The Hell

The Hell
Akhir bagi keluarga Allan



Allan berjalan dengan tergesa memasuki lingkungan rumah keluargannya, mimik wajahnya memperlihatkan ke kalutan dan rasa panik, mengingat bagaimana nada bicara ayahnya di panggilan telphone beberapa waktu lalu.


“Ada apa?”, Allan menahan nafasnya yang masih berderu, Allan duduk di salah satu kursi kosong di tengah kerumunan orang-orang.


“Haah, jelaskan!”, Ayah allan mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk yang menunjuk kepada seorang lelaki.


“Ada masalah yang cukup serius, dan masalah ini membuat kami merasa tak lagi sanggup menutupi keberadaan kalian”, lelaki paruh baya itu menjelaskan dengan kening berkerut, menegaskan bahwa sudah lelah dia memikirkan masalah yang sedang dia hadapi tanpa adanya jalan keluar.


“Jadi?, anda merasa harus menyerah begitu saja?, kita adalah satu kesatuan yang tak bisa di pisahkan! ”, Allan mengeluh tanpa ragu, dirinya sudah bisa menebak masalah seperti apa yang di maksud lelaki yang merupakan seorang polisi itu.


“Maafkan saya”, lelaki itu menunduk.


“Dimana bos mu?”, ayah Allan bertanya sembari mencoba untuk tenang.


“Beliau tak bisa datang karena masuk sebagai salah-satu ketua tim penyelidikan”, jelas lelaki itu.


“Berapa kira-kira nominal yang dibutuhkan untuk meredam kegaduhan ini?”, salah seorang keluarga Allan bertanya, mencoba mencari solusi.


“Itu mungkin agak sulit, karena beberapa di antara ketua penyelidik lain, ada beberapa orang idealis yang benar-benar kaku dalam penegakan hukum”, jelas utusan polisi itu.


“Maksud kami adalah, berapa kiranya biaya untuk meredan semua kegaduhan ini?”, ayah Allan kembali menanyakan hal serupa dengan pertanyaan keluarganya sebelumnya. Dan pertanyaan itu membuat anggota polisi itu terdiam ragu sembari menatap ayah Allan meminta penjelasan.


“Ada banyak cara untuk mematikan api”, salah satu kakak Allan tersenyum sembari menjelaskan, mencuri perhatian orang-orang disana dari keheningan.


“Ada yang cukup dengan memberi api itu air, ada yang lebih cocok dengan menggunakan pasir, dan bisa juga dengan menghilangkan oksigen agar api itu tidak bisa menyala sama sekali”, penjelasan kakak Allan itu membuat dua polisi yang di utus pimpinannya itu terdiam saling memandang.


“Ka, kami ragu soal hal itu bisa di lakukan atau tidak”, polisi itu menjelaskan dengan ragu-ragu.


“Dua dari mereka adalah orang terkemuka yang memiliki banyak koneksi kuat, bahkan pemimpin kami tak berani macam-macam”, lanjutnya.


“Jadi kalian benar-benar tak memiliki jalan?, kalian hanya senang saat memeras uang keluarga kami, tapi cuci tangan disaat seperti ini?”, Allan berdiri dari duduknya, dia menjadi orang yang paling gemetar, karena memang dirinya sudah sangat curiga sejak Arthur masuk penjara.


“Jika bisa kami sangat ingin cuci tangan!, tapi banyak dari kami pun sudah menjadi tersangka, kami berdua bisa datang kemari karena masih belum terendus, tapi kami yakin tak lama lagi bagi kami!”, salah satu polisi itu berteriak dengan emosi yang meluap.


“Kedatangan kami kemari merupakan rasa tanggung jawab terakhir kami, selanjutnya itu terserah kalian, kami akan pergi”, kedua polisi itu meninggalkan ruangan sunyi itu dengan meninggalkan salam perpisahan.


“Lihatlah ayah!, sudah kubilang apa?, Arthur itu bukan bocah yang mudah kita tangani!”, Allan menyalak di depan wajah ayahnya.


“Allan!”, kakak tertua Allan menjauhkan Allan dari ayahnya.


“Berpengalaman apanya?, kita bahkan hancur karena seseorang yang ayah sebut anak ingusan!”, Allan membanting pintu sembari keluar dari ruangan itu.


“Haahh, tetap saja aku ragu kalau tak ada celah sama sekali untuk kita bisa selamat”, ayah Allan memijat kening keriputnya dengan pandangan yang fokus menatap meja.


“Jika memang tak ada, mau bagaimana lagi, kita harus berlibur untuk waktu yang lama sembari meninggalkan ekor disini”, kakak Allan menatap ayahnya dengan penuh harap.


“Kau benar”, ayah Allan yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama, membenarkan perkataan putra sulungnya itu.


“Bergegaslah, persiapkan koper kalian”, Ayah Allan berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti hampir semua orang yang ada di sana.


“Persiapkan orang yang akan tetap disini”, Ayah Allan berbisik kepada anak sulugnya, dan di respon dengan anggukan.


Ya, hari itu keluarga Allan berencana untuk pergi ke luar negeri, mereka memang sudah mempersiapkan hal ini untuk keadaan terburuk sejak bisnis mereka berjalan lancar. Ada beberapa relasi yang kiranya akan bisa berguna di luar negeri.


“Siapa yang anda maksud?”, Amira bertanya dengan gugup.


“Apa, pihak rutan menolak pengajuan kunjungan saya?”, Amira mengajukan pertanyaan kedua dengan cepat.


“Oh tidak mba, yang saya maksud dengan yang bersangkutan adalah saudara Arthur, tahanan yang hendak anda besuk”, jelas petugas administrasi itu.


Amira berjalan dengan linglung menuju parkiran, bahkan kehampaan itu bertahan untuk beberapa hari, membuat Amira seolah berjalan tanpa menapaki tanah dengan cara yang tak menyenangkan.


“Akhirnya para berandal jalanan itu di bereskan dengan benar!”, salah seorang teman kerja Amira berteriak tiba-tiba saat makan siang.


“Oh iya, dan sekarang mungkin akan benar-benar terasa lebih aman di perjalan pulang”, yang lain menyambut pembukaan topik tersebut.


“Beberapa bulan yang lalu benar-benar kacau rasanya, kalau ada lemburan berasa lebih baik menginap di kantor saja sekalian”, timpal yang lain.


Amira duduk dengan tenang di tengah percakapan yang sebenarnya sudah menjadi perbincangan banyak orang selama sebulan terakhir itu.


“Waah, lihat ini berita terbaru, penangkapan keluarga mafia gembong nar***a”, orang-orang berkerumun menatap layar ponsel salah satu dari mereka.


“Waah, tumben sekali aparat bekerja sememuaskan ini?”, racau seorang yang lain.


Di tengah ke gaduhan suasana makan siang itu, Amira menatap ponselnya dengan serius.


“Polisi bersama tim gabungan khusus berhasil meringkus sekelompok gembong narkoba yang hendak dalam perjalanan menuju bandara, total 29 orang tertangkap dan tiga diantaranya merupakan anggota kepolisian. Para tersangka di curigai berusaha melarikan diri ke luar negeri setelah mengendus operasi polisi. Di yakini para tersangka ini juga bertanggung jawab atas teror jalanan beberapa bulan terakhir. Dengan tertangkapnya …”, Berita itu bergulir berbisik di telinga Amira melalui aerphone.


Hari berlalu, Amira yang mulai lelah mencari kabar mengenai Arthur kini terlihat pasrah sembari menjalani rutinitasnya. Terkadang Amira merasa sangat menyedihkan karena bahkan saat tahun sudah berganti sebanyak tiga kali sejak penangkapan Arthur, dirinya masih saja merindukan Arthur.


“Drrrt, drrt”, Amira melirik ponselnya yang menyala sambil bergetar di samping laptop kerjanya.


“Ya halo?”, Amira menerima panggilan dari nomor tak dikenal itu sembari berjalan ke balkon kantor.


“Benar dengan saudari Amira?”, “iya”, Amira langsung menjawab pertanyaan itu sembari menghirup udara di luar ruangan pengap itu.


“Kami dari kepolisian xxx, mohon untuk datang ke kantor polisi xxx segera”, jelas orang itu.


“Ada apa ya?”, Amira sempat ragu dan terbesit dalam pikirannya bahwa panggilan tersebut merupakan penipuan.


“Kami mendapat laporan ayah anda meninggal pagi tadi, dan jenazahnya sedang di autopsi, kami memerlukan beberapa keterangan lebih lanjut dari anda”, penjelasan itu mmembuat Amira terdiam, dia berbalik menatap kaca jendela, menatap pantulan dirinya sendiri sembari mencoba memahami situasinya.


Amira berjalan ke dalam kantor kembali selangkah demi selangkah setelah menyudahi panggilan telephon sebelumnya, pandangannya buram entah terhalang apa.


“Amira?, kamu kenapa?”, atasan Amira menatap Amira dengan ekspresi khawatir.


“Ya?, oh saya ingin ijin cuti untuk beberapa hari bu”, Amira yang menyadari matanya basah mengelapnya perlahan sembari menjelaskan maksud dirinya mendatangi meja atasannya itu.


“Kenapa?, ada apa?”atasan Amira berdiri dari duduknya sembari mendekati Amira.


“Ayah saya berpulang”, Amira menjawab.


Hari itu Amira keluar dari tempat kerja dengan terburu-buru di antar pandangan bela sungkawa dari rekan-rekan kerjanya. Dia membawa motor dan langsung menuju kantor kepolisian. Sebelum turun dari motor, Amira menatap kaca spion di area parkir itu. Amira menyadari area mata hingga pipinya basah dengan air mata, namun bibirnya tak bisa berhenti tersenyum dengan cara yang aneh.


“Ha.. haha.. haa”, Amira menutup wajah dengan kedua tangannya, meredam suara tangis yang ambigu, karena lebih terdengar seperti suara tawa.