
“Jadi?”, Arthur meletakan teh hangat di hadapan Amira yang sebenarnya membuat Amira begah hanya dengan melihatnya, itu karena baru saja dirinya menghabiskan segelas teh yang sama di divisi hukum.
“Entahlah”, Amira tiba-tiba dilanda kebingungan setelah melihat Farhan mengomel seperti orang depresi beberapa waktu lalu.
“Ku, kupikir ruangan mu ada di dekat ruangan sekretariat”, Amira menatap ke sekeliling dengan canggung.
“Ah, ya jika kamu masuk lewat jalur sekretariat, kamu akan masuk lewat pintu di sana”, Arthur menunjuk pintu lain di ruangannya.
“Oh”, Amira kini terpaksa meminum tehnya karena suasana yang canggung.
“Kakimu baik-baik saja?”, Amira bertanya setelah meneguk teh di gelasnya, sambil memperhatikan kaki kiri Arthur yang di balut oleh perban mengenakan sandal longgar.
“Oh, ya”, Arthur menjawab sembari menyembunyikan kakinya ke bawah meja.
“A.. amira”, Arthur mulai berbicara sembari berusaha untuk tak melihat ke arah Amira.
“Ya?”, Amira menjawab.
“Kamu benar-benar akan bertunangan?”, Arthur bertanya dengan ragu.
“Ya”, Amira menjawab tanpa ragu, dan hal itu membuat suasana diantara mereka berdua kembali dingin.
“Kenapa kamu sebegitu nya ingin berhenti bekerja dari sini?”, Arthur mengalihkan pertanyaannya dengan ekspresi yang tak terlihat canggung lagi.
“Hanya saja..”, Amira sepertinya membutuhkan waktu untuk mencari jawaban yang tepat.
“Karena aku pemiliknya?”, Arthur tiba-tiba menyediakan jawaban untuk Amira dengan wajah dingin.
“Ya”, Amira menjawab dengan suasana hati yang tiba-tiba resah.
“Hanya itu?, ku pikir kamu tak akan sering bertemu denganku, jadi kamu harusnya bisa tenang bekerja disini”, Arthur mengetuk-ngetuk lututnya menggunakan jari telunjuk.
“Aku tak bisa, aku sepertinya tak akan bisa lepas dari perasaanku padamu jika menyadari kamu ada di sekelilingku”, Amira menjawab dengan murung.
“Kenapa kamu ingin lepas dari perasaanmu itu?”, Arthur menatap Amira dengan tajam. Sepertinya suasana konyol yang di tinggalkan Farhan beberapa menit sebelumnya kini tak tersisa lagi, tertimbun rasa kesal yang di pancarkan oleh Arthur dan Amira ke satu sama lain.
“Tentu saja karena kita sudah berakhir sesuai dengan apa yang kamu katakan terakhir kali!, masa iya aku harus terjebak terus seumur hidupku dengan hal yang tak akan ada artinya?”, Amira mulai menegangkan urat lehernya, sedang Arthur terdiam merapatkan kedua bibirnya seolah mencoba memahami ucapan Amira berulang kali.
“Tak ada artinya?”, Arthur bergumam kehilangan setengah tenaganya.
“Tentu saja tak ada artinya mengharapkan orang yang sudah mengakhiri semuanya dengan jelas”, Amira mengucapkan kalimat itu dengan penuh harap pada respon seperti apa yang akan di keluarkan Arthur. Namun Arthur hanya terdiam dengan wajah lelahnya.
“Karena itu, kumohon jangan menyulitkan ku”, Amira meluncurkan ucapan pelengkap dalam ungkapannya, sembari menyiapkan dirinya untuk menerima apapun yang akan keluar dari mulut Arthur.
“Maafkan aku..”, Arthur berdiri dari duduknya menuju pantry pribadi berukuran kecil di ruangannya yang terhalang tembok.
Entah apa yang di lakukan Arthur di sana dalam beberapa menit, namun di tempat yang sepertinya ruang kerja itu Amira melamun sendirian.
Amira terdiam mengatupkan kedua bibirnya, mulai mencoba menerjemahkan ucapan Arthur yang singkat itu.
“Ah aku., saya sudah cukup”, Amira yang merasa sudah begah secara refleks menolak walau sebenarnya gelasnya terlanjur terisi penuh.
“Kita harus membahas permasalahan kontrakmu bukan, mungkin akan memakan cukup banyak waktu”, Arthur duduk kembali di hadapan Amira dengan tenang. Beberapa helai rambutnya terlihat basah, terlihat jelas dia mencuci muka di sela beberapa menit saat mengambilkan Amira teh yang baru.
Amira terdiam memperhatikan wajah Arthur yang sebelumnya hampir menipunya, Amira hampir merasa senang beberapa menit yang lalu karena berpikir Arthur cemburu pada berita pertunangannya. Namun kali itu terlalu jelas kalau Arthur terlihat sangat tenang dan tak terganggu sedikitpun, atau bahkan lebih tepatnya tidak peduli.
“Jadi tadi itu hanya karena pikirannya sedang lelah saja?, makanya dia terlihat bad mood, bukan karena aku mengiyakan kalau aku akan bertunangan”, itulah pikiran yang berkecamuk di pikiran Amira dengan perasaan pedih.
Cicipi lah, teh itu agak beda dengan yang sebelumnya, itu teh yang mirip dengan teh kesukaanmu dulu”, Arthur menyinggung masa lalu seolah itu bukanlah apa-apa. Dan hal itu membuat Amira terlihat melepaskan ketegangan di sekitar wajahnya. Ya, Amira sepertinya sudah selesai menerjemahkan ucapan maaf Arthur sebelumnya.
“Yaah, itu mungkin bagus”, Amira tersenyum tipis sembari menyeruput teh itu,Amira berusaha menata perasaannya secepat mungkin agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. Itu karena sebenarnya Amira hampir saja mengajak Arthur balikan jika saja Arthur memperlihatkan rasa cemburunya sedikit lebih jelas lagi.
“Hmm, benarkah mirip?, ini agak pahit dan aneh”. Amira memiringkan kepalanya mengingat-ingat kenangan rasa teh di lidahnya lima tahun yang lalu.
“Benarkah?, kamu mungkin sudah lupa”, Arthur tersenyum tipis.
Amira terdiam beberapa saat melihat senyuman tipis dari Arthur itu.
“Sepertinya memang sudah tak ada harapan”, Amira bergumam pada dirinya sendiri, lalu kemudian meneguk teh dengan rasa aneh itu dengan acuh tak acuh. Sepertinya perasaannya kala itu lebih fokus pada bagaimana Arthur terlihat tak terganggu dengan ucapannya mengenai semuanya sudah berakhir di antara mereka berdua.
Amira menyimpan gelas kecil yang sudah kosong itu ke atas piring kecil tempatnya berasal dari atas meja.
“Jadi bagaimana?, apakah kamu akan melepaskan aku?, maksudku kontrak kerjaku”, Amira bersandar di sandaran sofa tempatnya duduk dengan perlahan.
“Yah, itu bukan masalah”, Arthur terlihat mengetuk-ngetuk pinggiran sofa tempat lengannya bertengger.
“Hmm?, lalu kenapa kamu mempersulit ku selama ini?, mengesalkan sekali!”, Amira mencibir karena merasa kesal.
“Hahaha, yah mau bagai mana lagi. Tadinya kupikir itu bagus untukmu bekerja dengan gaji yang baik di bawahku, kamu sudah cukup hidup dengan melelahkan selama ini”, Arthur kali ini tertawa sambil menunjukan gigi putih nya.
“Yah itu bukan urusanmu”, Amira menaikan satu sudut bibirnya, sepertinya perasaan kecewanya tak bisa dia tahan sepenuhnya.
“Apa aku boleh minta segelas lagi, ini cukup bagus”, Amira mendengus sembari menunjuk poci teh, entah kenapa rasa aneh di teh itu cukup membuat Amira menjadi menginginkan lebih.
“Yah silakan saja, itu bukan jenis yang berbahaya, makanya efeknya cukup lambat”, Arthur menatap poci teh dan Amira bergantian.
“Ap.. apa?”, Amira bertanya kembali karena menurutnya jawaban Arthur tak begitu jelas, mata Amira menyipit karena pandangannya mulai buram.
“A.. Arthur, sepertinya darah rendah ku tiba-tiba memburuk”, Amira berucap sembari memegangi kepalanya yang keleyengan.
“Ah tidak, sepertinya aku hanya pusing, kupikir aku mengantuk..”, Amira yang tidak sadar kalau dirinya sudah tak bisa duduk dengan benar itu masih berusaha untuk berbicara.
“Tak apa, istirahatlah sebentar disini”, ucap Arthur sambil menyangga kepala Amira yang hampir terkantuk.
“Hahh, aku sudah gila”, Arthur menggerutu sembari membaringkan Amira di sofa yang bisa di duduki oleh tiga orang dewasa itu.