The Hell

The Hell
Hilang



“Tuk, tuk, tuk”, suara ketukan jari Arthur ke pintu mobil yang kacanya terbuka sepenuhnya, mengisi suasana sunyi di dalam mobil. Terkadang suara gerungan mobil terdengar dari luar, beberapa mobil melintasi mobil Arthur yang masih terparkir.


Untuk yang kesekian kalinya Arthur menatap pergelangan tangannya, yang dimana di sana terdapat sebuah jam tangan yang menunjukan kalau malam itu sudah hampir jam 9.30 malam.


“Klak”, Arthur membuka pintu mobil, keluar dari mobil, lalu berdiri tegap di samping mobilnya, menatap ke arah lorong yang di gunakan orang-orang yang keluar dari arah restoran menuju parkiran.


Arthur berjalan kembali kearah restoran, dirinya merasa kalau sepuluh menit di kamar kecil itu sudah berlebihan.


Beberapa saat Arthur berdiri di persimpangan yang memisahkan toilet wanita dan toilet pria, hingga seorang petugas kebersihan yang membawa ember dan sikat keluar dari sana.


“Permisi, apa ada orang ini di dalam?”, Tanya Arthur sembari menunjukan photo Amira yang menjadi wallpaper ponselnya.


“Di dalam tidak ada orang pak”, petugas kebersihan itu berbicara bahkan tanpa memastikan dengan benar photo di ponsel Arthur.


“Yang benar, coba pastikan lagi”, kedua alis Arthur mulai mendekat satu sama lain.


“Tidak ada pak, bisa periksa sendiri saja, restoran tiga puluh menit lagi tutup, jam segini restoran sudah sepi”. Penjelasan petugas kebersihan itu membuat Arthur masuk ke area toilet wanita tanpa ragu. Membuka satu persatu bilik toilet yang memang tak ada siapapun di sana.


Arthur bergegas kembali keluar, melihat ke semua sudut restoran, bahkan meja yang lima belas menit lalu dia duduki, namun Amira tak ada di manapun.


Arthur mencoba menelepon Amira dengan berbagai kemungkinan, seperti kemungkinan Amira lupa dan malah pulang duluan, atau Amira mengira dirinya sudah pulang sehingga pulang menaiki taksi sendirian, namun nomor Amira yang tak aktif malah membuat Arthur semakin merasa risau. Sekali lagi Arthur berlari ke arah parkiran, berharap dirinya dan Amira berselisih jalan, dan ternyata Amira sudah ada di mobil, namun harapan itu tak terwujud, Amira tak ada di manapun dengan nomor yang tak aktif.


Arthur berdiri di samping mobilnya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, sembari matanya mencari nomor kepala security rumah di layar ponselnya.


“halo pak?”, suara seorang lelaki terdengar dari ujung telepon Arthur.


“Apa amira ada di sana?”, Arthur segera berbicara dengan suara keras.


“Bu Amira?, bukankah bu Amira bersama bapak keluar?”, kepala security itu malah bertanya balik, dan hal itu membuat Arthur mendengus kesal.


“Sebentar pak, saya tanya dulu ke orang yang bagian jaga”, orang di balik telepon Arthur terdengar berbicara dengan ngos-ngosan, beberapa kali suara pintu terdengar terbuka, Arthur sendiri sepertinya tahu kalau kepala security rumahnya itu sedang berlari menuju pos jaga gerbang depan.


“Apa bu Amira ada pulang?”, “Bu Amira?, tidak ada”, “bukannya bu Amira keluar bersama pak Arthur?”,..


Suara percakapan beberapa orang itu membuat Arthur mengernyit, perasaan tak nyaman di dalam hatinya semakin mencuat.


“Periksa di dalam rumah!”, Arthur berbicara dengan frustasi, telinganya terus mendengarkan dengan serius bahkan setiap langkah para security itu yang masuk ke area rumah yang memang biasa di huni Arthur dan Amira.


“Tak ada pak..”, suara dari kepala security terdengar kebingungan dan risau.


Rasa khawatir dan rasa takut di tinggalkan bergelut menyiksa Arthur yang berusaha untuk tetap tenang, dirinya kembali ke restoran dan menanyakan mengenai CCTV, dengan beberapa perdebatan dan susah payah, Arthur akhirnya bisa menatap layar CCTV di ruang keamanan gedung restoran. Dengan mata menyipit Arthur menonton dengan sabar langkah demi langkah Amira yang berjalan dengan tenang setelah keluar dari arah area toilet. Berganti ke tampilan CCTV lain, Amira berjalan menuju area parkir, namun tiba-tiba sebuah mobil melintas menghalangi Amira dari CCTV, mobil itu terdiam di sana dalam beberapa menit, dan saat mobil itu mulai bergerak, Amira menghilang, tak ada di manapun. Padahal hanya tinggal belok kanan sedikit, Arthur mungkin sudah bisa melihat Amira, karena selama menunggu Arthur terus menatap ke arah tersebut dari dalam mobil.


“Ck”, Arthur berdecak kesal.


“Tolong putar ulang bagian ini”, Arthur merekam layar CCTV di saat mobil mulai menghalangi tubuh Amira dan pergi, jelas sekali Arthur berpikir Amira pasti masuk kedalam mobil baik dengan paksaan atau tidak dengan paksaan.


“Apa ada CCTV lain yang menyorot area ini dari sudut lain?”, tanya Arthur setelah selesai merekam.


“Tidak ada pak, area itu area lintas yang cukup lancar, jadi kami pikir satu CCTV saja cukup”, jelas petugas keamanan restoran itu.


“Kalau begitu tolong putar rekaman yang merekam mobil ini sejak masuk sampai keluar”, Pinta Arthur dengan ragu. Petugas keamanan yang menyetel rekaman CCTV tersebut mengikuti semua permintaan Arthur tanpa mengeluh.


“Bima, bantu aku cari Amira”, Arthur mengirimkan rekaman CCTV bersamaan dengan permintaan tolong itu, sambil kakinya terus berjalan melewati beberapa pegawai restoran yang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Jam sudah menunjukan jam setengah sebelas malam saat itu, para pegawai restoran terlihat sudah hampir beres gotong royong beberes di area makan pelanggan. Beberapa area restoran pun sudah gelap, mereka benar-benar sudah tutup.


Sesampainya diparkiran, Arthur yang sudah duduk di jok kemudi mobilnya memeriksa kembali chat-nya yang di kirim ke Bima, namun sepertinya belum terbaca.


“Halo?”, suara serak dan bingung terdengar dari ponsel Arthur, yang dengan kesal langsung menghubungi Bima.


“Periksa chat dariku, lakukan sekarang juga!”, Arthur segera mematikan panggilannya, lalu mulai menyalakan mobilnya.


Sepanjang malam Arthur keluar dari area restoran ke arah jalan yang di tuju mobil di CCTV, berharap melihat mobil yang sepertinya jenis fortuner berwarna putih itu.


“Bagaimana?”, tanya Arthur setelah menerima panggilan dari Bima sambil mengemudi.


“Dari plat nomornya, mobil ini ternyata mobil milik seorang pengusaha rental mobil”, jelas Bima.


“Apa Amira di culik?”, Bima bertanya di tengah-tengah kekacauan situasi Arthur.


“Ya”, jawab Arthur tanpa ragu.


“Tapi sepertinya tak ada perlawanan sedikitpun, kalau Amira melawan aku yakin dia sudah berteriak dan orang yang berjalan melewatinya pasti sudah memperlihatkan ekspresi kaget atau panik”, Bima bermaksud memperlihatkan situasi ganjil dari rekaman CCTV tersebut, dimana ada dua orang wanita yang melewati mobil itu setelah Amira, namun kembali terlihat berjalan dari arah lain mobil dengan gelagat yang seolah tak melihat hal aneh apapun di titik buta tersebut.


Mendengar pernyataan Bima itu Arthur hanya terdiam tak menjawab apapun, dia jelas menyadari hal itu sejak awal, namun tak menghiraukannya karena menurutnya, setelah pernikahannya dengan Amira, Amira tak menunjukan sikap mencurigakan apapun yang mengindikasikan bahwa Amira ingin meninggalkan Arthur, setiap hari jelas Amira bersikap bahwa Arthur adalah rumah tempatnya pulang kapanpun.


Walau yakin dengan perasaannya itu, Arthur tetap sangat takut jikalau Amira mungkin benar-benar meninggalkannya karena suatu hal yang dia tidak sadari, ketakutan yang Arthur berusaha kubur itu menyeruak, membuat Arthur dengan frustasi memikirkan apa yang sebenarnya salah, sehingga kemungkinan Amira meninggalkannya lagi, sampai terjadi.