The Hell

The Hell
Gosip siang



“Kak Amiraaaa!, makan siang apaa?”, Randi berdiri dari mejanya menatap meja Amira yang entah kenapa terasa sunyi senyap. Di banding jawaban dari Amira seperti biasa, Rudi malah merasakan tatapan dari bu Jesi yang sudah siap dengan bekalnya, duduk di meja tengah atau yang biasa di panggil meja umum di kantor itu.


“Kamu gak sadar dari pagi?, Amira gak masuk”, bu Jesi menggelengkan kepalanya.


“Oh, iya kah?”, Hadi yang sama seperti Rudi tak menyadari ketidak hadiran Amira berjalan ke arah meja Amira dan menengok ke balik bilik penghalang meja kerja itu.


“Kenapa kak Amira?”, Rudi bertanya kepada bu Jesi setelah melihat Hadi yang menggelengkan kepala ke arahnya.


“Tidak tahu, pak Farhan hanya bilang Amira mungkin tidak akan masuk dalam beberapa hari”, jelas bu Jesi acuh tak acuh.


“Ooh, kalau begitu makan apa?”, Rudi menatap Hadi, satu-satunya yang tersisa dari tim makan siang itu.


“Ke kantin aja yu”, Hadi berjalan tanpa ragu. Biasanya Amira-lah yang paling sering merekomendasikan tempat makan, namun jika Amira tak ada, kedua orang itu cenderung makan di kantin karena malas berpikir.


“Ih, kok kalian bertiga kayak lagi seneng banget gitu?”, seorang wanita tertawa saat melihat beberapa temannya terlihat lebih cengengesan dari biasanya. Mereka bertujuh adalah satu angkatan magang di tim akunting UTH group, mereka bertujuh cukup beruntung karena semua di antara mereka berhasil lolos dan di terima sebagai pegawai tetap, walau pada akhirnya tiga di antarnya di transfer ke manajemen perencanaan untuk membantu beberapa pekerjaan, karena dalam satu waktu tiga dari empat pemagang yang harusnya di terima malah tiba-tiba keluar dengan berbagai alasan yang berbeda, ada yang tiba-tiba ingin keluar, ada yang tiba-tiba di pindahkan ke divisi lain, ada yang tiba-tiba di pecat. Semua kabar itu adalah kabar yang mereka bertujuh ketahui dari berbagai gosip di perusahaan.


“Iya, wanita pick ee itu gak masuk kerja hari ini”, Anya berbicara dengan bibir yang hampir tergulung ke atas. Entah sejak kapan mereka bertujuh mengkonsumsi gosip tak baik mengenai wanita bernama Amira yang bekerja di manajemen perencanaan itu. Orang yang tiba-tiba ingin keluar dari perusahaan, namun tiba-tiba kembali bekerja setelah beberapa saat mereka bertiga bekerja di divisi tersebut.


“Pantas saja, kalau denger dari cerita kalian selama ini, kalau aku bekerja di sana aku tak akan tahan karena muak”, ucap seorang dari mereka.


“Lagian terakhir kali dia malah sok dekat dengan kami membawa kak Rudi dan kak Hadi , lalu bertingkah pamer keakraban dengan mereka seperti itu, sangat menyebalkan”, Anya bergidik sembari menceritakan hal itu.


“Oh hari itu?, pas kita telat makan siang?, kita kaget karena ternyata kalian makan bareng, jadi kita bereampat milih pergi ke meja lain”, timpal seorang akuntan lain.


“Ya kan?, menyebalkan sekali, kalau dia masuk kerja dia akan sok dekat dengan bu Jesi dan bu Ratih, dia benar-benar cari muka, bikin enggak nyaman banget”, giliran Dania mengeluarkan pendapatnya, yang sebenarnya pembicaraan mereka itu sudah sering di ungkapkan dengan beberapa komposisi kata yang berbeda.


“Kadang-kadang aku mikir apa dia selingkuhan pak Ramlan..?, gitu? ”, Dania melanjutkan kalimatnya dengan semangat setengah berbisik.


“Emang kenapa?”, pertanyaan semangat dari beberapa orang yang lain membuat Dania memicingkan salah satu sudut bibirnya.


“Bisa ya ada cewek gatel kaya gitu..”, Anya kembali bergidik setelah mendengarkan ucapan Dania.


“Coba bayangkan, untuk bekerja di sini kan sulit, tapi tiba-tiba dia ingin berhenti bekerja lalu berhenti dengan mudah, tapi tiba-tiba tidak sampai dua bulan dia bisa langsung masuk kerja lagi seenaknya, bukankah terlalu jelas dia ada main dengan orang dalam?”, Anya memicingkan wajahnya, mengungkapkan buah hasil pikirannya.


“Oh iya, kan beberapa kali dia menemui pak Farhan seenaknya, aku juga pernah lihat wanita itu kembali dari arah ruangan pak Farhan sambil memakai jaket besar yang sepertinya milik laki-laki”, Dania berucap dalam satu tarikan nafas.


“Ya tu..”, “Maaf adik-adik, ngobrolnya bisa di pelan-kan suaranya?, kami disini agak terganggu”, seorang wanita yang sepertinya senior mereka berbicara sambil mengintip dari balik bilik yang menghalangi mereka.


Ucapan wanita berambut panjang itu membuat tujuh orang wanita yang duduk di meja tersebut membatu menatap kearah kepala yang menyembul dari bilik itu.


“Oh, maafkan kami kak”, Clara segera mengambil inisiatif saat melihat ekspresi wajah wanita itu meminta kepastian.


“Oke kalau begitu”, wanita berambut panjang itu tersenyum lebar lalu kembali menarik kepalanya itu ke balik bilik.


“Memangnya kita sekeras itu ya bicara?”, Dania yang merasa paling banyak bicara berbisik kepada teman-temannya.


“Tapi aku rasa kita biasa aja, bukannya meja itu yang paling berisik”, salah satu dari akuntan menunjuk kearah meja di seberang mereka yang jelas tertawa terbahak-bahak dengan suara keras, suasana kantin itu jelas sangat bising dengan obrolan, suara tawa dan suara sendok yang beradu dengan piring, hampir di semua meja.


“Sudahlah, jangan cari masalah”, Clara berbisik menenangkan teman-temannya yang sepertinya tak senang dengan teguran dari wanita berambut panjang tadi.


Ruangan makan kantin sangat luas dengan puluhan meja dan kursi makan, ada beberapa bilik penghalang sementara terbuat dari balok kayu dan triplek yang bisa di pindah-pindah. Penghalang-penghalang itu biasanya di gunakan oleh beberapa pedagang untuk membuat ruangan sebelum renovasi kantin selesai, namun sekarang renovasi sudah hampir selesai, dan tersisa satu atau dua penghalang yang belum sempat di bereskan.


Saat itu geng Clara sudah beres makan, seperti biasa, mereka akan pergi ke toilet setelah makan siang untuk gosok gigi dan lainnya, dan saat mereka melewati bilik terbengkalai yang menghalangi meja makan mereka, Clara, Anya dan Dania kaget karena ternyata di sana Hadi dan Rudi sedang makan dengan beberapa orang lain yang tak begitu mereka kenali.


Pandangan Dania dan Rudi sempat bertemu, namun Rudi dengan acuh tak acuh kembali fokus ke arah makanannya, sedang wanita berambut panjang sebelumnya menatap mereka dengan sinis.


Dengan wajah yang memerah Dania berjalan dengan cepat keluar dari kantin setelah menyimpan piring kotor di tempat penyimpanan piring kotor. Rasa malu karena sepertinya jelas Rudi dan Hadi mendengar percakapan mereka, membuat Dania bahkan menundukkan wajahnya selama sisa waktu bekerja hingga sore hari.