
Siapa sangka sebuah tongkrongan yang biasanya hanya di anggap sebagai wadah untuk membuang-buang waktu, bisa menjadi sebuah ladang kehidupan yang bahkan menjadi sebuah singgasana nyaman. Itulah yang mungkin akan di pikirkan banyak orang saat melihat bagaimana Arthur bisa membalikan kehidupannya, dari seorang anak gelandangan menjadi raja di sebuah klub motor dengan ratusan pengikut.
Namun berbeda dengan pemikiran orang-orang yang terpana melihat kesuksesan Arthur, bagi Arthur hal itu sudah dia perhitungkan juga di perjuangkan sejak awal. Dirinya mengatur semua hal berjalan agar mendapatkan para anggota yang solid dengan begitu akan lebih mudah baginya pula untuk mengatur keuangan di dalamnya.
Pada awalnya, Arthur mendapati dirinya menjadi sekadar di suruh oleh orang tak dikenal untuk di mengantarkan sebuah benda yang tidak dia tahu apa di dalamnya dengan imbalan yang bisa Arthur syukuri saat kecil di jalanan. Seiring berkembangnya usia Arthur menyadari apa yang sedang dia lakukan namun terlanjur untuk merasa butuh atas hasilnya, hingga Arthur memiliki beberapa kenalan penjual dan banyak kenalan konsumen, lingkungan yang sempurna itu Arthur manfaatkan pada awalnya hanya sebatas untuk bertahan hidup.
Disaat Arthur akhirnya bertemu dengan Bima dan mengenal seorang bandar “permata” yang cukup besar, Arthur menjadi lebih termotivasi, Arthur tak menyadari bahwa setelah dia merasakan kemewahan uang, dirinya menjadi sulit untuk bersyukur pada kata sekadarnya.
Arthur yang menyukai motor pada awalnya hanya nongkrong-nongkrong dengan beberapa teman dengan hobi yang mirip, kebanyakan mereka adalah pelanggan di bengkel tempat Arthur bekerja, Arthur yang memang memiliki daya tarik sendiri secara tidak sadar menjadikannya sebagai center di tongkrongannya itu. Seringkali Arthur ikut membantu teman-temannya dengan konflik mereka yang kebanyakan karena berkonflik dengan geng-geng jalanan, dan kebanyakan orang-orang yang berkonflik dengan mereka sering kali menyumpahi anak-anak tongkrongan Arthur untuk masuk neraka, dari situ Arthur memutuskan untuk menamai tongkrongan mereka sebaga The Hell.
Semakin hari banyak orang terutama anak muda yang ikut bergabung kedalam geng, hingga Arthur merasa tak bisa mengendalikan semua anggota dengan baik, dan terjadi banyak kerusuhan konyol yang di sebabkan anggota geng, dari sana Arthur membagi geng sesuai distrik geografis, dan menunjuk bebapa pemimpin untuk mengendalikan anggotannya.
Dengan banyak pertibangan Arthur membuat sebuah sub geng yang di namainya Under Hell, secara ekslusif Arthur memilih orang-orang dari kalangan ekonomi atas untuk masuk kedalamnya, merancang Under Hell agar terasa sangat istimewa.
Namun keputusan Arthur ini mendapatkan banyak kritikan dari anggota geng jalanan yang merasa di anak tirikan, hingga mengundang banyak tantangan juga ancaman dari mereka. Karena hal itu, Arthur membuat sebuah rules, dimana orang-orang yang ingin menjadi anggota Under Hell harus melalui sebuah pertarungan dengan orang yang dia ingin singkirkan dari Under Hell, dengan kuota anggota terbatas, yaitu 10 wanita dan 90 pria. Tentu saja akan sulit untuk orang-orang dengan ekonomi rendah masuk kedalamnya, karena orang-orang dengan ekonomi kelas atas memiliki peluang lebih tinggi dengan pelatihan dan nutrisi yang baik. Walau begitu ada beberapa orang dengan ekonomi rendah yang berhasil masuk juga.
Dari semua itu, banyaknya orang kaya dan pecandu di dalamnya tentu saja menjadi ladang yang bagus bagi Arthur, dia akhirnya menjalin kerjasama ekslusif dengan keluarga gerbong Nar***a yang bisa dikatakan merupakan gerbong terbesar di Indonesia.
Selama berjalannya waktu, Arthur bisa dengan mudah bertahan di kursi pemimpin karena di anugrahi tubuh yang kuat, di tambah pelatihan seni beladiri campuran yang dia ikuti menambah Arthur terus menerus menjadi yang teratas.
Namun ada masalah baru di dalam gengnya, ada kasus dimana ada beberapa anggota yang mati over dosis, baik dari Under Hell, maupun dari The Hell secara keseluruhan. Hingga ada saatnya Arthur hampir terseret ke penjara karena kematian salah seorang anggota Under Hell yang merupakan anak dari seseorang yang cukup berpengaruh, walau untungnya Arthur bisa bebas dengan beberapa kesepakatan dengan “Aparat Buta”.
Sejak saat itu Arthur mempertimbangkan untuk mulai mengurangi pemasokan “permata”, dan lebih fokus pada perusahaan-perusahaan dagang yang awalnya dia jalankan hanya untuk pencucian uang.
Semakin berjalannya waktu pemikiran Arthur tentang barang haram berubah, dari awalnya dia merasa tak ada salahnya untuk berkecimpung di sana, menjadi merasa bersalah dan memutuskan untuk berhenti, bahkan menghimbau semua anggota The Hell untuk berhenti menggunakannya. Ini karena Arthur merasa terpukul setelah kehilangan dua teman lamanya yang cukup dekat dengan dirinya. Teman tongkrongannya yang awalnya terdiri dari Heru, Bima, Firman, dirinya dan dua orang yang kehilangan nyawa karena barang haram tersebut.
Dari sinilah masalahnya, keluarga gerbong merasa kehilangan pasar karena Arthur tiba-tiba menghentikan kerjasama, dan bahkan cenderung menghalangi pengedaran di dalam geng motornya, yang mana itu adalah setengah dari pasar milik gerbong tersebut.
Dari situlah mereka menunjuk salah satu anak nya yang memang kebetulan merupakan salah satu dari anggota Under Hell untuk menyusun rencana mengambil alih The Hell. Orang itu adalah Alan, dia mengumpulkan sedikit demi sedikit retakan di tatanan The Hell untuk menggulingkan Arthur secara paksa. Dan siapa sangka saat melakukannya, Alan menemukan harta karun berupa beberapa perusahaan yang kebanyakan di sebutkan sebagai milik beberapa anggota The Hell yang dimana mereka tidak tahu kalau data diri mereka Arthur pakai untuk mengelabui perpajakan. Dan bukan hal sulit bagi orang-orang yang memang biasa hidup dari dunia gelap untuk memalsukan dokumen ataupun membuat dokumen palsu menjadi asli.
Di luar semua itu, pergantian pemimpin seolah menjadi sebuah fenomena mengagetkan bagi semua anggota. Ada banyak pengikut fanatik Arthur yang memutuskan untuk keluar, namun banyak juga yang tetap stay dan menganggap hal itu wajar karena sesuai rules yang Arthur terapkan tanpa mengetahui kecurangan Alan dalam menggulingkan Arthur dari posisinya.
Walau ada banyak aduan dan tuntutan dari masyarakat, Alan bisa dengan mudah melewati hukum dan bahkan mendapat perlindungan dari aparat dan pejabat buta yang memang sudah seperti menjadi kesatuan dengan keluarganya.
Namun entah kenapa, Alan selalu merasa gelisah jika itu berhubungan dengan Arthur. Alan merasa seperti kapan saja dirinya bisa di mangsa dan di hancurkan oleh Arthur.
“Alan, kenapa aku merasa rombongan pawai tak sebanyak dulu?”, ayah Alan yang terlihat masih sehat walau sudah renta itu bertanya.
“Oh, itu karena para fanatik Arthur memutuskan keluar dari geng”, Alan menjawab sembari setelah menelan makan malam di mulutnya.
“Tapi tenang saja, penjualan bahkan meningkat di banding saat Arthur masih bekerjasama dengan kita”, Alan menambahkan.
“Begitu?, itu terdengar bagus. Tapi kenapa kamu sering terlihat cemas?, kukira karena ada masalah dengan geng”, Ayah Arthur menatap anaknya dari sofa ruang TV yang memang bersebelahan dengan ruang makan.
“Ah itu, itu karena Arthur di tangkap polisi”, Alan menjawab dengan tegang sembari menatap ayahnya.
“Kenapa?”, “Kudengar karena kasus perampokan mini market”.
“Lalu?, dimana masalahnya?”, ayah Alan memutar kepalanya untuk kembali menatap layar televisi di hadapannya.
“bagaimana jika dia membongkar kita semua?”, Alan dengan tegang bertanya sembari berjalan mendekati ayahnya, meninggalkan piring yang masih terisi sisa makanan.
“Dia bisa bersembunyi selama ini, namun tiba-tiba dia dengan pasrah di giring polisi ke jeruji, itu cukup mencurigakan”. Alan kembali meluapkan isi pikirannya.
“Apa yang kamu takutkan?, kamu tahu kita memiliki banyak armor di semua bidang”, ucap ayah Alan menyepelekan kegelisahan anak lelakinya.
“Arthur tak memiliki apapun, dan dia bukan siapa-siapa untuk bisa melawan jaringan kita”, Ayah Alan menatap anaknya, berusaha memupuk kepercayaan diri anaknya.
“Hah, ya”, Alan memutuskan untuk kembali ke meja makan dan diam seribu bahasa, dirinya memikirkan banyak kemungkinan tentang reaksi ayahnya, apakah ayahnya terlalu meremehkan Arthur karena tak mengenal Arthur dengan baik, atau memang ayahnya yang sudah berpengalaman di dunia bisnis gelap ini memang benar tentang Arthur sudah bukan ancaman besar bagi mereka.