The Hell

The Hell
Kontrak Kerja



“Haakkk”, Amira tersedak, pandangannya agak kabur dan dia merasakan detak jantungnya mulai berpacu. Setiap dirinya mencoba menarik nafas, Amira merasakan rasa perih di sepanjang kerongkongannya, dia juga bisa merasakan sesuatu seolah tersangkut dan menghalangi jalan nafasnya.


“Uwooo”, Amira dengan refleks terbangun memuntahkan sedikit air kental yang terasa asin. Terasa seseorang di belakang Amira seperti sedang menepuk-nepuk punggung dan tengkuk Amira, sedang di hadapannya sepasang tangan memegangi kakinya dengan gusar. Amira melirik ke arah pemilik tangan itu dan mendapati wajah Arthur yang terlihat di telan oleh kesedihan, mirip dengan apa yang dia lihat belum lama ini.


“A.. Arthur, maafkan aku, kumohon jangan seperti ini”, Amira dengan cepat menarik tangan Arthur dan menggenggamnya, rasa sedih itu tiba-tiba meluap membuat Amira tak menyadari sekelilingnya.


“Nona Amira, tolong tenang dan atur nafas anda”, suara seorang lelaki yang tidak Amira kenali seolah menepuk-nepuk kesadaran Amira. Amira melihat sebuah selang infusan menempel di lengan kanannya, kondisi ruangan sempit itu juga terasa sedikit bergoyang walau hampir tak terasa.


“Wiiiiuuu, wiiiiuuuu”, suara sirine terdengar sangat bising di telinga Amira.


“Kakak baik-baik saja?”, terlihat wajah Tya yang sangat khawatir menatap Amira dari tempat dimana sebelumnya Amira melihat Arthur duduk. Baju yang Tya gunakan terlihat basah kuyup, baju itu mengingatkan Amira terakhir kali dirinya tenggelam di pesisir pantai.


Sekali lagi Amira melihat ke arah samping kirinya, seseorang dengan seragam terlihat sedang duduk memperhatikan dirinya.


“Anda sudah sadar?, apa ada yang tidak nyaman?”, lelaki itu bertanya sembari sesekali memperhatikan sebuah alat yang Amira tak tahu itu apa.


“Kak Amira..” suara parau Tya terdengar tak stabil menahan tangis. Sedang Amira tersenyum lemah di ranjang rumah sakit.


“Aku kira kakak tidak akan selamat”, air mata Tya membuncah membasahi pipi, terlihat jelas ketakutan menyelimutinya.


“Gak papa, kan aku akhirnya selamat”, Amira memaksakan dirinya berbicara walau suaranya hampir tak keluar, namun Amira yakin tubuhnya sudah pulih dengan cukup cepat.


“Untung orang itu dengan cepat menyelamatkan kakak”, Tya merungut menahan tangisnya.


“Siapa?”, Amira bertanya.


“Aku tak tahu, tapi sepertinya dia mengenal kakak, karena dia terus meneriakkan nama kakak saat berusaha melakukan CPR pada kakak”, Tya kemudian meminum air cukup banyak, sepertinya tenggorokannya lelah karena terlalu banyak menangis, karena sepanjang penyelamatan hingga di ambulan dia tak berhenti menangis karena panik.


Amira terdiam, dirinya bertanya-tanya dan merasa sangat berterimakasih, karena hampir saja dirinya kehilangan nyawa.


“Lelaki itu kakinya terluka, sepertinya kakinya tak sengaja tertancap duri bulu babi saat sedang menyelamatkan kakak”, Tya melanjutkan ceritanya tanpa diminta.


“Bulu babi yang menancap cukup banyak, tapi dia sepertinya tak sadar bahkan saat melakukan CPR kepada kakak, sampai kakak memuntahkan banyak air dan terlihat mulai bernafas kembali lelaki itu baru menyadarinya, itupun karena orang-orang memberi tahu hal itu”, lengan Tya menyodorkan sebotol air kemasan yang baru dia buka kepada Amira.


“Siapa ya..”, Amira berpikir keras sembari merasakan rasa bersalah, karena menyelamatkan dirinya orang itu jadi terluka. Amira melamun sejenak sembari meneguk air dan menatap Tya yang terlihat tak berhenti mengunyah sejak tadi, matanya pun bengkak cukup parah.


“Maafkan aku..”, Amira berucap sembari menatap Tya dengan tatapan menyesal.


“Apa maksud kakak?!”, Tya terlihat tak suka mendengar permintaan maaf dari Amira.


“Kamu jadi tak bisa menikmati outing dengan benar”, Amira terlihat menyesal.


“Jangan begitu, aku bahkan tak mood untuk kembali kesana, untung saja kakak selamat, kalau tidak aku takan bisa berhenti menangis”, Tya meracau, sepertinya dia bingung harus menanggapi perasaan bersalah Amira seperti apa.


Untungnya Amira tidak perlu berlama-lama di rumah sakit, dia sudah bersiap meninggalkan kamar setelah infusan habis.


Amira menatap ke sekeliling yang sejak tadi Amira sudah menyadari kalau ruangan rawat itu mungkin kelas VIP, atau mungkin VVIP?. Amira merasa tak enak karena sepertinya perusahaan yang menanggungnya. Rasanya berlebihan untuk menyewa kamar rawat karena sebenarnya Amira hanya perlu di infus selama dua setengah jam saja.


Amira berjalan perlahan keluar ruangan itu sembari menjinjing kresek sisa-sisa makanan ringan yang tak mungkin dia tinggalkan. Di ambang pintu Amira melihat ke sekeliling lorong sepi, dirinya dapat menghirup aroma obat yang khas dari semua sudut.


“Dia masih demam, katanya ini efeknya, mungkin penyembuhannya bia seminggu atau lebih, jadi tolong atur agar jadwalnya bisa di sesuaikan”, lelaki yang umurnya sepertinya beberapa tahun di atas Ramlan itu berbicara dengan ponsel menempel di telinganya, suaranya cukup jelas di lorong sepi itu.


“Ya.. ya”, sepertinya lelaki itu menanggapi lawan bicaranya, Amira tanpa sadar memperhatikan lelaki itu karena rasa gabut menunggu Tya keluar dari kamar rawat.


“Hmm, ya lakukan begitu, dia bilang akan mengerjakan beberapa di rumah saat kondisinya membaik”, lelaki itu kembali berbicara. Dia berdiri tepat di depan pintu kamar rawat yang terletak di samping kamar rawat Amira. Lelaki itu menengok ke arah Amira, dan mereka berdua bertemu pandang dalam beberapa saat. Lelaki itu terlihat melihat ke arah Amira dengan lebih serius, dan hal itu membuat Amira memalingkan pandangannya, namun lelaki itu tak terdengar berbicara lagi. Amira kembali melihat ke arah lelaki itu, dia mendapati lelaki itu masih tetap melihat ke arah Amira dengan ponsel yang masih dia tempelkan di telinganya, lalu kemudian masuk perlahan kedalam kamar rawat.


Outing berakhir begitu saja, Amira yang dilarang ikut beraktifitas apalagi menyelesaikan tugasnya sebagai panitia outing oleh Farhan hanya bisa menghabiskan waktu di kamar hotel. Terkadang Amira pernah sekali merasa jenuh dan hendak berjalan-jalan untuk menghirup angin segar, dia terus di buntuti oleh bu Jesi agar tidak mendekati pantai apa lagi terkena air laut.


Amira berusaha mencari tahu siapa yang menyelamatkannya, namun sepertinya karyawan yang menyaksikan kejadian penyelamatan itu tak mengenali lelaki yang tertusuk duri bulu babi itu.


Senin tiba, Amira mendatangi ruang HRD untuk menyelesaikan pengunduran dirinya yang tertunda, namun hal yang tak masuk akal membuat Amira kehabisan kata-kata.


“Apa ini?, sejak kapan?”, Amira bertanya-tanya sembari memelototi tanda tangan miliknya terbubuh di sebuah kontrak kerja.


Orang yang sepertinya kepala HRD itu terdiam memandangi Amira yang terlihat begitu marah.


“Tapi jelas anda menandatangani ini saat terakhir kali melakukan konsultasi di akhir masa magang”, ucap lelaki itu.


“Saya tidak, hari itu saya menandatangani surat penundaan”, Amira mengerutkan dahinya.


“Surat penundaan?, tak pernah ada yang seperti itu, jika berhenti ya berhenti, jika menandatangani berarti itu kontrak kerja”, kepala HRD itu terlihat mengucapkan kalimat itu dengan yakin.


“Hah, yang benar saja, mana pegawai yang saat itu menangani saya?, jelas-jelas saat itu dia bilang agar saya menyelesaikan tanggung jawabku dulu lalu bisa berhenti”, Amira menahan Amarahnya. Namun lelaki paruh baya di hadapannya tetap tenang tidak menanggapi racauan Amira.


“Terserah lah pak, saya akan tetap berhenti, besok saya tidak akan bekerja lagi”, Amira sepertinya tersulut dan tak memperhatikan sopan santunnya lagi, dia berdiri dan hendak berbalik.


“Maafkan saya bu Amira, tapi anda akan di tuntut jika melanggar kontrak ini”, ucap lelaki itu. Amira terdiam cukup lama sambil tertunduk. Lalu kemudian kembali berbalik dan membuka lembaran kertas kontrak itu.


“Lihat ini pak, 10 tahun kerja?, teman-teman saya saja yang paling lama menanda tangani empat tahun kerja. Ini jelas ada kecurangan!”, Amira menjelaskan sambil berusaha meredam amarahnya.


“Pak, tanda tangan itu sangat mudah di palsukan, saya pikir walaupun saya tak bisa menang di pengadilan, tapi nama perusahaan akan tercoreng jika pengadilan sampai terlaksana”, Amira kembali berbicara dengan tenang.


“Apa ini perintah pimpinan?”, Amira bertanya ragu. Lelaki di hadapan Amira langsung menatap lurus ke arah Amira.


“Benar bukan, baik, saya pinjam berkas salinan ini. Saya akan pastikan anda tak perlu melakukan hal kotor seperti ini lagi”, Amira mengambil berkas yang sejak tadi dia cengkram karena rasa emosi.


“Terimakasih, sampai nanti”, Amira mengucapkan salam dan pergi keluar dari ruangan itu.