The Hell

The Hell
Makan malam Rabu malam



Sepulang kerja, Amira duduk di tepi ranjangnya, menatap ponselnya dengan serius, sambil beberapa kali berusaha melakukan panggilan ke nomor Tya, walau tentu saja percuma karena sejak awal sudah tak aktif.


Amira terdiam beberapa saat sambil memandangi nomor Galih, dirinya ragu untuk menelepon Galih yang mungkin jika memang benar Tya hilang, Galih pasti sedang sangat sibuk mencari keberadaan Tya.


Namun walau pada akhirnya Amira memutuskan untuk menelepon, panggilannya itu tidak direspon sama sekali.


_“Kak amira, kamu terlihat sangat menyukai orang yang bernama Arthur itu, tapi aku pikir lebih baik kamu jangan dekat-dekat dan lebih baik tinggalkan saja dia. Aku tahu tak sopan untukku mengatakan hal seperti itu. Tapi kakak harus tahu, dia itu bukanlah orang yang baik, dia seorang manipulatif yang tak memiliki belas kasih”. Lagi, pesan terakhir dari Tya itu membuat Amira gundah, apalagi sekarang Tya dikabarkan hilang dengan kemungkinan penculikan.


“Amira?,kamu sudah siap?”, Arthur yang baru datang bekerja terlihat bersemangat seperti biasa.


“Siap?”, Amira bertanya dengan bingung.


“Kemarin kamu bilang kita makan malam di luar besok”, Arthur menekuk wajahnya karena menyadari Amira benar-benar lupa.


“Oh iya”, “Aku tinggal ganti baju saja, kamu cepat mandi sana”, jawab Amira merespon kekecewaan Arthur.


“Kenapa?”, Arthur bertanya saat dirinya menyetir mobil, karena sejak mereka keluar dari rumah untuk pergi makan malam, tatapan Amira terus menyorot ke arahnya. Ini cukup aneh, karena biasanya Arthur lah yang terus menatap ke arah Amira, bukan sebaliknya.


“Oh, hmm tidak”, jawab Amira.


“Oh ya, kamu tahu Tya?”, Amira bertanya tanpa menunda banyak waktu setelah ucapan terakhirnya.


“Tya?, yang mana?”, Arthur bertanya dengan ekspresi tak begitu tertarik.


“Itu loh, yang sepupunya Galih”, Amira mengantisipasi setiap garis halus di wajah Arthur, mencoba menganalisis setiap perubahan tipisnya.


“Ohh, mata-mata dari Lorem itu?”, Arthur mencoba memastikan dengan jawaban bernada pertanyaan.


“Iya”, Amira mencoba untuk tidak bertingkah terlalu jelas dalam memperhatikan ekspresi Arthur.


“Ya, kenapa?”, Arthur langsung memberikan pertanyaan tanpa ragu dengan ekspresi tak terganggu sama sekali.


“Kudengar dia hilang..”, ucapan Amira itu tak di timpali sedikitpun oleh Arthur.


“Katanya sih di culik”, Amira meneruskan ucapannya yang sempat beberapa detik tertunda.


“Lalu?, kamu mau membantu Galih mencarinya?”, Arthur bertanya dengan semangat makan malam yang tiba-tiba hilang.


“Jika bisa, tapi aku tak bisa”, jawab Amira sambil kembali melihat ke depan. Dalam beberapa saat, suara mesin mobil terdengar cukup menggerung keras, karena suasana di dalam mobil yang biasanya di isi oleh obrolan ringan mereka berdua, saat itu tiba-tiba senyap.


“Apa kamu bisa?”, Amira bertanya sambil kembali menatap kearah Arthur.


“Amira, keluarganya itu bukan keluarga susah yang perlu bantuan, jangan berlebihan dalam peduli kepada orang lain”,Arthur berbicara dengan kesal.


“Yaa, ya , baiklah”, Amira mengakhiri percakapan yang beresiko mengundang keributan itu saat itu juga. Dalam beberapa saat Amira memikirkan mengenai reaksi Arthur, namun rasanya tak ada hal yang mencurigakan dari hal itu, mengingat Arthur lebih ribut karena berpikir Amira mungkin saja akan membantu keluarga itu lagi, dibanding dengan pernyataan bahwa Tya hilang karena di culik. Namun Amira tak bisa tenang dengan hal itu, dia takut kalau dirinya yang mungkin saja lebih condong memihak arthur karena perasaan pribadi, tak bisa menilai dengan benar.


Lima hari berlalu, hari itu adalah hari makan malam di hari rabu yang Amira dan teman-temannya nantikan. Amira berjalan dengan Arthur yang mengikutinya dari belakang, mengikuti seorang pegawai yang memandu mereka berdua ke meja yang sudah di reservasi Mawar sebagai otak dari makan malam bersama malam itu.


“Loh, kita yang pertama ternyata”, Arthur bergumam saat melihat meja panjang dengan banyak kursi itu masih kosong.


“Demi tempat duduk?”, Arthur mengomel karena sebelumnya dirinya benar-benar di buru-buru sepulang kerja, untuk mandi dan memakai baju dengan cepat.


“Kamu tak pernah seperti ini?, kalau kita datang lebih awal, kita bisa menempati kursi paling nyaman”, Amira mencoba membujuk Arthur yang kesal dengan iming-iming yang sebenarnya tak masuk di akal Arthur. Itu karena menurut Arthur semua kursi di sana sama saja.


“Yah, ya baiklah”, Arthur memang pada akhirnya selalu mengalah dalam perdebatan tak penting yang di lakukan Amira.


“Dreett”, suara kursi di geser mengagetkan Amira, hal itu adalah kebiasaan Arthur setiap kali mereka duduk di kursi satuan seperti itu, Arthur akan menyeret kursi Amira ke arahnya, sampai kursi mereka berdua hampir menempel lalu mulai bergelayut memeluk Amira.


“Arthur!, aku kan sudah bilang jangan lakukan kebiasaanmu di rumah saat kita di depan umum”, Amira segera menggeser lagi kursinya, memperbaiki jarak umum yang sempat Arthur singkirkan.


“Hahhh”, Arthur membuang nafas dengan tangan yang hampir saja mendekap Amira ke pelukannya. Arthur sadar dirinya seringkali dengan refleks menarik Amira kearahnya atau bergelayut ke tubuh Amira, semua itu sepertinya sudah menjadi kebiasaannya sejak mereka sah menjadi suami istri.


“Oh kak Amira”, Mawar dengan semangat melambai-lambaikan tangannya sembari berlari kecil mendekat kearah tempat duduk Amira.


“Mawar, apa kabar”, Amira menyambut Mawar dengan tak kalah semangat, sementara lelaki yang mengikuti Mawar di belakang hanya tersenyum ramah kearah Amira dan Arthur, begitupun Arthur kepada Mawar dan lelaki itu.


“Oh haloo”, Mawar yang sepertinya baru menyadari keberadaan Arthur tersenyum canggung ke arah Arthur.


Makan malam saat itu cukup menyenangkan, Amira berkenalan dengan pasangan teman-temannya kecuali Rudi yang datang sendirian. Percakapan di atas meja makan itu cukup lancar dan akrab, kecuali untuk Arthur yang sedari tadi hanya diam dan tak ada seorangpun yang sepertinya mencoba berbicara dengannya, terutama Azka yang sepertinya bahkan tak melirik ke arah Arthur padahal dirinya dan Amira dalam hubungan yang baik-baik saja.


“Khemm”, deheman Arthur itu membuat meja riang tiba-tiba senyap. Semua orang melihat kearah Arthur yang terlihat sedang meminum air putih untuk mengusir makanan yang menyangkut di tenggorokannya.


“Ada apa?”, Arthur bertanya dengan wajah acuh tak acuh saat menyadari istrinya pun ikut menatapnya ditengah suasana yang tiba-tiba hening.


“Kamu dari tadi diam terus sih, gabung ngobrol dong”, Amira menepuk bahu Arthur pelan. Amira menyadari ada sedikit kecanggungan ditengah usaha mereka mengakrabkan diri. Dan itu karena Arthur yang terlihat tak begitu tertarik untuk ikut dalam obrolan mereka.


“Oh, yah, ayo mengobrol”, ucapan tak tahu malu Arthur itu membuat Amira merasa ingin menyembunyikan dirinya sendiri, sedang orang lain hanya tertawa ringan menanggapi ucapan Arthur itu. Semua orang di meja itu pasti tahu siapa Arthur, mereka jelas tampak segan untuk memulai obrolan dengan Arthur.


“Anda, sepertinya suka berolah raga ya, postur anda benar-benar terlihat sangat sehat dan kuat”, Rudi mengucapkan kalimat yang sebenarnya menjadi kesan pertamanya saat melihat Arthur malam itu.


“Oh yah, saya sudah terbiasa berolah raga sejak muda”, Arthur menjawab sembari tersenyum ramah dibawah tekanan tatapan Amira.


“Oh benarkah?, olah raga apa yang anda lakukan?, kebetulan saya atlet Basket”, tunangan Mawar memperkenalkan profesinya.


“Pantas saja kamu tinggi”, Rudi menanggapi tunangan Mawar yang memang tinggi, di meja itu Arthur dan tunangan Mawar menjulang dengan tubuh tinggi mereka.


“Ya, ini gen haha”, Jawab tunangan Mawar mengundang tawa beberapa orang di meja itu.


“Yah memang, tinggi badan paling mudah di dapatkan dari gen, apa anda juga begitu?”, Tanya Rudi kepada Arthur dengan polosnya.


“Entah, mungkin saja”, Arthur menjawab masih dengan ekspresi ramah sebelumnya, sedang Amira terdiam menutup mulutnya karena disana hanya dirinya yang tahu kalau Arthur benar-benar tak tahu mengenai keluarganya sama sekali.


Makan malam berakhir dalam dua jam, satu persatu dari mereka pergi dengan alasan ada urusan lain. Hingga pada akhirnya lima orang tersisa yaitu Amira, Arthur, Rudi, Hadi, dan kekasih Hadi, memutuskan untuk bubar dalam waktu yang bersamaan.


“Arthur, ke parkiran duluan ya, aku pengen ke kamar kecil dulu sebentar, nanti aku susul ke parkiran”, Amira berjalan secepat kilat, hampir seperti berlari. Arthur yang sebenarnya ingin mengikuti Amira mengurungkan niatnya saat membayangkan Amira mungkin saja akan mengomel kepada dirinya, dan memutuskan untuk mengikuti instruksi Amira.