
Sudah lewat sebulan dari pernikahan tiba-tiba Amira, pagi itu Amira berjalan pelan di kantor UTH grup menuju ruang kerja manajemen perencanaan. Amira yang merasa mulai bosan dengan tiadanya pekerjaan, memutuskan untuk membujuk Arthur untuk kembali mempekerjakannya di posisinya dulu. Walau pada awalnya Arthur agak memaksa Amira untuk tak bekerja tapi sepertinya Arthur tak bisa menang melawan bujuk rayu Amira setiap hari.
“Oh Amira!”, bu Jesi menyambut Amira dengan cepaka-cepiki khas ibu-ibu.
“Bagaimana kabar ibu”, Amira tersenyum lebar melihat bu Jesi.
“Tentu baik, lalu bagaimana dengan pengantin baru ini?, bagaimana kabarnya?”, tanya bu Jesi menggoda.
“Haha, saya baik bu”, Amira tertawa kecil, sebelum kemudian menyadari ruangan itu masih kosong dan baru ada bu Jesi di sana. Saat Amira menoleh ke arah jam dinding, dia menyadari kalau saat itu baru jam setengah delapan pagi, dan jam kantor adalah jam delapan lebih tigapuluh pagi. Amira merasa sedikit terkejut, karena dia berangkat dari rumah saat Arthur dan tiga rekannya sudah bergumul di ruang rapat selama lebih dari lima belas menit.
Kini Amira menyadari betapa rajinnya orang-orang itu bekerja, kian kemari mereka semakin memajukan waktu rapat, dalam beberapa waktu terakhir mereka bahkan memulai rapat di jam enam pagi. Ini di luar perkiraan Amira dulu, yang mengira seorang atasan mungkin akan memulai kerjanya lebih siang dan lebih santai, tapi setelah serumah dengan Arthur, Amira menyadari kalau Arthur dan tiga rekannya benar-benar gila kerja, Arthur bahkan mulai berolah raga di saat langit masih berwarna biru gelap, meninggalkan Amira yang masih lelap menutup mata di kasur.
“Yang mana meja saya bu?”, Amira menatap ke arah posisi mejanya dulu, namun di sudut yang dulu terdapat dua meja saja, hari itu terdapat tiga meja berjajar.
“Oh yang di sana”, bu Jesi menunjuk meja paling pojok, yang sebenarnya adalah posisi impian Amira, karena jarang di lewati orang dan yang paling jauh dari pintu. Amira tersenyum lebar sambil berjalan ke arah meja itu.
“Mmm, rasanya ada lebih banyak meja ya”, Amira tanpa sadar menghitung meja di ruangan itu. Ada sepuluh meja dengan bilik berjejer mengikuti alur tembok, menyisakan ruang tengah dengan meja serba guna yang cukup lebar. Dan beberapa sudut di isi susunan rak yang penuh dengan kotak dan berkas.
“Oh ya, ada pegawai baru empat orang”, jawab bu Jesi sambil mengolesi roti dengan selai di meja tengah.
“pemagang?”, Amira kembali bertanya, sambil berjalan ke meja tengah dan kemudian duduk di sana bergabung dengan bu Jesi.
“Oh mereka pegawai tetap, mereka transferan magang seangkatan kamu lima bulan lalu dari divisi lain”, jelas bu Jesi dengan mulut yang mengunyah roti.
“Hmm, kalau empat orang, siapa yang keluar dari sini?”, Amira bertanya setelah menghitung pegawai terakhir kali yang dia ingat berada di kantor itu satu setengah bulan lalu, saat dirinya memutuskan berhenti bekerja. Jika di ingat ada enam pegawai selain dirinya.
“Oh Tya keluar”, bu Jesi berucap sambil menengok ke arah pintu keluar.
“Memangnya suami kamu tidak cerita?”, Bu Jesi bertanya pelan ke arah Amira.
“Apa?”, Amira bertanya penasaran sambil menggelengkan kepalanya sebagai pengganti ucapan yang menyatakan kalau suami Amira tak mengatakan apapun.
“Tya ternyata seorang mata-mata, dia ternyata adalah salah satu anggota keluarga pemilik perusahaan besar”, bu Jesi menceritakannya dengan semangat.
“Tapi ini rahasia, hanya para eksekutif dan kepala divisi yang tahu, walau mungkin ada beberapa pegawai yang tahu lewat gosip”, bu Jesi mengunyah potongan terakhir rotinya.
“mata-mata?”, Amira mengerutkan keningnya bingung.
“Ya, saat itu aku di panggil oleh pak Farhan bersama dengan Tya, jadi aku tahu proses interogasinya, aku mendengar langsung Tya mengakuinya. Dia bilang dia datang untuk mencoba memahami struktur dan rahasia manajemen perusahaan, itu karena UTH merupakan pesaing yang walaupun tidak sebesar perusahaan keluarganya tapi memiliki kemajuan yang paling pesat”, penjelasan bu Jesi itu membuat Amira ternganga.
“Tapi karena tak ada kerugian apapun, dan sepertinya tak ada hal rahasia yang bocor ke Tya, perusahaan memutuskan untuk memecatnya saja dan memilih berdamai, mengingat dia dari perusahaan besar, akan buruk jika terjadi konflik”, bu Jesi masih melanjutkan penjelasannya.
“Hmmm”, Amira bergumam saat kini dia baru menyadari rumah sakit seperti apa yang beberapa kali dia kunjungi untuk menjenguk ibu Galih, Amira juga menyadari hotel yang di sewa untuk acara pertunangan palsu, dan area pemakaman terakhir kali, jika dipikirkan kini Amira menyadari semua tempat itu adalah tempat untuk orang-orang kelas atas.
“Drrtt”, sebuah pesan muncul di layar ponsel Amira.
‘Panjang umur’, pikir Amira saat melihat nama kontak yang terpampang.
“Kak amira, kamu terlihat sangat menyukai orang yang bernama Arthur itu, tapi aku pikir lebih baik kamu jangan dekat-dekat dan lebih baik tinggalkan saja dia. Aku tahu tak sopan untukku mengatakan hal seperti itu. Tapi kakak harus tahu, dia itu bukanlah orang yang baik, dia seorang yang manipulatif yang tak memiliki belas kasih, aku hanya takut akan ada korban lain”, pesan panjang itu terpampang dalam satu balon chat.
Amira terdiam menatap pesan itu, mencoba beberapa kali memahami maksud dari pesan tersebut.
“Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda”, suara operator terdengar berdengung di telinga Amira. Beberapa kali Amira mencoba menghubungi nomor Tya lagi, namun tak tetap tak bisa di hubungi, padahal pesan tersebut baru saja masuk.
“Oh, kak Amira?”, Amira yang tenggelam menatap layar ponselnya karena terus mencoba memahami isi pesan Tya sedikit terperanjat ketika suara Rudi memanggilnya. Amira melihat ke arah pintu masuk dan melihat Rudi di ikuti seorang lelaki yang tak dia kenal masuk ke ruangan.
“Rudi”, Amira bangun dari duduknya menyambut tangan Rudi yang mengajaknya berjabat tangan.
“Ya tuhan, bu Jesi bilang akan ada pegawai baru, ini si bukan pegawai baru”, Rudi terlihat lebih bersemangat dari dulu.
“Oh halo, Amira”, Amira menyalami orang yang berdiri di samping Rudi, dia salah satu pegawai baru yang di sebutkan oleh bu Jesi.
“Saya Hadi”, lelaki yang sepertinya seumuran dengan Rudi itu merespon dengan senyuman.
“Kak, aku tak menyangka, kalau ternyata yang di nikahi pimpinan itu kakak”, Rudi dengan semangat menggoda Amira.
“Haha”, Amira hanya menimpali ucapan Rudi dengan tawaan karena bingung harus bereaksi seperti apa.
“Hari itu tiba-tiba divisi kita di tambah Azka di panggil dan di undang untuk hadir di pernikahan pimpinan di malam hari, mereka bilang undangannya terbatas, jadi aku agak bertanya-tanya kenapa hanya divisi kita yang di undang selain mungkin orang-orang penting di perusahaan”. Arthur berceloteh dengan bahagia seolah bertemu kembali dengan teman yang sudah lama tak bertemu.
“jam berapa kalian di undang?”, Amira bertanya.
“Oh jam.., sekitar jam tiga sore ya bu?”, Rudi mencoba memastikan dengan bertanya ke bu jesi, sambil tangannya sibuk membuka penyegel bungkus roti yang memang tergeletak di meja tengah itu.
“Iya”, jawab bu Jesi yang ternyata sudah pindah tempat duduk ke meja kerjanya.
“Tapi aku tak melihat kalian?, apa aku tak melihat dengan benar?”, Amira menggaruk punggung tangannya pelan.
“Oh ya?, mungkin karena kami duduk di paling belakang, dan kakak terlihat bingung di beberapa waktu, sampai aku kira kakak tiba-tiba di paksa menikah malam itu juga”, Rudi cekikikan memikirkan pikiran konyol itu.
“Hahaha”, Amira tertawa merespon candaan Rudi yang sebenarnya hampir benar adanya, walau bukan paksaan, tapi pernikahan itu benar tiba-tiba.