The Hell

The Hell
Bola basket



Amira hari itu merasa bersemangat, karena sejak hari pertama kerja, hari itu adalah hari pertamanya mengikuti rapat dengan divisi lain sejak satu bulan setengah berjalan dirinya bekerja di UTH Group.


“Proposal dan berkas-berkasnya tidak lupa kan?”, Bu Ratih bertanya kepada Amira.


“Oh, ya saya rasa sudah siap bu”, Amira menjawab dengan semangat.


Bu Ratih yang merupakan karyawan paling senior itu tersenyum melihat anak muda yang umurnya terpaut dua puluh tahun dari dirinya bersemangat seperti itu.


“Hahaha, kalian anak-anak muda memang harus bersemangat seperti itu”, bu Ratih terlihat bangga.


“Perusahaan ini penuh dengan anak muda, jadi lingkungannya benar-benar sangat membara”, bu Ratih bergumam sendiri sembari melihat tangan Amira yang menekan tombol lift.


Setelah di pikir-pikir memang di perusahaan ini sangat jarang di temukan orang-orang di atas empat puluh tahun, mungkin hanya sekitar dua puluh persen karyawan berumur empat puluhan yang bekerja di UTH.


“Ibu bekerja disini sudah berapa lama?”, tiba-tiba Amira bertanya.


“Hmm, ya sekitar lima tahunan”, jawab bu Ratih.


“Loh, ternyata masih belum terlalu lama ya”, Amira terkejut.


“Nah perusahaannya juga kan baru berdiri tujuh tahun lalu”, ucap bu Ratih.


“Oh iya”, Amira baru menyadari, padahal dirinya bergelut dengan proposal perayaan ulang tahun perusahaan yang ke tujuh hampir selama dua minggu terakhir.


“Apa ibu pernah bertemu dengan para pemegang saham?”, Amira bertanya dengan hati-hati.


“kenapa tanyanya pemegang saham?, biasanya anak-anak baru pada bertanya tentang para eksekutif”, bu Ratih terlihat tak habis pikir.


“Me.. memangnya kenapa?”, tanya Amira.


“Ya gak papa, hmm coba ku ingat dulu, sebenarnya pemegang saham perusahaan ini kebanyakan ikut serta dalam di berbagai bidang dan tingkatan, ada di direktur, bahkan manajer juga ada, dan pemilik sekaligus pimpinan juga merupakan pemegang saham”, jelas bu Ratih sembari berjalan ke luar dari lift.


“Pemegang saham terbanyak siapa bu?”, pertanyaan frontal itu membuat bu Ratih menengok ke kanan dan ke kiri.


“kamu ini blak-blakan banget si”, bu Ratih mengomel sembari merengkuh leher Amira.


“Ya tentu saja pimpinan lah”, bisik bu Ratih sembari tertawa.


“Mereka memiliki gedung terpisah untuk bekerja?", Amira bertanya lagi, sepertinya Amira kepalang penasaran.


"Tidak, mereka bekerja disini, di gedung yang sama dengan kita.


“A.. ohh”, Amira sebenarnya masih ingin bertanya, namun karena tak enak dan ruangan rapat sudah di depan mata, Amira mengurungkan niatnya itu.


“Kak hari ini makan apa?”, Amira yang baru kembali dari rapat menerima sobekan kertas dengan pertanyaan tersebut tertulis di atasnya dari Tya.


“Terserah, aku ikut aja”, Amira menjawabnya dengan mulutnya alih-alih membalas dengan tulisan.


"Haah” suara hembusan nafas yang kompak dari Mawar dan Tya itu membuat bu jesi melirik.


“kenapa?, bingung menu makan siang?”, bu Jesi tersenyum tipis meledek para anak bau kencur itu.


“Iya buuu”, Tya dan Mawar dengan kompak menjawab.


“nah di kantin kan tinggal makan, ada banyak menu”, bu Jesi yang seringkali bingung saat mendengar banyak pegawai muda mengeluh bosan dengan menu kantin hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Lima, empat, tiga, dua, satu, ayo makan siaaang!”, Ramlan yang baru sehari kembali kerja setelah cuti yang cukup panjang itu terlihat tak sabar mengambil jam istirahat.


“Mie ayam sebrang yuuuuk”, Rudi berteriak.


“Gak, aku baru makan mie kemari“, Tya menjawab singkat.


“Soto betawi di sebrang bengkel aja yuk”, Mawar menawarkan.


“Enggak ah”, Rudi menolak.


“Ayooo”, Azka berseru dengan semangat.


“Yuu”, Tya ikut menjawab.


“Bu ayo ikut”, Amira mengajak bu Ratih dan bu Jesi.


“Enggak, di kantin juga ada soto mah”, bu Jesi terlihat fokus ke layar ponselnya.


“Jalan?”, Amira bertanya dengan ragu, mencoba memastikan karena sepengetahuannya lokasi restoran itu akan menghabiskan waktu dua puluh menit kalau berjalan.


“naik mobil saya aja, biar sekalian”, Rudi menunjukan kunci mobil di tangannya.


Di parkiran, Amira dan yang lain menunggu Rudi membuka kunci mobilnya.


“Eh, ee eeh”


Saat membuka pintu belakang mobil, Amira terkejut karena ada bola basket yang menggelinding keluar dari mobil.


“Bentar-bentar”, Amira dengan panik mengejar bola basket yang menggelinding menjauh karena kemiringan tempat parkir.


“hahaha, kak!”, Tya tertawa sembari ikut mengejar bola.


“Aaahh, hahaha”, Amira tertawa-tawa bersama Tya yang jauh tertinggal di belakang.


“Aakk, tidak lagi”, Amira mengeluh saat melihat bola yang melambat itu akan bertemu dengan kemiringan lain yang lebih curam.


“Yaahh!”, Amira terus mengeluh karena pada akhirnya bola itu terus menggelinding sampai ke basement paling bawah.


Tak, bola itu terhenti, terhalang kaki seseorang yang terlihat menggunakan sepatu sport.


“Pakai sepatu sport di kantor?”, Amira cukup heran saat menyadari hal random itu.


“Oh ma..af”, Amira terdiam saat menyadari orang itu adalah Arthur. Dalam beberapa detik mereka berdua saling tatap tanpa sadar.


Tanpa menghiraukan Amira Arthur berjalan memasuki sebuah pintu masuk khusus eksekutif, yang tertulis jelas pintu kaca itu.


“Kak?”, Azka yang mengejar Amira memanggil Amira karena Amira terlihat tiba-tiba terdiam.


“hah, hah, hah. Ketangkep bolanya?”, Tya yang ngos-ngosan bertanya tanpa menyadari situasi aneh itu.


“Oh iya”, Amira kemudian membungkuk mengambil bola yang sudah terdiam, dan menyadari area itu memiliki kontur yang lebih rata.


“hahhh, bentar, aku gak sanggup, biar ku panggil Rudi biar bawa mobilnya ke sini” Tya mengeluh sembari mengeluarkan ponselnya.


“Ta, tapi ini kan parkiran khusus eksekutif, ga bisa masuk kan di depan ada palang ganda, harus ada kartu khusus”, Azka menjelaskan.


“Ya setidaknya sampai situ!”, mungkin karena terengah-engah Tya menjawab dengan intonasi setengah marah.


“Ini bolanya, aku gak kuat pengen ke toilet, gak jadi ikut, aku makan di kantin aja”, Amira menyerahkan bola basket itu kepada Tya, dan berjalan mendahului dua rekan kerjanya itu dengan berjalan cepat.


“Udah gak tahan banget kak?”, Tya bertanya bingung karena tiba-tiba Amira memutuskan tidak ikut.


“A.. kalau gitu aku juga..”, belum selesai Azka berbicara Tya menepak bahu Azka cukup keras.


“Pengen boker juga?”, Tya bertanya kesal.


“Apa, Eng”, Azka malah gagap karena matanya terus saja menatap Amira yang semakin menjauh.


“Gak, kamu ikut kita!. Kamu itu terkadang gak bisa peka kalau orang mau sendirian, nempeel terus, nempeeeel terus”, Tya mengomel sembari berjalan setengah berlari saat melihat mobil Rudi yang sedang parkir di area sebelum palang penghalang parkiran khusus eksekutif. Sedang Amira sudah lenyap lewat pintu belakang sebelum Rudi dan Mawar sampai di sana.


“Memangnya aku terlihat begitu ya?”, Azka bergumam di samping Tya, membuat Tya menengok ke arah Azka dengan tatapan menyipit.


“Laaah, baru sadar?, hahahah”, Tya kembali berjalan cepat sembari menertawakan Azka.