
“Lewat sini”, pandu seorang petugas yang hendak mengantar Amira menuju sebuah ruangan.
Amira berjalan setengah menunduk, langkahnya terhenti saat dia melihat dua orang yang dia kenal duduk di pojok sebuah lorong. Ibu tiri dan kakak tiri Amira menatap Amira dengan wajah pucat, sang ibu tiri terlihat memiliki sembab yang begitu jelas di area matanya, sedang sang kakak setengah merangkul ibunya dengan ekspresi khawatir.
“A.. amir..”, “Tidak, jangan!”, begitulah ibu tiri Amira menghentikan anaknya yang terlihat mencoba mengajak Amira berbicara.
“Saudari Amira?”, petugas yang memandu Amira memanggil Amira saat menyadari Amira berhenti mengikutinya.
Amira mengikuti petugas tersebut memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terlihat cukup berantakan dengan banyak berkas, dan orang-orang yang terlihat memiliki kantung mata.
“Saudari Amira benar?”, seorang lelaki berumur sekitar empat puluhan mempersilakan Amira agar duduk di hadapannya. Amira mengangguk sembari mengikuti arahan tangan lelaki itu.
“Anda anak kandung dari bapak Rendi budiana benar?”, tanya lelaki itu.
“Ya pak”, Amira menjawab.
“Ayah anda meninggal pagi tadi di rumah sakit XXX, akibat keracunan sianida”, lelaki itu menatap Amira sembari menjelaskan mengenai kematian ayah Amira. Tanpa merespon Amira sesekali menoleh ke sembarang arah dengan mata yang mengembun.
“Kami mencurigai ayah anda di racun, namun ibu dan kakak sambung anda mengatakan ini adalah kali kedua ayah anda melakukan percobaan bunuh diri, kami juga kekurangan bukti, karena sianida yang digunakan pun di pesan melalui ponsel dan akun online shop ayah anda”, jelas lelaki itu sembari terus menatap Amira.
“Apa anda tahu bagaimana hubungan antara ibu sambung anda dengan ayah anda?”, lelaki itu bertanya.
“Setahu saya, mereka dalam hubungan yang baik, walau terkadang ayah saya agak kasar, tapi saya tahu ibu sambung saya menyayanginya”, Amira menjawab.
“Apa benar ayah anda pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya?”, pertanyaan itu membuat Amira sempat terdiam beberapa saat.
“Ya”, Amira menjawab sembari menatap langsung ke arah lelaki di depannya, sembari merasakan detak jantungnya berdebar semakin cepat.
“Tapi saya dengar anda jarang sekali atau hampir tidak pernah mengunjungi ayah anda?”, pertanyaan selanjutnya datang setelah keheningan yang cukup membuat Amira merasa takut kalau detak jantungnya yang berderu terdengar oleh orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
“Ya benar, saya sering menanyakan kabarnya melalui kakak tiri saya”, Jawab Amira.
“Dan anda percaya?”, tanya lelaki itu dengan cepat.
“Ya, ayah saya memiliki mood swing yang cukup parah, dia memiliki mental yang labil”, Amira menjawab.
Setelah hampir satu jam Amira berada di ruangan itu, Amira keluar dari ruangan tersebut dengan lutut yang lemas. Amira menatap ibu dan kakak tiri yang menatapnya dengan tak tenang dari kejauhan, Amira berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya, namun sepertinya tak berhasil menjadi sebuah senyuman. Amira kemudian melengos meninggalkan ibu dan anak itu, dia masuk kedalam toilet umum sebelum keluar dari kantor polisi.
Dua hari berlalu, Amira berdiri menatap liang lahat yang ternganga, menunggu tubuh ayahnya yang sedang di pangku oleh beberapa sanak saudara. Suara isak tangis terdengar di beberapa sudut walau sebenarnya suasana pemakaman kala itu cenderung terdengar sangat tenang dibanding pemakaman pada umumnya. Sementara ibu tiri Amira tak terlihat di manapun, di seberang liang lahat Amira mendapati kakak tirinya menatap Amira tanpa henti sejak pertama kali mereka bertemu untuk mengurusi jenazah sang ayah dua hari lalu, Nabila menatap Amira hampir di setiap kesempatan.
“Perlahan!”, ucap kerabat ayah Amira yang membantu menopang jasad sang ayah saat hendak di turunkan ke liang lahat.
Amira menatap dengan seksama, setiap langkah penguburan sang ayah, hingga saat kain kavan bagian wajahnya di bukakan, Amira merasakan perasaan aneh saat melihat wajah ayahnya yang terlihat sangat tenang. Padahal sepanjang hidup Amira, wajah murka ayahnya lah yang tertanam dalam ingatan.
Dibanding merasa sedih, Amira malah merasa sangat bersalah karena mengantar jasad ayahnya dengan perasaan lega.
Kini tanah menimbun sang ayah jauh di bawah sana, seorang pemuka agama berpidato untuk mengingatkan tentang kematian dan memberikan kalimat penabah untuk keluarga yang di tinggalkan. Ditengah pidato, tanpa sengaja Amira melihat sesosok yang membuat hatinya bergetar seketika, lelaki itu berdiri cukup jauh, hampir bersembunyi di balik pagar pembatas TPU.
Amira menundukkan kepalanya dengan segera, setelah dirinya menyadari tubuhnya terpaku melihat Arthur yang sedang melihatnya dari kejauhan.
“A.. amira”, Nabila yang merupakan kakak tiri Amira memanggil Amira dengan ragu disaat semua orang sudah meninggalkan area pemakaman.
“Mari bicara”, Nabila berbicara dengan wajah yang menunduk kebawah.
“Kita bisa bicara disini kak”, Amira berbicara sembari menaburkan sisa bunga ke atas makam ibunya yang tak jauh dari tempat sang ayah di kubur.
“Amira, aku tak tahu kenapa kamu berbohong kepada polisi mengenai percobaan bunuh diri ayah..”, Nabila membuka pembicaraan dengan ragu sembari menengok ke berbagai arah, seolah memastikan keberadaan orang lain.
“Itu bukanlah kebohongan, itu kebenaran yang kita perlukan agar bisa memakamkannya dengan tenang”, jawaban Amira membuat suasana saat itu menjadi hening. Nabila terdiam sembari menatap amira dengan bola mata yang bergetar.
“Amira, maafkan aku, jangan salahkan ibu, dia sangat terpuruk. Aku mohon maafkan kami”, Nabila berlutut memegangi lutut Amira yang sedang berjongkok di samping makam ibu Amira. Nabila menangis dengan tubuh bergetar karena menahan isak.
“Tidak bisakah kakak berterimakasih saja?, sehingga aku tak perlu meminta maaf untuk ayahku karena seringkali memukuli ibu”. Amira menjawab dengan tubuh yang sama-sama mulai bergetar.
“Kak, mari anggap hasil penyelidikan adalah hal yang sebenarnya, jangan pernah mengungkit mengenai hal ini sedikitpun”, Amira menggenggam tangan Nabila erat.
“Jika kita tak mengungkitnya, semuanya akan baik-baik saja, sama seperti kematian ibuku..”, Amira berbicara dengan bibir bergetar yang sudah sangat sulit di kendalikan.
“A.. Amira?”, Nabila terbata saat mendengar ucapan adik sambungnya itu.
“Ibuku pun di anggap meninggal karena sakit hingga kini, itu karena keluarga ayahku tak mengungkit hasil penyelidikan, mereka bungkam dengan baik, sehingga ayahku bisa hidup dengan tenang seterusnya bersama tangan ringannya itu!”, Amira meracau dengan isak emosi yang dia pendam selama lebih dari sepuluh tahun.
“Seharusnya kakak bersyukur karena kini tak berakhir sama dengan apa yang di alami ibuku”, Amira berakhir menangis di pelukan Nabila. Kedua wanita itu sama-sama memiliki perasaan yang mirip, rasa takut, rasa lega, rasa bersalah dan rasa sesak di tenggorokan mereka kini mencair dengan membuncahnya tangis di sudut mata mereka. Dengan mayat-mayat yang terkubur di bawah kaki mereka sebagai saksi, tanpa disadari mereka berdua berjanji satu sama lain untuk tak akan pernah mengungkit, tentang bagaimana ayah Amira kehilangan nyawanya.