
Pagi itu Amira duduk di sebuah kursi di tenda pedagang bubur sembari menikmati bubur di hadapannya.
“Kerja di mana neng?”, tanya penjual bubur sembari mengelap tangannya yang baru saja selesai melayani pembeli yang membeli beberapa bungkus bubur yang di bawa pulang.
“Oh, saya kerja di seberang itu pak”, jawab Amira ramah.
“Ohh, bangunan yang besar itu?”, tanya penjual bubur ayam itu bersemangat.
“iya pak”, jawab Amira membenarkan, karena memang walau bukan perusahaan yang sangat besar, tapi perusahaan yang Amira sedang bekerja di sana sekarang ini memiliki skala yang cukup besar dan sudah berjalan dengan standar profesional.
“Enak ya kerja di sana?, dapat gaji berapa di sana neng?, UMR atau dibawah atau di atas?”, penjual bubur itu sepertinya cukup tertarik.
“Hmm, sekitaran UMR lah pak, saya magang di sana”, Amira menjawab dengan ragu.
“Anak saya bentar lagi lulus SMK tuh, bantu masukin dong”, penjual bubur itu tertawa canggung.
“Oh, hemm setahu saya kalau ada lowongan biasanya di iklankan di sosial media perusahaan pak, jika sesuai kriteria bisa di daftar lewat online atau berikan surat lamaran ke bagian admin atau titip satpam juga bisa”, terang Amira yang menyimpulkan beberapa ingatannya saat beberapa kali melihat pelamar yang seringkali menitipkan berkas lamaran lewat satpam.
“Ooh begitu ya neng, tak kira neng nya bisa masukin anak saya secara pribadi , hehehe”, penjual bubur itu tertawa canggung.
“hahaha, enggak pak, saya mah cuma pemagang baru, hahhahaha”, Amira tertawa lebih canggung lagi. Pada akhirnya Amira dan penjual bubur itu mengakhiri percakapan itu dengan tertawa canggung bersama.
Amira berjalan kaki memasuki gerbang kantor, hari itu di depan kantor terlihat beberapa pekerja bangunan yang sedang memasang sebuah huruf nama di tembok depan gedung antara lantai pertama dan lantai kedua. ‘UTH Group’ begitulah tulisan besar yang sepertinya terbuat dari besi dan stainless still itu terbentuk.
“UTH itu apa ya?”, Amira bergumam karena dirinya tak pernah mendengar atau mengetahui kepanjangan dari UTH itu sendiri.
“Kak!, kenapa jalan kaki?”, Amira menoleh dan mendapati Azka memanggilnya sembari mengendarai motornya.
“Oh baru sarapan”, Amira menjawab.
“gak bawa motor?”, Azka kembali bertanya sembari menepikan motornya di dekat Amira berdiri, sembari mempersilahkan satu dua mobil yang hendak masuk ke parkiran basement.
“Bawa kok, udah di parkiran”, Amira menjawab sembari tersenyum.
“TEEEETTT, TEETTTT!”, suara klakson mobil membuat Amira dan Azka kaget bersamaan.
Mereka berdua tanpa sadar menengok melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson seperti marah-marah itu. Sebuah mobil rubicon besar berwarna hitam terdiam dengan suara mesin yang masih menggerung.
“Minggir, minggir”, dengan panik Amira menggerakkan tangan memberi isyarat kepada Azka.
“TEEEEETT, TEEETTT”, suara klakson berulang itu entah kenapa membuat Amira kesal, padahal jelas dua mobil lain tadi bisa melewati jalan dengan mudah, dan jelas motor Azka tidak menghalangi jalan sama sekali.
“TTEEEEEEEEEEETTTTTTTT!!!!”, suara keras dan panjang itu membuat Azka terperanjat sembari menahan kesal.
“Kak, naik kak!”, Azka meminta Amira naik dan tanpa di sadari Amira naik ke motor Azka dan mereka berdua turun ke basement di bagian parkir motor.
“TEEETTTT, TEETTT”, suara klakson menyebalkan itu terus saja berbunyi bahkan saat mobil itu berbelok ke arah yang berbeda dengan parkiran motor.
“Kenapa sih tu orang, ngeselin banget”, Azka bergumam dengan mulutnya yang di tekuk kesal.
“Tapi kenapa aku jadi nebeng ke kamu?”, Amira baru menyadari kenapa dirinya tiba-tiba ikut ke parkiran bersama Azka, padahal dia tinggal menyebrang dan masuk lewat lobi.
Amira dan Azka masuk bersamaan ke ruang kerja, belum ada siapapun di sana kecuali Ramlan yang memang sedang kejar target.
“Bu Amira, saya hari ini terakhir kerja sebelum cuti selama sepuluh hari, kalau ada yang mendesak dan ingin di tanyakan, tanyakan saja ke bu Jesi”, jelas Ramlan.
“Oh iya pak, siap, selamat berbulan madu”, Amira menjawab sambil tersenyum.
“Hahaha, besok pada datang ya, jangan lupa!”, Ramlan tersenyum kepada Azka dan Amira bergantian.
“Tapi besok kan kerja pak”, Azka menggoda, membuat Ramlan memanyunkan bibirnya untuk beberapa saat.
“Ada pesta tambahan sepulang kerja, habis magrib, jadi jangan sampai kalian lembur ya!”, Ramlan menegaskan.
“Hahaha, baik pak!”, Amira menjawab dengan tersenyum lebih merekah lagi.
“Halo semuanya”, Mawar masuk sembari menenteng kopi di tangannya.
Tak lama Bu Jesi masuk, di susul Rudi, bu Ratih, kemudian Tya dan pak Rasyik. itulah sembilan orang tim perencanaan kecuali manajer umum, yang terdiri dari lima magang dan empat pegawai tetap.
“Tok,tok,tok”, suara pintu yang di ketuk membuat semua orang melihat ke arah pintu yang sebenarnya terbuka lebar itu.
“Oh pak?, ada apa?”, Bu Jessi yang merupakan ketua tim berdiri setengah terkejut karena Farhan yang jarang memasuki ruangan itu tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
“Hmm, Amira mana?”, Farhan memutar pandangannya ke segala arah mencari Amira.
“Oh, ya pak?”, Amira segera berdiri karena sadar dirinya tidak akan terlihat oleh orang yang berdiri di pintu masuk.
“Kamu.., tadi berangkat kerja dengan siapa?”, Farhan terlihat ragu namun tetap bertanya dengan suara yang jelas.
“Sa.. saya?, saya datang sendirian pak”, Amira menjawab walau sebenarnya kebingungan dengan pertanyaan aneh dari Farhan.
“Apa kamu punya pacar, atau teman dekat sekantor?”, Farhan kembali bertanya dengan wajah pucat. Terlihat jelas dia seperti terpaksa bertanya.
“Hah?, ah, ya saya pikir saya cukup dekat dengan tim perencanaan”, Amira menatap ke sekelilingnya dengan ragu. Jelas suasana aneh itu membuat semua orang yang sedang bekerja ternganga, termasuk pak Ramlan yang sebenarnya sedang dalam mode serius beberapa saat yang lalu.
“A.. ada apa ya pak?”, Amira yang merasa tak tahan dengan suara hening yang canggung karena Farhan tak kunjung pergi atau kembali berbicara, menanyakan dengan gamblang maksud dari pertanyaan aneh itu.
“Hemm, sebenarnya ini bukan masalah besar, namun beberapa eksekutif agak terganggu dengan semacam 'interaksi romantis' yang dilakukan di lingkungan kantor, jadi tolong untuk semuanya agar sebisa mungkin melihat situasi, dan simpan interaksi romantis di waktu dan tempat pribadi saja”, Farhan mengakhiri pengumuman yang sepertinya dirinya sendiri merasa aneh dan malu tentang itu.
“baik, selamat bekerja kembali”, Farhan mengangkat telapak tangannya seolah mengungkapkan sampai jumpa dengan gestur itu.
“oh iya, bu Jesi, tolong hadiri rapat manajer umum nanti siang menggantikan ku, aku ada rapat penting yang tidak bisa ku tolak di waktu yang bersamaan” pinta farhan sembari menatap lurus ke arah wanita berumur hampir empat puluhan itu.
“Oh baik pak”, jawab bu Jesi. Dan jawaban itu mengantarkan Farhan yang berjalan ke ruangannya dengan kepala yang terlihat menunduk sembari beberapa kali geleng-geleng kepala.
“Ooohh, kak kakak punya hubungan rahasia di kantor yaa? ”, Tya yang duduk di samping Amira menggoda Amira dengan semangat.
“Apa?, aku bahkan tak mengerti apa maksud pak Farhan”, Amira mengerutkan keningnya sembari mengeluarkan suara berbisik.