
Sudah seminggu berlalu sejak Amira di drop out dari sekolah, dia hanya berdiam diri di rumah Arthur, atau kadang-kadang ikut dengan Arthur pergi ke markas.
“Drrrt, Drrrttt”, ponsel yang memang sedang Amira pegang bergetar. Sebuah nomor yang tak Amira kenali terpampang di layar ponselnya.
Amira yang sedang tiduran di sofa ruang tamu bangkit dan kemudian duduk sebelum menerima panggilan di ponselnya itu.
“Halo?”, Amira menjawab panggilan itu.
“Amira?, kamu dimana?”, suara seorang perempuan terdengar di telinga Amira.
“A.. aku di rumah teman”, Amira dengan gugup menjawab suara yang Amira kenali sebagai suara dari kakak tirinya itu.
“Hahhh, mau sampai kapan kamu di sana?, jangan menyusahkan orang lain”. suara omelan lembut itu membuat Amira termangu.
“Aku, betah disini”, Amira menjawab dengan hati-hati.
“Yasudah kalau kamu baik-baik saja, jangan pulang ke rumah dulu”, ucap kakak tiri Amira sebelum kemudian panggilan terputus.
Amira menatap layar ponselnya beberapa saat.
“Arthur?, mau kemana?”, Amira langsung berdiri saat melihat Arthur keluar dari kamarnya.
“Oh, aku ada urusan”, Arthur menjawab sembari menarik resleting jaketnya ke atas.
“Ke markas?”, Amira bertanya lagi sembari mengikuti Arthur dari belakang.
“Tidak, tunggu disini ya. Sekitar tengah malaman juga aku pulang”. Arthur mengusap kepala Amira sambil tersenyum lembut.
“Baiklah”, Amira tersenyum ceria.
“Ugghh!!!”, Amira menggeliat setelah terbangun dari tidurnya di sofa ruang tengah.
“Haahhh, aku pusing!”, keluh Amira sembari melemparkan ponselnya pelan ke meja. Hari itu hampir 2 jam Amira bergelut dengan ponselnya, mencoba mencari pekerjaan yang sekiranya bisa dia lakukan untuk mengisi kekosongan.
“Amira!, kamu gak nonton pacarmu?”, sebuah pesan muncul di jendela ponsel Amira. Sinta mengirimkan pesan itu bersamaan dengan sebuah photo.
“Amira membuka pesan itu, dan melihat sebuah photo yang memperlihatkan Arthur yang sedang berada di octagon bergelut dengan seorang lelaki.
“Apa, ada apa itu?”, Amira menjawab pesan dari Sinta.
“Oh kamu gak tahu?, ada penantang untuk posisi pemimpin setelah sekian lama”, jawab Sinta.
“Dan kenapa kamu tiba-tiba keluar dari gang?”, Sinta lanjut bertanya.
Amira terdiam beberapa saat mencoba memahami isi pesan dari Sinta.
“Memang Arthur yang terbaik”, Amira menerima Chat lagi dari Sinta, yang di susul dengan gambar Arthur yang berdiri sembari menatap lawannya yang sudah terdampar hendak di tangani tim medis.
Amira kemudian keluar dari halaman Chat dengan Sinta, dia mencari grup Chat Under Hell, dan dia baru menyadari kalau Grup Chat itu sudah tidak ada di akun Chatnya.
“Sejak kapan?..”, Amira mencoba mengingat-ingat. Memang sudah satu minggu ini dia tak pernah melihat chat baru di grup chat Under Hell, tapi grup chat itu kan memang jarang ada komunikasi kecuali jika ada pengumuman. Tapi tiga hari yang lalu Amira ingat dengan jelas dirinya pergi ke markas seperti biasa.
“Haahh, entahlah”. Amira memutuskan untuk bertanya kepada Arthur nanti, dia kembali rebahan di sofa sembari memejamkan matanya yang terasa berat.
Tak begitu jelas, namun Amira merasakan dirinya seperti melayang, perlahan kesadarannya mulai terkumpul, matanya perlahan terbuka, dia menyadari Arthur sedang mengangkat tubuh Amira dengan kedua tangannya.
“Kamu pulang?”, Amira bertanya sembari melingkarkan tangannya ke leher Arthur.
“Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri”, Amira memahami Arthur hendak memindahkan dirinya ke tempat tidur.
“Tanggung, ini sudah dekat”, suara Arthur jelas terdengar seperti dalam suasana hati yang baik.
“Kamu terlihat sedang dalam suasana hati yang bagus walau ada lebam di wajahmu”, Amira mengusap pelipis Arthur yang sedikit membiru sesaat setelah Arthur menurunkannya di tepi ranjang.
“Yahh”, Arthur tersenyum sembari lalu kemudian meletakan kepalanya di pangkuan Amira yang duduk di tepian kasur, sedangkan Arthur berlutut di hadapanya.
“Tentu saja, memenangkan pertarungan pasti cukup menyenangkan walau bukan laga resmi”, Amira berucap sembari menatap bagian belakan kepala Arthur yang masih meringkuk di pangkuannya.
Mendengar ucapan Amira, Arthur terdiam beberapa saat sebelum kemudian memiringkan posisi kepalanya di pangkuan Amira, mencoba menatap Amira melalui sudut matanya.
“Ya, walau bukan laga resmi secara umum, tapi itu menandakan aku bisa mempertahankan posisiku”. Arthur menjawab.
Suasana yang tiba-tiba terasa canggung di antara mereka berdua membawa kesunyian beberapa saat. Jelas Arthur mengerti apa yang coba Amira ucapkan, mungkin sejenis pertanyaan mengapa berbohong dan tak memberitahunya tentang pertandingan itu.
“Aku tak menemukan grup chat Under Hell di ponselku”. Amira merubuhkan tubuhnya ke arah belakang, terlentang di atas kasur sembari melamun menatap atap kamar.
“Aku menghapusnya, tapi kamu masih bisa ikut denganku jika ingin main ke markas, kau tahu itu”, Arthur memeluk betis Amira yang menjuntai di pinggiran kasur.
“Kenapa tidak bilang padaku?, itu menyebalkan”. Amira mengeluarkan unek-uneknya.
“Memang apa yang membuatnya berbeda Amira?”, Arthur naik ke atas kasur, menatap tepat pada mata Amira.
“Didalam geng itu ada aturan Amira, sejak kamu masuk ke geng, ada begitu banyak orang yang langsung menentang mu agar bisa masuk ke geng, kamu tak akan bisa mengatasinya”. Arthur menjelaskan sembari mendekap perut Amira, menjadikannya seperti bantal.
“Aku kan bisa mencoba..”, Amira berkata dengan ragu, karena memang kalau mengingat saat dia di habisi Angel, jelas dia merasa takut.
“Mencoba apa?, kamu ingin di rawat lagi oleh bu Ida?”, Arthur mendengus.
“Yah itu tak buruk”, Amira berucap seadanya.
“Ya kalau bisa, tapi kalau kamu bahkan tak bisa bertahan?, itu terlalu buruk untukku untuk membayangkan kamu kehilangan nyawa”. Arthur mencoba menjelaskan apa resiko sebenarnya yang dia khawatirkan.
“Haha, kamu benar. Entah sejak kapan aku jadi takut mati. Padahal sebelumnya aku sudah berencana untuk siap menghadapi kematian kapanpun itu”. Amira mengingat masa-masa dimana dia tinggal dengan ayahnya.
Namun tak ada jawaban untuk pernyataan Amira itu, Arthur hanya mengencangkan dekapannya, beberapa saat kemudian Amira mendengar suara hembusan nafas Arthur, yang membuat Amira menyadari Arthur sudah tertidur saat itu.
Hari-hari berlalu, Amira menyadari dirinya tak memiliki tujuan hidup yang jelas, hanya bergantung pada Arthur dan seringkali bermalas-malasan. Hari itu Amira tak sengaja menjatuhkan tas sekolahnya, tas yang tak pernah dia buka sejak dia di drop out dari sekolah.
Perasaan seperti mungkin dirinya bisa ikut ujian penyetaraan terkadang terlintas di pikirannya, jadi beberapa minggu terakhir Amira merancang sebuah rencana di pikirannya, dia berniat untuk bekerja, mengumpulkan uang untuk ikut ujian penyetaraan dan mungkin bisa ikut kuliah kelas karyawan. Hal itu cukup untuk meningkatkan keinginan hidup bagi Amira.
Amira membuka tas itu, namun dia agak bingung karena menemukan amplop yang sebenarnya tidak dia kenali.
“Apa nih?”, gumam Amira sembari membuka amplop coklat itu.
“Hahhh?”, Amira tanpa sadar menjatuhkan tasnya, dan hanya berfokus pada amplop itu. Segepok uang ada di dalamnya, bersama sebuah kartu ATM dan secarik kertas.
“Pakai dengan baik, dan ini adalah alamat dan nomor hp Nabila. Mintalah bantuan padanya”. isi surat yang singkat di bubuhi alamat kakak tiri Amira itu membuat Amira terpaku.
“Drrrttt, drrrttt”, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal memecahkan lamunan Amira.
“Halo?”, Amira menempelkan ponselnya di telinganya.
“Dengan saudari Amira benar?”, suara dari ponsel Amira bertanya.
“Iya benar”, Amira menjawab dengan waspada, karena takut itu adalah panggilan penipuan.
“kami dari perusahaan XXX, kami ingin memastikan apakah anda bisa ikut wawancara kerja besok sekitar siang hari, kami menemukan data anda mendaftar untuk bagian kasir”. penjelasan dari penelepon itu membuat hidung amira agak mengembang.
“Ya, tentu saya bisa”, Amira dengan semangat menjawab.
“Apa hari ini adalah hari yang suci?”, Amira dengan ceria membereskan kembali tasnya yang berserakan.
“Arthur!”, Amira menghampiri Arthur di ruang kerjanya dengan semangat.
“Ada apa?”, Arthur menjawab panggilan Amira.
“Aku sudah dapat pekerjaan”, Amira mengatakan dengan semangat.
“Oh, benarkah?, itu bagus”, Arthur yang tadinya fokus pada sebuah berkas di tangannya, menjadi fokus ke Amira.
“Jadi?”, Arthur bertanya.
“Jadi apa?”, Amira bingung degan pertanyaan Amira yang tak jelas.
“Jadi kamu akan bekerja mulai kapan?”, Arthur bertanya dengan ekspresi yang tak begitu senang.
“Ya, mungkin kalau lulus wawancara sekitar 3 hari lagi”. Amira menjawab.
“Begitukah?, tapi kupikir akan lebih baik kalau kamu tetap disini”. Arthur membahas tentang Amira yang pernah bercerita padanya tentang keinginan untuk tinggal di sebuah kosan.
“kamu tahu, kamu belum memiliki cukup uang untuk menyewa kamar kos”. Arthur dengan gugup menuangkan argumennya.
“Oh, tentang itu sebenarnya aku berencana untuk pindah lusa, karena tenyata ibu tiriku memberiku uang terakhir kali. Aku disini karena ingin meminjam motor, aku ingin mencari kos yang dekat dengan tempat kerja”. Amira menjelaskan.
“Hahh, tidak. Lebih baik kamu tak usah bekerja Amira, jika kamu ingin kembali ikut ujian penyetaraan dan kemudian kuliah, aku bisa membiayai mu”. Arthur berucap sembari memijat keningnya. Sedang Amira hanya terdiam menatap Arthur yang kelelahan.
“Kamu tahu, aku tak bisa terus bergantung padamu, dan kamu tak bisa terus bergantung pada semua ini”. Amira dengan berhati-hati berucap sembari menatap semua berkas yang berserakan di meja Arthur.
Mereka terdiam dalam keheningan beberapa saat.
“Motor yang ingin kamu pinjam itupun semuanya berasal dari sini, mobil, rumah bahkan makanan yang kita makan setiap hari. Semua kemewahan ini berasal dari sini Amira”, Arthur berucap menahan emosinya. Pembahasan itu bukanlah pembahasan pertama kalinya, dan bukan pula pertengkaran pertama mereka karena pembahasan itu.
Amira perlahan mengetahui bagaimana tepatnya geng The Hell beroperasi, terutama Under Hell, yang merupakan perangkat utama Arthur untuk mendapatkan kekayaan.
Semua anggota Under Hell bisa di ibaratkan sebagai pelanggan VIP untuk usaha Arthur, dan Arthur memiliki beberapa pegawai semacam preman di luar Under Hell.
Perdagangan nar***a, pela***an, pinjaman ilegal, saat Amira semakin mengetahui semua itu, Amira lebih memandang The Hell sebagai Mafia di banding geng motor biasa.
“Baiklah, aku akan naik ojek online saja”, Amira keluar dari ruangan Arthur dengan wajah di tekuk. Namun dirinya merasa malas untuk melanjutkan perdebatan tak berujung itu.