sampai harus menjadi pengecut seperti ini?”, Tya yang merasakan amarahnya makin berapi-api walau sebenarnya dirinya tak terlalu mengerti situasinya, dia hanya tahu bahwa Arthur adalah pembunuh bibinya.


“Dengarkan aku dulu, jangan sampai yang lain tahu”, Galih menarik Tya, membuatnya duduk di kursi taman di dekat tembokan paling belakang.


“Saat itu setelah hari pertunangan, ada seseorang mendatangiku di parkiran perusahaan, ada tiga orang dan salah satunya berbicara kepadaku untuk membuat Amira berhenti membantuku secepatnya, batas waktunya hanya sampai satu minggu setelah operasi ibuku. Lalu aku mengabaikan mereka, karena aku sedang bersemangat setelah melihat kemajuan kesehatan ibu. Dari situ juga sepertinya dia mengetahui penyamaran-mu dan memecat-mu, mereka berhasil mengetahui seluk beluk keluarga kita. Satu hari setelah satu minggu yang di janjikan berakhir, ada beberapa ancaman beruntun di ponselku, ponselku di retas, dan cukup sulit untuk menjadikannya bukti karena tak ada jejak. Lalu tiba-tiba kemarin lusa, saat itu aku pergi ke kamar kecil, suster yang merawat ibu sedang pergi ke luar untuk membeli persediaan popok dan perlengkapan ibu, dan saat aku keluar aku mendapati seorang suster seperti baru saja menyuntikan sesuatu ke infusan ibu yang sedang tidur. Aku bertanya suntikan apa itu?, karena biasanya suster yang datang akan mengatakan obat apa yang di suntikan, namun dia hanya diam dan bergegas lari ke luar, dan saat itu tubuh ibu tiba-tiba kejang, aku panik dan memanggil dokter, namun semuanya terlambat..”, mata merah Galih menceritakan semua itu sembari menatap kosong ke arah rerumputan hijau, sedang Tya hanya terdiam merasa syok dengan apa yang dia dengar.


“Itu karena memang tak ada jejak apapun, tidak ada racun, tidak ada obat yang sekiranya bukan obat yang di berikan rumah sakit, penyebab kematiannya benar-benar karena gagal jantung akibat efek operasi dan penggunaan obat jangka panjang yang ibu konsumsi”, Galih menggelengkan kepalanya seolah dirinyapun tak habis pikir.


“Lalu bagaimana dengan CCTV?”, tanya Tya.


“Kamu tak ingat?, CCTV mendadak gangguan dua hari terakhir di rumah sakit, hari itu pemulihan CCTV masih belum selesai”, Galih mencengkram kepalanya sendiri keras karena frustasi. Tya pun tak bisa berkomentar lagi, karena memang dirinyapun tahu mengenai CCTV tersebut dari pemberitahuan kepengurusan rumah sakit yang meminta maaf beberapa kali kepada semua pasien.


“Siapa sebenarnya dia?”, Tya merasa gusar. Dia tak tenang karena jika benar, maka orang yang bisa memanipulasi rumah sakit kelas atas sampai seperti itu, bukanlah orang sembarangan.


“Kalau dipikirkan lagi, selama ini beberapa keluarga kita melakukan penyamaran ke perusahaan lain beberapa kali, namun tak pernah ketahuan, itu karena kita benar-benar menjaga kerahasiaan seluk-beluk keluarga dengan ketat, hanya beberapa orang yang kita jadikan muka perusahaan untuk pengalihan, tapi dia bisa langsung mengetahui seluk beluk keluarga kita hanya karena mencari latar belakangmu?”, Tya bertanya-tanya saat teringat ucapan Galih tentang Arthur yang mengetahui seluk-beluk keluarganya.


“padahal namamu itu bukan nama aslimu di surat administratif negara”, Tya menatap ke arah Galih sambil bertanya-tanya, dan ternyata Galih sedang menatapnya juga.


“Yah aku tak tahu..”, Galih mengangkat dua kakinya, memeluk lututnya dengan tidak tenang.


“Kita harus memberitahu anggota keluarga yang lain”, Tya menyarankan.


“Tidak, dia memberi ancaman baru di hari kematian ibu, dia bilang jika aku macam-macam dan berusaha mengungkap kematian ibu, maka selanjutnya adalah kamu”, Galih membenamkan wajahnya ke-sela dua lututnya yang dia peluk. Tya terdiam dengan rasa merinding di seluruh tubuhnya, namun walau rasa takut mulai menjalar, rasa marah menguasainya lebih banyak.


“Aku sedang mencoba sebisaku, jadi jangan gegabah”, ucap Galih.


“Aku akan menempatkan pengawal dan penjaga di rumahmu, kamu jangan mengeluh terlalu banyak, ini demi kebaikanmu”, Galih menatap Tya dengan kesungguhan.


“Jangan pernah sendirian dimanapun”, mata galih melotot seolah hampir keluar dengan tangan yang tiba-tiba menggenggam tangan Tya, tatapan Galih itu membuat Tya semakin merinding.


“Siapa sebenarnya dia?”, Tya yang merasa kalau sepupunya itu adalah orang yang unggul dalam segala hal dan selalu dapat di andalkan di keluarga saja sampai tertekan seperti itu , Tya jadi mendapatkan tekanan rasa takut dua kali lipat, karena jika sepupunya itu saja ketakutan seperti itu, maka apa dayanya?.


“Aku tak terlalu tahu, tak ada catatan tentang asal keluarganya, dan lagi walaupun aku belum yakin, UTH itu pada awalnya adalah mesin cuci yang fi gunakan untuk menggiling laba ilegal agar menjadi laba legal. Sepertinya dia memiliki asosiasi dunia gelap yang kuat”, pungkas Galih.