The Hell

The Hell
Aku tak akan memaksa



Di dalam kamar Arthur menatap Amira yang sibuk mencari salep dan perlengkapan P3K di laci, Arthur mengerutkan dahi saat melihat pitak yang cukup besar di bagian belakang kepala Amira.


“Maafkan aku”, Arthur berucap sembari menunduk tak berani menatap Amira.


“Kemari”, Amira membersihkan beberapa luka di wajah Arthur.


“Sepertinya kamu terluka sangat parah”, Amira berucap setelah menyadari bibir Arthur yang sangat pucat dengan keringat dingin yang keluar tak henti di wajah Arthur, juga mata Arthur yang terlihat sulit fokus.


“Kita harus ke rumah sakit”, “Tak perlu”, Arthur menjawab ucapan Amira dengan cepat.


“Hahh, baiklah, istirahatlah”, Amira beranjak membereskan perlengkapan obat dan mangkuk bekas dirinya dan Arthur makan beberapa saat lalu.


“Aku harus pergi”, Arthur mencoba beranjak walau sulit untuk berdiri.


“Berbaringlah!”, Amira mendorong Arthur hingga Arthur jatuh terduduk di atas kasur.


“Tidur!, kamu bisa pergi saat kamu sudah bisa berdiri dengan benar!, tenang saja aku tak akan memaksamu untuk berhenti atau apapun, jadi tidurlah dengan tenang”, Amira yang sepertinya frustasi mengomel sembari memaksa Arthur berbaring dan menyelimuti Arthur dengan selimut.


“Tapi kamu juga sedang sakit, kamu tidak bisa tidur di lantai”, Arthur merasa tak enak.


“Aku punya kasur lipat!”, Amira mengeluarkan kasur lipat dari lemarinya, terlihat dengan jelas kasur lipat itu masih baru.


Malam itu cukup sunyi, Arthur yang sepertinya sudah lelah secara fisik terdengar mendengkur dalam tidurnya, sedangkan Amira menatap Arthur dalam hening.


Amira melirik jam dinding di tengah remangnya cahaya yang masuk dari luar melalui fentilasi udara. Jarum jam menunjukan jam satu malam, malam itu Amira merasa tak tenang hingga berguling beberapa kali untuk mencoba tidur, hingga dirinya menyerah dan terduduk di atas kasur.


Amira mengambil ponselnya dan bejalan keluar dari kamar kos perlahan, sebelum kemudian menutup kembali pintu kamar perlahan.


“Bangun!, bangun!”, Suara seorang lelaki membuat Arthur setengah tersadar dari tidurnya.


“Bangun!, siapa namamu?”, suara lelaki itu terdengar mengintimidasi, Arthur yang mulai sepenuhnya tersadar melihat dirinya terduduk karena tangannya di tarik paksa oleh lelaki yang membangunkannya itu.


“Siapa nama kamu?, jawab!”, Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Arthur mencoba menyadari situasinya. Ada sekitar lima orang lelaki mengelilinginya, sedang di luar kamar terdengar suara gaduh karena para penghuni kos yang kepo bertanya-tanya.


“A..arthur”, Arthur dengan ragu menjawab pertanyaan lelaki itu.


“Kamu benar salah seorang dari perampok mini market di jalan XXX, benar?”, dua dari lima orang lelaki itu secara bergantian bertanya.


“Y.. ya”, Arthur menjawab sembari menatap Amira yang berdiri di ambang pintu tanpa bisa menatap dirinya.


“Ikut dengan kami, teman-temanmu sudah kami tangkap sejak sebulan lalu”, Orang-orang yang ternyata polisi itu menyeret Arthur bersama mereka.


“Anda datanglah ke kantor polisi nanti pagi di jam 7 sebagai saksi”, seorang dari polisi berucap kepada Amira sebelum meninggalkan kamar kos Amira.


Amira masuk kedalam kosnya, menutup pintu dan terduduk lemas.


“Haah”, Lenguhan Amira sembari tangan kanan menutup matanya, memanggil air mata yang sejak tadi Amira tahan.


“Apa hubungan anda dengan pelaku?”, seorang petugas menanyai Amira yang duduk di hadapannya.


“Saya kekasihnya pak”, Amira menjawab.


“Apa anda terlibat dengan aksi perampokan itu?”, “Tidak pak”.


“Anda adalah kasir yang bertugas di malam kejadian benar?”, “ya pak”.


“Sejak kapan anda tahu bahwa kekasih anda adalah salah seorang dari perampok itu?”, “Dia datang meminta maaf kepada saya seminggu kemudian”. pertanyaan-pertanyaan bergulir, Amira menghabiskan sekitar dua jam untuk menjawab semua pertanyaan petugas kala itu. Sedang Amira belum bisa bertemu dengan Arthur karena Arthur sementara di rawat karena memiliki banyak luka.


“Amira kamu di pecat?”, teman sejawat Amira yang sama-sama di datangkan untuk menjadi saksi kala itu terperangah, karena dirinya mendapat kabar bahwa Amira di pecat karena di anggap menyembunyikan pelaku perampokan.


“Ah, iya”, Amira menjawab sembari tersenyum.


“Tapi bukankah kamu tidak tahu kalau salah satu dari perampok itu adalah pacar kamu?, lagian kamu juga yang melaporkan keberadaannya”. Rekan kerja Amira merasa iba.


“Tak apa, untung juga aku tidak di gusur ke peradilan”. Amira tersenyum, berusaha menyampaikan bahwa dia baik-baik saja.


“Ah, yah hubungan kita agak ambigu”, Amira tersenyum ketir.


Amira menatap langit-langit kamarnya, dia merasa sebagian beban hidupnya terangkat seketika. Amira bersyukur karena diluar perkiraannya, perusahaan tidak menuntut dirinya lebih jauh, dan dari semua rasa syukur itu, rasa syukur terbesar adalah karena Amira merasa Arthur akan lebih aman di penjara, mengingat anggota The Hell semakin brutal saat mengejar Arthur, Amira juga berharap kalau Arthur akan berhenti mengharapkan geng motor kesayangannya lagi setelah menjalani hukuman.


Satu hal yang tersisa adalah, Amira berencana untuk pindah ke lingkungan lain, berjaga-jaga jika The Hell masih menargetkan dirinya juga.


“Tok..tok..tok”, suara ketukan pintu di kamar kos Amira menghentikan lamunan Amira sore itu.


“Mir?”, Amira menghampiri pintu dengan segera, sambil bertanya-tanya siapa itu, karena dia tahu kalau Rani sedang pergi ke luar kota bersama teman-temannya.


“Oh, kak?”, Amira agak kaget mendapati Nabila, kakak tirinya berdiri di balik pintu.


“Masuk”, Amira membuka pintu kamarnya selebar mungkin.


“Kamu ini kemana aja sih?, gak ada ngabarin udah lama”, Nabila masuk sembari meletakan sebuah kantung jingjing yang kelihatannya berisi toples-toples.


“Yah, aku kan baru pulang lima bulan lalu”, Amira menjawab sekenanya.


“Yah baiklah”, Nabila berbaring sambil menghembuskan nafasnya panjang.


“Jangan di situ kak, di kasur”, Amira panik saat melihat kakak tirinya tidur di ubin dingin.


“Gak papa, aku gerah”, ucap Nabila sembari menatap Amira yang sedang mencoba merapikan tumpukan baju dari atas kasurnya sambil membelakangi Nabila.


“Amira!, kepalamu kenapa?”, Nabila terduduk saat menyadari ada bekas jahitan di pitak di kepala Amira.


“Oh, ini aku jatuh dari motor, haha”, Amira menjawab dengan santai.


“Ya tuhan, kanapa gak ngabarin?”, Nabila merengut.


“Itu bukan masalah, lukanya juga tidak terlalu dalam”, Amira melipat beberapa baju dengan tergesa, dan memasukannya kedalam lemari.


“Mau bakso kak?”, Amira bertanya.


“Enak gak?”, Nabila menatap Amira yang bergegas mengambil mangkuk di tempat piring.


“Enak, bentar aku belikan”, Amira bergegas keluar sembari membawa mangkuk dan uang di tangannya.


“Kak, ada info lowongan kerja gak?”, Amira bertanya.


“Kenapa?, kamu lagi nganggur?”, Nabila bertanya balik.


“Iya nih”.


“Hmmm, biar kucari kan nanti, kamu punya pegangan kan?”, Nabila bertanya lagi.


“Ada aman, untuk tiga bulan ke depan”, jawab Amira.


Mereka berdua saling bercakap membahas banyak hal sembari menikmati bakso yang di belikan Amira.


“Arthur di tangkap polisi?, bukannya dia sudah sekarat terakhir kali?”, Alan melotot mendengar kabar dari rekannya.


“Gawat kalau sampai The hell terbongkar, dan kita bisa saja habis”, Allan mengeluh.


“Tenang saja, ada beberapa polisi yang biasa menangani The Hell di sana, dan lagi hampir semua pro Arthur sudah kita pangkas dari geng. The Hell yang dulu akan di anggap sudah bubar sejak dua tahun lalu”, Teman dekat Allan mencoba menenangkan.


“Hahh, ini agak beresiko, bisa saja Arthur mengambil tindakan bunuh diri untuk menyeret kita”, Allan menghembuskan nafas bersama dengan asap yang mengepul.


“Kita amati dengan benar, dan siapkan para polisi yang bisa membackup kita dari sekarang”, Allan berucap dengan gelisah.


Bagi Allan, The Hell adalah harta karun, yang mengangkat dirinya setinggi mungkin untuk menikmati kesenangan hidup. Susah payah dirinya merebut posisi yang sangat sulit dia dapatkan. Akan menjadi kerugian kalau dirinya harus hancur dengan waktu hanya dua tahun kekuasaan.