The Hell

The Hell
Tim makan siang



Amira duduk memandangi pekerjaannya yang menumpuk, mata lelahnya seolah mati-matian untuk tidak tertidur.


“Ya tuhan kak, kamu benar-benar kacau dua hari ini”, Randi mengintip dari balik bilik meja Amira sambil menenteng kopi.


“Yah namanya juga pengantin baru”, Ramlan yang datang menyerahkan beberapa berkas ke meja Amira tertawa menggoda Amira.


“Hahaha, benar juga, bapak juga begitu beberapa bulan lalu”, Randi mengikuti langkah Ramlan yang memang satu jalur menuju meja kerjanya.


Amira yang pada awalnya mengantar kedua rekan kerjanya itu dengan tawa ringan untuk merespon candaan mereka, langsung terdiam menutup mulutnya yang lusuh.


“Bisa gila aku kalau terus-terusan begini”, Amira bergumam dengan sakit kepala yang mulai berdenging.


Tiga malam terakhir, setelah Amira menerima pesan aneh dari Tya, dirinya terus memikirkan hal buruk apa yang mungkin akan Arthur lakukan kepada Tya.


_“Kak amira, kamu terlihat sangat menyukai orang yang bernama Arthur itu, tapi aku pikir lebih baik kamu jangan dekat-dekat dan lebih baik tinggalkan saja dia. Aku tahu tak sopan untukku mengatakan hal seperti itu. Tapi kakak harus tahu, dia itu bukanlah orang yang baik, dia seorang manipulatif yang tak memiliki belas kasih”, Amira membaca ulang pesan tak berbalas itu untuk yang keduakalinya hari itu.


“Hahh, apa aku terlalu berlebihan?”, Amira merasa tak nyaman karena sejak hari itu Amira jadi teringat pesan dari Tya setiap kali melihat wajah suaminya, dirinyapun jadi kesulitan tidur karena memikirkan kemungkinan suaminya itu berbuat hal buruk.


Ya, Amira mengenal suaminya, dia bukanlah orang yang murah hati kepada orang lain, tapi dia juga bukan orang yang benar-benar buruk. Karena hal ini Amira menjadi ragu dan waspada tantang kemungkinan perlakuan buruk Arthur kepada Tya. Namun dirinya tak berani bertanya langsung kepada Arthur tanpa bukti nyata, salah-salah malah menyakiti perasaan Arthur untuk hal yang belum pasti.


‘Ada dua hal yang mungkin jadi penyebab yang memungkinkan Arthur berbuat buruk kepada Tya, karena masalah aku membantu Galih, atau karena masalah menjadi mata-mata di perusahaan. Tapi untuk masalah aku membantu Galih, ibunya meninggal tepat di hari ke tujuh, jadi sebenarnya aku membantu Galih sesuai dengan waktu yang di sepakati Arthur. Jadi bukankah tentu saja itu karena masalah memata-matai perusahaan?’. pikiran Amira cukup sibuk karena berbarengan dengan mengerjakan pekerjaan.


Amira sebenarnya merasa ‘ya sudahlah’. Itu karena setelah mencari tahu perusahaan keluarga Galih, yaitu Lorem Group mereka benar-benar bukan tandingan Arthur. Mereka memiliki banyak usaha dari mulai, furniture, elektronik, bahkan hingga properti. Mereka juga memiliki banyak cabang yang tersebar di berbagai negara. Karena hal itulah Amira merasa, terlalu berlebihan untuk Arthur yang selalu mendahulukan logika di pekerjaannya, dengan bodohnya mencari masalah dengan perusahaan raksasa itu.


“Yeee, istirahat!”, suara manis salah satu pegawai baru yang duduk di sebrang meja Amira membuat Amira tersenyum gemas. Anak-anak itu yang baru berumur dua puluh tahun bekerja sebagai lulusan SMK, karena hal itu mereka bertiga seringkali membuat Amira teringat masa polos usia muda enam tahun lalu, walau sebenarnya di umur itu Amira sedang menghadapi banyak cobaan yang cukup berat karena hidup sendirian.


“Kak makan yu”, kepala Randi mencuat mengintip di susul Hadi yang mengintipnya juga.


“Ya ayo”, Amira pada akhirnya selalu nimbrung dengan dua orang itu, karena bu Ratih dan bu Jesi seringkali membawa bekal dan makan di kantor, sedang Ramlan dan Rasyik seringkali hanya makan roti untuk makan siang lalu merokok dan nongkrong di rooftop untuk main game, dan para pegawai baru tiga serangkai itu terasa sulit untuk Amira dekati, mereka seringkali canggung dan tak nyaman jika Amira memaksakan untuk bergabung.


“Makan ketoprak di perempatan yu”, ajak Hadi.


“Ide bagus”, “Ya”, selera makan mereka bertiga juga seringkali mirip dan kompak.


“Drrrtt”, suara pesan masuk di ponsel Amira.


“Makan siang apa?”, Arthur memang seringkali menanyakan hal ini kepada Amira.


“Kita mau makan ketoprak”, Amira menjawab.


“Tak bisakah aku ikut?”, tanya Arthur dengan cepat.


“Tidak!, kamu mau membuat rekan kerjaku canggung?”, Amira menolak tanpa ragu, sebenarnya karena dirinya merasa cukup bertemu dengan Arthur di rumah saja, tidak dengan di kantor.


“Kalau begitu kamu makan siang saja denganku”, Usaha harian Arthur yang sebenarnya tak pernah berhasil membuat Amira tertawa.


“Tidak pak bos, makanlah dengan Farhan”, Amira yang duduk di bangku belakang mobil Randi cekikikan sendirian.


“Farhan sensitif sekali kalau mengobrol denganku, dia sering mengeluh dan mengomel tentang pekerjaan saat aku ingin makan dengan tenang dengannya”, keluh Arthur.


“Kamu harus menerimanya, setidaknya untuk permintaan maaf karena kamu seringkali seenaknya kepada dia”, balas Amira.


“Sudah ya, aku sudah hampir sampai di tempat makan, jangan ganggu aku”, Amira tertawa sendirian walau sebenarnya dirinya tak tega setiap kali melihat bujukan Arthur untuk makan siang dengannya.


‘Mungkin sekali-sekali aku harus menemaninya’, Amira bergumam sembari mematikan layar ponselnya.


“Kak, Mawar mengajak kita kumpul kapan-kapan”, Randi berbicara sambil sesekali menatap kaca spion tengah mobil.


“Oh benarkah?, siapa aja?”, Tanya Amira tertarik.


“Oh, Tya bagaimana?”, Amira bertanya memastikan.


“Dia tak bisa di hubungi, Mawar juga tak bisa menghubungi dia”, Randi mengaitkannya dengan Mawar karena setahunya Tya memang paling dekat dengan Mawar.


“Oohh, berarti Hadi pertama kalinya bertemu Mawar Bukan”, Amira tersenyum mencoba mengalihkan pikirannya tentang Tya.


“Hahaha, kakak tidak tahu ya?, mereka ternyata satu SMP”, ucap Randi sambil tertawa.


“Oh benarkah?, dunia ini memang sempit”. “Ya, aku juga cukup tak menyangka ternyata mawar yang kalian maksud adalah teman SMP-ku”. Jawab Hadi yang mendengar respon Amira yang cukup kaget.


”Apa kita ajak aja itu tiga anak bontot perencanaan?”, Amira menawarkan, dan sebenarnya dia berharap tiga pegawai baru itu bisa bergabung dengan tim makan siangnya, setidaknya agar Arthur tak terlalu mengeluh setiap kali dirinya menolak ajakan makan siang Arthur.


“Mereka?”, Hadi terdiam setelah bertanya sedikit canggung, dia benar-benar menutup rapat mulutnya seolah hampir keceplosan.


“Ya, biar ramai lah kita makan siang”, Amira berbicara dengan nada melayu, memperlihatkan antusiasmenya.


“Yah, tak masalah, tapi sepertinya mereka tak akan nyaman”, jawab Randi sambil menarik rem tangan di mobilnya.


“Hmm, ya benar”, Amira setuju tetang hal itu tanpa perdebatan lain.


Mereka bertiga keluar dari mobil Randy yang di parkir di lapangan umum di sekitaran gerobak Ketoprak yang mereka maksud biasa mangkal, lalu berjalan santai beriringan ke arah tempat yang mereka tuju.


“Pak tiga porsi di meja sana ya”, Randi berjalan ke arah penjual yang sedang menyiapkan makanan untuk pembeli lain, lalu menunjuk ke arah meja yang di duduki Amira dan Hadi.


“Dimana kita akan janjian?”, Amira bertanya untuk memastikan kepada Hadi.


“Katanya si di restoran XXX”, jawab Hadi.


“Katanya Mawar mau bawa tunangannya, dan Azka juga mau bawa pacarnya, kak Amira mau bawa bos besar kah?”, Randi bertanya dengan penasaran.


“Oh bolehkah?”, Amira sebenarnya merasa lega, karena jika begitu tak akan sulit untuknya meminta izin Arthur.


“Ya, ajak saja”, Randi terlihat bersemangat.


“Haha, kamu semangat banget”, Hadi tertawa melihat tingkah temannya.


“Aku penasaran, soalnya waktu di pernikahan dia jauh banget, jadi gak terlalu jelas”, ucap Randi.


“Berarti kamu sendirian dong yang gak bawa pasangan”, Hadi menahan tawanya.


“Hah?, emangnya kamu?”, Randy melihat kearah Hadi dengan shock.


“Kamu kira aku jomblo selama ini?”, Hadi bertanya dengan wajah mengejek kepada Randi.


“Haahh, dasar tak setia kawan”, Randi mendengus.


“Makanya coba deketin cewek kek, trio ciwi perencanaan juga kan pada bening tuh”, Amira tersenyum menggoda Randi.


“Pffftt”, Hadi menahan tawanya saat mendengar candaan Amira.


“Kenapa?, kenapa?, ada apa nih?”, Amira menyadari ada hal yang tidak dia ketahui dari ekspresi wajah Randi yang di tekuk dan dari respon Hadi yang hampir tertawa terbahak-bahak.


“Nggak ada apa-apa, mereka bertiga cuma agak.. , mungkin gak akan ada yang cocok denganku”, jelas Randi ragu.


“Hmmm…”, Amira bergumam panjang dengan mata menyipit.


“Aku serius..”, Randi dengan kesal menerima gumaman Amira beserta tawa ringan Hadi di sampingnya.