The Hell

The Hell
Hari di mulainya Teror



Seminggu sejak pemakaman ibu Galih, Galih sering kali datang ke rumah Tya untuk memastikan keadaan Tya. Secara teknis mereka yang memang rumahnya berdekatan memang hidup bersama sejak dulu, apalagi sejak meninggalnya ibu Tya, Tya jadi sering kali menginap di rumah bibinya saat sang ayah ada pekerjaan ke tempat yang jauh, yang mengharuskan perjalanan selama berhari-hari.


“Oh Galih?”, Tya yang sedang makan di ruang makan refleks menyebutkan nama dari saudaranya itu saat Galih datang dan duduk di seberang tempat duduk Tya.


“Kamu sudah pulang?, bukankah ada rapat penting berhubungan bea cukai?, para paman terus mengeluh karena perubahan aturan bea cukai beberapa negara”, Tya menanyakan hal itu karena dia menyadari hari baru jam empat sore.


“Oh, kata siapa?”, Galih mengangkat alisnya sembari mengambil beberapa anggur yang memang tergeletak di meja makan.


“Hmm?, di grup keluarga”, Tya terlihat agak bingung dengan respon Galih, padahal grup chat keluarga yang sebagian besar mengurusi urusan pekerjaan itu sedang ramai.


“Lihatlah, om Tedy bilang kepada para pengurus inti untuk rapat jam 4.30”, Tya menunjukan pesan kepada Galih yang memang merupakan salah satu pengurus inti di bisnis keluarga besar itu.


“Oh, sepertinya om Tedy lupa membatalkannya, biar ku batalkan”, Galih merogoh sakunya mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu di laman chat grup keluarga itu.


“Padahal aku sudah mengatakan semuanya sudah selesai, kenapa juga om Tedy ini pelupa sekali”, Galih bergumam dengan mulut yang masih berusaha mengunyah sebuah anggur.


“Haha, memang si paling dapat di andalkan, hahaha”, Tya tertawa sembari menggoda Galih yang memang menjadi salah satu orang yang paling di andalkan di keluarganya itu.


“Padahal kamu tak perlu menjagaku terus seperti ini, kamu kan sudah mempekerjakan petugas keamanan sampai sepuluh orang”, Tya terlihat seperti tak enak hati.


“Haha, bagaimanapun, aku tak mau kecolongan, dan lagi kamu tinggal sendirian karena ayahmu tinggal di Singapura”, Galih mengatakan hal itu dengan tenang, menyulut senyum haru di bibir Tya.


“Apa aku juga pindah saja ke Singapura?, sekalian membantu ayahku, lagian pekerjaanku disini juga belum jelas”, Tya memutar-mutar garpu yang dia pegang untuk melilitkan pasta di piringnya.


“Begitukah?”, Galih terlihat tak begitu menanggapi.


“Ya, bukankah itu bagus?, mungkin mereka tak akan bisa menyentuhku di sana”, Tya merujuk pada orang-orang yang Galih sebut sedang mengawasi dan meneror mereka.


“Apa ada masalah hari ini?”, Galih bertanya perlahan.


“Tak ada, sama seperti hari-hari sebelumnya, tak ada kejanggalan apapun, atau mungkin mereka hanya menggertak?”, Tya terus mengeluarkan asumsi yang membuat perasaannya membaik.


“Jika mereka hanya menggertak, maka ibuku mungkin..”, Galih mengeraskan ekspresinya seolah mengingat kenangan buruk di masa lalu. Tya terdiam menatap wajah saudaranya itu, rasa kasihan seringkali muncul saat dirinya membayangkan harus melihat secara langsung pembunuhan ibunya, namun tak bisa berbuat apapun baik untuk menyelamatkan atau menempuh jalur hukum untuk sebuah keadilan.


“Ada kabar baru?”, Tya bertanya dengan penasaran tentang penyelidikan yang sedang Galih lakukan.


Galih terdiam beberapa saat menatap Tya sembari mengunyah anggur yang entah anggur ke-berapa yang masuk kedalam mulutnya.


“Masih belum, ada terlalu banyak titik buta yang tak bisa kita lihat, tenang saja, aku akan memastikan kamu aman disini selama penyelidikan”, ungkap Galih.


“Maka apa menurutmu mengenai rencanaku sebelumnya?, tentang pergi ke singapura dan tinggal dengan ayah”, Tya bertanya dengan hati-hati.


“Yah itu memang bukan hal buruk untuk menyelamatkan hidupmu, tapi mungkin saja sebagian besar anggota keluarga akan keberatan jika kamu yang baru lulus kuliah langsung membantu di kantor pusat”, Galih mengingat tabiat keluarganya.


Keluarga Tya memiliki sebuah perusahaan besar yang turun-temurun sejak beberapa generasi. Saat ini secara teknis perusahaan di pimpin oleh ayah Tya yang memimpin kantor pusat di Singapura. Ada beberapa cabang perusahaan di beberapa negara yaitu di Tiongkok, India, Amerika, Australia, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Cabang-cabang ini tentu saja di pegang oleh sanak saudara juga, di indonesia sendiri perusahaan berkembang cukup baik, dan di pimpin oleh om Tedy.


Tya melamun sambil menatap saudaranya yang mulai berjalan ke arah ruang tamu, dia sepertinya sangat nyaman untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang tamu rumah Tya selama seminggu ini.


‘Bukankah UTH group itu terlalu kecil dan lemah untuk di takuti?, apalagi untuk keluargaku yang merupakan perusahaan raksasa, sampai titik dimana jika ada masalah hukum, keluargaku tak perlu menggunakan jalur belakang untuk menuntaskannya, karena pengaruh perusahaan yang kuat, membuat orang-orang akan berpikir dua kali untuk berurusan dengan kami’. Tya menimbang-nimbang keraguannya.


_“Aku tak terlalu tahu, tak ada catatan tentang asal keluarganya, dan lagi walaupun aku belum yakin, UTH itu adalah perusahaan bawah yang di angkat. Sepertinya dia memiliki asosiasi dunia gelap yang kuat”, ucapan Galih sebelumnya membuat Tya bertanya-tanya.


‘Bukankah sehebat apapun pengaruhnya di dunia bawah, tetap terlalu gegabah untuk menyentuh keluarga kita?, keluarga kita pun bukannya tak memiliki pengaruh di sana (dunia bawah) ’, Tya terus merasa aneh dengan tindakan sepupunya itu. Namun di beberapa moment dirinya teringat seberapa baiknya Galih dalam menyelesaikan masalah di perusahaan, dia juga memiliki tingkat kemahiran dalam banyak hal, hingga para keluarga mungkin tak akan ragu atau memperdebatkan untuk menunjuknya sebagai pemimpin selanjutnya menggantikan ayah Tya.


“Yah, kupikir mari percayakan semuanya kepada si genius itu”, Tya bergumam sembari meninggalkan piring kosongnya di meja makan.


Hari berlalu, pagi itu Tya sedang melakukan yoga rutinnya di ruangan yang memang dia buat khusus untuk berolah raga yoga. Ruangan kedap suara dengan cermin lebar, namun walau kedap suara ada sisi tembok yang hanya terbuat dari kaca, meng memperlihatkan hijaunya rerumputan, bunga, dan kolam ikan koi yang airnya mengalir tenang. Udara segar seringkali berhembus pelan dari ventilasi-ventilasi besar yang menjadi jalur udara taman kecil itu kedalam ruangan. Ruangan itu benar-benar tempat yang sangat cocok untuk bermeditasi.


“BLAAKK!!”, pintu terbuka dengan kencang, membuat Tya terperanjat, hampir saja dia akan marah kepada orang yang dia sangka adalah pegawai kebersihan yang mungkin saja tak tahu dia masih di sana.


“Tya!, kamu tak apa?”, wajah panik Galih diantar oleh kaki yang sepertinya sangat terburu-buru.


“Ada apa?”, Tya bergegas berdiri saat dirinya di hampiri oleh Galih.


“Ini tak bisa, kamu tidak boleh tinggal di sini untuk sementara waktu”, Galih menarik Tya dengan cepat. Tya yang kebingungan hanya mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah Galih yang terburu-buru, melewati dua penjaga yang memang selalu berdiri di depan pintu ruangan yang sedang Tya gunakan, Tya berjalan terus ke arah jalan keluar rumah.


“Siapkan baju dan perlengkapan Tya”, Galih berteriak menunjuk kepada seorang pelayan di rumah itu.


“Ya tuhan!”, Tya syok saat melihat seorang penjaga yang sedang di tandu melewati langkahnya dari arah ruang tamu. Tya menengok ke arah ruang tamu, dan mendapati genangan darah dan beberapa orang penjaga yang sepertinya sedang merintih menahan sakit sembari duduk.


“Ada apa ini?”, Tya dengan panik berusaha menghentikan langkah Galih yang menariknya menuju jalan keluar.


“Tak ada waktu, kamu harus bersembunyi, aku takut mereka menemukanmu”, Galih masih menarik Tya hingga masuk kedalam mobil.


“Ini salahku, mereka menyadari kalau aku sedang menyelidiki tentang mereka, dan mencoba mengumpulkan bukti pembunuhan ibu”, Tya hanya terdiam mendengar kepanikan Galih yang duduk di sampingnya di dalam mobil.


“Maka kupikir lebih baik aku pergi ke Singapura, aku hanya akan diam dan berlibur di sana tanpa membantu ayah”, dengan wajah takut Tya mengemukakan pendapatnya.


“Tak bisa”, ucapan Galih membuat Tya terdiam beberapa saat.


“Kenapa?”, tanya Tya.


“Kamu tidak tahu orang seperti apa yang sedang kita hadapi, mereka bisa mengejar-mu kesana dengan mudah!”, Galih memandang Tya dengan mata terbelalak yang memperlihatkan rasa frustasinya. Tya terdiam ngeri saat melihat ekspresi saudara sepupunya itu.


“Siapa?, lalu siapa mereka yang sedang kita hadapi?”, dengan rasa frustasi Tya menatap Galih meminta penjelasan lebih jelas.