The Hell

The Hell
Diskusi 2



Hari itu di tengah panasnya sinar matahari yang menyusup melalui kaca-kaca bangunan perusahaan, Amira duduk terdiam menunggu pintu sebuah ruangan terbuka. Dirinya duduk di sebuah kursi tunggu yang entah mengapa sepertinya di sediakan sangat mendadak di lorong itu.


“Haaah”, Amira menggaruk pipinya pelan sembari menatap jam di ponselnya beberapa kali. Hari itu dirinya memutuskan untuk mengikuti diskusi sesuai anjuran perusahaan. Itu karena Amira merasa tidak lucu kalau ternyata Arthur benar-benar serius mencoba memanggil Amira ke pengadilan, masalahnya adalah Amira bisa apa jika harus melawan tim hukum profesional perusahaan UTH walaupun pada kenyataanya dirinya merupakan korban.


“Klak!”, suara pintu terbuka dari dalam, dua orang wanita yang sepertinya sedang berniat keluar untuk makan siang bertatapan mata dengan Amira. Amira menatap dua wanita itu dengan serius berharap setidaknya salah satu dari mereka berbicara kepada Amira, namun di banding berbicara dua orang wanita itu malah segera menunduk dan berjalan cepat seolah menghindari Amira.


“Apa aku terlihat seperti orang yang akan meminjam uang kepada kalian?”, Amira merasa kesal sambil bergumam sendirian karena sudah hampir satu jam dirinya duduk di sana.


“Dap, dap, dap!”,Amira yang sedang menekuk keningnya karena merasa kesal segera melihat kearah suara decitan sepatu dengan lantai, sepertinya seseorang berlari dengan tergesa mendekati tempat dimana Amira duduk.


“Oh”, Farhan menatap Amira dengan hidung yang kembang-kempis menahan rasa lelah setelah berlari. Sedangkan Amira memandang Farhan dengan bingung.


“Kenapa duduk di sini?”, Farhan yang terlihat mencondongkan tubuhnya untuk mengistirahatkan pernafasannya mulai berjalan dengan tenang dan menggapai gagang pintu ruangan yang sejak tadi Amira jaga.


“Saya duduk di tempat yang di sediakan, tentu saja”, Amira sedikit mencibir karena merasa kesal harus duduk di lorong itu selama sejam lebih.


“Masuklah!”, Farhan memberikan isyarat kepada Amira untuk mengikutinya.


Amira masuk kedalam ruangan dengan luas medium itu, ruangannya cukup mirip dengan ruangan kerjanya sebelum keluar dari perusahaan. Di dalamnya ada sekitar tiga orang karyawan yang sedang duduk di meja masing-masing menikmati bekal makan siang.


“Mana pak kepala?”, Farhan bertanya ke orang yang duduk paling dekat dengan pintu masuk.


“Di dalam pak”, orang itu mengangguk sopan. Hal itu membuat Amira sedikit bertanya-tanya karena sepertinya Farhan sudah sangat terbiasa datang ke sana, padahal dia adalah kepala manajemen perencanaan yang mungkin akan sangat jarang berhadapan langsung dengan kepala divisi hukum, itulah setidaknya yang terpikir oleh Amira.


“Amira bisa tunggu di sana…”, Farhan yang terlihat tak segan, menunjuk ke arah sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruangan rapat.


“Hei buatkan dia minum..”, Farhan berjalan dua langkah menjauhi Amira sembari menunjuk seorang pegawai yang terlihat kebingungan.


“Hei kenapa kalian menyuruhnya duduk di lorong, dasar..”, suara keluhan Farhan terdengar semakin kabur sembari dirinya masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruangan pak kepala.


“Hmmm..”, Amira menatap ke segala arah, memperhatikan tata letak ruangan yang membuatnya merasa bersyukur karena di manajemen perencanaan, ruangan kepala manajemennya benar-benar terpisah tak seperti ruangan yang sedang dia kunjungi hari itu. Ruangan atasannya ada di dalam ruangan anak buahnya.


Sekitar lima belas menit Amira menunggu di ruangan itu di temani secangkir teh, Farhan ditemani seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan kepala divisi hukum dan menghampiri Amira.


“Jadi..”, Farhan menatap lelaki paruh baya itu setelah beberapa detik mereka duduk bertiga tanpa pembicaraan.


“Ah begini bu Amira, perkenalkan nama saya Umar kepala divisi hukum UTH group”, lelaki yang sepertinya berusia sekitar empat puluh tahunan itu menyodorkan tangannya tanpa ragu.


“Oh, ah ya, nama saya Amira”, Amira menyalami lengan kaku itu sambil tersenyum ramah.


“Saya kira permasalahan kita disini terlalu jelas bukan? , ada baiknya anda kembali bekerja di sini sesuai dengan kewajiban anda yang tertera pada kontrak kerja, dengan begitu permasalahan kita akan terselesaikan tanpa masalah apapun”, Lelaki itu memulai pembicaraan dengan sebuah saran yang lebih terdengar seperti sebuah keharusan.


“Tapi, saya tidak pernah menandatangani kontrak”, Amira menjawab tanpa ragu.


“Saya tidak tahu apa yang membuat anda ingin berhenti dari perusahaan ini tiba-tiba, tapi anda tahu tanda tangan yang terbubuh di kontrak ini jelas tanda tangan anda”, pak Umar menunjuk-nunjuk tanda tangan Amira yang ada pada kertas salinan kontrak dengan pelan.


Amira terdiam beberapa saat sembari menatap berkas kontrak kerja yang di lebarkan oleh pak Umar.


“Tapi bukan saya yang menandatangani ini pak”, Amira mengangkat alisnya dengan tegas.


Mereka bertiga terdiam dalam keheningan beberapa saat di ruangan rapat tertutup itu.


“Bu Amira, saya akan menerangkan apa yang akan anda hadapi jika melanggar kontrak dengan kebohongan seperti itu, yang pertama an..”, Pak Umar yang sepertinya sedang berusaha menguraikan hukuman apa saja yang akan di terima Amira jika kalah di persidangan terdiam saat Amira menahan kertas yang hendak dia buka.


“Bu Amira, anda tahu sendiri, di dunia profesional ini anda tidak boleh membuang tanggung jawab begitu saja, anda harus bertanggung jawab pada apa yang sudah anda setujui”, pak Umar tak terlihat goyah sama sekali.


Amira menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan sembari menatap ke arah Farhan yang hanya diam duduk membeku di kursinya.


“Pak sepertinya percuma saja saya bicara, hal ini antara anda memang pandai berbohong atau anda di bohongi pihak yang anda bela”, Amira menatap tajam Farhan yang terlihat seolah bingung dengan apa yang Amira ucapkan.


“Tapi Amira, saya yakin bukan hal buruk juga untukmu jika terus bekerja disini, gajinya bagus, tunjangan bagus, fasilitas sedang dalam pengembangan ke arah yang sangat bagus, lalu apa?”, Farhan bertanya-tanya.


“Saya sudah wawancara dengan perusahaan lain karena berpikir akan berhenti sebelumnya”, Amira menjawab seadanya.


“dan kamu di tolak”, Farhan menjawab dengan ringan membuat Amira dan bahkan pak Umar menoleh.


“Dari mana anda tahu?”, Amira berdecak kesal, namun pertanyaan itu tak bersambut dengan jawaban dari Farhan.


“Baiklah, sebenarnya saya mau tunangan dan berencana menikah secepatnya, karena hal itu saya tidak berniat bekerja dalam waktu yang lama”, Amira berbicara sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi.


“Haha, kamu sedang berbohong bukan?”, Farhan tertawa pelan, sedang pak Umar terlihat semakin kebingungan dengan reaksi Farhan.


“Tidak, saya bersungguh-sungguh”, Amira menunjukan sebuah photo dirinya dengan seorang lelaki.


Farhan terdiam hampir selama satu menit setelah melihat photo yang di tunjukan Amira, sepertinya dia sedang berpikir dengan sangat keras.


“Dia sepupu rekan setimku”, Amira menjelaskan sembari tersenyum tipis.


“Haahh”, Farhan memijat pelipisnya beberapa kali sembari membuang nafas.


“Baiklah, ikutlah denganku”, Farhan berdiri dari duduknya dengan wajah kesal.


“Lalu bagaimana dengan..”, pak Umar sepertinya bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya harus dia lakukan.


“Lupakan saja, aku sudah lelah”, Farhan mengangkat tangan kanannya ke sembarang arah.


“Nanti saya hubungi lagi, maaf merepotkan”, Farhan terlihat kembali berbicara dengan tenang dan sopan sembari menatap langsung ke arah pak Umar.


Amira mengikuti Farhan yang berjalan menuju area lift, naik hingga lantai dua pulu satu, setibanya di lantai itu Farhan menuntun Amira memasuki sebuah lift lain dengan tampilan berbeda dengan lift yang biasa dirinya gunakan selama bekerja.


“Kemana..?”, “tolong jangan berbicara dulu”, Farhan yang terlihat muak membuat Amira terdiam sembari memanyunkan mulutnya.


“Memangnya apa salahku?” Amira merasakan perasaan kesal naik ke ubun-ubun nya.


“Tok-tok-tok”, Farhan mengetuk sebuah ruangan yang sebenarnya mengejutkan Amira karena dirinya tidak sadar sejak kapan mereka sampai di sana.


“Nah, silakan selesaikan masalah kalian berdua”, Farhan yang sudah membukakan pintu berbicara dengan lantang dengan wajah kesal. Amira terkesiap karena kaget saat mendapati Arthur duduk di meja itu dengan wajah kaget yang sama.


“A.. apa yang kamu?”, Arthur berdiri dari duduknya dengan tangan yang masih sibuk memegangi beberapa berkas tipis.


“Aku capek, pekerjaanku menumpuk, dan sekarang aku harus ikut tegang dengan urusan yang sebenarnya bisa kalian selesaikan dengan pembicaraan pribadi. Jangan siksa aku lagi dengan urusan tidak penting, aku yakin Heru dan Bima bahkan akan muak sejak awal jika ada di posisiku”, Farhan mengomel kesal.


“Tidak penting?”, Arthur terlihat mengerutkan dahinya.


“Ya!, kenapa?, memangnya menurutmu aku yang baru di putuskan pacarku karena kekurangan waktu untuk bertemu penting untukmu?”, Farhan sepertinya hampir mengumpat, dia keluar dari ruangan meninggalkan suasana canggung antara Amira dan Arthur, di ikuti suara pintu yang tertutup.