
Arthur yang berusia 16 tahun kala itu berbaring terlentang di kolong sebuah mobil, kakinya bergerak-gerak beberapa kali menandakan bagian tubuh atasnya sedang sangat sibuk memperbaiki mobil.
“Arthur”, suara seorang lelaki memanggil Arthur pelan.
“Arthur!”, panggilan keduanya membuat Arthur mengintip dari bawah kolong mobil.
“Apa?, Oh “, Arthur yang mengenali wajah orang tersebut merogoh saku di celananya segera, dan memberikan satu bungkus rokok ke orang tersebut dengan masih berada di posisinya memperbaiki bagian kolong mobil.
“Oke makasih”, orang itu pergi meninggalkan Arthur yang masih sibuk memperbaiki bagian bawah mobil.
Jarum paling pendek pada jam dinding di bengkel menunjuk ke arah angka delapan, orang-orang di bengkel sibuk membereskan perkakas yang sudah mereka gunakan.
“Arthur, orang itu siapa namanya?”, Bima yang kala itu sama-sama bekerja di bengkel bertanya kepada Arthur.
“Siapa?”, Arthur bertanya balik.
“Orang yang cukup sering meminta rokok kepadamu”, Bima berucap sembari mengganti pakaiannya di loker pekerja.
Arthur yang mendengar orang yang di maksud Bima hanya terdiam tak menjawab.
“Kamu tak terlihat seperti orang yang akan mudah di tindas apalagi di palak, kau tahu itu?”, Bima mengoceh mencoba memperpanjang obrolan mereka.
“Kamu punya berapa banyak pelanggan?”, Bima bertanya sembari memutar kepalanya mengikuti arah Arthur pergi.
“Hey dek, bagaimana kamu bisa mengabaikan aku?”, Bima melingkarkan tangannya ke leher Arthur.
“Hey Bima jangan menindas dia!”, Seorang lelaki paruh baya yang sama-sama pekerja di sana menegur Bima.
“Hahaha, pak mana ada, kita cuma mau ngopi bareng”, Bima menjawab ucapan lelaki itu.
“Aku punya kenalan, dia bandar dari produsen langsung”, Bima berbisik pelan ke telinga Arthur sesaat setelah merasa tak ada orang di sekitar mereka kecuali motor dan mobil yang melintas di jalanan.
Arthur terdiam beberapa saat setelah menerima bisikan Bima.
“Aku tak bisa sendirian saat berdagang, karena kemarin beberapa pedagang mengalami kerugian karena konsumen mereka tak mau membayar dan malah mengancam mereka dengan senjata tajam”, Bima menjelaskan situasinya.
“Pekerjaan kita cukup beresiko bung, bukan cuma harus waspada kepada polisi, tapi pelanggan kita pun kebanyakan orang-orang yang tak punya akal sehat”, Bima menepuk nepuk punggung Arthur, memupuk kepercayaan Arthur untuk ucapannya.
“Jenis apa?”, Arthur bertanya dengan serius.
“Eyy, ayo ikut aku, kebetulan aku akan pergi restock”, Bima menarik Arthur dengan bersemangat.
Arthur mengikuti Bima ke sebuah gudang, tempat yang tak pernah dia bayangkan bahwa tempat itu adalah gudang obat-obatan ilegal. Tempat yang cukup umum dan berada di tengah kota yang ramai.
Sejak saat itu, Arthur dan Bima bekerjasama untuk mencari uang sampingan bersama, semakin banyak jaringan dan konsumen, membuat Arthur dan Bima terlena oleh kemewahan uang. Semakin banyak uang mereka, semakin mudah pula mereka untuk lolos dan bersembunyi dari hukum, asalkan tak sial untuk bertemu dengan penegak yang idealis.
Arthur yang memang sangat menyukai berbagai jenis motor sejak dia bekerja di bengkel, kini bisa mengoleksi motor-motor favoritnya, dan mulai membentuk sebuah perkumpulan orang yang menyukai dunia permotoran, dan menamakannya The Hell.
Bertahun-tahun berjalan, The Hell menjadi geng motor dengan anggota yang sangat sulit untuk di kendalikan, karena kuantitas anggotanya yang membeludak. Karena hal itu Arthur membaginya menjadi beberapa distrik dan menunjuk beberapa ketua untuk mengurus setiap distrik itu. Selain itu Arthur membuat sebuah geng lain di dalam The Hell, yang di sebut Under The Hell, dengan peraturan Rimba, dimana yang kuat akan memegang tahta. Dan tentu saja di belakang semua itu, Arthur membentuk sebuah lembaga pengendalian di balik layar bersama orang-orang yang dia percayai secara rahasia.
Pada akhirnya The Hell sudah seperti kerajaan yang di bangun dengan susah payah bagi Arthur, membawanya pada kemudahan dan kemewahan yang tak pernah dia dapatkan sejak dia mulai dapat mengingat kehidupan. Dirampasnya kerajaan yang dia rawat, sudah seperti sekarat di kehidupan Arthur. Itu berarti jika dia menyerah atas The Hell, maka berakhir sudah kehidupannya.
Arthur merenung selama dua hari tersisa di rumah sakit, terkadang terbesit di pikirannya bahwa melompat dari jendela kamar rawatnya akan jauh lebih baik dari pada harus keluar melalui pintu dan mengakui kekalahan dengan bergabung bersama tiga rekannya untuk menyelamatkan diri ke pulau lain.
Arthur berjalan perlahan di jalanan kota, tubuhnya yang memang sudah terbiasa membusung terpaksa menundukkan leher dengan kaku untuk waspada pada komplotan pembelot di The Hell. Tepat dia berjalan melintasi jalanan ramai, kakinya membawanya ke tempat janji yang terakhir kali Bima sebutkan.
“Kau datang?”, Bima tersenyum lega melihat Arthur yang sepertinya memutuskan untuk bergabung dengannya.
Empat orang lelaki itu berkerumun, saling memandang satu sama lain.
“Ada tiga lokasi yang sepertinya akan mudah menjadi sasaran kita, karena di jam 9 malam tiga tempat ini relatif sepi”. Farhan menjelaskan hasil pantauannya selama beberapa hari, sembari menyimpan ponselnya di tengah-tengah mereka. Dilayar ponsel itu tertulis tiga nama tempat serta Alamatnya.
“Tidak dengan yang ini”, Arthur menunjuk sebuah tulisan, membuat tiga temannya terdiam beberapa saat.
“yah, tak masalah untuk mengeluarkan yang itu”, Bima memutuskan untuk mengikuti keinginan Arthur, dia cukup sadar bahwa tempat itu adalah minimarket yang sering sekali Arthur datangi hanya untuk membeli sesuatu yang tak begitu penting.
“Tapi yang satu ini agak.., di tempat itu kamera pengawasnya terlalu banyak”, Bima mengingatkan salah satu dari dua tempat lainnya.
“Oke, berarti tinggal satu yang tersisa. Mini market ini sudah cukup lama, tapi kurasa pengamanannya cukup rendah, mungkin karena di kawasan itu relatif aman walau berada di lingkungan yang sepi”, Farhan menyambut sisa pilihan lokasi terakhir.
Malam semakin larut, angka sepuluh di pojok layar ponsel Farhan seolah memukul gong di telinga mereka berempat. Arthur dan Farhan jelas terlihat lebih tegang dari pada Bima dan Heru yang sudah punya pengalaman sebelumnya, mungkin karena Arthur dan Farhan tak pernah berpikir untuk melakukan perampokan di hidup mereka. Memakai hoodie dan menyiapkan masker full pace tepat di kepala menjadi ancang-ancang saat berjalan di sekitaran lokasi tujuan dan mendapati area itu benar-benar sepi.
Tepat di depan pintu transparan mini market yang sudah hampir di balut rolling door, Heru masuk pertama untuk memastikan keadaan di dalam.
“Jangan bergerak!”, Heru berteriak agak keras sembari membekuk seorang pegawai lelaki yang sedang menata mie instan di rak. Teriakan Heru itu menjadi sinyal untuk Bima yang kemudian menodongkan pisau ke arah pegawai perempuan yang berdiri di dekat kasir, Bima menyeret pegawai perempuan itu untuk membuka laci tempat tujuan mereka berada.
“Psssstt!!, cepat!”, Bima memberi kode kepada Arthur yang terpaku di depan meja kasir dan malah menatap ke arah pegawai perempuan itu.
“Heiii!!”, Bima berteriak lebih keras kala itu, memecah lamunan Arthur. Dengan ragu Arthur bergegas memasukan uang-uang yang ada di laci kedalam tas yang dia bawa.
“Masukan ponsel dan uang yang kamu punya juga!”, Bima menarik pegawai wanita bertubuh mungil itu dengan keras, mencoba mencari lebih banyak hasil lagi.
“Cukup!”, Arthur menarik Bima dengan cukup kasar, tepat di sana Amira yang merupakan pegawai perempuan di sana menatap Arthur yang tertutup topeng itu dengan mata gemetar, terlihat lebih kaget di banding saat dirinya di todong pisau oleh Bima.
Dengan cepat Arthur menarik tangan Bima yang memegang pisau, tangan yang sebenarnya sudah membuat Arthur berkeringat dingin karena takut tak sengaja Bima menggores Amira.
“Hei cepat!”, Farhan yang berdiri di ambang pintu sepertinya sudah tak nyaman untuk berlama-lama di sana dengan kegiatan yang di lakukan oleh dirinya dan komplotannya. Heru sedikit mendorong pegawai laki-laki yang ia kunci di lantai, sebelum kemudian dia berlari menyusul Arthur dan Bima keluar.
Mereka berempat meninggalkan pintu minimarket yang sedang bersiap untuk tutup itu, meninggalkan seorang pegawai lelaki yang terbatuk-batuk sembari berusaha berdiri, dan Amira yang mematung menatap sudut yang tak jelas, matanya memerah menahan rasa kecewa yang menyeruak dari lubang hampa di hatinya.