
Sejak udara kebebasan mengisi paru-parunya, Arthur mulai disibukan dengan berbagai urusan, kebanyakan dari semua kesibukan itu adalah membereskan puing-puing dari badai yang mungkin bisa di anggap sudah berlalu.
Pagi itu adalah hari kedua setelah Arthur terbebas dari jeratan hukum, Arthur duduk di sebuah meja dengan banyak dokumen berserakan, sedang cahaya matahari keorenan memanggang bagian belakang tubuhnya yang tak terhalang oleh sandaran kursi kerja.
“Hahh”, Arthur membuang perlahan nafasnya sembari memijat kepalanya.
“Sayang sekali”, Arthur melemparkan beberapa kertas sembari menggeram.
“Masalah kali ini benar-benar menelan kerugian yang besar”, itulah yang Arthur pikirkan sembari menatap ke sembarang arah dengan tidak fokus.
“Untung saja aku memotongnya tepat sebelum benar-benar hangus menjadi abu semua”, pikiran Arthur terus bermonolog di tengah keheningan.
Selama hampir 12 tahun geng motor berjalan, Arthur sudah tiga kali bertemu dengan guncangan masalah yang memporak porandakan geng The Hell. Pada awal berdirinya tentu saja tak banyak masalah, hanya masalah-masalah kecil yang sebenarnya hampir tak berarti. Namun seiring menguatnya perputaran uang di dalam geng, semakin kompleks masalah yang datang.
Di badai pertama Arthur sudah memprediksinya, tepatnya di tahun ke dua saat awal-awal Arthur mulai mendapatkan uang dari kepengurusan geng, itu karena jenis usaha yang menggerakkan perputaran uang di dalam geng semuanya adalah usaha ilegal, saat itu Arthur berusia sekitar 19 - 20 tahun. Badai pertama ini tak terlalu sulit di bereskan, karena Arthur dengan mudah bisa menyesuaikan diri dengan dunia gelap.
Di badai kedua, saat geng mulai memiliki kuantitas yang tak terkontrol, para anggota geng yang tak bisa di kendalikan langsung oleh Arthur menyebabkan banyak masalah, hingga arthur hampir kewalahan untuk mengurus hukum yang selalu hampir mengorek The Hell lebih dalam, akan sangat konyol jika usaha besarnya hancur hanya karna kekonyolan anggota yang tak mengetahui apapun tentang The Hell yang sebenarnya, mereka adalah jenis orang yang merasa keren dengan hanya bergabung dengan geng motor terkenal, lalu kemudian dengan sombong membuat keributan seperti pemalakan, tawuran atau bahkan melukai warga biasa tanpa alasan. Karena masalah tidak terkontrol ini, ada banyak orang yang berusaha menyingkirkan Arthur dan mengambil alih The Hell, hingga terciptalah perpecahan, orang-orang ini mengejek Arthur memimpin geng motor lebih seperti kepala sekolah karena Arthur melarang mereka berperilaku kasar kepada orang lain kecuali untuk perlindungan diri. Namun untungnya sebagian besar anggota memihak Arthur, para anggota ini Arthur anggap sebagai anggota setia, karena itulah Arthur sering kali membantu mereka melalui banyak hal, baik pekerjaan, bantuan keuangan dan lain halnya. Bantuan ini Arthur koordinasikan melalui Heru yang masuk di dalam sebuah grup chat, di luar grup chat The hell. Selain hal itu banyaknya anggota yang menjadi korban dari obat-obatan terlarang juga menjadi masalah besar bagi the Hell di tahun ke empat dan lima, sehingga Arthur dengan gencar mencoba untuk berhenti dari bisnis tersebut dan mengalihkan beberapa modal besar ke berbagai macam usaha. Tentu tidak mudah, tapi bukan hal yang sulit juga, peralihan ini mungkin di kenali oleh orang lain sebagai tindak pencucian uang. Namun Arthur dengan serius berhenti dari bidang na****a karena rasa kesedihan mendalam kehilangan beberapa teman dekatnya. dan tindakan ini membuat pendukung setia Arthur cenderung lebih mengidolakannya dengan menganggap Arthur sebagai lelaki sejati dengan pikiran jernih dan bertanggung jawab, tanpa mereka tahu Arthur adalah ahli di bisnis gelap.
Di badai terakhir yang berhasil meluluh lantahkan The Hell, ini adalah efek dari upaya penyelesaian di badai ke dua. Akibat penghentian dan cenderung ke pemblokiran bisnis na****a, orang-orang yang merasa kehilangan pasar dan merasa di rugikan mulai memasang taring dan cakar. Masalahnya adalah, mereka semua bukanlah orang sembarangan yang sama dengan orang-orang yang membuat keributan di badai kedua, mereka adalah sekelompok orang yang berpengalaman di bisnis gelap lebih dari Arthur. Di tahun-tahun ini sangat menyesakkan bagi Arthur, walau begitu tak terlalu menakutkan karena di tahun itu Arthur bertemu dengan seseorang yang membuatnya merasakan perasaan manis setiap saat.
-”apa kamu sadar seberapa bahayanya bisnis yang kamu jalankan?, semua itu terlalu beresiko!”, teriakan Amira itu berdenging di kepala Arthur.
“Yah kamu benar”, Arthur bergumam saat mengingat hal itu sembari tersenyum. Masa di mana dirinya mulai tak sanggup menghadapi gempuran dan teror dari beberapa mafia kecil, dan juga keluarga Alan sebagai ancaman terbesar. Sejak Amira pergi dari rumah, Arthur menjalani hidup seadanya dan kurang kontrol diri, tapi tak terlalu buruk karena dirinya tak pernah melewatkan satu hari pun menemui Amira di mini market. Hingga beberapa tahun berjalan, dan Arthur tak sanggup lagi, dirinya kecolongan dan hampir di bunuh, namun untungnya berhasil kabur walau semua aset termasuk rumah harus di rebut oleh keluarga serakah itu.
“Yah memangnya manusia mana yang tidak serakah”, Arthur kembali tersenyum sembari menutup matanya dari sorot lampu.
“Untung saja aku bisa mengambil beberapa puing yang cukup berharga sebelum benar-benar membakarnya”, Arthur kembali bergumam sembari menatap jendela yang terasa dingin karena menyadari tak ada lagi cahaya keorenan yang menembus ruangan. Tanpa terasa ternyata Arthur menghabiskan waktu cukup lama untuk melamun hingga gelapnya malam telah sepenuhnya menelan hari.
“Aku harus bergegas”, Arthur kembali duduk di kursi kerjanya dan mulai fokus ke pekerjaan yang sedang dia kerjakan. Dia harus bergegas mengamankan apa yang tersisa untuknya, sebelum terendus oleh hukum, karena ya tujuh puluh persen lebih aset hasil dari The Hell yang di pegang oleh Alan harus direlakan untuk di sita dan pada akhirnya akan jadi milik negara. Untungnya aset yang Arthur curi dari Alan dulu adalah beberapa usaha yang sudah lebih dingin dan cenderung stabil, itu juga mungkin jadi alasan Alan tidak terburu-buru memindahkan hak kepemilikan karena usaha-usaha itu cenderung lebih menyusahkan untuk di urus dengan penghasilan yang tak terlalu memuaskan. Lebih tepatnya usaha-usaha tersebut adalah usaha yang jujur.
“Apakah ini yang kamu inginkan Amira?”, Arthur bergumam sendirian saat menandatangani beberapa berkas perpajakan.
“Jalannya adalah menaikan penghasilan secara perlahan, dan secara bersamaan menurunkan penghasilan di dokumen secara perlahan, walau untuk beberapa bulan aku harus kehilangan uang yang cukup besar”, Arthur mengetukkan pulpen ke pinggiran meja.
“Akankah berhasil?”…
“Atau mungkin tidak?”…
Arthur menimbang-nimbang, masalahnya adalah jika ada kesalahan pengambilan keputusan semuanya akan berakhir sia-sia, dan Arthur mungkin akan benar-benar di penjara karena beberapa hal di masa lalu yang berusaha dia tutupi akan terbongkar begitu saja.
“Orang bilang jika membuat usaha dari uang haram, maka usaha tersebut akan menghasilkan uang haram yang lain walau usahanya itu sendiri baik”, Arthur kembali bersandar ke sandaran kursi.
“Tapi memangnya usaha mana yang pada akhirnya tidak terkontaminasi saat mereka menjadi besar?”, Arthur tertawa sembari menyeruput air dari gelas minumnya.
“Drrttt, Drrttt”, ponsel Arthur bergetar di pojokan meja, Arthur yang sedang sangat serius meraba-raba saat mengambil ponselnya tanpa melihat kearah ponsel itu.
“Farhan?”, Arthur terheran karena jarang sekali mendapat panggilan dari farhan, Arthur melihat waktu menunjukan jam delapan pagi.
“Hah pantas saja mataku perih”, Arthur yang baru menyadari dia bergadang sampai hampir siang hari berdiri dari duduknya dan mengangkat tangan sambil menarik-narik area pinggangnya, merentangkan rasa kaku di seluruh tubuhnya.
“Ya?, ada apa?”, Arthur bertanya-tanya, namun dirinya bisa menebak jika itu Farhan yang menelepon, itu pasti mengenai pekerjaan kantor atau… mengenai Amira.
“Arthur, mungkin kamu perlu tahu ini,…, ayah Amira meninggal, kepolisian mencurigai itu adalah kasus pembunuhan”, Farhan menjelaskan perlahan, mencoba mendengarkan respon Arthur yang terdengar tenang.
“Oh begitu.., aku turut berbelasungkawa”, Arthur merespon dengan tenang setelah beberapa saat terdiam.
“Apa kita perlu melakukan sesuatu?”, Farhan bertanya dengan ragu. Namun Arthur tak kunjung terdengar menjawab. Hingga Farhan menatap ponselnya dan kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya saat menyadari panggilan masih berlangsung.
“Arthur?”, Farhan memanggil Arthur untuk memastikan keberadaannya.
“Yah, memangnya apa yang bisa kita lakukan? Kita tak bisa membangkitkan kembali orang mati, dan sebenarnya takdir kali ini terdengar cukup baik”, Arthur berbicara dengan tenang, namun jari telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak tenang.