
“Uh”, Amira tersadar dengan telinga berdenging. Rasa tak nyaman di kepala dan matanya membuat Amira merasa sedikit mual.
“Hmm”, Amira menatap sekeliling, ruangan asing membuat Amira termangu mengingat-ingat sebenarnya sedang apa dirinya di sana.
“Terakhir kali aku..”, Amira bergumam mengingat ingatan terakhirnya. Dia mulai mendecakan lidah saat ingat dirinya merasa pusing dan mulai tak mengingat apapun saat hendak berdiskusi mengenai kontrak kerja di ruangan Arthur terakhir kali.
_“Minumlah lagi”
Tiba-tiba ingatan Amira saat Arthur mengisi gelas tehnya kembali muncul.
_“Cicipi-lah, teh itu agak beda dengan yang sebelumnya, itu teh yang mirip dengan teh kesukaanmu dulu”.
Kalimat yang sebenarnya tak begitu aneh sebelumnya itu kini terdengar mencurigakan saat di ingat kembali, kenapa Arthur sangat ingin aku meminum teh itu?. Pikiran Amira yang sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi membuat Amira mengerutkan dahinya.
_“Yah silakan saja, itu bukan jenis yang berbahaya, makanya efeknya cukup lambat”.
“Sialan!”, Amira mendecak lagi saat mendapatkan petunjuk jelas tentang apa yang Arthur lakukan.
Amira yang sebenarnya masih setengah linglung itu turun dari kasur, mendekati pintu dengan beberapa langkah kaki, menggapai gagang pintu itu dan kemudian memutarnya.
“Klak”, Pintu terbuka dengan mudah, suasana sepi di tempat asing yang sepertinya rumah itu membuat Amira hanya celingukan di ambang pintu kamar beberapa saat.
“Halo?, ada orang?”, Amira berbisik pelan entah untuk maksud apa, kakinya mulai melangkah berjalan, mengintip ke area kaca besar yang tertutup oleh tirai lebar. Amira mengintip ke sebuah taman berukuran sedang di bawah sana, Amira menerka mungkin tempat yang sedang dia tempati adalah lantai dua atau tiga, itu tak terlalu tinggi. Cahaya bulan yang tak cukup mengusir gelap di area luar pagar membuat Amira tak terlalu bisa melihat ke arah luar.
Dengan santai Amira berjalan menuju sebuah pintu, dan saat membukanya Amira terdiam lalu kembali menutup pintu itu, itu karena di balik pintu tersebut ada sebuah ruangan yang di penuhi rak-rak buku dan beberapa meja kayu, terlihat seperti ruang belajar atau ruang kerja. Amira berpindah ke pintu lain, namun pintu itu terkunci tak bisa di buka.
“Hmmm”, Amira berdehem merasa kesal entah kenapa, dia menatap ruangan yang cukup luas itu. Sebuah sofa berhadapan dengan televisi lebar, lalu di ujung ruangan ada sebuah dapur bersih menyerupai bar dengan tiga kursi bulat di depannya. Terlihat jelas dapur itu tidak benar-benar di gunakan untuk memasak. Karena hanya terdapat microwave, beberapa alat makan, beberapa makanan dan kulkas di sana. Suasana ruangan malam itu tak begitu terang, karena hanya beberapa lampu yang di nyalakan.
Ada lima pintu yang terlihat di ruangan itu, pintu pertama adalah kamar tempat Amira keluar sebelumnya, lalu pintu di seberangnya adalah ruang kerja, dan pintu di samping ruang kerja itu terkunci.
Amira berjalan ke sisi ruangan yang lain, mulai membuka satu pintu yang paling dekat, tapi itu ternyata sebuah toilet.
“Ck”, Amira merasa kesal karena tak kunjung membuka pintu keluar dari ruangan itu.
“Klak”, dengan yakin Amira membuka pintu terakhir.
Amira menyipitkan matanya, melihat sebuah kamar dengan tata letak yang mirip dengan kamar yang beberapa saat lalu dirinya keluar dari sana. Namun jelas Arthur terlihat terbaring di kasur itu memunggungi pintu.
Perlahan Amira menarik kembali pintu kamar itu, menutupnya dengan sangat pelan berharap Arthur tidak terbangun dari tidurnya.
“Yah berarti yang ini”, Amira mencoba kembali membuka pintu yang sebelumnya terkunci. Namun walau bagaimanapun cara Amira membuka pintu itu, pintu itu tetap terkunci.
“Haaah”, Amira merasa kakinya mulai lelah karena hampir sekitar lima belas menit dirinya terus memutar-mutar gagang pintu itu. Sedang perutnya kini mulai meronta menahan lapar. Jika di pikirkan Amira belum makan siang sejak matahari masih berada di atas kepala.
“Sedang apa?”, suara parau Arthur membuat Amira terperanjat pelan.
“Sepertinya pintunya macet”, Amira menggoyang-goyangkan gagang pintu yang sedang dia pegang di hadapan Arthur yang terlihat baru bangun dari tidurnya.
“Duduklah dulu”, Arthur berbicara sembari memasukan sebuah kemasan kotak yang dia ambil dari kulkas dan memasukannya kedalam microwave.
“Mau tak mau Amira berjalan mendekati mini bar yang mungkin lebih terlihat seperti pantry itu, duduk di salah satu kursi bundar tanpa sandaran menghadap ke arah Arthur yang terlihat bersandar ke tembok sembari menatap microwave, mata lelahnya terlihat hampir tertutup.
Amira yang sebenarnya ingin mengucapkan banyak hal hanya terdiam menatap Arthur yang sepertinya tak berniat memulai obrolan apapun.
“Tiiit, tiiit”, suara timer habis dari microwave membangunkan Arthur yang sepertinya tertidur sambil berdiri. Dengan tenang Arthur mengeluarkan boks berisi makanan itu dari microwave, membuang penutupnya dan menyodorkannya ke hadapan Amira. Wangi bumbu yang menyetuh hidung Amira membuat Amira menelan ludah.
“Kamu tidak memasukan apapun ke sini kan?”, Amira bertanya sambil mengorek-ngorek sayuran dan beberapa potong daging di kemasan itu menggunakan garpu.
“Entahlah, itu masakan restoran, bukan aku yang memasak”, ucap Arthur sembari menyuguhkan segelas besar air putih.
“Jika airnya kurang, ambil di sana”, Arthur menunjuk ke arah dispenser air.
Amira menatap Arthur yang terlihat berjalan gontai sembari memijit area leher belakangnya.
“Loh, mau kemana?”, Amira segera membuka mulutnya saat menyadari Arthur sepertinya hendak kembali ke kamarnya.
“Aku lelah”, Arthur menjawab tanpa menengok.
“La.. lalu bagaimana aku keluar?, pintunya..”, Amira hampir berteriak saat Arthur mulai sampai di ambang pintu kamar.
“pulanglah saat hari cerah”, Arthur mulai menutup pintunya.
“Hahh, Apa?, tunggu kita harus bicara, dasar!”, Amira beranjak dari duduknya.
“Jangan ganggu aku”, Artur menutup pintunya sebelum Amira sampai di sana.
“Arthur!, Arthur!”, Amira mencoba membuka pintu kamar Arthur namun sepertinya terkunci dari dalam.
“Ck!”, Amira mendecakkan lidah dengan kesal karena Arthur mengabaikan kebisingan yang dia buat di tengah malam.
“Ah terserah lah!”, Amira yang teringat kalau perutnya mulai perih kembali duduk di bar pantry dan mulai memakan hidangan yang sempat dia curigai tanpa ragu.
“Kenapa orang itu sulit sekali di ajak bicara!”, Amira bergumam kesal dengan mulut penuh makanan.
“Sampai memberi obat di minuman orang lain seperti itu!”, ucapan kesal itu terdengar seperti sumpah serapah, namun keluar dari mulut yang kedua ujung bibirnya terangkat tinggi.
“Hahh, harusnya aku marah bukan?, tapi kenapa malah lega”, Amira berbisik pada dirinya sendiri.
“Aku harus duduk disini sampai dia bangun, dan memaksanya untuk berbicara besok pagi!”, Amira bertekad berbarengan dengan suapan terakhir ke mulutnya.
“Wah ini sangat enak”, Amira memuji rasa makanan yang sudah lenyap itu sebelum meneguk air dari gelasnya.