The Hell

The Hell
Hari pertunangan



Amira berdiri di depan sebuah cermin, sejak pagi Amira berulang kali merapikan dandanannya. Baju putih sederhana berpadu dengan rok putih yang manis, Amira menyemprotkan beberapa semprot parfum ke area leher dan beberapa titik lain.


“Kamu libur?”, Amira membuka mulutnya setelah beberapa saat menyadari Arthur yang biasanya sudah pergi bekerja ke kantor, hari itu malah masuk ke kamar Amira setelah mengadakan rapat rutin di pagi hari.


“Hmmm, aku ada urusan, jadi aku tak pergi ke kantor hari ini”, Arthur hanya duduk sembari memainkan ponselnya di atas kasur Amira.


“Begitu?, urusan apa?”, Amira dengan alami penasaran, karena dirinya tak pernah tahu Arthur memiliki kegiatan lain selain bekerja.


“Aku harus mengantar kekasihku bertunangan dengan orang lain”, ucapan Arthur itu membuat Amira menghentikan kegiatannya memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas.


“Tak perlu, aku bisa di antar pak Agus”, Amira kembali merapikan barang bawaannya.


“Aku memang tak berniat menjadi supir, pak Agus yang akan membawa mobil", Arthur masih terus menatap ponselnya, entah apa yang sedang dia lihat di sana.


Amira menatap Arthur beberapa saat tanpa bicara apapun, seolah menagih penjelasan yang lebih bisa di mengerti.


"Bukankah jika bertunangan umumnya pihak wanita juga datang?”, Arthur mengangkat wajahnya, menatap Amira dengan tenang, lebih tepatnya berusaha untuk tenang.


Namun Arthur segera berdiri saat menyadari Amira sudah siap dan sedang berjalan ke arah pintu keluar.


“Keluargaku sudah di siapkan Galih”, Amira masih dengan tenang menanggapi Arthur.


“Memangnya ada aturan berapa banyak keluarga yang ikut?”, Arthur pun masih dengan tenang membuntuti Amira.


“Dengan sifat mu itu?, tidak, jangan, lebih baik kamu beristirahat disini jika memang tak bekerja”. Amira menghentikan langkahnya, berbalik melihat ke arah Arthur.


“Sifat ku?, memangnya sifatku seperti apa?”, Arthur mengangkat alisnya.


“Hmh, kamu mungkin bisa saja tiba-tiba mengungkapkan kebenaran di sana, di hadapan ibu Galih”, Amira menatap Arthur serius.


“Memangnya apa yang kalian lakukan?, apa kalian sampai ciuman di depan umum saat berpura-pura menjadi sepasang kekasih?", Arthur menyimpulkan dengan mata terbelalak, marah atas imajinasinya sendiri.


“Tidak Arthur, percayalah padaku”, Amira menggenggam lengan Arthur mencoba meyakinkan Arthur.


“Maka aku tak akan mengungkapkan hal apapun di sana, lalu apa masalahnya?”, Arthur menggenggam tangan Amira dengan lebih kuat.


“Haah, yasudah, sebentar aku kabari dulu Galih. Kenapa juga kamu baru bicara sekarang kalau berniat mau ikut, awas saja kalau kamu membuat masalah”, Amira mengomel sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arthur, lalu mengambil ponsel di tasnya dan mulai melakukan panggilan.


“Ya halo?”, Galih yang sedang sibuk mengatur beberapa orang untuk menjadi keluarga Amira menerima panggilan dari Amira di ponselnya.


“Galih, maafkan aku, tapi apa aku boleh membawa kekasihku?, dia sepertinya tak akan membiarkanku pergi sendirian”, Amira menjelaskan dengan nada suara yang sungkan.


“Ah, tenang saja dia berjanji tidak akan merusak acara, dan hanya akan berpura-pura menjadi keluargaku", Amira segera memberikan penjelasan lebih lanjut, seolah khawatir akan ada kesalahpahaman.


“Oh, yah tak masalah”, walau terasa berjeda, Galih segera menjawab Amira.


Galih terdiam beberapa saat setelah memutus panggilan dengan Amira, entah memikirkan hal apa, namun wajahnya tak memperlihatkan emosi apapun, tidak marah, kecewa, rasa syukur, ataupun pengertian yang tulus. Galih hanya terlihat memikirkan suatu hal yang abu-abu.


“Ya, siap”, Orang-orang itu menjawab bergantian, bahkan saat Galih sudah mulai membuka pintu untuk keluar dari ruangan itu


Beberapa saat kemudian Galih sudah sampai di sebuah gedung resepsi yang memang dia sewa, aula gedung yang terbuka lebar itu di hias oleh ornamen-ornamen cantik has acara pernikahan, namun lebih simpel, karena itu adalah acara pertunangan.


“ya ampun Galih, kamu kemana saja?, acara sebentar lagi di mulai tapi kamu malah ngilang!”, seorang wanita berumur enam puluhan duduk di kursi roda, dia mengomel tapi dengan suara lemah.


“Maafkan aku ma, tadi ada yang harus di urus”, Galih tersenyum sembari menyalami tangan tipis ibunya itu.


“Kak Amira sudah berangkat?”, Tya yang sedari tadi berada di belakang kursi roda ibu Galih itu bertanya kepada Galih.


“Ya, dia sudah hampir sampai”, Galih menjawab dengan tenang.


“Haah, kalo mama sehat, mama pasti akan mengatur acara pertunanganmu dengan benar, mama akan mengundang semua teman mama, dan membuat pesta yang ramai”, Ucapan ibu Galih yang sebenarnya adalah kali ke tiga dia ucapkan kala itu membuat Tya menelan ludah.


“Makannya mama harus fokus untuk sembuh”, Galih menundukkan wajahnya, menyejajarkan pandangannya dengan wajah ibunya, lalu dengan tenang mengusap sudut bibir ibunya yang terlihat terdapat sisa makanan cair sembari tersenyum.


Ibu Galih tersenyum seperti biasa saat menerima perlakuan manis dari anak lelakinya itu. Tanpa tahu alasan sebenarnya kenapa anaknya itu bersikukuh membuat acara pertunangan yang hanya di hadiri keluarga inti saja yang jumlahnya bahkan tak sampai dua puluh orang. Ruangan luas dan cantik itu menjadi penutup kebohongan yang cukup berlebihan untuk di hadiri tiga puluh orang saja.


“Keluarga dari pihak wanita sudah hadir, acara akan segera di laksanakan”, seorang berseragam kemeja hitam memberikan pemberitahuan, dia memberikan arahan kepada rombongan orang-orang yang baru saja memasuki ruangan agar segera duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Galih terdiam menatap satu persatu orang yang baru saja memasuki ruangan, dia terlihat mencari keberadaan seseorang, terutama orang yang berada di sekitar Amira.


“Loh itu siapa?, rasanya tak ada orang itu di daftar yang ku berikan padamu”, Tya berbisik tepat di telinga Galih, menunjuk kearah orang yang duduk paling belakang di antara orang-orang yang datang bersama Amira.


Saat Galih melihat ke arah lelaki yang sangat mencolok itu, dia mendapati lelaki itu pun sedang menatapnya tajam. Tatapan tajam dari lelaki itu cukup di mengerti oleh Galih yang memakai baju tuksedo putih, disaat semua orang memakai baju berwarna cream.


“Dia kekasih Amira”, Galih membalas bisikan Tya itu dengan suara yang lebih kecil lagi, sembari menatap ibunya yang duduk di kursi roda dengan rona wajah bahagia sembari memperhatikan satu persatu orang yang dianggapnya adalah keluarga Amira.


“Hah?!”, Tya ternganga mendengar jawaban Galih, namun dirinya bahkan tak berani menanyakan tentang hal itu lebih lanjut, karena dirinya duduk cukup dekat dengan ibu Galih.


Tya hanya terdiam, sambil beberapa kali mencuri pandang, memperhatikan Arthur yang cukup mencolok dengan baju berwarna hitam itu.


“Ah, jadi dia pimpinan UTH, sangat muda”, Itulah yang Tya pikirkan setiap kali melihat ke arah Arthur yang duduk di barisan paling belakang, menyilangkan tangan serta menumpuk kakinya, pandangannya terus menatap punggung Amira.


“Tya!”, Tya terkesiap menyadari bibinya memanggilnya beberapa kali.


“kenapa bi?”, Tanya Tya.


“Lihatlah pemuda tampan itu, ini kesempatanmu, jadi ikatan keluarga kita dan Amira akan menjadi ikatan simpul dua kali yang cukup kuat, bukankah itu bagus”, Ibu Galih tersenyum cerah menggoda Tya.


“Dia sudah punya kekasih bi”, Tya menjawab sambil tersenyum canggung.


“Oh begitu?, sayang sekali”, ibu Galih menggelengkan kepalanya pelan.