The Hell

The Hell
Terus bertemu



Amira berjalan dengan bahu yang lesu, wajahnya berantakan penuh lebam. Amira menatap layar ponselnya, memastikan dimana saja lebam di wajahnya terlihat, sedang tangan kirinya sedikit bergetar tak karuan karena beberapa kali terkena tendangan saat mencoba menghalangi tendangan ayahnya ke perut Amira.


“Ah sialan!”, Amira mengumpat tak karuan. Entah kenapa rasa benci kepada ayahnya yang selama tiga tahun terakhir dia coba redam kembali menyeruak, membawa kembali kenangan-kenangannya di masa lalu setiap kali dia di pukuli ayahnya.


Amira menaiki angkutan kota umum di perjalanan pulang, sepanjang jalan dia merasakan tatapan dari penumpang lain yang silih berganti datang dan pergi, namun semua itu rasanya bukan gangguan bagi Amira, karena rasa lelah membekuknya, membuatnya tak bisa mempedulikan apapun disekitarnya.


Hingga Amira berjalan di gang menuju kos yang dia tempati, dari jauh dia melihat seorang lelaki memakai hoodie berdiri celingukan kedalam area kos, Amira melangkah menghampiri lelaki yang terasa tak asing itu dengan tergesa, dan saat tak sengaja mereka saling tatap, lelaki berhoodie itu sedikit terperanjat dan berbalik arah setengah berlari menjauhi Amira.


“Mau lari kemana?”, Amira segera menghadang jalan lelaki yang sesuai perkiraan Amira adalah Arthur.


Dalam beberapa detik, mereka berdua saling menatap, memperhatikan wajah bonyok mereka satu sama lain. Arthur yang tersadar kembali mencoba berbalik arah mencoba meninggalkan Amira.


“Kupikir kamu berhutang permintaan maaf kepadaku”, Amira menahan legan kanan Arthur dengan kedua tangannya.


Arthur yang mendengar ucapan Amira itu meringkukan bahu tegapnya. “Maafkan aku”, Suara setengah lirih terdengar cukup jelas di telinga Amira.


“Haahhh”, Amira menghembuskan nafas sembari menarik tangan Arthur, mencoba menyeret Arthur untuk ikut masuk ke kamarnya. Namun tepat di depan pintu kamar, Arthur terdiam membuat Amira ikut terhenti tak bisa menarik lelaki jangkung itu.


“Ada yang ingin ku katakan, tapi kita tak bisa berbicara di luar bukan?, kamu buron”, Amira berucap sembari kembali menyeret Arthur masuk dan kemudian menutup pintu kamar kosnya.


“Maafkan aku”, Arthur tiba-tiba berlutut sembari menunduk di hadapan Amira. Melihat hal itu Amira terdiam menatap rambut Arthur yang terlihat kusut tak beraturan, kumis dan jenggot yang sepertinya sudah sangat lama tak di cukur, memperjelas seberapa berantakannya penampilan Arthur.


“Berapa hari kamu tidak mandi?, rambutmu lepek”, Amira mengelus rambut Arthur perlahan. Membuat Arthur dengan refleks menengadah menatap wajah Amira.


Arthur yang memang sudah berkaca-kaca sejak dirinya melihat Amira, kaget karena melihat Amira yang ternyata sudah banjir air mata.


“A..Amira”Arthur bingung harus bereaksi seperti apa.


“Aku sangat lelah”, Amira sesenggukan sembari merangkul kepala Arthur ke pelukannya.


“Tak bisakah kamu tetap disini?, Aku muak bertahan sendirian”, Amira masih mencoba menahan tangisnya, karena takut dia akan membuat penghuni lain terganggu.


Arthur memeluk erat perut Amira, menepuk-nepuk punggung Amira, berharap itu bisa menenangkan Amira.


“Kemarilah”, Arthur merubuhkan tubuhnya serta menarik Amira bersamaan, hingga mereka tergeletak berpelukan di ubin dingin kamar kosan. Dalam senyap mereka berdua hanya berpelukan, mencoba mengoleksi sebanyak mungkin penghiburan dari pelukan itu. Entah sejak kapan mereka menjadi saling terikat sekuat ini, mungkin sejak mereka melihat bahwa mereka berdua sama-sama tak memiliki siapapun disisi mereka, atau mungkin sejak mereka merasakan tekanan kesulitan dalam emosi mereka berdua.


“Aku tak memiliki apapun lagi”, Arthur bergumam tepat di telinga Amira.


“Kamu memiliki aku”, Amira menjawab berharap Arthur mengerti apa yang di maksud hatinya hanya dengan satu kalimat sederhana.


“Tok-tok-tok”, “Mir!”, Suara ketukan pintu membuat Amira terperanjat, dia menyadari dirinya terbangun di atas kasur, hingga beberapa detik dia bertanya apakah pertemuannya dengan Arthur hanyalah mimpi semata, karena saat tersadar dia sendirian di dalam kamar itu.


“Mir?”, Suara Rani kembali terdengar dari balik pintu kamar. Amira bergegas membukakan pintu.


“Haahhh, Mir aku nginep lagi ya, aku takut banget kalo harus pulang jam segini”, Rani yang terbiasa main dengan teman-temannya di sekitaran kampus hingga larut malam, tak berani untuk pulang ke rumahnya yang cukup jauh.


“Oh, iya”, Amira menjawab dengan linglung sembari mempersilahkan Rani masuk, namun dirinya malah berjalan keluar dan celingak-celinguk di depan gerbang.


“Cari apa?”, Rani berteriak dari ambang pintu kamar kos berderet itu.


“Oh engga”, Amira kembali menutup gerbang dan mengunci gerbang itu dengan kunci slotnya.


Amira dengan yakin merasa dirinya bertemu dengan Arthur, itu bukan mimpi.


Satu bulan berlalu, seringkali Amira berdiri di dekat gerbang berharap Arthur akan ada di sana, rasa cemas, rasa rindu, dan rasa marah bercampur mengerubungi Amira.


Tepat di pinggir jalan tempat Amira turun dari angkot yang dia naiki, Amira mencari-cari ponsel di dalam tas yang ia bawa, tapi sampai lima menit mencari tak kunjung Amira menemukannya.


Amira kemudian memutuskan untuk mencari tempat yang nyaman untuk mencari ponselnya dengan lebih seksama, karena dia yakin ponselnya ada di dalam tas, mungkin menyelip di antara barang-barangnya yang memang cukup banyak kala itu.


“Haaa!”, Amira ternganga saat tak sengaja dompet miliknya jatuh dari dalam tasnya, menggelinding ke arah sela-sela penghalang jalan dan jatuh ke bawah jembatan.


“Ya tuhan!”, Amira bergerutu sendiri, mencoba menahan rasa kesal pada dirinya sendiri.


Amira melihat ke segala arah, mencari jalan yang bisa mengantarkannya ke lokasi jatuhnya dompet, dia kemudian mendapati jalan kecil menurun, yang membawanya menuju bawah jembatan. Dengan seksama Amira mencoba mencari dimana dompetnya berada, sembari waspada karena takut ada ular atau hewan berbisa di semak-semak hijau yang cukup rimbun itu.


“Oh ini”, Amira sumringah ketika berhasil menemukan dompet miliknya, walau agak kotor, sepertinya menepuk-nepuk area kotor di dompet itu sudah cukup untuk membersihkannya.


“Ohok,huk”, Suara batuk terdengar cukup keras, membuat Amira menengok ke arah suara itu terdengar. Sebenarnya suara itu sudah terdengar berkali-kali saat Amira turun ke sana, tapi mungkin karena sibuk mencari dompet, Amira baru menyadari keberadaan seseorang yang tertidur di area lembab itu beralaskan karton bekas.


Entah mengapa Amira merasa tak tenang untuk dirinya sendiri, dia ingat memiliki beberapa roti dan persediaan obat juga beberapa botol air minum yang niatnya untuk menemaninya di perjalanan nanti.


Walau ragu, Amira memberanikan diri, mencoba memberikan roti, air dan obat yang sudah dia siapkan di tangannya.


“Permisi”, Amira mencoba membangunkan orang yang terlihat terdampar di kolong jembatan itu dengan hati-hati.


“Apa aku simpan saja di sini?”, Amira berbicara dalam benaknya.


“Hukk, uhukk hukk”, Suara batuk yang terdengar menyakitkan di tenggorokan itu membuat Amira semakin khawatir.


Namun beberapa saat kemudian Amira menyadari dirinya tak asing dengan jaket dan pakaian yang orang itu kenakan,rasa penasaran membuat tangan Amira perlahan mencoba untuk membalikan tubuh orang asing yang tidur membelakanginya itu.


“A.. Arthur?”, Amira dengan mudah membalikan tubuh lemah itu, mendapati Arthur dengan wajah pucat dan demam tinggi yang menyengat saat Amira meletakkan tangannya di pipi Arthur.


“Ya tuhan”, Amira yang kebingungan melihat ke segala arah, berharap dirinya bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya memindahkan Arthur.


“Arthur?, Arthur?”, Amira berusaha menyadarkan Arthur dengan menepuk-nepuk wajah Arthur sembari memanggil namanya beberapa kali.


Amira dengan panik mengeluarkan semua isi tasnya, berusaha mencari ponselnya lagi tanpa menghiraukan barang bawaannya yang berserakan di atas tanah lembab.


“Oh, ini dia”, Amira segera memanggil Rani, orang pertama yang Amira pikirkan untuk di mintai tolong.


Amira menyentuh kening Arthur untuk ke sekian kalinya sembari menunggu Rani datang.


“Drrttt, Drrrt”, Ponsel Amira bergetar.


“Halo?, Rani?”, Amira dengan cepat mengangkat panggilan dari temannya itu.


“Kamu di mana?”, Rani yang tak tahu dimana tepatnya Amira berada bertanya.


“Oh kamu berada di mana sekarang?”, Amira memastikan keberadaan Rani untuk memudahkannya memberitahu posisi Amira menunggu.


“Aku ada di halte, banyak mobil angkot yang ngetem, dan ada Minimarket di seberangnya”, Rani menggambarkan kondisi di sekelilingnya sedetil mungkin.


“Oh, ya benar, tunggu di situ”, Amira bergegas berjalan ke arah dirinya tadi turun dari atas saat hendak mencari dompet.


“Rani!!, Rani!!”, Amira berteriak sambil melambaikan tangan saat melihat Rani yang terlihat celingak-celinguk ke segala arah.