The Hell

The Hell
Drop Out



“Amira”, suara Arthur minggu itu membangunkan Amira.


“Kita harus makan, ini sudah siang hari”, jelas Arthur dengan suara serak sambil masih memeluk Amira di atas kasur.


Amira memutar tubuhnya yang awalnya membelakangi Arthur kemudian menatap Arthur.


“Aku belum lapar”, Amira menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Arthur, dan hal itu membuat Arthur tersenyum tipis. Kehangatan dan perlakuan lembut dari seorang lelaki, adalah kelemahan Amira sejak awal, berbeda dengan ayah Amira ataupun Ryan yang cenderung memperlakukan Amira dengan kasar. Perlakuan lembut Arthur kepada Amira membuat akal sehat Amira berembun, dan sulit untuk melihat realitas dengan jelas.


“Arthur”, suara Amira yang teredam pelukan Arthur, memecah keheningan yang memenuhi ruangan beberapa saat lalu.


“Rumahmu, tidak terlihat seperti rumah seorang pemimpin geng motor”. Ucap amira setengah bertanya.


“Benarkah?, memangnya harus seperti apa rumah pemimpin geng motor?”, Arthur balik bertanya.


“Entahlah, mungkin akan banyak koleksi motor, photo-photo kegiatan geng, atau mungkin bahkan banyak anggota geng yang menumpang tidur di sini”. Amira berbicara asal.


“Haha, koleksi motorku kan ada di garasi, dan lagi aku sudah mendirikan markas, hal itu bertujuan agar rumahku sepi dan nyaman seperti ini”. Jelas Arthur.


“Kamu tak akan bertanya tentang keluargaku?”, Arthur bertanya kepada Amira, menilai biasanya kebanyakan orang yang bertamu ke rumah Arthur selalu bertanya dimana keluarga Arthur tinggal.


“Oh, aku tak kepikiran. Memangnya dimana keluargamu?”, Amira bertanya.


“Aku tak punya”, Arthur menjawab.


“Lalu kemudian kenapa kamu berkata seperti itu saat tak memilikinya?”, Amira terkekeh mendengar ucapan Arthur, alih-alih meminta maaf atau merasa kasihan.


“haha, kamu benar”, Arthur terkekeh mendengar ucapan Amira.


“Amira, kenapa kamu tidak tinggal disini saja?”, Arthur bertanya.


“Kenapa memangnya?”, Amira bertanya.


“Setiap kali kamu kembali dari rumahmu, kamu cenderung memiliki lebam baru, itu menyebalkan untuk dilihat”. Ucap Arthur sembari memainkan rambut Amira.


“Haha, haruskah?, yah disini sangat nyaman, kamu juga terlihat kaya, jadi aku tak perlu khawatir dengan makan. Tapi aku masih sekolah”. Jelas Amira kemudian.


“memangnya kenapa dengan kamu sekolah?”, Arthur bertanya lagi.


“Aku membutuhkan wali, dan juga biaya untuk sekolahku”. Amira menjawab.


“Aku bisa membayar biaya sekolahmu, kalau wali, kita bisa menyewa seseorang untuk di jadikan wali. Itu akan mudah”. Arthur mengemukakan pikirannya.


“Hemm, aku tak pernah memikirkan hal itu”. Amira bangkit dari posisi tidurnya, menatap Arthur tepat dari atas wajah Arthur.


“Tapi sebenarnya bagaimana kamu menghasilkan uang?”, Amira bertanya penasaran.


“Under Hell ?”, Arthur tersenyum sembari menjawab pertanyaan Amira.


“Under hell itu kebanyakan berisi anak-anak konglomerat. Mereka loyal dan tak sayang untuk menghamburkan uang di markas”, Arthur menjawab sembari membelai wajah Amira perlahan.


“Dan aku memiliki beberapa bisnis..”, “jadi bagaimana?, mau tinggal disini denganku?”.


“Yah itu ide yang bagus”, Amira tersenyum menanggapi pertanyaan Arthur.


Matahari meninggi, di senin siang hari itu suasana sekolahan ramai di jam istirahat.


“Amira ke kantin yuk, gue lapar banget”, Rani memohon pada Amira.


“Pergilah dengan teman-temanmu”, Amira mengabaikan permintaan Rani siang itu.


“Ah ayolah, mereka lagi pergi jajan bakso, aku lagi ga mood makan baso”. Rani membujuk Amira yang memang jarang pergi ke kantin.


“Pergilah sendiri”, Amira menjawab. Namun Rani dengan sekuat tenaga menarik Amira yang sepertinya melekat kuat pada mejanya itu, hingga akhirnya Amira mengikuti Rani walau terpaksa.


“Oh ini nih!”, sekitar lima orang kakak kelas wanita Amira menghadang Rani dan Amira di perjalanan ke kantin.


“Ikut dengan kami”, salah satu dari mereka menarik tangan Amira.


“Jangan ikut campur!”, orang-orang itu mengabaikan Rani yang mencoba menggapai Amira.


Amira di seret ke belakang gedung olah raga tanpa perlawanan, sedangkan Rani masih terus berusaha mengikuti mereka dari belakang.


“Halo Amira”, suara Ryan menyambut Amira di belakang gedung. Terlihat banyak sekali puntung rokok di sana, dan Amira pun sebenarnya tidak asing dengan tempat itu, karena memang saat masih berpacaran dengan Ryan Amira sering ikut nongkrong di sana.


“Ryan, yang benar saja, kamu dendam sampai begitunya ke perempuan?”, ejek salah seorang teman Ryan sambil tertawa.


“Lu ga ngerasain gimana perasaan gue waktu itu, dia mempermalukan gue di tengah banyak orang”. Ryan menarik kerah Amira dengan kasar.


“Hey, apa yang kau lakukan?”, Rani mencoba meraih Amira dengan wajah panik.


“Jangan ikut campur”, dua orang dari lima wanita yang membawa Amira menahan Rani.


“PLAKK!!”, suara tamparan keras itu terdengar nyaring berulang kali. Pipi Amira yang terus menerus menjadi sasaran kian memerah.


“Akh!”, Amira berteriak sembari mencoba mendorong Ryan, namun malah dirinya yang terdorong kebelakang dan jatuh ke bebatuan taman yang usang.


“Hahaha, dasar wanita murahan, lo membuang gue, mempermalukan gue dan sekarang lo nempel sama siapa di Under Hell?”, Ryan menarik rambut Amira dengan kasar.


“padahal gue sudah berusaha masuk kesana, sampai bonyok-bonyok, tapi gue gagal terus. Dan lo masuk cuma dengan ngejual diri lo?”, Ryan menendang Amira membabi buta.


“Hey bro, jangan berlebihan, kalo nanti ada masalah gimana?, mana kita ada di sekolah”, salah seorang teman Ryan menarik Ryan dengan wajah panik, karena tidak menyangka Ryan akan menghajar Amira sampai seperti itu.


“Lo ga ngerasain perasaan gue ba***at!”, Ryan mencoba mendorong teman yang menahan dirinya itu dengan emosi yang meluap. Sedangkan Amira merangkak berusaha mengambil batu seukuran bola takraw di dekat selokan kecil.


“Lo harus sadar!, kalo lo kayak gini bukan cuma lo yang bakal kena masalah, kita juga bakalan kena!”, teman Ryan itu mencoba menyadarkan Ryan dengan urat leher yang mengeras.


“BUAKKK!”, Entah sejak kapan Amira sudah berada tepat di belakang Ryan, menghantam kepala bagian belakang Ryan dengan batu di tangannya. Kecuali Ryan yang langsung Ambruk bersimbah darah, semua orang mematung menyadari apa yang sedang terjadi.


“A..amira”, Rani yang berhasil terlepas dari cengkraman kakak kelas itu tak berusaha lagi menghampiri Amira, dia hanya memanggil Amira dari kejauhan, memperdengarkan syoknya melalui cara dia memanggil Amira.


Hari sudah semakin sore, namun Amira terduduk mematung di ruang kepala sekolah, sedang di luar ruangan ramai beberapa orang bercakap-cakap. Kejadian hari itu cukup membuat satu sekolah gempar, apalagi saat Ryan di tandu masuk kedalam ambulance dan meninggalkan kubangan darah di area belakang gedung sekolah.


“Mana anak kurang ajar itu?”, suara teriakan yang tak asing dari luar ruangan membuat Amira memejamkan matanya.


“Anak tak tahu diri!”, suara makian itu datang berbarengan dengan tersungkurnya amira ke lantai ruangan. Bahkan Amira tak menyadari kapan pintu itu terbuka.


“Pak tenang pak!”, suara seorang guru lain mencoba menahan ayah Amira.


Amira menoleh menatap ke ambang pintu, di sana ibu tirinya menatap amira dengan syok, entah karena apa yang terjadi, atau karena penampilan Amira yang sudah penuh dengan lebam.


“Pak saya memanggil bapak kesini untuk berbicara dengan bapak, jadi saya mohon tenanglah dulu, anak bapak juga sudah babak belur karena di pukuli korban”. seorang guru mencoba untuk mengendalikan keadaan.


Namun saat itu Amira sepertinya sudah sangat lelah, airmata yang tak pernah keluar bahkan saat dia dipukuli ayahnya itu mengalir tanpa bisa di kendalikan. Dengan terpogoh Amira bangkit dan berjalan pelan ke arah ambang pintu.


“Kemana kamu anak sialan?, jangan harap kamu bisa pulang, kamu sudah bukan anakku lagi mulai sekarang!”, kalimat yang keluar dari mulut ayah Amira itu tak membuat Amira berhenti dari langkahnya.


Orang-orang yang berdiri di ambang pintu memberikan jalan kepada Amira yang sepertinya sudah kehilangan tenaga.


“Amira, kamu harus ke puskesmas dulu sebentar”, seorang guru lainnya mencoba membopong Amira.


“Saya bisa sendiri bu”, Amira berjalan menuju luar gerbang sekolah sembari mengetik sesuatu di ponselnya.


“Amira!”, “jangan pulang dulu ke rumah”, Ibu tiri Amira memberikan tas sekolah Amira dengan terburu-buru sembari menatap ke arah gerbang sekolah.


“Untung saja keluarga Ryan tak menuntut lebih jauh, dan Ryan juga sudah sadar dan tak mengalami luka yang mengancam nyawa walau cukup serius. Tapi kamu tak bisa sekolah lagi di sekolah ini”. Ibu tiri Amira menyampaikan kalimat itu sembari berjalan kembali ke arah sekolah dengan terburu-buru.


“Ya tuhan dek, kamu tidak apa-apa?”, Pertanyaan itu beberapa kali Amira dapatkan dari orang-orang yang melewatinya. Amira duduk di sebuah halte bus setelah beberapa saat berjalan pelan dari sekolahnya.


“Amira!”, Arthur terlihat duduk di atas motornya di pinggir jalan sembari menyodorkan helem ke arah Amira.


Amira tersenyum sebelum kemudian menghampiri Arthur dan menerima helem dari Arthur, lalu kemudian naik ke atas motor Arthur. Mereka berdua melesat meninggal kawasan itu.