The Hell

The Hell
Hari baru



Seminggu berlalu sejak pemakaman ayah Amira, Amira dan Nabila merupakan orang yang paling sibuk menangani acara tahlilan untuk sang ayah, rasa lelah dari kesibukan menangani administrasi dari rumah sakit dan kepolisian juga menjadi faktor paling melelahkan di banding acara keagamaan. Sore itu Amira berjalan dengan lesu, memikirkan saat terakhir kali Amira melihat ibu tirinya yang hampir depresi mengurung di dalam kamar di rumah Nabila dan menolak untuk bertemu dengan Amira.


Selangkah demi selangkah, Amira berjalan setelah turun dari bus di pemberhentian terdekat dari kosnya, dia sadar ada seorang lelaki yang sering kali mengikutinya dalam jarak tertentu akhir-akhir ini.


Tiba-tiba Amira terdiam dan berdiri menatap ke arah sungai di bawah jembatan yang dia lalui, kala itu tak banyak kendaraan lalu lalang, Amira melamun di atas jembatan itu, dengan segenap hati menahan matanya agar tidak berkedip, dan membayangkan hal-hal sedih beberapa kali, walau itu sulit karena di buat-buat.


Amira menatap ke sekeliling dan mulai menaiki pagar penghalang jembatan dengan perlahan, satu kaki, dua kaki, Amira mulai menegangkan gigitan gerahamnya karena menahan rasa takut saat melihat air sungai yang begitu deras. Sekali lagi Amira mencoba menaikan kakinya ke tingkatan pagar pembatas yang ke dua.


“Amira!”, suara teriakan yang memang sudah di harapkan Amira sejak tadi membuat Amira menahan senyumannya.


Bruk!, suara jatuh Amira menimpa Arthur, orang yang terus menguntit Amira, terdengar cukup keras.


Akhh!, Amira melenguh setengah kaget karena dirinya tak membayangkan Arthur akan menariknya dengan sangat keras, dia kira Arthur hanya akan memanggilnya dan memohon agar Amira turun dengan tenang.


“Apa yang kamu lakukan?!”, Arthur berteriak dengan wajah pucat. Hal itu membuat Amira tak bisa menahan tawanya.


“Kamu gila?”, Arthur mendengus dengan kesal karena menyadari Amira mempermainkannya.


“Itu karena kamu terus mengikuti ku tapi saat aku memanggilmu kamu selalu kabur”, Amira mengeluh mengingat beberapa kali dirinya mencoba mendatangi Arthur namun berakhir kehilangan keberadaannya dalam sekejap mata.


“Tetap saja!”, Arthur sepertinya benar-benar marah kala itu, tangannya setengah gemetaran saat mencoba menarik Amira yang terduduk agar bisa berdiri dengan mudah.


Amira menatap lengan gemetaran itu, dan kemudian sembari tersenyum menggenggamnya dalam beberapa waktu tanpa berupaya untuk berdiri.


“Apa yang kamu lakukan?, cepat berdiri!”, Arthur yang sepertinya mulai pegal karena setengah membungkuk mengomel kepada Amira.


“Aku benar-benar merindukanmu”, Amira mengabaikan omelan Arthur dan malah menempelkan keningnya ke lengan Arthur yang masih ia genggam.


“Kenapa sulit sekali untuk bertemu denganmu?”, sembari menyembunyikan wajahnya dengan menunduk, Amira masih terus menahan tangan Arthur itu.


“Kita..”, Arthur sempat ragu beberapa saat, namun tak lama Arthur menarik lengan miliknya dan berdiri tegak.


“Kita sudah berakhir, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat”, Arthur berjalan membelakangi Amira.


“Maafkan aku, kamu mungkin marah karena aku melaporkanmu, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu tak terus menerus terluka oleh orang yang menendang mu dai The Hell”, Amira dengan cepat berdiri dan beranjak mengejar Arthur.


“Amira, sejujurnya aku berterimakasih untuk itu. Hanya saja kita benar-benar berakhir, tak ada yang tersisa untuk kita”, Arthur menatap Amira setelah sebelumnya berbalik menghadap ke arah Amira.


Amira terdiam tanpa bisa bicara apapun untuk beberapa saat.


“Lalu kenapa kamu terus mengikuti ku?”, Amira meminta penjelasan.


“Karena, aku berhutang budi”, Arthur menjawab.


Setelah beberapa saat dalam keheningan, Arthur berjalan meninggalkan Amira tanpa terlihat berbalik, sedangkan Amira terus menatap punggung itu dengan rasa kecewa dan harapan andai Arthur menoleh ke arahnya sekali saja, Amira berniat mengejarnya.


Namun bahkan hingga akhir Arthur menghilang tanpa menoleh ke arah Amira, dan memperkuat perasaan buruk di hati Amira.


Sebulan berlalu, sebulan terakhir terasa begitu intens bagi Amira. Kematian ayahnya, perpisahan dengan Arthur kelulusan kuliah, wawancara kerja, sampai pindahan ke kontrakan yang lebih dekat dengan tempat kerja baru terjadi dalam waktu sebulan.


“Haahhh!”, Amira menyemburkan nafasnya sembari membaringkan tubuhnya ke atas kasur dengan ranjang kecil.


Amira mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menghadap ke seisi ruangan kontrakan yang cukup luas itu, Amira tersenyum sembari mengintip ke luar kamar melalui pintu yang terbuka lebar, entah kenapa dirinya cukup merasa bahagia karena kini mampu mengontrak di sebuah kontrakan dengan dapur, ruang tamu, kamar mandi, dan kamar tidur yang terpisah.


“Haah aku muak banget tiap ada acara keluarga, orang-orang kenapa terus nanya kapan nikah kapan nikah, emangnya nikah bisa tinggal nikah gitu?”, teman sesama magang Amira mengeluh dengan wajah masam.


“Hahaha, memangnya kamu doang?, aku juga gitu, cuman ya anggap angin lalu aja kali”, pemagang yang lain menanggapi.


Ada lima pemagang baru di perusahaan itu, dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan yang saat itu duduk berjajar dengan Amira.


“Kalo kak Amira gimana?, pada gitu juga ga keluarga kakak?”, Mawar dan Tya (nama kedua teman magang Amira) menatap Amira dengan penasaran.


“Oh, engga, aku jarang ketemu keluarga besar, jadi gak terlalu akrab dan tak ada yang menanyakan hal seperti itu”, Amira menjawab sembari tersenyum.


“Enaknya, padahal kita yang baru umur dua puluh empat aja udah di teror terus”, Mawar, orang yang terlihat paling sensitive tentang pertanyaan kapan nikah itu mengeluh.


Amira yang kala itu berusia dua puluh enam tak terlalu menanggapi keluhan Mawar, namun sekelebat terkadang terpikir apakah dirinya akan bisa menikah dengan seseorang. Karena hingga terakhir kali, Amira tak pernah bisa membayangkan dirinya akan menikahi laki-laki selain Arthur.


“Anak-anak coba pelajari dan kerjakan ini..”, seorang pembimbing tersenyum menghampiri para pemagang itu dengan beberapa berkas yang siap di kenalkan pada para pemula itu. Dan hal itu menjadi akhir dari rumpian sesama pemagang wanita di sana.


“Amira kamu senggang?”, seorang senior wanita yang terlihat kelelahan menanyai Amira dengan wajah frustasi.


“Ah, ya bu, ada yang bisa di bantu?”, Amira setengah berdiri dari duduknya dengan ragu-ragu.


“Tolong mintakan tanda tangan untuk berkas ini ke pada manajer umum di ruangannya”, wanita itu menunjukan jalan ke arah ruangan manajer umum berada.


“A..ah baik”, Amira yang sebenarnya bingung dan ragu menerima berkas itu dan berjalan perlahan ke luar ruangan tim perencanaan, dimana dirinya di tempatkan, dan tak jauh dari sana ruangan manajer umum bagian perencanaan terlihat jelas.


Sesekali Amira menatap ke belakang, melihat keadaan ruang kerjanya, dan senior yang menyuruhnya tadi sedang menatap monitor komputer dengan kerutan di dahinya.


Tok.. tok.. tok, Amira mengetuk pintu ruang manajer itu.


“Masuk”, terdengar suara seruan dari dalam. Berusaha tenang Amira masuk dan melihat seorang lelaki yang terlihat seumuran dengannya sedang membaca beberapa berkas dengan serius.


“Maaf pak, bu Jesi meminta saya untuk meminta anda menandatangani berkas ini”, Amira berjalan mendekati meja dimana sang manajer bekerja.


“Oh”, Manajer muda itu terlihat melamun beberapa detik sebelum kemudian menerima berkas yang Amira serahkan.


“Berkas apa?”, manajer itu bertanya.


“O, ah, saya kurang tahu”, Amira merasa tak berguna entah kenapa, karena tak bisa menjawab pertanyaan dengan lebih profesional alih-alih menggunakan kata kurang tahu.


“Sebentar saya baca dulu sekilas, duduk sebentar”, manajer itu membuka berkas di tangannya dan membaca beberapa inti berkas itu.


Amira yang menunggu duduk di kursi yang memang ada di sana, dia melirik ke berbagai arah tanpa Amira sadari, di meja manajer yang berserakan terlihat ada beberapa buku pelajaran manajemen, akuntansi dan beberapa bidang lain yang sepertinya berkaitan dengan pekerjaannya. Amira juga melihat sebuah papan nama kecil yang tergeletak di atas meja lelaki itu. ‘Manajer umum perencanaan, Farhan abimanyu’.


“Oh baiklah, tolong katakan ke bu Jesi, saya akan proses secepatnya setelah mendapat persetujuan dari pimpinan”, ucap Farhan selaku manajer umum.


“Oh, iya. Kalau begitu saya pamit”, Amira bergegas keluar dari ruangan. Namun hingga Amira duduk di mejanya setelah mengabarkan pesan dari manajer Farhan kepada bu Jesi, Amira sedikit melamun karena merasa tak asing dengan wajah Farhan.


“Dimana ya?, hmm?”, tanpa sadar Amira bergumam karena benar-benar merasa familiar.


“Ah tau lah”, Amira menyerah dan kembali fokus ke pekerjaannya yang sempat tertunda.