The Hell

The Hell
Terombang-ambing



Amira keluar dari mobil, dia mendapati dirinya di turunkan di depan lobi hotel, melihat di layar ponselnya itu sekitar jam delapan kurang lima menit.


Amira memutar tubuhnya dengan kaku karena riasan dan gaun yang dia gunakan terasa cukup membuatnya tak nyaman. Dia melihat ke arah Farhan yang baru keluar dari mobilnya, sekitar dua orang wanita dan seorang lelaki yang sejak tadi mengikuti Amira kemanapun terlihat sama-sama berdiri menunggu Farhan.


“Ada acara apa?”, Amira berbisik dengan perasan bertanya-tanya, sejak tadi dirinya merasa terus terombang-ambing karena mau tak mau menuruti semua perintah Farhan.


“Ayo cepat kita terlambat!”, Farhan berjalan mendahului Amira yang sejak tadi menunggunya karena bingung harus melakukan apa. Amira yang melihat Farhan yang hampir berlari membuat Amira ikut berjalan dengan cepat walau agak canggung karena gaun hitam dengan bagian rok yang cukup lebar menjuntai.


“Iya acara apa dulu?, aku merasa berdandan berlebihan sendirian, ini terasa memalukan”, Amira melihat ke sekelilingnya, beberapa orang yang dia lewati di lobi menatapnya lekat, termasuk beberapa orang yang sepertinya adalah pegawai hotel.


“Ini pernikahanmu”, Farhan berucap sembari berdiri di depan pintu Aula yang terbuka lebar. Amira mematung dan kemudian tanpa sadar melangkah ke samping berdiri di belakang tubuhFarhan. Itu karena di dalam aula yang luas itu banyak sekali orang yang menatap ke arahnya.


“Apa?”, setelah beberapa saat Amira baru menyadari ucapan Farhan itu , Amira mengerutkan keningnya bingung, lalu mengintip ke dalam aula, dia melihat beberapa wajah tak asing di meja dekat pintu, mereka adalah salah satu keluarga almarhum ayah Amira.


“Apa kenapa tiba-tiba?”, Amira yang merasa hal itu terlalu mengada-ngada menatap farhan tajam.


“Apa yang sedang kamu lakukan?, ayo masuk”, tiba-tiba Arthur berdiri di samping Farhan menatap Amira dengan senyuman lebar yang merekah.


“kamu luar biasa..”, Arthur mengulurkan tangannya menyentuh rambut Amira yang panjang bergelombang di ujungnya.


“Indah..”, setelah membelai rambut Amira dari pertengahan hingga ujungnya, Arthur kemudian menunjukan telapak tangannya itu kearah Amira.


Amira hanya ternganga, tak habis pikir, dirinya baru menyadari kalau ternyata chat singkatnya siang tadi bukanlah omong kosong belaka.


“Ayo cepat, kalau tidak acaranya mungkin akan selesai di tengah malam”, Arthur terlihat begitu bahagia hari itu, namun acara pernikahan tiba-tiba itu membuat Amira kehabisan kata-kata.


“Arthur yang benar saja kamu!”, Amira memicingkan matanya.


“Apa aku harus membatalkannya?, lalu menyuruh mereka semua yang sudah hadir untuk pergi?”, ucapan Arthur itu terdengar seperti desisan licik yang membuat Amira mau tak mau mengikuti Arthur berjalan menuju podium, yang di sana ternyata beberapa orang lelaki sudah duduk di kursi dengan tujuh kursi saling berhadapan.


Amira yang berjalan di iringi tepuk tangan hanya bisa menundukkan kepalanya malu, dengan tangan yang melingkar kuat ke lengan Arthur.


“sa.. saya bersedia”, Amira yang sebenarnya masih kaget dengan penggelaran pernikahan yang tiba-tiba, kini kembali di kagetkan dengan akad nikah yang ternyata sudah di lakukan. Amira melirik kearah lelaki yang duduk di samping lelaki yang menyodori Amira mic tadi, dan orang itu ternyata adalah adik laki-laki ayah Amira, kini Amira menyimpulkan kalau lelaki yang menyodori Amira mic tadi adalah seorang penghulu.


Sepanjang acara, tepatnya saat pembacaan perjanjian pernikahan, penandatanganan dokumen dan pidato pak penghulu dan beberapa orang yang sebenarnya tak Amira kenal, Amira beberapa kali mencuri pandang, melihat ke seluruh tamu yang hadir. Saat tanpa sadar Amira melihat ke barisan paling depan namun paling pojok, Amira mendapatkan senyuman dan lambaian dari Rani yang duduk semeja dengan nabila, kakak tiri Amira Amira terdiam beberapa saat sambil membalas senyuman Rani, namun kemudian Amira memperhatikan sekitar mencari keberadaan ibu tirinya, namun ibu tirinya itu tak terlihat di manapun.


Acara yang sebenarnya sangat di singkat, tak ada sesi photo dengan para tamu, jamuan yang di sediakan langsung dalam satu waktu dengan menu pembuka, menu utama dan menu penutup memenuhi meja lebar para tamu yang datang.


“Ayo kita pulang, kamu mungkin lelah, dan aku ada pekerjaan penting besok”, Arthur meraih tangan Amira yang duduk canggung di singgasana.


“Bolehkah aku menemui Rani dan kak Nabila dulu?”, tanya Amira.


“Ya, tak masalah, tapi mereka sedang makan sekarang”, Arthur menunjuk ke arah meja Nabila dan Rani. Amira sebenarnya tahu itu, karena memang semua tamu sedang sibuk menikmati hidangan.


Amira terdiam, jika dipikir-pikir memang tak enak rasanya jika mengganggu mereka, tapi malu juga jika harus Amira yang pergi ke meja yang berdekatan dengan para tamu tak di kenal itu.


“Baiklah, aku akan menawari mereka agar menginap di rumah, agar kalian bisa mengobrol semalaman, sekarang ayo kita pergi duluan”, Arthur berdiri dari duduknya. Walau ragu Amira segera mengikuti Arthur, karena entah kenapa dirinya juga sudah tak tahan ingin pulang.


“Aku lelah”, Arthur menyandarkan kepalanya ke bahu Amira , tubuhnya menyusut ke bawah karena tubuh Amira yang pendek. saat itu mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.


“Yaa, tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai”, Amira menepuk ubun-ubun Arthur pelan sambil memeriksa ponselnya. Amira berniat menghubungi Nabila dan Rani, namun Amira terdiam saat menyadari ada pesan dari Tya terpampang di sana, bahkan sebelumnya Tya melakukan panggilan beberapa kali kepada Amira.


“Kak, bibi meninggal tadi jam delapan”,


“Kak Galih mungkin akan sulit di hubungi, dia terlihat sangat terpukul”,


“Bibi akan di kebumikan besok pagi jam tujuh di pemakaman XXX di daerah XXX”, Pesan Tya yang berturut-turut itu menjadi ujian yang kesekian kalinya untuk jantung Amira hari itu.


“Ya tuhan, Arthur, ibunya Galih meninggal”, Amira berbicara cukup keras. Namun Arthur hanya terdiam menutup matanya, suara nafas dan bobot kepala Arthur yang memberat menandakan kalau Arthur sedang terlelap dalam tidurnya. Amira terdiam ragu untuk membangunkan, itu karena wajah Arthur terlihat sangat kelelahan.


“Besok aku akan datang ke lokasi pemakaman, maafkan aku karena tak bisa membantu kalian malam ini, kalian harus tetap kuat dan sabar”, Amira membalas pesan Tya itu sesingkat mungkin, dirinya merasa sungkan untuk menelepon, karena mungkin saja Tya sedang sibuk mengurusi persiapan pemakaman atau pengurusan jenazah.