
Pertama kalinya aku bertemu dengan lelaki unik ini adalah di saat aku terpaksa menjadi ‘kurir’, keluargaku mengalami kesulitan ekonomi secara turun-temurun, dan kebiasaan leluhurku adalah mewariskan sisa hutang yang tak berhasil mereka lunasi hingga akhir hayat mereka.
Kembali ke masa lalu, awal mulanya aku memutuskan untuk pergi ke ibu kota yang sangat jauh, berharap bisa dengan mudah melunasi warisan hutang yang di tinggalkan kedua orang tuaku yang mati muda secara bersamaan karena sebuah wabah di desa.
Tapi nyatanya terlalu sulit mendapatkan pekerjaan di ibu kota, apalagi dengan latar belakang pendidikan yang nihil dan buta huruf, dan lagi saat itu aku baru berumur lima belas tahun, alhasil menjadi anak jalanan adalah takdir yang menyambut ku di ibu kota.
Sejak itu kebiasaanku adalah mencari botol-botol plastik dengan rajin, namun tentu saja dengan pekerjaan seperti itu, dengan pengalaman yang tidak mumpuni, hanya bisa menutupi makan siangku saja, tak ada sarapan, tak ada makan malam apalagi mencicil hutang. Namun tak mengapa, karena jarang makan sudah seperti budaya turun temurun di keluargaku, jadi itu bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah para kreditur yang ternyata memiliki penagih bahkan di ibu kota sering kali mendatangiku dan tak segan menyakitiku karena tak mampu membayar, ini benar-benar menyiksa. Jadi aku dengan mudahnya menyerahkan tanah sempit dengan gubuk yang terbangun di atasnya di desa untuk pembayaran tanpa ragu. Padahal dulu ayah dan ibuku berusaha melindunginya dengan sekuat tenaga sampai titik darah penghabisan.
Namun gubuk itu hanya dapat menutupi sekepal dari gundukan hutang yang menggunung, jadi aku dengan putus asa mencari pekerjaan siang dan malam, mengerjakan apa saja yang bisa ku kerjakan untuk mengumpulkan uang, termasuk menjadi ‘kurir’, yang sebenarnya beresiko terkena razia.
Hari itu seperti biasa aku seringkali datang ke sebuah bengkel, menemui lelaki yang sepertinya berumur dua tahun di atasku. Dia sepertinya adalah pedagang yang sukses, karena aku memang paling sering mengambil paket darinya.
Wajah yang tampan, tubuh yang tegap, dan pekerjaan tetap di bengkel membuatku sangat iri kepadanya. Setiap kali aku bertemu dengan dia, aku selalu berucap dalam hati bahwa aku sangat iri dengan berbagai cara.
“Apa ada yang mengganggumu di jalanan?”, tiba-tiba saja dia mengajakku berbicara setelah puluhan kali kami bertemu dan hanya berbicara dalam kode jual beli.
“Apa?, oh ti..tidak”, Aku menjawab ragu, karena memang bukan preman atau sesama anak jalanan yang membuatku sering lebam dan terluka, tapi para penagih utang.
“Hmmm, yah kecil kemungkinan orang-orang jalanan di daerah ini menyerang mu tanpa alasan, daerah ini cukup rukun sampai batas tertentu”. Lelaki itu berbicara, lalu kemudian berjalan pergi memunggungi ku.
Aku menatapnya dengan lekat beberapa saat sembari bergumam dalam pikiranku, ‘lihatlah otot-otot itu, semua itu bisa terbentuk jika kita makan dengan nutrisi yang benar’, itulah kira-kiranya caraku mengungkapkan rasa iri ku padanya kali ini.
“Siapa namamu?”, orang itu tiba-tiba mengagetkanku dengan pertanyaan yang sebenarnya tabu untuk transaksi ini, terutama dalam aturanku. Sehingga aku hanya diam dengan mulut kaku yang bingung harus berkata apa.
“Namaku Arthur”, ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang baru kali ini aku lihat dari lelaki itu membuatku pangling. Dia benar-benar luar biasa, bahkan oli dan debu yang menutupi beberapa area wajahnya kala itu seolah menjadi penambah kesan manly dalam tampilannya.
“A, aku..”, Aku ragu sejenak memikirkan nama apa yang harus ku pakai, haruskah aku memakai nama asliku saja, atau buat nama palsu?, jeda yang tidak kusadari itu sepertinya menjadi terlalu jelas untuk lawan bicaraku itu.
“kamu punya hutang?”, lelaki yang mengaku bernama Arthur itu kembali berjalan mendekatiku.
“Bagaimana bisa kamu punya hutang saat kamu bahkan terlihat masih lebih muda dariku?”, kembali dia bertanya seolah sedah tahu jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
“A.. dari orang tuaku”, tanpa sadar aku menjawab, mungkin karena selama ini tidak ada orang yang bisa aku ceritakan tentang bebanku ini.
“Berapa banyak?”, dia kembali bertanya.
“Ku, kudengar sebanyak tiga ratus juta..”, aku menjawab dengan rasa malu, sehingga rasa malu itu tanpa sadar membuatku menurunkan volume suaraku.
“kudengar?”, lelaki itu berjalan lebih dekat lagi, hingga tanpa sadar aku mendongak dan menutup mulut rapat karena rasa terintimidasi.
“Sepertinya kamu berurusan dengan lintah darat”, ucapnya tenang.
Aku mengambil satu langkah mundur agar bisa sedikit bernafas dengan benar.
“Berurusan dengan mereka tak akan ada akhirnya, kecuali kamu mengakhiri garis keturunan keluargamu segera”, ucapnya sambil tertawa tipis. Aku bertanya-tanya apa tujuan lelaki itu berkata seperti itu, namun satu hal yang pasti. Aku merasa dihina.
“Apa hak mu berkata seperti itu?, kamu yang hidup dengan nyaman seperti itu tak akan bisa mengerti perasaanku”, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku dengan dorongan rasa kesal.
“Haha, apa aku terlihat seperti itu?”, dia terlihat tertawa dengan perasaan puas.
“Aku tak pernah berpikir akan terlihat hidup dengan nyaman di mata orang lain”, mulutnya berucap dengan tenang.
“Tapi ternyata aku bisa, dan memang masuk akal jika melihatku dari posisimu. Yah memang cukup nyaman hidup seperti ini..”, lelaki itu berceloteh sembari melihat ke sekelilingnya, dia sepertinya melihat beberapa rekan kerjanya keluar dari bengkel yang sudah tutup sore itu.
“Tapi ini belum cukup untukku..”, dia berbicara sembari menyeringai, mengangkat tangannya seolah membalas sapaan beberapa lelaki paruh baya yang menyapanya dari kejauhan.
“Tapi untuk mencapai kenyamanan itu, aku butuh bantuan, tak bisa sendirian..”, lelaki itu kembali menatapku dengan tatapan lurus ke arah penglihatan ku.
“apa maksudnya?”, aku gugup mendengar perkataan yang sepertinya memiliki niat terselubung itu.
“Kamu ingin ikut denganku?, aku yakin bisa membantumu menyelesaikan masalah hutangmu itu, kebetulan aku memiliki sebuah wadah perkumpulan yang sepertinya bisa berguna untuk kita”, aku menelan ludah mendengar lelaki itu menjelaskan sesuatu yang tak terlalu aku mengerti, tapi entah mengapa aku agak khawatir.
“itu cukup menarik, tapi aku memiliki batasan, aku tak bisa merampok, menyakiti orang lain, apalagi membunuh”, Aku menjelaskan batas hati nuraniku bekerja. Walaupun lelaki di hadapanku ini terlihat hidup dengan baik, namun sepertinya apa yang di tawarkannya terdengar sangat ambisius, sehingga aku berspekulasi ada arah ke pekerjaan menyeramkan itu.
“Tenang saja, kalau kamu tertarik datanglah nanti malam ke sebuah gedung XXX di persimpangan, oh dan namamu siapa?”, dia kembali bertanya namaku.
“J.. jamal”, Aku menjawab dengan gugup.
“Baiklah, kuharap kamu bisa memberi tahuku namamu nanti”, ungkapan dari lelaki yang tersenyum tipis di depanku ini membuatku merinding. Lelaki itu kemudian berjalan berbalik menjauhiku.
“Fa.. Farhan, namaku Farhan”, entah kenapa aku rasanya harus mengatakan namaku yang sebenarnya sebelum dia benar-benar pergi.
“Baiklah, sampai jumpa di gedung XXX di persimpangan”, lelaki itu menoleh sebentar sembari tersenyum lebar.
Aku tak tahu bahwa aku akan sangat bersyukur bahkan hingga belasan tahun berlalu, bersyukur karena aku memutuskan untuk datang ke tempat yang Arthur ucapkan itu. Sejak saat itu aku memang mengalami banyak hal mengerikan seperti harus menghadapi kematian dua sahabatku yang over dosis, beberapa kali ikut dalam perkelahian yang cukup parah, di buru musuh-musuh Arthur karena menolak untuk berkhianat, hingga di cari polisi karena merampok sebuah mini market terakhir kali.
Tapi pada akhirnya berkat lelaki itu aku bisa merasakan hidup yang lebih ada artinya, aku bisa merasakan bagaimana beratnya belajar karena orang itu terus menekan ku untuk belajar pelajaran formal, dan aku kini bisa bercermin dengan bangga sambil memuji diriku sendiri tanpa harus iri pada Arthur.
Dan yang paling berkesan adalah bagaimana aku bisa mengakhiri cekikan hutang yang secara turun-temurun di wariskan oleh keluargaku. Awalnya aku bisa melunasi hutang-hutang itu hanya dalam waktu satu setengah tahun, tapi ternyata benar kata Arthur, para lintah darat itu tak akan berhenti menempel kepadaku dengan mudah, mereka memalsukan surat pelunasan dan menagih bunga yang menggunung di kemudian hari. Awalnya aku berniat membereskannya diam-diam di belakang Arthur dengan uang yang bisa di bilang gaji bulanan dari Arthur, tapi ternyata akhirnya ketahuan oleh Arthur karena di satu waktu mereka mengeroyokku, dan Arthur mengambil langkah tegas dengan membayar beberapa aparat korup untuk mengusut mereka sampai tuntas, hingga akhirnya perusahaan lintah darat itu tutup dengan aset yang di sita negara.
Aku menyaksikan bagaimana lelaki luar biasa itu mengubah kehidupannya yang ternyata tidak lebih baik dariku pada awalnya, dia benar-benar luar biasa, kemampuan fisik, otak, bahkan kemampuan berpolitik dan berbisnisnya benar-benar mengagumkan. Aku benar-benar bergantung dan berterima kasih kepadanya, walau terdengar lebay tapi aku bersumpah setia kepadanya sebagai bawahan walau harus merelakan kenyamanan hidup yang kini aku dapatkan walaupun tak yakin jika harus benar-benar berkorban dengan nyawa. Aku yakin Heru dan Bima pun sama denganku, bahkan aku bisa merasakan mereka berdua lebih loyal kepada Arthur dibanding diriku.
Dari semua rasa bangga dan kagum ku kepada Arthur, ada satu hal yang membuat lelaki itu terasa kekanak-kanakan dan terlihat bodoh di mataku. Itu berawal setelah krisis besar yang kedua di The hell. Entah dari mana dia tiba-tiba membonceng wanita dengan pakaian compang-camping dan ekspresi trauma di wajahnya. Sejak hari itu Arthur terlihat kurang fokus dalam mengurus The Hell dan menjadi labil, bahkan sampai sekarang.
“Bukankah aku sudah memintamu untuk mengawasinya?”, Arthur yang baru saja memarkirkan mobilnya mengeluh di hadapanku dengan wajah kesal.
“Ya aku mengawasinya dengan benar, tapi masa iya aku harus melarangnya berteman juga”, aku menjawab se-masuk akal mungkin, walau aku tahu itu tak akan berhasil jika mengenai Amira.
“Teman apanya, jelas sekali bocah itu menatap Amira dengan tatapan menyebalkan. Aku tak mau tahu, urus dia dengan benar”, Arthur tak berhenti mengomel sebelum berpisah di persimpangan jalan yang memisahkan arah ke kantornya dan ke ruanganku.
“Haaah”, Aku mengeluh, rasanya aku menyesal karena menerima tawaran Arthur untuk nebeng setelah rapat pagi di rumah Arthur. Sebenarnya aku menerima tawaran ini karena tubuhku sedang sangat lelah di tengah urusan kelulusan S2-ku di jurusan manajemen bisnis.
“Aku yakin kalau Bima ada disini dia akan mengomel ‘Arthur kamu itu ribet banget sih, tinggal ajak balikan aja susah banget’”, tanpa sadar aku memperagakan omelan Bima di lorong menuju ruanganku.
“Dasar bos bucin sialan”, cibiran di belakang bos seperti ini sebenarnya adalah salah satu hiburanku jika sedang dalam tekanan masalah yang cukup melelahkan.