
“Tya!”, Amira mengangkat tangan kanannya sesaat setelah dirinya menyadari kehadiran Tya dan Galih di cafe yang cukup ramai itu.
“Kak Amira kamu baik-baik saja?”, Tya menatap Amira yang jelas terlihat sangat baik itu.
“Oh ya, maaf kan aku”, tanpa di sadari Amira mungkin merasa di sindir karena dirinya menghilang tanpa kabar selama hampir tiga hari, terutama di waktu-waktu penting.
“Bukan begitu, kita sungguhan khawatir, kamu tiba-tiba tak bisa di hubungi, kupikir ada hal buruk yang terjadi”. Galih tersenyum ramah meluruskan kesalahpahaman Amira terhadap pertanyaan Tya.
“Haha, ya aku tahu, hanya saja aku merasa bersalah”, Amira tersenyum tipis.
“Oh ya, sebenarnya ada yang ingin ku diskusikan. Aku merasa tak enak untuk mengatakan ini, tapi sepertinya aku tidak bisa membantu kalian sampai akhir”. Amira menjelaskan alasannya mengajak dua orang itu bertemu.
“A.. ada apa kak?”, Tya terlihat sangat penasaran, sedang Galih melirik ke arah Tya dengan ekspresi kagum, karena bisa berakting seolah tak tahu apapun tanpa berkedip.
“Itu, aku balikan dengan mantan kekasihku, lalu dia cukup cemburuan bahkan saat menghadapi situasi dengan alasan yang jelas”, Amira terlihat menunjukan senyuman canggung.
“Yah tak masalah untuk acara besok, tapi mungkin aku hanya akan ikut sampai satu minggu masa pemulihan”, Amira menatap kearah Galih dengan rasa penyesalan yang tersirat dari tatapan matanya.
“A..aah begitu”, Galih menundukkan sepersekian centimeter sudut dagunya. Membuat Amira yang melihatnya terdiam dengan pikiran yang berkecamuk karena rasa bersalah. Wajah sedih Galih itu sulit untuk Amira abaikan.
“Tak apa kak Amira, kita bisa bilang kalau kak Amira sedang sakit, atau kita cari alasan yang bagus, sehingga bibi tidak akan drop selama masa operasi dan pemulihan pasca..”, Tya mengucapkan kalimat itu dengan sangat lancar pada awalnya, namun tiba-tiba kaki Galih menendang kakinya seolah mencoba menghentikan kalimat yang sedang Tya ucapkan. Amira melirik ke arah Galih dengan tatapan bingung.
“Amira, maafkan aku kalau aku terkesan memaksa. Tapi bisakah kamu membantuku?, setidaknya sampai satu bulan masa pemulihan?”, Galih menundukkan pandangannya, dia berbicara dengan suara lemah yang membuat Amira terdiam beberapa saat menelan rasa prihatin di benaknya.
“Ah, hmm”, Amira yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu kembali menutup mulutnya, terlihat jelas kebingungan merasuki pikiran Amira. Masalahnya adalah satu minggu adalah kesepakatan yang susah payah Amira dapatkan setelah membujuk Arthur selama berjam-jam sore tadi.
“Maafkan aku, tak perlu di pikirkan, aku sudah sangat berterimakasih karena kamu sudah mau membantuku sampai satu minggu masa pemulihan”, Galih menyembunyikan wajahnya semakin dalam, salah satu tangannya menekan-nekan titik di antara alis, seolah menekan rasa stres yang sedang berkecamuk di pikirannya.
Amira menatap Galih dalam diam, sedang di sisi lain Tya hampir ternganga melihat tingkah sepupunya yang tak bisa di tebak apa maksud perilakunya itu.
“Kupikir tak masalah jika itu satu bulan..”, Amira setengah ragu mengucapkannya.
“Tak apa kak, tak perlu memaksakan diri”, Galih menatap Amira dengan mata sayu.
Rasa peduli sekaligus kasihan ini mungkin tak disadari penyebabnya oleh Amira, namun terlalu jelas kehilangan seorang ibu adalah pukulan terberat dalam hidup Amira.
Setiap kali Amira melihat Galih yang terlihat bersedih dan putus asa dengan keadaan kesehatan ibunya, perasaan perih menjalar di hati Amira. Perasaan yang membangkitkan rasa sesal karena dirinya tak berhasil menyelamatkan ibunya dari semua siksaan ayah Amira, rasa sesal karena Amira hanya diam tak bersuara di hari kematian ibunya.
Sering kali Amira berpikir, jika saja dirinya memaksa ibunya untuk meninggalkan ayahnya dengan lebih keras, mungkin saja ibunya... .
Tiba-tiba Amira sadar dari lamunannya, Amira yang hampir saja tenggelam dalam kesedihan mengeratkan genggaman tangannya yang sebenarnya tak menggenggam apapun.
“Tak apa, itu bukan masalah besar, bahkan kupikir jika itu sungguh darurat setelah satu bulan, mungkin aku akan membantumu hingga akhir”, Amira menatap Galih dengan rasa peduli mendalam.
“Amira, aku benar-benar berterimakasih, aku berhutang budi padamu”, Galih hampir saja tersenyum lebar.
“Drrrttt, drrttt”, ponsel Amira menengahi diskusi mereka.
“Oh, sepertinya cukup mendesak, silakan”, Galih segera berdiri, mengantar Amira dengan senyuman.
“Maafkan aku, sampai jumpa besok”, Amira melambai kearah Tya sembari tersenyum dengan ponsel yang masih bergetar di tangannya.
“Ya kak, hati-hati”, Tya tersenyum membalas lambaian tangan Amira.
“Halo?”, “Yaa, aku segera kembali”, “Aku sedang di perjalanan”, Suara Amira berbicara dengan ponselnya terdengar semakin sayup dari meja Tya dan Galih.
“Waah, sepertinya kekasihnya sangat posesif”, Galih tertawa lalu kemudian meneguk segelas kopi yang sejak tadi tak dia hiraukan.
Tya terdiam menatap Galih dengan tatapan penasaran.
“Apa?”, Galih yang sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik bahkan tersenyum ke arah Tya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”, Tya menyilangkan lengannya , menatap Galih dengan tatapan curiga.
“Memangnya apa yang sedang aku lakukan?”, Galih mengangkat alisnya merespon pertanyaan dari sepupunya itu.
“Bukankah sebenarnya tindakanmu ini tidak perlu?, bibi sedang dalam kondisi yang cukup baik bahkan tanpa terlaksananya pertunangan”, Tya makin menyipitkan matanya.
“Dan kalau pertunangan terjadi, itu akan sangat baik”, Galih tersenyum seolah tak mengerti dengan arah pertanyaan Tya.
Malam semakin larut, Amira dan Arthur berada dalam satu mobil sepulang dari menjenguk anak Bima yang baru lahir.
“Kakimu baik-baik saja?”, Pertanyaan tiba-tiba dari Amira membuat Arthur menoleh ke arah Amira singkat disaat dirinya sedang fokus menyetir.
“Kakiku?, kenapa?”, Arthur balik bertanya dengan canggung.
“Itu, kamu kan yang menyelamatkanku saat aku terhanyut ombak”, Amira melihat lurus ke depan, mencoba untuk tak melihat Arthur selama percakapan itu berlangsung.
Arthur terdiam, keheningan tiba-tiba menyelimuti suasana mobil.
“Terimakasih”, Amira mengucapkan kata itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Namun Arthur tetap terdiam seribu bahasa.
“Aku sebenarnya sudah curiga itu kamu, tapi kemudian hari ini aku melihat temanmu Bima, dia orang yang kulihat di rumah sakit saat hendak kembali ke hotel”, Amira berbicara sendirian tanpa peduli apakah Arthur mendengarkan ataupun tidak.
“Seumur hidupku aku tidak pernah merasa sangat bergantung pada seseorang, kamu membuatku terus merasa bergantung padamu..”, Amira menyandarkan punggung yang sejak tadi menahan tubuhnya untuk duduk.
“Sepertinya pada akhirnya aku jadi ketergantungan, dan tak bisa membayangkan hidup tanpamu”, Amira memejamkan matanya yang entah kenapa merasa lelah.
“Ini cukup buruk, kamu mungkin akan muak nantinya”, Amira tersenyum simpul di tengah celotehannya.
“Itu terdengar bagus”, Jawaban Arthur itu membuat Amira kembali membuka matanya, melihat kearah Arthur, dan mendapati Arthur sedang menyetir dengan senyuman lebar merekah di bibirnya.