
Amira turun dari mobil milik Arthur di parkiran rumah sakit, dirinya berdiri di samping mobil sambil menelepon Galih beberapa kali, namun tak ada respon, dan beberapa kali Galih berada dalam sambungan panggilan lain.
Amira mengerutkan alisnya, mengingat Galih tak pernah mengabaikan panggilan dari Amira, apalagi di waktu janji temu, apalagi biasanya Galihlah yang menunggu Amira.
“Hmmm”, Amira berdehem sambil menyibakkan rambutnya kearah belakang, sudah satu jam Amira menunggu Galih di dalam mobil, sampai pak Agus yang adalah supir yang Arthur pekerjakan khusus untuk mengantar Amira, pulas tertidur di kursi supir.
“Halo?”, suara Galih akhirnya terdengar dari speaker ponsel Amira.
“Halo, kamu dimana?”, Amira bertanya tanpa ragu kepada Galih yang memiliki usia mirip dengan Amira, hanya berselisih satu bulan lebih tua dari Amira.
“Oh, emm Amira, apa kamu sudah di rumah sakit?”, Galih menjawab Amira dengan memberikan pertanyaan lain.
“Ya, aku menunggu di parkiran seperti biasa”, Amira melangkahkan kakinya pelan.
“Amira maafkan aku, sepertinya kamu tak perlu datang lagi untuk selanjutnya, ibuku berada dalam kondisi yang sangat buruk, dia tak sadarkan diri sejak tadi malam, maafkan aku tak mengabari sejak awal, dan terimakasih untuk selama ini”, perkataan Galih itu membuat Amira terdiam beberapa saat.
“Apa beliau baik-baik saja?”, Amira yang merasa bingung harus bereaksi seperti apa tanpa sadar menanyakan hal yang sudah di jelaskan.
“Dokter bilang ibuku sedang dalam keadaan yang buruk.., aku tak tahu..”, Galih terdengar menahan tangisnya.
“Kamu dimana?, biar aku datang kesana”, Amira berjalan dengan cepat ke arah pintu masuk gedung rumah sakit.
“Tidak perlu, kamu pun tak akan di izinkan masuk oleh perawat, mari kita bertemu lain kali”, Galih menjawab dengan nada suara yang berat. Mendengar hal itu Amira terdiam berhenti dari langkahnya.
“Oh, ya, kamu harus tetap kuat, kamu tahu itu”, Amira berbicara dengan ragu, suara ragu Amira itu jelas terdengar seperti simpati yang sulit untuk di ungkapkan.
“Ya, terimakasih, sampai nanti”, Galih mengakhiri panggilannya dengan suara parau yang menyedihkan.
Dalam beberapa saat, Amira terdiam di tempat itu, seolah terbelenggu rasa bela sungkawa dan perasaan buruk kepada ibu Galih. Tak lama Amira memutar langkahnya kembali ke mobil dan memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan pulang, Amira mendapati pesan dari Arthur, padahal jarang sekali Arthur mengiriminya pesan, biasanya dia akan lebih memilih menelepon Amira jika ada hal yang ingin di sampaikan, bahkan hanya untuk mengatakan basa-basi tak penting.
“Amira”,
“Apa kamu bersedia menikah denganku?”
Kalimat yang terbagi menjadi dua balon chat itu membuat Amira terdiam, namun tanpa sadar bibirnya merekah tak bisa di kendalikan.
“Ada apa ini?”, Amira bergumam sembari kemudian menggigiti bibirnya menahan salah tingkah yang di hasilkan oleh kalimat itu.
“Tentu saja aku mau, aku bersedia! ”, Amira mengetik tanpa ragu, menjawab chat dari Arthur.
“Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?”, tak lama jawaban dari Arthur tiba di ponsel Amira, membuat Amira memiringkan kepalanya bingung.
Daripada menjawab chat itu, Amira memilih menelepon Arthur sembari masih menahan salah tingkah yang dia rasakan. Mungkin karena seminggu terakhir dirinya merasa di abaikan oleh Arthur, Amira tak bisa menahan rasa senangnya saat Arthur mengajaknya bicara bahkan walau bukan pembicaraan serius.
Namun tak lama Amira menekan tombol berwarna hijau, panggilannya langsung di tolak oleh Arthur, dan hal itu membuat Amita mengerungkan alisnya.
“Jangan menelepon, di chat saja”, Arthur dengan cepat mengirimkan chat.
“Kenapa?, ada apa?”, Amira bertanya alasan kenapa Arthur menolak untuk berbicara di telepon.
“Tolong jawab pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?”, Arthur malah kembali menanyakan pertanyaan sebelumnya.
“hmm”,
“Sejujurnya aku ingin pernikahan yang tak terlalu di rayakan, cukup pergi KUA, mengurus surat-surat, dan merayakannya dengan seminimal mungkin orang”, Amira menjawab dengan cukup serius.
“seminimal mungkin orang itu siapa saja?”, Arthur kembali bertanya.
“Yah orang-orang terdekatmu, dan orang-orang terdekatku?, :D, :D”, Amira mengirimkan chat itu dengan rasa bingung, karena sebenarnya dirinya belum terlalu memikirkan hal itu.
“Siapa orang-orang terdekatmu?”, Arthur kembali meluncurkan pertanyaan.
“Ibuku, kakak perempuanku, Rani...”, Amira mengirimkan balasan cukup lama.
“Mungkin rekan kerjaku di perusahaan sebelumnya, dan rekan kerjaku di UTH juga bisa di undang?”,
“Aku baru menyadari kalau ternyata orang terdekatku benar-benar sedikit, itu bagus, hhahaha”.
“Oh ya, keluarga dari almarhum ibuku dan keluarga dari almarhum ayahku. Aku benar-benar jarang berhubungan, tapi bukankah akan terlalu tak sopan kalau tak di undang?”, Amira kembali mengirimkan kalimat tambahan, namun tak ada jawaban dari Arthur hanya ada tanda bahwa pesan yang Amira kirim sudah Arthur baca.
“Random sekali”, Amira tersenyum tipis mengakhiri pandangannya ke layar ponsel, lalu memejamkan matanya sembari bersandar ke sandaran jok mobil.
Siang menjelang sore hari itu, Amira menghabiskan waktunya dengan menonton sebuah series di ruang tengah, selain menghabiskan waktu, Amira juga memiliki niat untuk menunggu Arthur pulang kerja, sambil menebak-nebak, apakah Arthur masih akan bersikap dingin, atau sudah kembali seperti semula, mengingat percakapan tiba-tiba melalui chat siang tadi memberikan gambaran kalau Arthur sudah mulai mencair.
“Amira?, Amira?”, Amira membuka matanya mendengar suara yang memanggilnya beberapa kali, Amira ternyata malah tertidur lelap di atas sofa dengan TV yang masih menyala.
“Oh?, ada apa?”, Amira yang sebenarnya belum mendapatkan seluruh kesadarannya, langsung bertanya sambil mengucek mata pelan saat menyadari Farhan berdiri di depannya.
“Cepat bersiap, mandilah dan bersiap-siap”, Ucapan aneh Farhan itu tak seaneh suasana rumah. Amira baru menyadari ada beberapa orang tak di kenal mulai masuk dan lalu lalang di sekitar Amira.
“Hah, apa?”, Amira yang masih kebingungan menatap jam di dinding dan memastikan kalau hari itu sudah menunjukkan jam tujuh malam.
“Nah kalian juga segera bersiap, agar saat Amira beres mandi, Amira bisa langsung di dandani”, Farhan dengan wajah lelahnya terlihat berjalan mengatur beberapa orang yang baru datang, orang-orang itu membawa beberapa baju yang di balut plastik pelindung yang terlihat cukup tebal.
“Nah, Amira?, apa yang sedang kamu lakukan?, cepat pergi mandi!”, Farhan terlihat mulai frustasi melihat Amira yang planga-plongo.
“Apa?, ada apa?”, Amira menaikan nada suaranya menegaskan kebingungannya. mendengar hal itu Farhan terdiam mematung dengan wajah syok.
“Arthur tidak memberitahumu?”, mata farhan terbelalak memperlihatkan area putihnya lebih banyak.
“Apa?”, Amira memeriksa ponselnya yang tergeletak di atas meja yang berada di hadapannya.
“Tak ada pemberitahuan apapun”, Amira mengerutkan dahinya melihat tak ada pesan atau panggilan apapun dan dari siapapun di ponselnya.
“Ya tuhan, dasar gila. Cepatlah mandi dulu, ada acara mendesak, kita harus sampai di tempat acara jam delapan paling telat”. Farhan bahkan mengibaskan lengannya, mendesak Amira untuk cepat bersiap.
“O..oh ya”, Amira terburu-buru beranjak dari duduknya berniat untuk lari ke kamarnya.
“Sebentar”, ucapan Farhan itu menghentikan langkah Amira tepat setelah melangkah sebanyak tiga kali.
“Pilih, yang mana yang kamu suka”, Farhan menunjuk kearah baju yang sudah berjejer keluar dari covernya masing-masing.
“Ya?, oh ini”, Amira yang merasa terburu-buru segera menunjuk baju berwarna hitam yang sebenarnya belum benar-benar dia lihat secara menyeluruh.
“Apa tak apa warna hitam?”, Farhan bertanya ke arah seorang wanita yang sedari tadi mengurusi baju-baju itu bersama dua rekannya.
“Saya pikir tak apa, jaman sekarang banyak kok yang pakai tema warna hitam”, ucap wanita itu dengan yakin.
“Cepat bersiap! ”, Farhan yang menyadari Amira masih berdiri di hadapannya, segera mengulangi perkataannya yang sejak tadi dia ucapkan.
“Oh, ya”, Amira sebenarnya merasa sedikit kesal, tapi jika mengingat bagaimana Farhan bekerja di bawah Arthur yang sebenarnya memiliki sifat yang cukup sulit, membuat Amira selalu tak bisa benar-benar merasa kesal kepada Farhan, mungkin karena tertimbun rasa kasihan. Ya dan memang jika Farhan bertindak mengesalkan seperti itu, biasanya ada pengaruh dari perintah Arthur di belakangnya, seperti saat Amira tiba-tiba di larang untuk berpacaran di perusahaan.