The Hell

The Hell
Keberangkatan Outing



Pagi itu adalah hari Outing tiba, beberapa bus besar terlihat terparkir di depan gedung perusahaan, dan orang-orang terlihat berkumpul berkerumun. Diantara mereka semua, ada beberapa orang yang masih santai berdiri di depan gedung, beberapa sudah duduk di dalam bus, dan beberapa sedang wara-wiri mencari bus mana yang akan mereka tumpangi. Dari semua orang itu, Amira menjadi salah satu orang yang sibuk mengatur para karyawan untuk memasuki bus.


Azka melamun dari dalam bus, menatap ke luar jendela memperhatikan Amira yang terlihat sangat bersemangat menjalankan tugasnya. Beberapa kali Azka menggerakkan kakinya dengan tak nyaman, sejak terakhir kali dirinya mengetahui Amira mengikuti kencan buta seminggu yang lalu, Azka sudah menjadi orang linglung yang pikirannya terus berpindah-pindah dengan cepat antara lamunan dan kehidupan nyata.


Sejak Azka hidup, dirinya sudah lima kali berganti pasangan. Sekali saat dirinya di sekolah menengah dan kemudian putus saat lulus, lalu dua kali di SMA, dan dua kali di saat kuliah selama empat tahun dengan masing-masing satu tahun dan dua tahun berjalan. Dari semua pengalamannya itu, biasanya wanita yang ditaksir oleh Azka akan mulai menyadari perlakuan spesial dari Azka dan kemuadian mulai memberikan sinyal ketertarikan yang sama, dan dengan begitu Azka akan menyatakan perasaannya dengan peluang di terima hampir seratus persen.


Tapi untuk kasus kali ini, Azka merasa kebingungan dan frustasi sendirian, dia sudah mulai memberikan sinyal perasaannya kepada Amira dengan perlahan, namun Amira tak kunjung merespon. Jadi Azka memutuskan untuk meningkatkan intensitasnya, karena memang ada sebagian orang yang memiliki tingkat kepekaan yang sangat rendah.


Pernah sekali, Azka bertanya kepada Amira apakan Amira mau makan bersamanya di restoran XXX, dan dengan senang dan gembira Amira mengiyakan, namun sembari bertanya kepada Tya dan Mawar apakah mereka juga mau, dan pada akhirnya menjadi makan malam bersama beberapa rekan kerja.


Di lain waktu Azka pernah memberi oleh-oleh makanan yang cukup banyak kepada Amira di pagi hari saat orang-orang belum datang, namun saat jam istirahat tiba, tiba-tiba seisi kantor berterimakasih kepada Azka atas oleh-olehnya, dan ternyata makanan-makanan itu sudah ada di pantry dan sedang di nikmati bersama oleh banyak orang.


“Hmm, sulit sekali”, Azka menggaruk kepalanya yang padahal tak begitu gatal.


“Bang”, Azka berseru sembari masih melamun menatap ke luar.


“Hmm?”, seorang lelaki yang duduk di samping Azka menjawab sembari masih serius memainkan game di ponselnya.


“Jika kita sudah memberikan kode dengan cukup jelas kalau kita menyukai seseorang, namun orang yang kita maksud benar-benar tidak menyadarinya, kemungkinan apakah itu?”, Azka bertanya kepada teman dekatnya di departemen yang baru.


“Lah, ngasih kode itu kerjaan cewek, kalo cowok ya tembak aja langsung”, jawab lelaki itu dengan masih fokus ke game yang sedang dia mainkan.


“Begitukah?”, Azka bergumam pelan. Tiba-tiba Azka tak sengaja melihat seorang lelaki yang sedang berdiri bersandar di tangga luar di samping gedung. Lelaki itu menatap ke kerumunan orang yang sedang bersiap berangkat Outing sembari merokok, matanya terus menatap ke satu titik alih-alih melihat ke segala arah. Azka mengikuti arah pandangan lelaki itu, dan itu arah dimana Amira sedang sibuk berdiskusi dengan beberapa orang.


“Bang, siapa itu?”, tanpa sadar Azka bertanya, lelaki dengan tubuh jangkung dan tegap itu cukup mencuri perhatian bahkan untuk sesama pria.


“Siapa?, mana?”, tanya rekan kerja Azka walau menengok ke arah yang di tunjuk Azka dengan telat, itu karena dia mencari momen yang pas untuk menghentikan sejenak jarinya dari game.


“Hmm, kayaknya itu anggota eksekutif deh”, rekan kerja Azka itu menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas.


“Pak, pak itu siapa?”, lelaki yang duduk di samping Azka itu tiba-tiba berdiri dan menepuk-nepuk lengan seorang bapak-bapak yang duduk di kursi seberang yang sejajar dengan tempat dirinya duduk.


“Siapa emang?”, lelaki yang sepertinya umurnya hampir sama dengan bu Jesi itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah jendela tempat Azka duduk.


“Ohhoo, itu pimpinan UTH”, ucap lelaki paruh baya itu seolah tak sengaja melihat hewan langka yang menarik saat jalan-jalan di hutan.


“Pimpinan?”, “mana?”, beberapa orang yang penasaran ikut mengintip dari kaca bus itu. Rasa penasaran masal itu ada alasannya, hal itu karena Arthur benar-benar sangat jarang terlihat oleh karyawan biasa, dan hanya dapat di temui oleh beberapa eksekutif saja.


“Ah yang bener pak?, kok masih muda”, beberapa orang meragukan hal itu, karena sangat jarang, atau bahkan hampir mustahil orang semuda itu bisa menjadi pimpinan sebuah perusahaan yang cukup besar dan stabil.


Disaat semua orang meributkan kebenaran ucapan pemimpin tim manajemen pendukung itu, Azka hanya terdiam melamun sembari menyipitkan matanya, mencoba memastikan lagi kepada siapa lelaki berjaket hitam itu menatap, namun itu cukup jelas untuk di sadari oleh Azka, lelaki itu terus melihat ke arah Amira, bahkan saat Amira berpindah-pindahtempat, pandangan lelaki itu mengikuti Amira.


Saat bus mulai berjalan, Azka mengelus-elus dagunya yang terasa sedikit kasar karena sisa-sisa janggut yang belum sempurna dia cukur, hal itu karena tadi pagi dia kesiangan dan terburu-buru pergi khawatir tertinggal rombongan. Azka melamun, teringat kejadian aneh yang terjadi di basement, dengan spesifik Azka teringat lagi saat Amira terlihat marah-marah kepada orang yang duduk di dalam mobil rubicon hitam itu. Semua rasa penasaran Azka itu cukup menjengkelkan, itu karena terlalu buram dan tak jelas apa sebenarnya yang Amira ucapkan kepada pengendara mobil itu. Saat itu Azka berfikir Amira pasti merasa kesal mengenai klakson, dan mengoceh tentang hal itu kepada sang pengendara. Namun bagaimana Farhan dan lelaki berbadan kekar bertingkah konyol dengan seolah menghalangi Azka agar tidak menumpang ke motor Amira juga menjadi sangat janggal.


_“Ayolah!, kamu tak pernah memintaku untuk merancang kan kencan dengan kak Amira. Akan aneh juga kalau aku menyarankan kamu kepada kak Amira, saat dia meminta untuk di carikan pasangan kencan buta”, kalimat yang di ucapkan Tya seminggu yang lalu tiba-tiba kembali melintas di pikiran Azka.


Sepertinya bukan masalah romantis antara Amira dan orang yang mengemudikan mobil itu, kalau tidak kenapa Amira malah mencari pasangan kencan?. Atau, memang karena hal romantis itu, sehingga Amira dengan terburu-buru mencari penggantinya secara tiba-tiba. Tapi belum tentu juga lelaki yang merokok tadi adalah orang yang mengendarai mobil saat itu. Tapi kenapa orang yang merokok itu menatap ke arah Amira terus menerus?, ah tunggu tanpa sadar aku pun tadi terus menatap Amira…. Pikiran Azka cukup kacau selama perjalanan di dalam bus itu.


“Haahhh!”, Azka mengeluarkan semua udara yang ada di paru-parunya, berniat dengan sungguh-sungguh untuk berhenti memusingkan Amira.


Azka kemudian meminum Air minum kemasan beberapa teguk, dan kemudian bersandar ke sandaran jok dan mencoba memejamkan matanya.


“Tapi bagaimana kencan buta hari itu ya?, apakah berhasil?, atau .., Haaahh”, Azka meringis karena tanpa sadar selalu saja kembali memikirkan Amira, dan hal itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk di pikirkan.