
“Kita benar-benar krisis!”, Seorang lelaki dengan tubuh kekar itu mengeluh sembari mendengus kesal.
“Kita tak bisa melawan dengan hanya memiliki beberapa anggota tersisa, apalagi untuk merebut kembali The Hell, itu tidak mungkin”, lelaki lain yang duduk di ujung kasur ranjang pasien Arthur menyambut keluhan rekannya itu. Arthur menatap satu persatu rekan seperjuangannya, di mulai dari Heru seorang lelaki berusia 25 tahun yang bersandar di tembok ruang rawat umum itu, tubuh kekarnya tak menjamin ketegaran hatinya, wajahnya terlihat sudah sangat lelah menahan frustasi. Beralih, mata Arthur bergulir menatap temannya yang duduk tepat di ujung kakinya, Bima, tubuhnya melengkung memperlihatkan seberapa lelahnya dia. Dan seorang lainnya berdiri hampir terhalang tirai penyekat ruang rawat, Farhan yang merupakan orang termuda di ruangan itu hanya diam membisu.
“Lalu harus bagaimana?”, Arthur memijat kepalanya perlahan, rasa frustasi karena orang-orang yang dia selalu andalkan sepertinya sudah tak punya harapan untuk sekedar bertahan.
“mari menyerah saja”, Bima menatap Arthur mencoba menularkan rasa putus asanya.
“Tapi walau kita menyerah, kita tak akan bisa hidup tenang”, Arthur berucap sembari menekan-nekan jari telunjuknya menggunakan ibu jarinya.
“Ikut denganku ke kampung halamanku, setidaknya aku punya gubuk peninggalan kakekku untuk sekadar berteduh”, Farhan mengucapkan kalimat pertamanya sejak dia datang ke kamar rawat Arthur.
Arthur terdiam meresapi harapannya yang mulai mengecil, geng motor yang dia besarkan kini memuntahkan dirinya keluar.
“Tapi kita bahkan tak punya untuk ongkos, semua sisa uangku sudah habis untuk biaya rumah sakit ku kali ini”, Arthur mengucapkan keadaan finansial nya saat itu. Dia tahu jelas, teman-temannya pun tak memiliki sepeserpun hari itu, karena mereka cenderung mengambil sedikit uang untuk dompet mereka, uang-uang yang mereka miliki berada di rumah Arthur yang kini sudah di rebut paksa oleh Allan, pemimpin baru geng.
“Kita bahkan tak memiliki kendaraan bermotor untuk dikendarai ataupun untuk di jual”, Arthur kembali menyadarkan teman-temannya.
“Kamu tahu, kita bisa..”, Heru menatap teman-temannya dengan serius.
“Pekerjaan yang aku kerjakan saat pertamakali aku bertemu dengan kalian”, Heru mencoba menjelaskan maksud hatinya.
“Kamu gila?, dengan keadaanku seperti ini?”, Arthur yang mengerti arah pembicaraan Heru kembali mendebat ajakan Heru.
“Kamu hanya perlu membawa uang dari kasir, dan kita yang akan membukakan jalan juga melindungi mu”, Heru mengecilkan volume suaranya.
“Tidak, itu terlalu beresiko untuk di lakukan”, Arthur masih bersikeras.
“Kapan kamu bisa keluar dari sini?”, Bima bertanya kepada Arthur.
“Sekitar dua harian lagi”, Arthur menjawab.
“Oke, tiga hari lagi kita berkumpul di area B di jam tujuh malam”, Bima bangkit dari duduknya.
“Apa?, aku bilang terlalu beresiko!”, Arthur yang merasa di acuhkan menahan emosinya.
Plaaakkk!!, suara keras dari tamparan Bima kepada Arthur membuat suasana mendadak hening.
“Sadarlah bung!, sudah syukur kamu masih bisa selamat, jika kita berlama-lama di sini, kita bisa celaka!”, Bima menyemprotkan kata-katanya tepat di wajah Arthur.
“Ada apa ini?”, seorang perawat yang kebetulan sedang mengganti infusan pasien yang ada di ruangan yang sama dengan Arthur membuka lebar tirai di bilah ranjang Arthur.
“Jangan bertindak gila, hal yang harus kita lakukan adalah tetap hidup!”, Bima membisikan ucapan itu tepat di telinga Arthur. Bima kemudian pergi melenggang meninggalkan Arthur, di ikuti Farhan dan Heru di belakangnya.
“Anda Baik-baik saja?”, perawat bertanya sembari menatap Arthur lekat, pasien di sisi lain serta seorang walinya pun menatap Arthur dalam keheningan.
“Anda tahu, dilarang besuk lebih dari dua orang”, perawat itu memeriksa kantung infus dan jarum yang menancap di tangan Arthur, memastikan semuanya baik-baik saja kecuali pipi Arthur.
“Baik, maafkan saya”, Arthur menjawab ucapan perawat itu.
“Tidak, sebenarnya itu kelalaian tim keamanan di luar”. “Jika ada apa-apa panggil perawat, kembali beristirahat”, Perawat itu menutup kembali tirai yang dia buka dengan perlahan, merapihkan tirai-tirai itu agar kembali membuat tiga bilah ruangan di dalam satu ruang inap itu.
Arthur menghela nafas panjang sembari menatap langit-langit ruangan, dia masih merasa sangat marah kepada orang-orang yang merebut kekuasaannya di The Hell sembari menendangnya dan orang-orangnya keluar tanpa membawa apapun.
Kembali ke masa dirinya kecil, Arthur yang kala itu berusia tujuh tahun berjalan-jalan di pinggiran jalan dengan baju kusut, tubuhnya kering kerontang seperti ranting di musim kemarau. Tangan kirinya menyeret karung yang berisi botol-botol kosong yang sudah dia pungut sepanjang dia berjalan, sedang tangan kanannya memegang erat pengait yang sudah seperti bagian dari anggota tubuhnya selama ini.
Arthur bahkan tak mengingat sejak kapan dia di jalanan, hidup sebagai pemulung dan tidur di bawah kolong jembatan. Setiap hari tak terlalu berbeda, dia harus keluar mencari cara agar bisa makan, memungut rongsok, atau jika itu tak berhasil, dia akan mengorek tempat sampah di sudut-sudut rumah makan.
Sore itu dia kembali ke tempatnya biasa berteduh, tempat yang setidaknya paling aman dari sekian banyak tempat yang pernah dia pakai untuk tidur. Itu karena penghuni di bawah jembatan itu hanya nenek-nenek jompo, seorang bapak-bapak yang pendiam dan beberapa anak seusianya.
Saat sampai dia melihat teman-temannya sedang melahap makanan yang di bungkus oleh kotak kardus berwarna putih.
“Kamu tinggal disini juga?, untung saja masih tersisa, marilah”, seorang wanita paruh baya memanggil Arthur sembari menyodorkan kotak nasi yang sama persis seperti yang di peroleh teman-temannya.
Tanpa pikir panjang Arthur mengambil pemberian wanita itu, karena sebenarnya terkadang dia dan teman-temannya mendapatkan kotak makanan dari orang-orang random yang mungkin merasa kasihan kepada mereka. Walau tak sering, tapi kotak makanan itu sudah seperti makanan mewah yang akan selalu mereka syukuri.
“Maahh, kenapa lama?, aku pengen ice cream!!”, Suara teriakan seorang anak kecil dari arah mobil wanita itu membuat wanita paruh baya itu bergegas kembali ke mobilnya. Arthur menatap wanita itu melangkah, melihat beberapa memar yang berusaha dia tutupi dengan bajunya.
Malam hari tiba, angin malam yang dingin berhembus melewati lorong pendek di kolong jembatan itu.
Beberapa anak tidur berkumpul di dekat nenek jompo, sedangkan bapak-bapak pemulung tidur di ujung paling luar.
“Hokkk, hokk”, Arthur terbangun mendengar suara mirip dengkuran keras dari arah nenek jompo tidur.
“Nek?”, Arthur mencoba memastikan keadaan nenek itu.
Tak mendapat respon, Arthur berjalan melangkahi teman-temannya yang masih pulas tertidur.
“Nek”, Arthur mengguncang pelan tubuh nenek jompo itu.
“Nek!, nenek!”, Arthur setengah berteriak mengguncang nenek itu lebih keras, beberapa temannya terbangun dan membuat kebisingan. Bapak pemulung datang dan memeriksa nadi si nenek. Malam itu cukup ricuh, nenek yang memang biasanya di beri makan dan di urus oleh mereka sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
Bapak pemulung pergi mencari bantuan, dan datang kembali dengan beberapa polisi.
Seminggu sejak kejadian itu, Arthur kini duduk di sebuah sekolah dasar, dan tinggal di sebuah panti asuhan. Dan sejak itu pula dia mendapatkan nama Arthur, karena sebelumnya dia hidup tanpa nama yang jelas. Kepergian nenek jompo itu memanggil bantuan yang cukup baik untuk anak-anak di kolong jembatan itu, karena polisi yang mengetahui keberadaan anak-anak itu mengantar mereka ke sebuah lembaga sosial untuk kemudian di sebarkan ke beberapa panti asuhan.
Sejak itu Arthur hidup cukup baik, bisa mandi setiap hari, makan dua kali sehari, dan juga bersekolah. Sejak sekolah di sekolah menengah pertama, Arthur mulai mencoba bantu-bantu di sebuah bengkel milik kenalan pengelola panti setiap sepulang sekolah. Dan hal itupun memang merupakan salah satu usaha pihak panti untuk menyiapkan agar anak-anak panti bisa menjalani hidup dengan baik saat nanti menjadi alumni panti.