
Seperti hal nya bayangan yang selalu mengikuti cahaya, kecewa akan selalu ada membayangi harapan. Semakin besar harapan, semakin besar pula peluang untuk kecewa.
seperti halnya spot yang tidak terisi oleh cahaya, akan diisi oleh bayangan. harapan yang tak terpenuhi sepenuhnya, akan tercampur didalamnya sebuah kekecewaan.
Ada kalanya, kita tak sadar sedang mengharapkan sesuatu, sampai kita benar-benar merasakan pahitnya rasa kecewa.
Amira mencengkram stang motor yang sedang dia kendarai dengan cukup erat, bibir bawahnya sudah terasa perih karena sepanjang jalan di himpit oleh gigi. Bahkan saat sampai di kontrakan, Amira yang tadinya memiliki rencana untuk memasak sesuatu yang ingin dia makan, lebih memilih untuk membenamkan tubuhnya ke atas kasur dan membatu seperti orang mati.
Sembari memejamkan mata, pikiran Amira terus menerus mengulang rekaman bagaimana Arthur terakhir kali mengabaikannya ketika bertemu pandang saat Amira mengejar bola basket milik Rudi. Padahal sejak saat itu Amira sudah berkomitmen untuk merelakan Arthur dengan sepenuh hati, dan sejak saat itu juga Amira merasa sangat baik-baik saja. Namun ternyata dia masih tak sanggup untuk bertemu dengan Arthur sebagai orang asing.
Amira yang memejamkan mata dengan kening yang mengerut, tiba-tiba saja membuka matanya, lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi menghadap ke arah kanan.
“Tapi kenapa dia terlihat sangat sensitif tadi?”, Amira bertanya-tanya saat mengingat bagaimana Arthur menekuk ekspresinya saat melihat Amira.
_”LIHAT MEREKA BERDUA TEMAN KANTOR SAJA!”
_”YA!, MEREKA TIDAK SEDANG BERPACARAN, HAHAHA”
Masa lalu yang baru terjadi sejam yang lalu terputar kembali di ingatan Amira, dengan jelas ingatan tentang kelakuan aneh dua orang lelaki itu memang tak akan mudah di lupakan.
“Apa dia yang menyuruh mereka?”, Amira menebak-nebak walau sempat ragu. Tapi memangnya apa urusannya Farhan dengan apakah Amira pacaran atau tidak dengan Azka, jelas sekali Arthur pasti ada di belakangnya. Amira hampir tersenyum saat memikirkan kemungkinan itu.
“AAkkhh, bisa gila aku!”, Amira berteriak pada dirinya sendiri, dia bergegas bangun dari kasur dan pergi ke kamar mandi, sepertinya perasaan buruk yang menyelimuti Amira beberapa saat yang lalu, sudah membaik hanya dengan memikirkan kemungkinan Arthur merasa cemburu karena mengira Amira dan Azka memiliki hubungan khusus.
Malam semakin larut, Amira menatap layar ponselnya yang merupakan sumber cahaya satu-satunya di kamar yang gelap itu. Amira men scroll daftar kontak di ponselnya, namun perasaan frustasi terus bertambah setiap kali deretan nama kontak naik turun, namun tak ada nama atau nomor yang Amira inginkan di sana.
“Hahh!”, Amira menyerah dan kemudian mengetikan sebuah nomor di papan panggilan, namun yang terdengar dari nomor itu hanya penjelasan bahwa nomor salah dan mohon untuk memeriksa nomor tersebut kembali.
“Ah iya”, Amira berguling di kasur tidurnya, dan memposisikan tubuhnya menjadi tengkurap. Dan dengan terburu-buru membuat sebuah panggilan.
“Ha, halo pak?”, Amira mulai berbicara saat merasa panggilannya di terima.
“Iya, kenapa bu?”, Suara Ramlan terdengar jelas di telinga Amira.
“Oh, maaf mengganggu pak, saya mau tanya, apa bapak punya nomor kontak Arthur?”, Amira bertanya.
“Hah?, oh tidak punya bu, memangnya kenapa?”, Ramlan balik bertanya.
“Tidak, hanya saja saya kira bapak punya dari grup chat atau apa”, Amira menjelaskan.
“Ooh, grup chat itu, Arthur tidak masuk di sana, lagian mungkin akan merepotkan untuk orang seperti Arthur kalau masuk ke grup chat seperti itu”, ucap Ramlan.
“Kalau begitu, siapa yang membagikan info lowongan kerja UTH di grup pak?”, Amira bertanya.
“Oh itu nama kontaknya sih Heru kalau tidak salah, tapi saya juga tidak tahu orangnya karena belum pernah bertemu”, jelas Ramlan.
Amira terdiam senyap beberapa saat.
“Mau saya kirim nomornya bu?”, Tanya Ramlan.
“Oh, hmm, boleh deh pak”, Amira dengan tergesa mengiyakannya walau sebenarnya dirinya masih bingung harus di apakan nomor tersebut.
Hari-hari berlanjut, sepertinya Amira tak lagi terobsesi menemukan nomor Arthur, apalagi Outing sudah hampir dekat, dirinya sibuk ikut bergabung dengan tim pelaksana untuk mempersiapkan outing. Sering kali dirinya menjadi orang paling sibuk dalam mempersiapkan outing, itu karena karyawan lain memiliki pekerjaan inti selain mempersiapkan outing, dan walau melelahkan kegiatan itu menjadi cukup menyenangkan untuk Amira.
“Kenapa kalian seperti tak nafsu makan seperti itu?”, Amira yang baru saja hendak duduk setelah meletakan piring berisi makanan di meja, menyadari Tya dan Rudi terlihat lesu.
“Aku tak tahu kalau ternyata pekerjaan pegawai tetap itu sungguh menguras energi”, Tya mengeluh.
“Ya, ku kira masa magang itu adalah masa yang paling berat yang harus bisa kita tahan, tapi ternyata masa magang hanya simulasi yang tak bisa di bandingkan”, Rudi menambahkan keluhan Tya sebelumnya.
“Hahaha”, Amira hanya tertawa melihat kedua rekannya itu.
“Tapi gajinya kan beda”, Amira mengangkat-ngangkat alisnya mencoba menggoda kedua rekan kerjanya.
“Hehehe”, Tya tiba-tiba tersenyum setelah mendengar kata gaji.
“Ya, kakak benar”, ucap Tya dengan malu-malu.
“Kak, Outing kita jadinya berapa hari?”, Rudi bertanya.
“Oh, dua hari satu malam” jawab Amira.
“Hey, hey, hey”, tiba-tiba Azka datang dan ikut bergabung dengan mereka.
“Hey, kenapa kamu terus gabung sama kita sih?”, Tya mengeluh.
“Me..Memangnya kenapa?”, Azka mengerutkan dahinya.
“Hahaha, sepertinya kamu belum di terima ya di departemen barumu”, Rudi berucap dengan nada mengejek.
“Enak aja!”, Azka menepuk bahu Rudi dengan cukup keras untuk memperlihatkan ketidak setujuan nya terhadap pernyataan Rudi.
“Oh iya kak Amira, kak Amira jadi pergi malam ini?”, Tya bertanya kepada Amira sembari sesekali matanya melihat ke arah Azka.
“Jadi dong”, Amira terlihat malu-malu saat menjawab.
“Apa?, kemana?”, Azka bertanya dengan cepat, hal itu membuat Tya tersenyum karena sesuai prediksinya, Azka akan terlihat penasaran.
“Hahaha, ada deeh”, Amira tertawa kecil.
“Biar ku tebak, kencan buta kan?”, Rudi berucap dengan wajah datar.
“Hahh?, kok kamu tahu?”, Amira terlihat kaget.
“Lah, kalian berdua terus membicarakan hal itu dengan blak-blakan sejak seminggu lalu, bahkan pak Rasyik yang jarang berinteraksi pun pasti sudah tahu”. Rudi menjelaskan kenyataan yang dia rasakan kepada Tya dan Amira tanpa ragu.
“Hahaha, yah mau bagaimana lagi”, Tya bergumam.
“Gak apalah, kan bukan rahasia juga”, Amira tersenyum.
“Kenapa Azka?, nasi gorengnya hambar?”, Tya bertanya sembari menahan tawanya.
Ucapan Tya itu membuat Amira dan Rudi melihat kearah Azka dengan tatapan bertanya-tanya.
“Loh, iya kok gak di makan?”, Amira menyadari piring Azka masih penuh, dan sepertinya baru di makan satu atau dua sendok.
“Oh engga, cuma lagi gak enak aja”, Azka menjawab sembari tersenyum canggung. Sedang di seberangnya Tya tersenyum lebar melihat tingkah Azka.
Di sisa jam istirahat, Azka terlihat membuka pintu balkon yang terhubung dengan tangga darurat, tempat itu biasanya di gunakan oleh para perokok untuk menghilangkan penat dengan menyesap rokok.
“Kalian pergi bersama?”, Azka menyalakan rokoknya sembari berdiri di dekat Tya yang memang sudah berada di sana duluan.
“Tidak, kak Amira sendirian”, Tya terlihat tersenyum dengan bibir yang menghimpit rokok mint di mulutnya.
“Lalu, kenapa kalian berdua terlihat seperti sedang bekerja sama?”, Azka menghembuskan asap putih dari mulutnya.
Namun dalam beberapa saat Tya hanya terdiam dengan senyuman yang terus menghiasi mulutnya. Setelah menyesap dan menghembuskan asap sekitar dua kali, Tya kemudian membuka mulutnya.
“Itu karena aku yang mencarikan pasangannya”, jawab Tya.
Mendengar jawaban Tya, Azka terdiam beberapa saat, lalu kemudian menyesap rokoknya dalam-dalam, membuka mulutnya perlahan, terlihat ada kepulan asap di mulutnya yang mengawang, namun di banding menghembuskannya keluar, Azka terlihat langsung menutup mulutnya dan menelan asap-asap itu, menyisakan sedikit kepulan asap yang keluar dari sela-sela bibirnya.
“Kukira kamu jelas tahu kalau aku menyukai kak Amira”, Azka menatap Tya dengan tatapan tajam.
“hahaha, yah itu sangat jelas”, Tya tertawa tipis. Mereka berdua mengobrol dengan suara tipis hampir berbisik-bisik di antara banyaknya perkumpulan-perkumpulan orang yang sedang merokok.
“Lalu kenapa kamu tidak ..!”, Azka terdiam setelah kehilangan kata-kata di tengah kalimatnya, matanya bergetar suram.
“Kamu marah?”, Tya bertanya sambit tersenyum.
“Ayolah!, kamu tak pernah memintaku untuk merancang-kan kencan dengan kak Amira. Akan aneh juga kalau aku menyarankan kamu kepada kak Amira, saat dia meminta untuk di carikan pasangan kencan”, Tya mengucapkan kata demi kata sembari menatap lekat ke wajah Azka, sepertinya dia sangat tertarik untuk melihat setiap perubahan kecil di ekspresi Azka ketika mendengar penjelasan dari dirinya.
“Dia yang meminta?”, Azka terlihat tak menyangka.
“Ya, dia bilang dia berencana mencari pasangan yang serius untuk jenjang pernikahan. Jadi aku kenalkan dengan sepupuku yang mamanya beberapa kali meminta bantuanku untuk mengenalkan teman-teman perempuanku”, Tya kemudian menyesap dalam rokok di tangannya yang semakin pendek.
“Huuuhh”, Tya menghembuskan nafas yang sudah bercampur dengan asap. Dan kemudian dengan perlahan menggesekkan ujung rokok yang masih menyala ke tembok, lalu melemparkan puntung rokok itu ke tong sampah yang menganga di pojokan.
“Jangan terlalu tegang, dia bukannya akan menikah malam ini, dia hanya akan berkenalan saja”, Tya tersenyum sembari menepuk-nepuk lengan Azka, lalu kemudian pergi meninggalkan Azka yang masih melamun di sana.