
Pagi itu Arthur berangkat ke kantor sendirian membawa mobilnya.
“Tumben sekali dia akhir-akhir ini..”, Arthur bergumam saat melihat Farhan mengendarai motornya menyalip mobil Arthur saat itu, gumaman-nya kala itu merujuk pada Farhan yang selalu menolak saat di ajak ikut bersamanya menggunakan mobil untuk pergi ke perusahaan setelah rapat pagi di rumah. Padahal biasanya Farhan akan senang karena dia merasa lelah untuk mengendarai motor sendirian.
“Arthur, kepala HRD mengeluh karena aku memaksanya untuk memalsukan tanda tangan Amira, dia mengancam mengundurkan diri karena takut harus berurusan dengan hal merepotkan dan mencurigai kita melakukan hal buruk kepada Amira”, Tiba-tiba Arthur teringat keluhan Farhan minggu lalu.
“Drrrttt..drrrttt”, suara ponsel Arthur bergetar di tengah kemacetan jalan.
Tak lama layar mini yang terpasang di mobilnya ikut menyala menampilkan panggilan dari 'sekretaris umum bu Vita'.
"Halo pak", “ya halo?”,Arthur menjawab panggilan itu.
“Pak,pegawai Amira datang lagi mencari bapak”, keluhan lelah dari sekretaris Arthur itu terdengar cukup jelas. Mungkin karena lima hari terakhir Amira terus meneror mereka, dan berusaha untuk bertemu dengar Arthur.
“Katakan aku ada rapat di luar”, Arthur menjawab dengan alasan ini untuk ketiga kalinya.
“Haaahh”, Arthur mengeluh karena rasa tak teganya, tapi masalahnya jika Arthur bertemu dengan Amira lagi dirinya mungkin tidak akan sanggup untuk menahan diri lagi.
“pokoknya aku harus secepatnya menyelesaikan masalah legalitas beberapa cabang usaha lagi, atau aku relakan saja yang itu?”, Arthur terdiam beberapa saat setelah memikirkan jalan singkat yang sebenarnya bisa mengancam keuangan perusahaan induknya.
“Tidak, tinggal sedikit lagi, aku tak bisa mengambil resiko”, Arthur kemudian kembali memegang teguh rasionalitas nya.
“Dia pasti sedang bekerja di ruangannya sekar..”, Arthur yang baru memasuki kawasan parkir perusahaan tiba-tiba kaget saat menyadari ada seseorang menghadang jalannya.
“Mati aku”, Arthur yang sebenarnya berhasil menginjak rem tanpa insiden apa pun mengernyitkan alis setelah menyadari orang yang berdiri sekitar tujuh langkah di depan mobilnya adalah Amira.
Wanita yang sepertinya sudah berjongkok di dekat palang parkir eksekutif sejak tadi itu berjalan mendekati mobil. Dan Arthur yang kebingungan harus melakukan apa membatu sembari menggenggam stir mobil.
“Tok, tok, tok”, kaca mobil di samping Arthur di ketuk, Amira mungkin tidak dapat melihat ke dalam karena warna kaca yang gelap, tapi Arthur dengan jelas dapat melihat Amira menatap ke dalam dengan ekspresi kesal sembari menenteng sebuah map berkas.
Dengan gugup Arthur melepaskan rem tangan, dan dengan perlahan menginjak pedal gas.
“Heyyy!!!”, Amira berteriak saat menyadari mobil mulai berjalan.
Sambil memastikan Amira berada di jarak Aman dengan mengintip melalui kaca spion,Arthur memajukan mobilnya berharap bisa kabur dari Amira.
“AAAAKKKHHHH!!!!, kakiku, yatuhaannnn”, Teriakan Amira membuat jantung Arthur hampir berhenti berdetak. Walaupun Arthur yakin dirinya sudah memastikan Amira ada di jarak aman dengan mobilnya, namun teriakan Amira yang sepertinya kesakitan itu membuat Arthur tak berpikir dua kali untuk turun dari mobil dan dengan wajah pucat dan perasaan bersalah menghampiri Amira yang terlihat sudah terduduk sembari memegangi kaki kanannya, Arthur bahkan sepertinya tak sadar dirinya berjalan dengan kaki kiri yang terlihat tertatih-tatih menahan sakit..
“A, Amira..”, Arthur yang pucat pasi menatap ke kaki Amira yang terbungkus sepatu.
“Tertangkap!”, Amira memegangi pergelangan tangan Arthur dengan sangat erat.
“Pak kenapa bapak memalsukan tanda tangan saya, hingga saya terikat kontrak kerja sepuluh tahun, ini namanya pelanggaran hukum, ini penipuan dan pemerasan!”, Amira dengan lancar mengatakan kalimat itu seolah sudah menghafalnya ribuan kali. Dia menatap lurus ke arah Arthur yang menganga merasa dejavu dengan rasa kesal yang mencuat, setelah rasa takut yang menyiksanya dalam beberapa waktu mulai menghilang karena menyadari situasi.
“Amira!, bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti ini?, kamu membuat orang lain panik!”, Arthur terlihat marah dengan sungguh-sungguh sembari mengatur nafasnya.
“Siapa suruh bapak sulit sekali di temui!”, Amira yang kaget dengan respons Arthur yang di luar perkiraan Amira ternyata terlihat sangat marah, menelan rasa kaget itu dan kembali ke tujuan awalnya menemui Arthur.
“Tck!”, Arthur mendecakkan lidah lalu berjalan dengan kaki kiri tertatih-tatih merasakan sakit.
Amira yang mendengar decakan Arthur merasa tersulut karena beberapa faktor.
“Heyyy!!!!, menyebal kan sekali, kenapa kamu berdecak seperti itu?”, Amira berteriak dengan frustasi di parkiran sepi itu.
“Seharusnya disini aku yang kesal!, kenapa jadi kamu yang kesal, kamu bilang kita berdua sudah berakhir, tapi perlakuanmu kepadaku benar-benar tak dewasa sama sekali, apa aku membuat kesalahan besar sehingga kamu benar-benar dendam dan ingin menyiksaku di sini selama sepuluh tahun terakhir?”, Amira merasa menyesal mengatakan semua itu setelah satu detik berlalu kalimat itu meluncur tanpa hambatan.
Amira kemudian berjalan perlahan dan menyodorkan berkas di tangannya dengan paksa sambil menatap lurus ke arah Arthur. Sekelebat Amira melihat ekspresi Arthur yang mirip dengan apa yang Amira impikan di saat terakhir kali dirinya tak sadarkan diri karena terbawa hanyut oleh ombak sepuluh hari yang lalu.
“To, tolong urus itu dengan baik, mulai besok saya tidak akan bekerja di sini lagi, mari kita akhiri hubungan kita dengan baik”, Amira berbicara dengan lebih tenang karena atmosfer aneh menyelimuti ekspresi Arthur saat itu.
“Tidak mungkin Arthur masih berharap pada hubungan kita kan?”, Amira menerka sesuatu yang sebenarnya menjadi harapannya sendiri, harapan yang selama ini dia kubur dalam-dalam karena ucapan Arthur terakhir kali di jembatan saat Amira berpura-pura akan melompat ke sungai.
“Ah tidak, tidak mungkin”, Amira meluruskan kembali pikirannya yang menurutnya bengkok itu, lalu kemudian beranjak meninggalkan Arthur.
“Tap tap, tap”, suara langkah kaki Arthur yang terdengar kesulitan berjalan itu membuat Amira terdiam lalu berbalik menatap ke arah Arthur yang sedang berusaha berjalan mendekati mobil miliknya yang pintu kemudinya terbuka lebar.
Pantas saja ada yang mengganggu pikiran Amira sejak tadi, Amira tak terlalu menyadari kecacatan cara berjalan Arthur, karena Arthur setengah melayang saat menghampirinya tadi yang berpura-pura terserempet mobil.
_“Aku tak tahu, tapi sepertinya dia mengenal kakak, karena dia terus meneriakkan nama kakak saat berusaha melakukan CPR pada kakak”,
Ucapan Tya saat di rumah sakit dulu kembali terngiang di telinga Amira yang masih menatap Arthur.
_"Lelaki itu kakinya terluka, sepertinya kakinya tak sengaja tertancap duri bulu babi saat sedang menyelamatkan kakak".
Penjelasan lanjutan Tya membuat Amira memiringkan kepalanya.
_“Amira!, bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti ini?, kamu membuat orang lain panik!”.
Ekspresi marah Arthur beberapa saat lalu juga menjadi perhatian Amira dengan serius.
“Bukankah itu tidak cocok sama sekali untuk sikap seseorang yang meminta mengakhiri semuanya?”, Amira menyipitkan matanya sembari bergumam sendirian.
Arthur terlihat berjalan sembari berpegangan pada badan mobil berwarna hitam itu menggunakan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menggenggam berkas yang Amira serahkan dengan paksa beberapa saat yang lalu, kertas di tangan kanannya itu terlihat diremasnya dengan sekuat tenaga, Amira yang melihat hal itu sangat yakin mungkin ada beberapa kertas yang sobek di bagian yang tergenggam tersebut.
Setelah terdiam beberapa saat Amira membuka mulutnya perlahan sembari mencoba berpikir dengan tenang.
“Arthur!”, panggil Amira cukup keras. Namun Arthur terlihat tak berniat mendengarkan Amira dan mulai menaikkan satu kakinya ke dalam mobil.
“Mengingat kebaikanmu dulu kepadaku, kupikir aku tak bisa melupakannya tanpa berterima kasih dan berharap hubungan kita baik kedepannya sebagai sesama manusia”. Amira mengucapkan kalimat demi kalimat dengan sangat hati-hati.
“Aku juga berharap kamu akan hadir dan mendoakan ku di pertunanganku minggu depan”, Amira mengucapkan kalimat lanjutan itu masih dengan ketenangan yang sama. Matanya menatap Arthur dengan lekat.
“Karena aku tak memiliki nomormu, aku akan mengirimkan alamat lengkap acaranya kepada pak Farhan”, Amira berbalik dan tersenyum lebar meninggalkan Arthur yang mematung menatap ke arah Amira. Dia berdiri dengan satu kaki, karena satu kaki yang lain tepatnya kaki kirinya sudah berada di ambang pintu mobil dan menunggu bagian tubuh yang lain menyusul.