The Hell

The Hell
Parkiran



Siang itu di salah satu meja kantin yang lebar, Amira, Tya, Mawar, Rudi, dan Azka duduk mengelilingi meja. Mereka terlihat makan dengan cukup cepat dalam sunyi senyap. Kecuali suara sendok yang beradu dengan piring sesekali, tak ada saut menyahut dari mulut mereka.


Trak!, suara piring di geser, Tya terlihat menyodorkan piring kosongnya seolah memberi tahu semua temannya bahwa dia sudah selesai makan.


“Bentar, bentar!”, Mawar dan Amira terlihat berusaha dengan keras menghabiskan sisa beberapa sendok di piringnya, sedangkan Rudi dan Azka berbarengan mengakhiri makan mereka dengan meminum air di gelas mereka masing-masing.


“Jadi?”, Rudi bertanya pelan.


“Aku lolos”, Tya menjawab pertama setelah memperhatikan sekelilingnya terlihat enggan untuk menjawab pertama.


“Uh aku iri”, Mawar mengeluh dengan wajah pasrah.


“Ha?, kamu gak lolos?”, Amira dan Rudi bertanya hampir berbarengan.


“Kamu?”, Mawar bertanya kepada Rudi.


“Aku lolos”, Rudi menjawab.


“Nah, satu orang lagi berarti di antara kak Amira dan Azka”, Tya menatap Amira dan Azka bergantian.


“Oh emm”, Azka terlihat ragu dengan wajah lesu sembari menatap Amira.


“Kenapa?“, Amira yang melihat Azka menatapnya seperti itu bertanya.


“Kakak gak lulus?”, Azka bertanya setengah menebak.


“O, oh iya, hanya tiga orang yang akan di terima ya, berarti kamu lulus ya”, Amira berucap kepada Azka.


“Ya, tapi katanya aku bakalan di transfer ke bagian manajemen pendukung”, Azka menjelaskan.


“Oh, jadi kamu gak bakalan di perencanaan?”, Tya bertanya.


“Ya”, Azka menjawab.


“Yahh, besok aku tinggal sendirian dong tanpa kalian berdua”, Tya menunjukkan pernyataannya kepada Amira dan Mawar.


“Oh, aku masih kerja sampai bulan besok”, Amira menyambut pernyataan Tya tersebut.


“Oya?, kenapa?”, semua orang terlihat bertanya-tanya.


“Katanya aku harus menyelesaikan tanggung jawabku di kegiatan outing”, Amira menjelaskan sembari membuka bungkusan puding yang sejak tadi dia pegang.


“Lah, kok egois banget si perusahaan, kalau pada akhirnya tidak di terima, kenapa harus di suruh bekerja sebulan lagi”, Tya terlihat tersulut.


“Ya ga papa, sembari nunggu panggilan wawancara kerja di tempat lain”, Amira menjelaskan.


“Pada akhirnya cuma akuu, huuu”, Mawar membenturkan kepalanya ke meja kantin.


“Eyy, kamu kan udah nerima panggilan kerja sejak minggu lalu”, Tya melirik Mawar.


“Hehehe”, Mawar terkekeh, padahal dirinya berusaha berakting sedih.


“Kak!, kak!”, Amira dengan terburu-buru menarik rem motornya saat menyadari Azka berdiri di ujung barisan motor terparkir.


“Oh, kenapa?”, Amira bertanya.


“Motorku tiba-tiba gak bisa di nyalain, nebeng pulang dong”, Azka menunjuk motornya yang terparkir hampir di parkiran paling luar.


“Oh, terus motornya gimana dong?”, Amira bertanya.


“Ya di tinggal aja lah sehari, aku hari ini malas benerin, nanti besok aja”, Azka mengeluh sembari memukul jok motor miliknya pelan.


“TEEEETTTT!”, Suara klakson yang cukup keras membuat Azka dan Amira kaget bersamaan, terasa seperti dejavu. Amira dan Azka dengan refleks menengok ke arah suara dan melihat mobil rubicon hitam yang sama dengan yang dulu terus menekan klakson.


Amira terlihat mengerutkan kening karena merasa kesal entah kenapa, dan kembali melihat ke arah Azka karena menyadari mereka tak menghalangi mobil itu sama sekali, karena parkiran motor dan mobil berada di arah yang berlawanan dari jalan ke luar.


“Ya sudah, boleh aja sih”, Amira turun dari motornya, dan dengan gestur mempersilakan Azka membawa motor miliknya.


“Brak”, Suara pintu mobil di tutup, Amira melihat seorang lelaki turun dari mobil rubicon yang berhenti di sebarang mereka entah kenapa. Lelaki dengan tubuh jangkung besar dan kekar itu keluar dari kursi penumpang depan kemudian menghampiri Amira dan Azka.


“Ck..ck..ck”, Suara misuh-misuh terdengar dari arah yang sama, namun berasal dari orang yang berbeda.


Amira dan Azka melihat manajer umum mereka yaitu Farhan berjalan ke arah mereka, jelas sekali Farhan sepertinya turun dari mobil yang sama dengan lelaki sebelumnya.


Amira dan Azka termenung menatap dua lelaki itu, mereka bingung tentang situasi aneh itu.


“Amira, kalian berdua…”, Farhan yang baru datang itu bertanya sembari menunjuk Amira dan Azka dengan jari telunjuknya bergantian.


Amira memiringkan kepalanya alih-alih menjawab kalimat pertanyaan tak lengkap itu.


“KALIAN BERDUA TIDAK SEDANG PACARAN KAN?”, tanya farhan sambil berteriak.


“Hah?, tidak”, Amira menjawab dengan linglung.


“LIHAT MEREKA BERDUA TEMAN KANTOR SAJA!”, Farhan masih berteriak sembari menepuk lelaki berbadan besar di sampingnya.


“YA!, MEREKA TIDAK SEDANG PACARAN, HAHAHA”, Suara yang lebih tebal terdengar lebih keras lagi. Lelaki berbadan besar itu ikut berteriak aneh mengikuti Farhan, mereka berdua saling menyahut dengan suara keras.


Amira mengerutkan kening merespon tingkah aneh dari dua orang di depannya yang menarik perhatian beberapa pegawai lain yang melewati jalan tersebut.


“Lalu kenapa kamu turun dari motor?”, Farhan kembali berbicara dengan normal.


“Oh, teman saya motornya mogok, jadi saya memberikan tumpangan”, Amira menjelaskan tanpa hambatan sembari melirik ke arah Azka.


“Y.. ya”, Azka menjawab dengan wajah yang terlihat memerah.


“OOHH, MOTOR TEMANNYA MOGOK, JADI KAMU MEMBERIKAN TUMPANGAN!”,lelaki berbadan kekar itu bermonolog lagi sambil sesekali memutar tubuhnya ke arah mobil Rubicon.


Amira memiringkan kepalanya, dia merasa familiar dengan dua orang di hadapannya, juga dengan suara lelaki bertubuh kekar itu, entah di mana.


“Oh kalau itu masalahnya kamu bisa pakai motor saya yang ada di parkiran eksekutif, tunggu”, Farhan terlihat merogoh-rogoh setiap saku tas yang dia bawa.


“A, ah tak usah”, Azka yang masih kebingungan dengan situasi konyol itu terlihat enggan saat mendengar parkiran eksekutif, terlebih lagi meminjam motor manajer umum yang adalah atasannya, membuat Azka terlihat tak nyaman dengan situasi saat itu.


Sedang Azka, Farhan, dan lelaki berbadan kekar itu meributkan hal aneh dengan canggung, Amira membelalakkan matanya, dia tiba-tiba menatap mobil Rubicon di seberang sembari mengerutkan kening.


Amira kini ingat, dua lelaki itu adalah orang yang sering dia lihat di rumah Arthur dulu, termasuk di rumah sakit terakhir kali saat Arthur di larikan ke rumah sakit karena di tusuk, dan lagi suara lelaki kekar itu mengingatkannya pada suara salah satu perampok saat Amira bekerja di minimarket dulu.


Amira tiba-tiba berjalan dengan cukup cepat, walau sesekali terhenti karena ragu.


“Loh kak, kemana?”, Azka memanggil Amira yang sudah setengah jalan menghampiri mobil rubicon, sedang Farhan dan lelaki kekar itu tampak kaget saat menengok dan melihat Amira sudah berada di dekat mobil hitam jangkung itu.


Amira mematung di depan pintu mobil dan menatap kaca gelap itu tajam.


“Tok,tok,tok!”, Amira mengetuk kaca mobil tersebut dengan ragu.


“Tok,tok,tok!”, sekali lagi Amira mengetuk pintu yang posisinya terletak di bagian kemudi mobil.


Draaaakk, kaca mobil turun, dan sesuai tebakan Amira, Arthur duduk di sana dengan wajah di tekuk.


“Ada masalah apa anda dengan saya?”, Amira tiba-tiba merasa dirinya sama-sama anehnya dengan Farhan yang menanyakan hal aneh tiba-tiba.


Arthur menatap Amira tanpa membuka mulutnya sedikitpun.


“Baik, saya harap anda tak akan menekan klakson itu sembarangan lagi, bahkan walaupun perusahaan ini adalah milik anda!”, Amira mendengus kesal.


“Apa karena itu kamu memutuskan untuk tidak menanda tangani kontrak?, karena tahu perusahaan ini milikku?”, Arthur tersenyum di satu sudut bibirnya saja.


“Ya, aku tak nyaman jika harus bekerja di perusahaan mantan”, Amira berniat menyudahi pembicaraan itu tepat dengan kalimat itu.


“Sungguh tidak profesional!”, Arthur menaikan intonasinya, dia hampir berteriak.


Amira terdiam beberapa saat, dan kemudian kembali berjalan dengan cepat, menaiki motornya dan pergi dengan wajah yang mengerut. Azka membatu beberapa saat, setelah menyadari Amira melupakannya dan pergi sendirian.


“Ka..Kamu mau pinjam?”, Farhan dengan ragu menyodorkan kunci motor yang baru saja dia temukan dari dalam tasnya.


“A.. ah tidak perlu, saya naik ojek saja”, Farhan beberapa kali sedikit membungkukkan tubuhnya dengan canggung, sembari berjalan ke arah pintu belakang gedung.