
Arthur berdiri tepat di depan rumah yang dulu adalah miliknya, ekspresi wajahnya yang tegang memperlihatkan seberapa tegangnya dia hari itu, otaknya terus menimbang-nimbang apakah rencananya ini akan berhasil atau tidak.
Remang dan sunyi, suasana rumah hari itu terasa sepi, Arthur yang dengan rutin mencari tahu jadwal Allan mendengar bahwa malam itu adalah malam dimana The Hell akan melakukan pawai.
Arthur mengendap menaiki pagar tinggi, menyelusup dan berjalan memasuki rumah dengan hati-hati.
Pos pengaman adalah tempat pertama yang Arthur periksa. Arthur mendapati seorang petugas keamanan yang sedang fokus bermain game di dalamnya.
Arthur kembali mengendap dengan hati-hati, mencongkel jendela yang dia tahu memiliki kunci selot yang rusak. Perlahan Arthur masuk ke dalam rumah yang gelap itu, beberapa kali dia menginjak puntung rokok dan beberapa sampah makanan ringan. Arthur merasa sangat kesal karena rumah yang dia jaga dengan sepenuh hati, sepertinya di jadikan tempat nongkrong yang kurang terawat oleh Allan dan teman-temannya.
Arthur masuk ke ruang kerjanya dulu, dia mendapati meja dan juga beberapa brankas masih tetap pada posisinya seperti dulu.
Dengan cepat Arthur membuka brankas dan mencari beberapa dokumen.
“Sialan!”, Arthur mendengus kesal saat dia menyadari sebagian besar dokumen hak kepemilikan properti dan usaha sudah di balik nama dari milik perusahaan menjadi milik pribadi atas nama Allan dan beberapa temannya.
Memilah beberapa dokumen, Arthur memasukan beberapa dokumen yang menurutnya akan berguna dengan hati-hati, serta beberapa uang cash Arthur masukan kedalam tas miliknya.
“Ada maling!”, suara keras dengan emosi yang jelas mengundang kegaduhan siang itu. Lelaki berumur tiga puluhan dengan potongan rambut cepak mendengus keluar dari ruang kerja di dalam rumah rampasannya itu.
“Bagai mana caramu menjaga rumah kemarin?”, Teriakan Allan memekik membuat penjaga keamanan rumah itu menunduk.
“Tenang Allan, kalau orang itu bisa masuk tanpa terlihat di camera CCTV di depan, dan tahu sandi brankas itu berarti sudah pasti Arthur”, Gamil yang merupakan teman dekat Allan mencoba menenangkan.
“Justru karena itu dia, semuanya jadi lebih harus kita waspadai!. Kamu tahu apa yang hilang?. Beberapa dokumen properti dan usaha yang belum sempat kita balik nama!, uang cash hasil selundupan kemarin juga hilang sebagian besar!”, wajah putih Allan memerah seperti terbakar.
Sepanjang siang itu teriakan Alan memekak di seluruh ruangan, sementara orang-orang yang ada di sana hanya bisa tertunduk diam, dan petugas penjaga menjadi sasaran ringan tangan Alan.
“Polisi menangkap beberapa pemuda yang di curigai sebagai pengedar narkoba di daerah XXX, kota XXX . Setelah di telusuri, polisi kemudian berhasil menangkap beberapa gerbong yang ternyata semua gerbong itu terasosiasi di dalam satu geng motor, kini polisi sedang mencoba mencari tahu tentang geng motor yang di curigai di dalamnya terdapat aliansi mafia…”,Suara TV di tengah riuhnya pelanggan rumah makan malam itu menambah kehangatan suasana.
Beberapa pelanggan mendengarkan dengan seksama, namun kebanyakan menghiraukannya dan mengobrol dengan pelanggan lain dengan ceria.
Amira terlihat duduk sendirian menatap laptopnya sembari memakan sesuap demi sesuap makanan yang dia pesan sebelumnya.
“Tahun ini jalanan rasanya agak menakutkan, tak sulit untuk melihat pemandangan beberapa pemuda bertransaksi barang haram”, Seorang bapak-bapak memulai pembicaraan bersama teman-temannya sembari menyeruput kopi.
“Kamu tahu pak Toha yang jualan buah di pasar?”, Lelaki paruh baya yang memakai kacamata ikut mencoba menyuarakan apa yang ada di kepalanya.
“Pak Toha yang jongko nya ada tepat di depan pasar itu?”, bapak-bapak dengan kaos berwarna merah mencoba memastikan.
“Iya yang itu, anaknya kan di tangkap karena jadi pengedar juga”, bapak-bapak berkacamata itu segera mengeluarkan fakta yang ingin dia ungkap.
“Yang bener?”, Temannya yang lain mencoba menanyakan kebenarannya.
“Bener!, malam-malam waktu itu ribut satu RT pas penggerebekan. Orang-orang bilang dia salah pergaulan, ikut geng-geng motor gitu, nama gengnya The apa gitu lupa”, Beberapa kegaduhan di masyarakat sepertinya tergambar dari obrolan tongkrongan bapak-bapak itu.
Di perjalanan pulang, Amira beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel Arthur. Namun tentu saja itu percuma, karena Arthur sudah tidak memegang ponsel sejak dirinya di usir dari The Hell satu tahun lalu.
“Hahh!”, Amira melenguh kesal, dirinya merasa risau tentang Arthur yang sedang menjadi buronan dan betapa berbahayanya anggota The Hell di lihat dari banyaknya masalah kekerasan dan tindakan ilegal yang ternyata pelakunya adalah anggota The Hell.
“Kamu Amira benar?”, tiga orang lelaki muda berdiri memblokir jalan yang akan Amira lalui untuk sampai ke kos.
Dari pada menjawab, Amira yang merasakan perasaan tak enak mencoba terus berjalan menyelusup di antara orang-orang itu dan mengabaikan mereka.
“Ey, ku pikir kamu harus menjawab dengan benar sebelum pergi”, lelaki yang menggunakan hudie berwarna kuning menghalangi Amira dengan merentangkan tangannya.
“Ada urusan apa?”, Amira bertanya sembari mencoba untuk tenang.
“Langsung seret aja”, Seorang yang lain memberikan usul.
“Apa?, tapi kalau kita sampai salah orang bisa berabe”, seorang yang lain mencoba berhati-hati.
“Enggak, aku yakin ini orangnya, orang yang dulu menampar-nampar si Ryan di hadapan banyak orang itu”, salah satu dari mereka tertawa pelan.
“Apa yang kalian..!”, Amira mulai panik saat ketiga orang itu menyeretnya dan memaksanya naik ke atas motor.
“Tolong!, Tolong!”, Amira berteriak sekuat tenaganya, namun suasana sepi tengah malam itu membuat tak seorang pun mendengarnya, sedangkan beberapa mobil dan motor yang melintas sepertinya tak berniat untuk ikut campur dan memilih berlalu mengabaikan teriakan Amira.
Amira di himpit di tengah oleh dua orang dari mereka untuk membuat Amira tak bisa kabur atau melompat dari motor, sedang seorang yang lain membawa satu motor lain.
“BRAAAKKK”, sebuah mobil menyerempet motor yang membawa Amira, sampai motor yang di tunggangi tiga orang itu jatuh ke trotoar jalan.
“Mbak lari mba!”, suara dari dalam mobil terdengar berteriak, namun orang di dalamnya terlihat tak berani untuk keluar dari mobil dan menancap gas kembali saat penculik yang sendirian membawa motor menggedor-gedor kaca mobil dengan keras.
Motor yang tergeletak, di selimuti lenguhan orang-orang yang menahan sakit termasuk Amira. Walau begitu Amira bersyukur karena dirinya masih bisa tertatih untuk berdiri di saat dua orang yang menghimpitnya terlihat hampir kehilangan kesadaran.
“Hei mau kemana?”, satu orang yang tersisa meneriaki Amira yang mulai berlari tertatih mencoba menyelamatkan diri.
“Hei!”, Satu orang yang tersisa dari penculik itu hanya bisa berteriak bingung tanpa bisa mengejar Amira karena melihat kondisi teman-temannya.
“Anda kenapa?”, Amira mendatangi IGD sebuah rumah sakit dengan keadaan kaki kiri yang di seret paksa untuk berjalan.
“Saya tadi jatuh dari motor”, seorang security dengan cepat mengambil kursi roda. Dan mengantar Amira ke bilik resepsionis.
“Anda bawa kartu tanda identitas?, ada keluarga yang bisa di hubungi?”, seorang perawat mengambil alih kursi roda yang Amira duduki dari security.
“Oh ada di tas maaf, dan saya sudah memanggil teman saya, sebentar lagi dia akan datang”, Amira menjelaskan dengan suara tersengal menahan sakit sembari menyerahkan tas jinjingnya kepada perawat.
Malam itu Amira mendapatkan luka lebam parah di kaki karena terhimpit motor, dan robekan di belakang kepalanya karena terbentur ke tepian trotoar jalan, dan beberapa luka ringan serta lecet di tangan dan bagian tubuh lain.