The Hell

The Hell
Urusan mendesak



Tya mengetuk pelan pintu ruang kepala manajemen perencanaan dengan gugup, lengan kirinya mengepal sembari beberapa kali merapikan ujung pakaian yang sebenarnya sudah rapi.


“Masuk”, terdengar suara lelaki dari dalam ruangan mempersilakan Tya untuk masuk. Tya melihat Farhan yang sepertinya sedang sibuk dengan beberapa berkas dan laptop di hadapannya langsung terdiam melihat Tya muncul dari balik pintu.


“Oh Tya ya?, duduklah”, Farhan mengulurkan tangannya mempersilakan Tya untuk duduk di salah satu kursi yang memang sudah tersedia di ruangan itu, sekitar lima kursi estetik berbahan dasar kayu itu mengelilingi meja berdiameter sedang untuk ukuran meja.


“Kudengar kamu punya bibi yang sedang sakit”, Farhan terlihat tak segan untuk memulai pembicaraan, dia bahkan mulai berbicara sebelum dirinya berhasil duduk di salah satu kursi lain, yang berhadapan dengan posisi dudukTya.


“Oh, apa?”, Tya mengernyitkan dahinya, tangannya yang memang sudah berkeringat sejak masuk ruangan itu beberapa kali mencengkeram bagian bawah bajunya pelan.


“Yah jangan salah paham dulu, kamu dekat dengan Amira bukan?”, Farhan menatap Tya sembari tersenyum dengan tenang.


“Oh y..ya”, Tya menjawab walau sempat ragu dan bingung.


“Nah, kudengar Amira membantu keluargamu dengan berpura-pura menjadi kekasih sepupumu itu, tapi masalahnya Amira itu kekasih temanku”, Farhan meletakan kedua tangannya di atas meja, kedua tangannya itu mengait satu sama lain, sedang pandangannya menatap lurus kearah Tya, seolah mengatakan bahwa dia mulai serius dalam pembicaraannya.


“Oh, ah itu, apa anda tahu dimana kak Amira?”, Tya membuka mulutnya


“Tidak, aku tak yakin. Hanya saja temanku itu meminta untuk mencoba menawarkan kepadamu bantuan lain selain membiarkan Amira membantu hingga akhir. Kami punya beberapa kenalan aktris yang bisa berakting jauh lebih baik dari pada Amira. Jika kamu membutuhkannya, tak perlu ragu untuk mendapat bantuan dari kami”, Farhan memperlihatkan ekspresi ramahnya hingga terlihat sedikit berlebihan.


“Hmm, maafkan aku, masalahnya adalah bibiku bukan penyandang pikun akut, akan menjadi lebih buruk jika dia tahu hubungan sepupuku dengan kak Amira tak berjalan lancar. Bibiku terlanjur menyukai kak Amira”, Tya menjawab dengan lugas seolah melupakan kegugupan yang dia bawa dari balik pintu sebelumnya.


Jawaban dari Tya itu membuat Farhan terdiam beberapa saat, keheningan mulai menyelimuti ruangan kantor itu.


“Kalau begitu..”, Farhan membuka mulutnya dengan pikiran yang sepertinya masih belum sampai sepenuhnya pada kesimpulan.


“Tolong terima permintaan maafku, mewakili temanku, karena sepertinya Amira tak akan bisa meneruskan bantuannya”, Farhan menatap Tya dengan tenang, kini mungkin kesimpulan itulah yang pada akhirnya Farhan ambil.


“Sayang sekali, walau sepertinya itu bukanlah keputusan yang diambil kak Amira, aku berharap bapak bisa membantuku untuk membujuknya agar menyelesaikan bantuannya. Bibiku benar-benar sekarat, dan sedang sangat membutuhkan dukungan moral”, Tya tersenyum canggung menimpali ucapan Farhan.


“Baiklah kalau begitu, maaf mengganggu waktu istirahatmu, kamu bisa kembali sekarang”, Farhan berdiri dari duduknya mengakhiri obrolannya dengan Tya.


“Oh, dan kamu bisa mengambil waktu istirahat lebih, untuk mengganti waktu istirahatmu sekarang, aku akan menjelaskannya ke bu Jesi”, ucap Farhan sembari kembali duduk ke meja kerjanya.


“Oh, baik terima kasih”, Tya keluar dari ruangan itu, melihat jam di tangannya lalu memutuskan untuk pergi ke balkon, salah satu tempat merokok terpopuler di gedung itu.


Tya melewati beberapa orang yang memang sudah ada di sana, menghabiskan sisa lima belas menit jam istirahatnya.


“Kamu disini?”, Tya mulai menyulut api ke ujung rokok di mulutnya sembari berdiri di samping Azka yang terlihat merokok sendirian di pojokan.


“Ya”, Azka menghembuskan asap yang terperangkap di mulutnya beberapa saat yang lalu.


“Apa kamu berhubungan dengan kak Amira akhir-akhir ini?”, Tya menatap pemandangan jalan raya di bawah gedung yang sebenarnya cukup membuat Tya gerah.


Azka menyipitkan mata menatap Tya dengan penuh kecurigaan, Azka memutuskan untuk menghisap rokoknya sekali sebelum menjawab ucapan Tya.


“Apa ini?, apa kamu mengejekku?”, Azka berbicara dengan asap yang mengepul bersamaan dengan setiap kata yang dia ucapkan.


“Hahaha, maafkan aku, aku tak bermaksud”, Tya tertawa kecil sembari menikmati rokok favoritnya.


“Aku hanya kehilangan kontak dengannya sejak tiga hari yang lalu”, ucap Tya menerangkan yang sebenarnya.


“Maka aku sudah tak berkontak dengannya sejak dia keluar dari perusahaan seminggu yang lalu”, ungkap Azka mengalihkan pandangan curiganya dari Tya.


“Apa ada urusan yang mendesak dengan kak Amira?”, Azka membuka mulutnya lagi.


“Oh, yah, sepupuku terus menanyakan keberadaan Amira”, Tya menyesap rokok di tangannya sedikit demi sedikit.


“Ya”, jawab Tya singkat.


“Haha, sepertinya banyak juga korban kak Amira ya, tapi pada akhirnya yang menang adalah mantan kaya nya itu”, Azka tersenyum geli.


“Apa maksudmu?”, Tya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Azka itu.


“Kamu tak tahu?, kak Amira itu mantan kekasih pimpinan UTH, atau mungkin sekarang mereka sudah menjadi sepasang kekasih lagi?”, Azka memiringkan kepalanya sambil memikirkan sesuatu.


“Apa katamu?, pimpinan UTH?”, Tya terkesiap mendengar gumaman Azka.


“Haha, ya. Aku merasa bodoh karena tertarik pada wanita yang punya standar kekasih selangit itu”, Azka menggosokkan rokok yang sudah pendek itu ke tembok pelindung lalu melemparkannya ke tempat sampah yang tersedia di setiap sudut kawasan terbuka itu.


Tya terdiam, sepertinya pikirannya berkecamuk dengan informasi yang sulit dia cerna.


“Aku duluan”, Azka meninggalkan Tya yang masih mematung.


“Jadi teman yang dimaksud pak Farhan itu pimpinan?”, Tya bergumam dalam pikirannya.


“Ini menarik”, Tya tersenyum tipis lalu kembali menghisap rokok di tangannya.


“Haahh!”, Amira mendesah untuk ke sekian kalinya, rasa bosan tak melakukan apapun selama tiga hari membuatnya terus memainkan remote, mencari film atau siaran yang sekiranya menarik.


“Aku lapar”, Amira mengobrol sendirian dengan dirinya sendiri sejak siang tadi.


Amira membuka kulkas, melihat dan memilih makanan yang sekiranya membuatnya berselera untuk makan. Amira memutuskan untuk memanaskan bento berisi beberapa sushi matang.


Amira mulai membuka microwave, memasukan kotak makanan itu, lalu mulai menyalakan microwave yang sebenarnya sudah menjadi teman akrab Amira selama tiga hari terakhir.


Satu menit berlalu, Amira melamun menunggu tiga menit yang dia set untuk memanaskan makanan dingin itu.


“Zzzzttt, Zzzztt”, suara seperti desiran listrik terdengar berbisik dari suatu tempat.


Amira melihat ke sekeliling sembari memusatkan fokus lebih pada penciumannya, bau terbakar tercium tipis entah dari mana.


“Klak”, Amira mengeluarkan sushi dari microwave lalu mematikan microwave itu dengan cara mencabut kabel penghubung.


Amira terdiam beberapa saat, namun dirinya terkesiap saat menyadari ada api dari balik kulkas. Bingung harus melakukan apa, Amira pergi menjauh dari arah dapur terbuka itu.


“Mati aku, apa yang harus ku lakukan?”, Amira segera mencabut beberapa kabel televisi di tengah rumah, berjaga-jaga jika terjadi konsleting listrik lain.


“Ada orang di luar?, tolong buka!!, ada kebakaran!, matikan saklar!!”, Amira memukul-mukul pintu sembari berteriak, berharap ada orang di luar, walau sebenarnya Amira tak berpikir itu mungkin, karena sejak tadi tak terdengar kehidupan apapun dari luar sana.


Beberapa detik Amira teralih pada pintu ke luar, Amira terkesiap melihat ke arah kulkas yang sudah terbakar sepenuhnya dalam sekejap.


“Apa aku akan mati?, ini bukan jam Arthur pulang, dan lagi tak ada pon..”, Amira yang sedang over thinking terdiam mematung saat tiba-tiba pintu terbuka.


“Anda baik-baik saja?”, seorang wanita paruh baya memegangi pundak Amira, sedang dua orang yang masuk lebih dulu sudah siap dengan dua APAR, lalu menyemprotkannya ke arah kulkas yang mengepulkan asap.


“Mari keluar, apa anda sesak?”, wanita paruh baya itu menarik Amira keluar, menuruni tangga, keluar dari rumah kemudian memasuki mobil.


Amira hanya terdiam bengong dalam beberapa saat, dia menyadari ada lebih dari sepuluh orang yang ada di rumah itu, dan mereka langsung masuk saat Amira berteriak kebakaran, yang berarti mereka mendengar teriakan Amira.


“Lalu kenapa kalian diam saja saat pagi tadi aku berteriak?”, Amira kehabisan kata-kata dan hanya duduk di dalam mobil yang entah akan membawanya kemana.