
“Apa ada yang kamu mau?”, Galih tersenyum di ujung meja dengan dua tangan yang sibuk memegangi pisau dan garpu makan.
“Tak ada”, jawab Amira yang duduk di hadapan Galih sambil memakan makanan yang sama dengan yang Galih makan.
Galih terdiam beberapa saat menatap Amira yang tersenyum kearahnya dengan senyuman tak bernyawa.
“Maafkan aku, aku jadi menyeret-mu..”, Galih tertunduk menatap piring di hadapannya.
“Tak apa, jangan di pikirkan, aku pun punya tanggung jawab jika itu terkait Arthur”, Jawab Amira dengan ekspresi syok yang sudah menguasai wajahnya lebih dari dua hari.
“Haaah”, Amira menghembuskan nafasnya sembari meletakan kedua alat makan yang sedang dia pegang. Dengan rasa frustasi Amira mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri.
“Tapi, sekarang apa rencananya?”, Amira menatap lurus kearah Galih yang terdiam menatapnya sejak tadi.
“Aku, masih mencoba mengancamnya”, jawab Galih ragu.
“Lalu?, apa responnya?”, Amira bertanya-tanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha mendengarkan apa yang mungkin akan Galih ucapkan. Namun dalam beberapa detik, Galih hanya diam bahkan sampai Amira beberapa kali menaikan alisnya untuk menegaskan pertanyaannya.
“Belum ada perkembangan..”, Galih meletakan kedua alat makannya di samping piring yang di dalamnya masih tersisa beberapa makanan.
“Ku harap kamu tak perlu tegang selama disini sampai tujuanku tercapai, kumohon rileks saja, jangan terburu-buru”, Galih menatap Amira dengan tatapan memohon.
“Galih, aku tak tahu apa maksudmu mengatakan bahwa aku harus rileks dan jangan terburu-buru, tapi kupikir semakin cepat semakin baik bukan?”, Amira berbicara dengan suara yang lebih keras dan tegas di banding sebelumnya.
“Jika memang benar..”, sejenak Amira melamun menatap ke sembarang arah.
“Hahh, jika memang benar Arthur membunuh ibumu, bukankah secepat mungkin kita harus menemukan keberadaan Tya?, kita tak punya waktu”, Amira menelan ludahnya, nada suara tegas yang sebelumnya terdengar, perlahan melemah bercampur keraguan atau lebih tepatnya penyangkalan di lubuk hati Amira.
“Dia tak percaya”, Galih memotong keluhan Amira dengan tiga kata beruntun.
“Dia sepetinya tak percaya kalau aku sedang menahan mu”, Galih menatap Amira sepanjang kalimat alasan itu keluar dari mulutnya.
Amira terdiam beberapa saat, matanya bergulir ke berbagai arah perlahan, terlihat jelas kalau Amira mencoba mencari solusi tentang masalah yang sedang Galih ungkapkan.
“Kalau begitu, bukankah kita tinggal membuat video atau photo bukti?, aku tinggal berakting seolah-olah aku sedang di sekap”, Amira dengan semangat mengungkapkan solusi yang dia dapat dari buah pikirannya. Namun berbanding terbalik dengan Amira yang terlihat optimis, Galih bungkam tanpa apresiasi terhadap pendapat yang Amira ungkapkan.
“apa yang salah dengan itu?, bukankah ideku tadi bagus?”, Amira tampak kecewa dengan respon diam Galih.
“Mana sanggup aku melakukan itu padamu, mengikatmu itu berlebihan”, Galih memalingkan pandangannya.
“Ini hanya pura-pura kamu tahu itu, atau tak perlu di ikat, seolah di kurung pun bukankah cukup?”, Amira memelas seolah dia putus asa.
“Mari perlahan”, Galih mencoba mengakhiri diskusi di meja makan malam hari itu, dia mulai berdiri dari duduknya bahkan saat piring miliknya belum bersih.
“Galih!”, Amira memanggil Galih yang mencoba meninggalkannya.
“Aku tak akan bisa membantumu jika lebih dari lima hari, besok diputuskanlah, kamu tahu aku pun punya kehidupan”, Amira menatap punggung Galih yang mematung itu, Galih yang memiliki pendapat berbeda terlihat tak punya tenaga untuk berbalik dan melihat ke arah Amira, dia langsung berjalan pergi meninggalkan ruang makan.
Hari itu, adalah hari ke empat setelah Amira memutuskan untuk masuk ke mobil lalu mengikuti Galih yang tiba-tiba meminta tolong padanya dengan sangat putus asa.
Di hari makan malam di hari rabu malam, Amira yang sudah dari toilet dan sedang berjalan menuju mobil milik Arthur, di perjalanan Amira berpapasan dengan sebuah mobil fortuner berwarna putih.
“Amira, tunggu”, suara panggilan itu membuat Amira refleks terdiam dan menunggu orang yang memanggilnya menampakan diri dari dalam mobil.
“Galih?”, Amira refleks memanggil nama Galih saat kaca mobil di turunkan. Wajah kacau Galih membuat Amira terpaku beberapa saat dengan berbagai macam pertanyaan.
“Amira, kumohon ikut denganku”, Galih memohon dengan wajah memelas, mendengar hal itu Amira dengan refleks mengernyitkan alis, sambil sesekali menatap ke arah dalam mobil yang sepertinya hanya ada Galih di jok baris kedua, dan seorang lelaki yang mengendarai mobil tersebut di baris depan.
“Tya di culik, hanya kamu yang bisa membantuku”,Galih sepertinya benar-benar putus asa.
Dalam beberapa saat Amira terdiam, otaknya mencerna informasi penculikan Tya yang sebenarnya sempat dia dengar sebelumnya.
“Memangnya apa yang bisa ku lakukan?”, Amira bertanya sambil memiringkan kepalanya.
“Ikutlah denganku”, Galih menatap Amira dengan harapan yang sepertinya hampir saja habis.
“Sebentar, aku akan bilang dulu ke suamiku”, Amira hampir saja bergegas berlari kearah mobil Arthur berada.
“Tidak, Amira”, Galih memanggil Amira dengan panik.
Amira mengangkat alisnya, bertanya-tanya kenapa dirinya tidak boleh berbicara kepada suaminya.
“Dia, A.. Arthur, dia yang menculik Tya”, Galih berbicara dengan sungkan.
“Apa?, itu tak masuk akal”, Amira mengerutkan dahinya, semua urat di wajahnya mengeras mendengar tuduhan dari Galih kepada Arthur.
“Yah, kamu mungkin tak akan percaya, tapi aku tak asal menuduh,.., karena dia adalah pembunuh ibuku”, Galih menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepalanya.
“Apa?”, Amira hampir berteriak tak percaya dengan semua tuduhan Galih.
“Amira, aku bersumpah, aku akan memperlihatkan bukti-buktinya kepadamu, asal kamu ikut dulu denganku. Di perjalanan aku akan menjelaskannya padamu, jika kamu masih tak percaya, kamu boleh kembali pulang”, Galih menatap Amira dengan sangat serius. Sedangkan di dalam pikiran Amira, berkecamuk berbagai kemungkinan dari semua hal yang dia pikirkan, mengenai chat dari Tya..
Namun tiba -tiba Amira memutuskan untuk masuk kedalam mobil tersebut setelah teringat bagaimana Arthur sangat marah saat dirinya berkata akan membantu Galih dan Tya selama satu bulan, namun tiba-tiba Arthur seperti tak peduli, dan saat di hari ke delapan, Arthur tiba-tiba mengadakan pernikahan di hari yang sama, di saat tiba-tiba Galih menyuruh Amira pulang dan tak perlu ke rumah sakit lagi.
Berbagai bukti chat dari nomor tak di kenal yang mengancam Galih agar membatalkan bantuan dari Amira lebih dari seminggu, ancaman agar Galih jangan berurusan lagi dengan Amira, serta ancaman atas tindakan tak sopan Tya karena sudah memata-matai UTH. Bukti yang sebenarnya tak terlalu bisa Amira percayai itu cukup untuk membuat Amira mengikuti rencana Galih yang akan berpura-pura menculik Amira, lalu meminta Arthur untuk melepaskan Tya jika ingin Amira selamat.
Hati Amira pedih saat sebagian pikirannya mencurigai Arthur dengan bukti-bukti yang jelas mengarah kepada Arthur, namun di sisi lain Amira merasa kalau Arthur tak mungkin melakukan semua hal keji itu tanpa alasan yang benar-benar kuat.
“Apa kamu pernah melakukan hal buruk kepada Arthur?, atau hal yang mungkin benar-benar menyinggung Arthur?”, Amira berbicara tanpa ragu, dengan pandangan menatap langsung kearah Galih yang duduk di sampingnya di dalam mobil.
Galih terdiam beberapa saat sambil terus menatap keluar jendela mobil, setelah beberapa saat sebelumnya menunjukan bukti-bukti chat ancaman yang katanya dikirim oleh Arthur.
“Ya..”, Galih menjawab dengan pandangan mengawang.
“Apa?”, Amira terlihat cukup tertarik.
“Aku bertunangan denganmu di depan matanya”, Galih menatap Amira dengan tatapan yakin.
Amira terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Galih itu, lalu kemudian menggelengkan kepalanya tak yakin. Baginya alasan itu terlalu berlebihan untuk membuat Arthur dengan terpaksa menghabisi nyawa seseorang.
“Kenapa?, kamu berpikir aku menyembunyikan hal lain?”, Galih memicingkan sudut bibirnya sesaat setelah melihat respon Amira terhadap jawabannya.
“Ya”, Amira menjawab tanpa ragu.
“Jika memang itu alasannya, kupikir Arthur akan memilih membunuhmu dibanding membunuh ibumu, dia tipe yang seperti itu”, Amira menjelaskan pendapatnya mengenai Arthur.
“Tapi pada akhirnya kamu setuju untuk mengikuti-ku, berarti kamu pun punya kecurigaan kepada suamimu walau sedikit”, ucap Galih.
“Yaah, dia memang mungkin. Tapi dia bukan tipe orang yang mudah melakukan sesuatu hal yang beresiko, semakin tinggi resikonya, berarti akan semakin tinggi juga perhitungan yang dia lakukan. Dan berarti, jika dia sampai melakukan itu, ada resiko lebih buruk yang mengintai pihaknya jika dia tak melakukan hal beresiko tersebut”, Sambil melamun Amira mengungkapkan apa yang dia lihat dari kepribadian Arthur selama ini. mengingat Arthur lebih memilih mengorbankan sebagian besar kekayaanya dari The Hell untuk menjebloskan keluarga Alan ke penjara, dibanding melenyapkan keluarga Alan dan mempertahankan kekayaannya.
“Yah, kamu pasti sangat mencintainya”, Galih mendengus saat mendengar pendapat Amira yang lebih mirip pembelaan.
“Ya, memang”, Amira tersenyum sambil meringis, rasa bersalah dan rasa curiga Amira kepada Arthur membuat Amira benar-benar merasa frustasi.