
“Trrak, tuk”, suara-suara senyap membangunkan Amira dari tidur nyenyak nya. Mata Amira yang mulai terbuka mendapati leher Arthur menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya.
“Yaa.. di sana..” suara-suara senyap terdengar berbisik-bisik di balik pintu kamar. Amira mengangkat kepalanya pelan, mengintip ke arah pintu kamar dari balik tubuh Arthur.
“Arthur!”, Amira berbisik pelan masih menatap ke arah pintu kamar sembari menepuk-nepuk Arthur pelan.
“Hmm? “, Arthur bergumam sembari merangkul Amira yang tubuhnya sedikit bangkit untuk menatap pintu di balik tubuh Arthur itu, hingga Amira kembali berbaring ke posisi semula.
“Ada orang di luar”, Amira mengerutkan alis menatap mata Arthur yang masih tertutup rapat.
“Ya, aku lupa memberitahu mereka”, Arthur tersenyum seketika saat matanya sedikit terbuka melihat wajah Amira tepat di depan matanya.
“Siapa memangnya?, bagaimana kalau mereka masuk?”, Amira setengah panik saat menyadari dirinya dan Arthur sama-sama tak memakai pakaian apapun di bawah selimut. Rasanya akan memalukan, dan mungkin akan menjadi pembicaraan buruk juga.
“Kita harus cepat di baju” , Amira menopang tubuhnya di salah satu tangan berusaha untuk bangkit, mencoba untuk mencari baju yang mungkin berserakan di pinggiran kasur dan beberapa di lantai.
“Mereka tak akan masuk kesini”, Arthur mengeratkan pelukannya ke tubuh Amira, sehingga Amira tak lagi mampu untuk bangun.
“Yang benar kamu..”, Amira sepertinya masih tidak tenang, matanya menyipit menatap Arthur tidak percaya.
“Jam berapa sekarang?”, suara tanya Amira tak terdengar jelas, teredam tubuh Arthur yang semakin mengeratkan pelukannya.
“Hmm, entahlah, kalau mereka sedang bekerja berarti sekitar jam tiga atau jam empat”, Arthur menerka-nerka sembari menikmati lembut dan hangatnya tubuh Amira yang dia peluk.
“Bekerja?”, Amira bertanya-tanya.
“Ya, mereka beberes, mengganti serta mengisi ulang makanan di kulkas”, Arthur masih menutup matanya rapat.
“Hahh?, Kenapa mereka bekerja subuh-subuh begitu” Amira masih berbicara dengan suara bisikan karena takut suaranya terdengar dari luar.
“Itu karena jam segini biasanya kamu masih tertidur pulas”, Arthur berucap dengan tenang. Sedang Amira yang mengerti maksud dari ucapan Arthur mengangkat dagu berusaha menatap wajah Arthur dengan ekspresi kesal.
“Kamu se-niat itu?, ini semakin terasa menyebalkan”, Amira merajuk karena sadar alasan para pekerja di luar bekerja di saat Amira tidur adalah agar Amira tak memiliki kesempatan untuk kabur keluar.
“Mereka bahkan bekerja dengan tenang, normalnya kalau aku tidur nyenyak, aku tak akan menyadari kehadiran mereka”, Amira masih berceloteh sendirian.
“Ya tentu saja, aku menyuruh mereka agar tak mengeluarkan suara apapun selama bekerja”, celetukan Arthur itu membuat Amira menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Tapi dimana ini?”, Amira bertanya karena penasaran.
“Hmm, rumahku?”, Arthur yang sepertinya masih mengantuk itu menjawab pelan.
“Rumahmu?, tapi terasa beda”, Amira mengingat-ingat ingatannya di masa lalu.
“Beda?, dengan yang mana?, kalau itu rumahku yang dulu tentu saja beda. Rumah itu di sita, karena dianggap rumah keluarga gembong”, Arthur menceritakan hal itu tanpa ragu, namun yang mendengarnya lah yang malah terlihat diam dalam keraguan.
“Tapi, di mana ponselku?”, tanya Amira mencari bahan omongan lain. Amira yang sebenarnya sudah berusaha keras mencari keberadaan ponsel miliknya di setiap sudut rumah itu, berakhir dengan kesimpulan kalau Arthur sepertinya menyembunyikan nya.
“Hmm, di kantor”, Arthur bergumam.
“Tapi.. “, Tiba-tiba Arthur membuka matanya lebar, terduduk lalu menatap Amira.
Amira tersenyum puas melihat lelaki di hadapannya terlihat mulai panik.
“Oh iya, aku harus bersiap, nanti siang aku harus membeli baju putih untuk acara tunangan, aku tak punya baju putih”, senyuman merekah Amira membuat Arthur semakin kebingungan, padahal Arthur jelas mendengar Amira mengatakan bahwa dirinya bohong mengenai pertunangan.
“Yang benar saja kamu”, Arthur yang merasa di permainkan mendengus kesal. Dada bidangnya terlihat tegap menghadap ke arah Amira.
“Haha, aku bercanda, Aku sedang membantu seseorang”, ucap Amira sembari meraih tangan Arthur dan meletakkan tangan itu di pipinya.
“membantu seseorang?”, Arthur kembali menyelinap kedalam selimut, menatap lurus kearah wajah Amira sembari tangannya mengelus-elus pipi Amira.
“ya, dia sepupunya Tya, rekan kerjaku di UTH. Sepupunya itu memiliki ibu yang sudah sangat renta dan mulai kekanak-kanakan, dia sedang sakit dan memerlukan perawatan intensif, tapi cukup sulit karena terus menolak minum obat, menolak semangat, dan menolak tawaran operasi dari dokter. Nah ibunya ini selalu meminta anaknya untuk segera menikah, tapi pada kenyataannya anaknya itu baru saja putus dari pacarnya, dan belum siap untuk memulai hubungan baru”, Amira menjelaskan panjang lebar di iringi tangan Arthur yang terus mengelus pipinya, membersihkan sudut mata Amira, dan sesekali memainkan rambut Amira pelan.
“Lalu apa hubungannya denganmu?”, tanya Arthur.
“Aku berpura-pura menjadi kekasihnya beberapa kali dengan ikut menjenguk, dan ternyata ibunya mulai semangat dan tak sulit saat waktunya minum obat. Nah aku dan lelaki itu akan berpura-pura bertunangan di hadapan ibunya, agar si ibu punya keinginan untuk hidup, dan itu cukup untuk meningkatkan keberhasilan operasi”, Amira tersenyum lebar saat merasakan perasaan senang berkecamuk karena dirinya terus menatap wajah Arthur dari dekat.
“Memangnya tak ada wanita lain apa?”, Arthur kini mengusap daun telinga Amira pelan.
“Sulit mencari orang yang mau, lagian tidak benar-benar tunangan kok, kasihan ibunya” Amira menggenggam tangan Arthur yang sedang memainkan telinganya.
“Lalu bagaimana kalau sampai ketahuan keluarganya? “, Arthur menanyakan sebuah kemungkinan.
“Justru keluarga besarnya lah yang menjadi dalangnya” Amira tersenyum.
“Bagaimana kalau ibunya sampai tahu?”, kemungkinan buruk kedua menjadi pertanyaan dari Arthur.
“Maka jangan sampai ketahuan”, Amira menjawab singkat.
“Kalau terlanjur ketahuan?, bukankah itu akan buruk?”, Arthur bersikukuh pada pertanyaan itu.
“Ya kalau begitu mau bagaimana lagi, setidaknya keluarganya sudah berusaha”, Amira melamun beberapa saat.
“Sampai kapan kamu harus berpura-pura seperti itu? “, ucapan Arthur itu membuyarkan lamunan Amira.
Amira terdiam mendengar pertanyaan dari Arthur.
“Hmmm, jika semuanya berjalan dengan baik, operasinya akan di lakukan sekitar lima hari lagi, lalu proses pemulihan pasca operasi mungkin butuh dua bulan, perkiraan sampai kondisi stabil adalah dua bulan. Amira menatap Arthur dengan mata sayu.
“Lalu kemudian kalian akan mengatakan yang sebenarnya pada ibunya? “, Arthur bertanya.
“Entah, aku dan Galih belum sempat membicarakan hal itu”, jelas Amira.
“Galih?, nama orang itu Galih? “, Arthur mengernyitkan alisnya, sepertinya mau ditahan atau tidak, perasaan kesalnya akan sangat sulit untuk di sembunyikan.
“Haah, jangan lama-lama”, Arthur berucap seperti itu sembari mengecup bibir Amira pelan.
“Aku harus tidur, kalau tidak sepertinya besok aku tak akan bisa bekerja dengan benar”, Arthur kembali mendekap tubuh Amira, menarik selimut hingga menutupi leher dan dagu mereka.
“Yaa, tidurlah lagi”, Amira memeluk sembari menepuk-nepuk punggung Arthur pelan, Amira sedikit merasa bersalah karena mengganggu tidur Arthur, yang pada malam itu baru bisa tertidur larut malam, mungkin baru tidur dua jam.