The Hell

The Hell
Rampok



“Apa kamu tak bisa minta ganti jam kerja?”, Rani bertanya sembari tangannya sibuk mengupas apel.


“Gak bisa, sudah ketentuannya setiap pegawai selang seling antara bagian pagi dan sore selama seminggu”, Amira menjelaskan dengan tubuh kaku yang bersandar ke kasur.


“Ya tuhan, aku bingung harus berterimakasih atau marah kepada pengendara mobil itu”, Rani berbicara dengan mulut yang sibuk mengunyah apel.


“Haha, kukira kamu mengupaskan apel untukku”, Amira tertawa pelan melihat Rani.


“Oh kamu mau?”, Rani menyuapi Amira dengan sepotong apel dari tangannya.


“Kalian yang malam baru datang ya?”, Seorang wanita paruh baya mengintip dari balik tirai ranjang pasien sebelah.


“Oh iya bu”, Rani menjawab sambil tersenyum ramah.


“Kenapa neng nya?”, wanita paruh baya yang kepo itu terlihat menyibak tirai agar dirinya bisa lebih leluasa mengobrol dengan Amira dan Rani.


“Dia hampir di culik sama geng motor, untung motor yang di pakai penculik di pepet mobil sampe jatuh, jadi dia bisa kabur walau harus terluka seperti ini”, Rani dengan gamblang menceritakan apa yang di alami Amira kepada ibu-ibu yang baru saja dia temui.


“Ya tuhaan, kenapa ya akhir-akhir ini isu geng motor di jalanan ngeri-ngeri. Saya jadi khawatir kalau ada keluarga yang masih di luar lewat jam sembilan”. Ucap wanita paruh baya itu.


“bapaknya kenapa bu?”, Rani balik bertanya sembari melihat ke arah kaki seorang bapak-bapak yang terlentang tidur.


“Oh suami saya kecapean dek, keseringan gadang, jadi drop gini”, Ibu itu menjelaskan.


Amira melamun di tengah keakraban Rani dengan keluarga pasien sebelah, Amira jelas merasa tahu tentang kenapa dirinya di jadikan target penculikan, itu jelas karena sepertinya dirinya masih terkenal sebagai kekasih mantan pemimpin The Hell tepatnya Arthur.


“Drrttt, drttt”, sebuah panggilan telepon di ponsel Amira membuat Amira keluar dari lamunannya. Amira menatap layar ponselnya, tertulis kontak dengan nama bapak kos di sana.


“Halo pak?”, Amira segera mengangkatnya.


“Halo neng, ini kamar neng tadi ada rampok membobol pintu”, bapak kos tanpa basa-basi mengungkapkan apa yang ia ingin ungkapkan.


“Gimana pak?”, Amira kembali bertanya untuk menegaskan apa yang dia dengar, hal itu karena dari telepon terdengar suara gaduh yang cukup mengganggu.


“Kamar neng di bobol orang, dua orang pelakunya, tadi ketahuan pak Amir tetangga neng. Gak tau itu maling sempet bawa apa dari kamar neng atau ngga, tapi kata pak Amir pas di teriakin langsung kabur dan kelihatannya gak bawa apa-apa, kayaknya mereka baru sempet buka bobol pintu dan keburu ketahuan”. Bapak kos mencoba menjelaskan sesingkat mungkin.


“Ooh gitu pak?, gimana ya, saya lagi sakit di rawat di rumah sakit, jadi ga bisa kesana langsung pak maaf”, jelas Amira.


“Ya Allah neng begitu, gimana ini ya, masalahnya gagang pintunya udah rusak parah, takutnya ada maling lagi”, Pemilik kos itu menjelaskan.


“Hmm, maaf pak, boleh minta tolong di pasang kunci gembok dulu engga pak?, nanti biayanya saya ganti deh”, Amira meminta dengan sungkan.


“Oh ya gapapa neng, ga usah ganti juga saya cuma takut ada yang hilang nanti salah paham sama saya atau orang disini, jadi saya pastikan bilang dulu. Nanti saya benerin pintunya pas neng udah pulang aja ya biar di saksikan sama neng, soalnya bakalan agak lama kalau ganti gagang pintunya, ini saya pakein kunci gembok dulu aja”, ucap bapak kos.


“Iya pak, maaf merepotkan ya pak. Makasih”, Amira mengakhiri panggilannya.


Amira sebenarnya merasa bingung, tapi dia merasa tenang karena sebenarnya dia tak menyimpan hal berharga apapun di kamar kosnya, semua hal yang dia miliki berada di dalam tas kecil yang selalu dia bawa.


Arthur berlutut dengan tangan yang terikat di belakang, seluruh badannya basah kuyup dengan keringat, dan wajahnya di penuhi lebam segar yang baru.


“Dimana kamu simpan berkas-berkas dan uang kau curi sialan!?”, Allan berteriak dari belakang orang-orang yang memukuli Arthur.


“Haha, itu milikku sejak awal, kamulah yang mencurinya”, Arthur menatap tajam ke arah Allan.


“CK!””BRRUUKK!”, Alan melompat ke tubuh Arthur dan menindih Arthur sembari menarik kerah baju Arthur.


“Kamu habis malam ini sialan!”, Allan hampir mengeluarkan bola matanya karena menahan amarah.


“Hei yang ku ambil hanya dua puluh persen dari yang ku tinggalkan dari brankas dasar serakah!”, Arthur berbicara sembari meludah ke wajah Allan.


“Sial, padahal semua itu yang ku janjikan kepada para lintah itu”, Allan menyesap rokok sembari membakar ujung rokok di mulutnya.


“Terserahlah, kita bisa cari pelan-pelan, kamu urus tubuhnya, sepertinya dia sedang sekarat”, Allan berbalik meninggalkan gudang gelap itu bersama beberapa orang yang mengikutinya.


Tubuh Arthur yang bergetar hebat mulai melemah, suasana sepi di sana hanya meninggalkan suara nafas berat Arthur.


“Kenapa juga anda malah keluar dari persembunyian?, orang-orang benar, bahwa wanita bisa menghancurkan kehidupan kita”, seorang dari dua orang yang tersisa duduk sembari merokok dengan santai menonton Arthur yang manahan sakit.


“Padahal anda sangat berwibawa saat menjadi pemimpin, aku tak menyangka akan menatap anda dengan rasa iba seperti ini”, seorang yang lain ikut berucap setelah mendengar ucapan temannya sebelumnya.


“Padahal seharusnya anda tetap bersembunyi sampai akhir, anda malah menunjukan diri karena mendengar kekasih anda hampir di culik?, konyol sekali”, dua orang itu terkekeh tertawa kecil.


“Ini kebaikan terakhir dari kami, kamu bisa pergi sendiri kan?, kami datang lagi besok kesini, kalau anda masih ada disini besok, terpaksa kami harus mengubur tubuh anda besok”, dua orang itu pergi meninggalkan Arthur yang senyap tak bersuara.


Seminggu berlalu, Amira yang masih memiliki perban yang menempel di belakang kepalanya berdiri memperhatikan seorang tukang yang sedang memperbaiki pintu kamar kosnya.


“Neng kenapa pakai tongkat gitu?”, seorang wanita paruh baya yang sama-sama sedang menonton perbaikan pintu kamar Amira bertanya.


“Saya jatuh dari motor bu”, Amira menjawab sembari tersenyum.


“Ya gusti, ati-ati kalau di jalan neng”, tetangganya itu berbicara dengan simpati yang meluap terlihat dari wajahnya.


“Haha, iya bu”, Amira yang tak berniat memperjelas kecelakaan yang menimpanya tersenyum menerima omelan dari tetangganya itu.


“Neng di rumah sakit di temenin siapa?”, Bapak kos langsung ikut nimbrung sembari menyerahkan salah satu set kunci baru pintu kamar kepada Amira.


“Ada temen saya pak, tiap pulang kuliah dia nginep nemenin saya”, Amira menjelaskan.


“Memangnya keluarganya kemana?”, tetangga Amira bertanya tanpa ragu.


“Oh, bapak saya sakit bu”, Amira mencari alasan untuk tak memperpanjang percakapan mengenai kehidupannya.


“Aduh-aduh, kasian sekali kamu neng”, ucap wanita paruh baya itu kembali memasang ekspresi sedih.


“Ngaku kamu!, ngapain kamu?”, suara riuh membangunkan Amira dari tidurnya.


“Ada apa?”, “ini dia terus celingak-celinguk di depan gerbang”, suara ribut dari luar itu membuat Amira memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Amira keluar dari kamarnya, melihat kerumunan penghuni kos yang sedang mengerubungi seseorang.


“Ngaku kamu mau maling kan disini?”, “Enggak pak”, suara sanggahan yang sangat akrab di telinga Amira, membuat Amira segera berjalan dengan cepat ke arah kerumunan.


“Pak, pak dia teman saya”, Amira menyelusup ke tengah kerumunan, dia mendapati Arthur yang sedang di pegangi dengan kasar oleh dua orang penghuni kos.


“Yang bener neng?”, mereka mulai melonggarkan cengkraman mereka kepada Arthur sembari memastikan kembali.


“Iya pak, teman saya”, Amira memegang lengan Arthur.


“Ohh, maaf dek, saya kira maling, kenapa gak masuk aja terus panggil si neng nya, malah celingak-celinguk di depan berjam-jam, kita kan parno karena kejadian maling kemarin”, ucap seorang bapak-bapak.


“Kamu ini bengep-bengep gini bukan kita ya yang pukulin ya”, orang yang tadi memegangi Arthur memastikan agar dirinya tidak di salahkan.


“Dia dah begini sejak celingak-celinguk tadi”, yang lain menjelaskan sembari melihat ke arah Amira.


Amira perlahan membawa Arthur masuk ke kamarnya setelah memastikan sebagian besar penghuni kos kembali ke kamar mereka masing-masing.