
Pagi cerah jum’at itu seolah menjadi restu dari semesta untuk kegiatan outing para karyawan UTH Group. Lima mobil bus dengan tampilan yang seragam beriringan melintasi jalanan ramai hari itu. Amira terlihat terkantuk-kantuk dengan tubuh yang terimpit peserta lain di kursi paling belakang. Lima orang berimpitan di kursi yang sebenarnya adalah kursi untuk empat orang. Kelima orang itu dengan kompak tertidur dengan tubuh yang terombang-ambing oleh gerakan mobil bus itu.
“Hahahaha”, Ramlan dengan bahagia memotret deretan para penyelenggara outing yang setengah mati kelelahan itu. Lelaki itu terlihat tersenyum puas, mungkin karena rasa dendamnya terbalaskan, setelah dua kali mengikuti outing, dirinya selalu ada di posisi Amira, dan hal itu sangat melelahkan.
“kluk!”, suara misterius itu membuat Amira terbangun dari tidurnya dalam sekejap.
“Aaah”, Amira melenguh saat menyadari suara itu berasal dari lehernya yang terkantuk terlalu keras karena mobil mengerem.
Mata Amira yang terlanjur terbuka tak sanggup lagi melanjutkan tidurnya, dia menatap ke segala arah, berusaha menyegarkan pandangannya.
“Hahaha, ini baru permulaan bu Amira”, Ramlan mengintip dari jok yang posisinya tepat sebelum kursi paling belakang. Ucapan Ramlan itu membuat Amira berekspresi gusar seolah menunjukkan bahwa dirinya tak sanggup lagi.
“Uwoookk”, tiba-tiba seseorang yang duduk di samping Amira memuntahkan isi perutnya ke lantai bus.
"Ya tuhan...”, Ramlan terdiam syok menyaksikan hal itu.
Pada Akhirnya Ramlan duduk di samping Amira, bergantian kursi dengan orang yang muntah itu.
“Hahh, ini benar-benar sempit dan pengap, kalau begini tak lama lagi aku juga akan muntah”, Ramlan mengeluh dengan wajah yang mulai memucat.
“Hahaha”, Amira tertawa kecil.
“Pak Ramlan, aku penasaran, apa kamu berbohong tentang dirimu yang masuk perusahaan karena info lowongan di grup chat?”, Amira tiba-tiba bertanya, namun sebenarnya pertanyaan itu sudah lama bergentayangan di otak Amira.
“Memangnya kenapa?”, Ramlan terlihat cukup serius menanggapi pertanyaan Amira.
“Pak Ramlan kan sudah dua tahun berturut-turut bertanggung jawab dalam perencanaan Outing, berarti harusnya tahun ini adalah tahun ke tiga pak Ramlan bekerja di sini”, Amira membeberkan hasil pemikirannya dengan percaya diri.
“O, oh itu”, Ramlan tiba-tiba kelabakan.
“Ituuu..”, Ramlan menatap Amira dengan canggung, namun tanpa ragu Amira terus menatap ke arah Ramlan, berusaha mengorek sesuatu yang sepertinya di sembunyikan Ramlan.
“Itu tak bisa ku katakan kepadamu”, Ramlan memalingkan pandangannya ke depan.
“Hmm”, Amira berdehem sembari tetap menatap lurus kepada Ramlan.
Ramlan kembali melihat ke arah Amira dengan ragu, dan memalingkan pandangannya lagi dari Amira beberapa kali.
“Hahh, sepertinya aku salah berbicara”, Ramlan bergumam sembari mengusap keningnya yang mulai berkeringat.
“Waah, apa bapak benar-benar berbohong kepadaku?, bapak berbohong dengan sangat jelas seperti itu”, Amira menajamkan tatapannya. Dan hal itu berhasil membuat Ramlan tak nyaman untuk mengabaikan Amira.
“Bukan begitu, saya..”, Ramlan terdiam beberapa saat, lalu kemudian melihat ke sekelilingnya, dua orang di sebelah kirinya terlihat tertidur dengan pulas, sedang seorang di samping kanan Amira terlihat sangat fokus pada ponsel di tangannya.
“Akan saya ceritakan nanti”, Ramlan menatap Amira.
“Ooo, apa ini sebuah rahasia besar?”, Amira berbisik tertarik. Namun Ramlan mengabaikan pertanyaan Amira itu dan kemudian bersandar ke sandaran jok.
“Yaa, baiklah..”, Amira mengeluh lalu kembali gabut, dan hal yang paling buruk dari kondisi itu adalah Amira harus duduk dengan tegak karena tak bisa bersandar di sandaran kursi, hal itu karena terlalu sempit dan menyebabkan Amira harus duduk agak depan dari seharusnya.
Dua jam berlalu, perjalanan panjang itu mengantarkan lima bus yang masing-masing menampung sekitar enam puluh orang itu ke sebuah resort di pinggiran pantai.
“Waah, aku suka udara disini”, Tya tersenyum lebar menatap lingkungan resort yang luas itu.
“Hirup lah banyak-banyak”, Ramlan melewati Tya dengan wajah lesu.
“Loh kenapa pak Ramlan, padahal saat masuk ke bus pagi tadi dia masih terlihat sangat bersemangat”, Tya bertanya-tanya saat melihat cara Ramlan yang berjalan sembari menyeret kakinya dengan lesu.
“Hahaha, padahal cuma dua jam pak, tapi anda benar-benar mabuk perjalanan?”, Rudi tertawa kecil.
“Yang benar saja, kamu duduk dengan nyaman, aku harus duduk berdempetan di kursi belakang yang sempit itu!”, Ramlan mengeluh hampir menangis.
“Bukannya kursi belakang itu kursi paling lebar ya?”, Tya berucap sambil cengengesan, terlihat jelas dia sedang menggoda Ramlan yang terlihat sedang mabuk perjalanan.
Hari itu kegiatan pertama di lakukan di mulai dari jam sembilan pagi, tepatnya setengah jam sejak para peserta outing tiba di lokasi. Orang-orang berkumpul di titik kumpul yang di setujui, tepat di area taman resort yang sudah di sewa perusahaan.
“Kak, apa kegiatan hari ini?”, Tya yang melihat Amira dan beberapa tim pelaksana sedang mempersiapkan sebuah toa, langsung bertanya karena penasaran.
“Aku bersumpah, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan”, Ramlan tersenyum dan hampir seperti mengutuk saat melihat Amira di tanyai oleh Tya. Namun hanya di jawab senyuman tipis oleh Amira.
“Oke, cek, cek, sudah berkumpul semuanya?”, seorang lelaki berusia tiga puluhan yang merupakan ketua pelaksana outing kali itu mulai meletakan mulutnya di toa yang di siapkan anak buahnya.
“Yaaa”, suara gemuruh menjawab hampir bersamaan.
“Baik, sekarang mari kita mulai kegiatan outing kita hari ini, mari berdoa terlebih dahulu agar diberi kelancaran dalam kegiatan kita selama dua hari satu malam ini. Berdoa sesuai kepercayaan masing-masing dimulai”, orang-orang menundukkan kepala mereka untuk merespon apa yang di ucapkan ketua panitia tersebut.
“Baiklah, kegiatan hari ini adalah..”, ketua panitia terlihat memberikan jeda di pengumumannya. Dia menatap ke sekelilingnya sembari memperhatikan wajah-wajah yang beragam seolah hal itu adalah hal yang menarik. Ada yang tersenyum lebar dengan semangat membara, ada yang berusaha menghalangi sinar matahari yang mulai menyorot dari mata mereka, tapi cukup banyak juga yang terlihat lesu karena mabuk perjalanan.
“Bebaaaas!, kalian semua bebas bermain, makan siang akan di sajikan di restoran hotel, tapi jangan lupa untuk berhati-hati dan tetap mentaati peraturan tempat yang akan kalian kunjungi!”, dengan bangga dan menggunakan suara keras, ketua panitia terlihat tersenyum cerah.
“Apa?”, Ramlan menatap ke arah Amira dengan ekspresi kaget. Dan Amira menjawabnya dengan tawa puas.
“Baik, bersenang-senanglah, dan besok pagi kita akan ada permainan-permainan menyenangkan, dan siang harinya akan ada penyuluhan, jangan lupa berkumpul lagi di sini besok jam tujuh pagi!”, ketua panitia itu kemudian mematikan Toa yang dia pegang dan mengakhiri pengumumannya.
“Kenapa?, bukannya ada kegiatan hari ini?”, Ramlan bingung, karena setahu dia terakhir kali di proposal, ada dua kegiatan berbeda yang di rencanakan perhari.
“Hahaha, kata pak Farhan kegiatan Outing kali ini di usahakan agar tidak terlalu banyak kegiatan, agar para karyawan akan lebih merasa seperti sedang liburan”, Amira menjelaskan.
“Apa?, sejak kapan proposalnya di rubah?”, Ramlan terlihat tidak terima.
“Sejak bapak tak mau tahu ataupun ikut campur sedikitpun dalam kepanitiaan”, Amira terlihat sangat puas menertawakan Ramlan.
“Hah, kenapa pak Farhan tidak mulai bekerja sejak dua tahun lalu?, kenapa baru tahun ini?”, Ramlan mengeluh merasa tidak adil.