The Hell

The Hell
Penyelidikan



“Jadi anda Arthur?”, Arthur duduk di sebuah ruangan dengan satu meja yang di kelilingi kursi.


“Ya”, Arthur menjawab sembari menatap orang yang bertanya padanya. Ada tujuh orang yang duduk di ruangan itu melingkari sebuah meja rapat.


“Jadi?, bisa kita mulai?”, seorang yang lain melebarkan kedua tangannya, seolah isyarat sebuah rapat di mulai.


“Mari kita lihat apa yang bisa kita dapatkan darimu?”, seorang lelaki paruh baya dengan seragam lengkap tersenyum kepada Arthur.


“Mari kia lihat apa yang bisa aku dapat terlebih dahulu”, ucapan Arthur itu mengundang sunyi beberapa saat, disusul tawa kecil di beberapa sudut ruangan.


“Kami tak bisa menentukan apa yang bisa kamu dapatkan, sebelum kami tahu seberapa jauh jejakmu sebelumnya”, seorang yang lain meletakan pena yang dia pegang sebelumnya dengan tenang.


“Ada baiknya kamu kooperatif, kamu tahu dengan jelas, kami memilih rapat secara kekeluargaan seperti ini, padahal ada cara lain yang lebih mudah, dan bahkan lebih adil karena tidak akan memberikan pengurangan hukuman kepada salah satu penjahat sepertimu, hanya karena bantuan informasi”, lelaki dengan seragam lengkap itu mulai menyalakan rokok.


“Maafkan saya, tapi saya benci asap rokok di tengah pembicaraan”, ucapan Arthur itu membuat lelaki berseragam yang kelihatannya sangat bangga dengan pangkatnya itu terkekeh karena tak habis pikir.


“Kamu sengaja mencari gara-gara ya?”, lelaki itu melotot menahan amarah.


“Cukup, memang ada baiknya tak ada yang merokok disini, jika tak kuat ingin merokok silakan keluar”, lelaki dengan jaket hitam duduk di sudut lain mencoba menengahi.


“Lanjutkan!”, lelaki berseragam itu mematikan rokok yang baru dia nyalakan beberapa saat lalu sembari menelan rasa pahit karena mencoba mengalah.


“Saya tahu akhir-akhir ini sebuah geng motor menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, sekaligus menjadi masalah yang tak berujung bagi anda sekalian”, Arthur memulai dengan inti dari permasalahan yang memang dia tawarkan.


“Aku mengajukan bantuan ini dengan syarat campur tangan dari berbagai pihak, karena jika di tangani satu pihak saja, hal ini tak akan bisa selesai”, Arthur menatap lurus ke arah lelaki berseragam di hadapannya.


“Kebetulan sekali saya adalah mantan ketua geng motor tersebut, namun sayang saya di gulingkan oleh sebuah keluarga gembong nar***a, karena saya berusaha menghalangi perdagangannya kedalam geng motor saya”, Arthur melanjutkan ceritanya yang di dengarkan orang-orang penting itu tanpa di sela.


“Ada alasan kenapa kamu sampai menghalangi perdagangannya ke perkumpulan mu?”, seseorang bertanya.


“Karena dulu banyak sekali teman-teman saya yang menjadi korban obat-obatan terlarang itu, sampai beberapa bahkan harus tewas karenanya, saya merasa sangat bersalah karena hal itu, dan membuat sebuah peraturan bagi para anggota saya, agar menjauhi barang haram tersebut”, Arthur menjawab dengan tenang.


“Tapi di catatan lain, katanya kamu mantan penjual juga”, seorang yang lain menembak tepat pada masa lalu Arthur.


“Catatan yang mana?, saya bahkan mendaftarkan tempat nongkrong kami secara legal sebagai bar karena ingin teman-teman saya yang suka minum bisa minum dengan tenang dan legal”, Arthur menjawab tanpa bergeming.


“Lalu apa alasan kamu merampok?”, seorang yang lain mencoba menanyai ke arah yang berbeda.


“Karena saya ingin bertemu dengan anda sekalian, saya hampir di bunuh oleh orang-orang dari pihak sana”, Arthur kembali menjawab dengan tenang.


Berjam-jam rapat yang lebih seperti interogasi itu berjalan, namun Arthur terlihat tenang dan berbicara dengan banyak bukti yang bisa di jumpai dari kasus-kasus kejahatan jalanan yang sering kali terjadi akhir-akhir ini.


Sabtu itu Amira masih meringkuk di atas kasur, tubuhnya terlilit selimut sedang pandangannya melamun menatap langit-langit kamar.


“Neng?”, “Tok-tok-tok”, suara ketukan pintu dan panggilan dari luar membuat Amira terheran, tak biasanya ada orang yang mengganggu hari liburnya kalau bukan Rani.


“Sebentar”, Amira dengan terburu-buru membasuh wajahnya dengan air, kemudian mengelapnya menggunakan handuk dengan terburu-buru.


“Mau di sini pak?, atau mau di dalam di rumah saya?”, Bapak pemilik kos berbicara dengan sangat sopan kepada dua orang lelaki itu.


“Kita bicara disini saja pak, terimakasih”, dua lelaki itu terlihat berharap agar bapak kos meninggalkan mereka bersama Amira.


“Ada apa pak?”, Amira mulai bertanya.


“Saya polisi, bisa bicara di dalam?”, Salah seorang dari mereka menyodorkan tanda pengenal kepolisian mereka.


“Dan ini surat tugas kami, kami hanya ingin menanyai anda mengenai beberapa hal”, seorang yang lain dengan segera menunjukan surat tugas saat melihat Amira yang terlihat ragu-ragu untuk mempersilakan dua orang tersebut masuk.


“Ah baiklah, silakan masuk, maaf kamar saya acak-acakan”, Amira mempersilakan kedua orang itu masuk sembari mengumpulkan beberapa barang berserakan seperti charger, buku dan lainnya.


“Tak perlu dek, kami tak akan lama”, salah seorang polisi itu segera menghentikan Amira yang menyusun beberapa toples berisi makanan ringan di hadapan dua orang polisi tersebut.


“Perihal apa ya pak?”, dengan gugup Amira bertanya.


“Kami dengar anda mantan kekasih saudara Arthur yang merupakan mantan ketua geng motor The Hell”, pertanyaan dari polisi itu membuat Amira tanpa sadar menelan ludahnya.


“Y.. ya”,walau seperti tak terima karena di sebut mantan kekasih, Amira mengiyakan pertanyaan tersebut.


“Ada yang kamu ketahui tentang geng tersebut?”, polisi terlihat menyimpan ponsel yang sejak tadi polisi itu pegang, ke tengah-tengah mereka, tanpa sadar Amira menatap ponsel itu.


“Ah, kami merekam pembicaraan ini untuk beberapa keperluan”, polisi itu menjelaskan.


“Ah iya tak apa, saya sebenarnya kurang begitu tahu mengenai seluk-beluk geng, yang saya tahu saya ikut geng tersebut untuk seru-seruan saja dulu saat masih remaja”, Amira menjelaskan dengan hati-hati.


“Apa anda tahu tentang penjualan atau konsumsi obat-obatan terlarang di sana?”, polisi itu kembali bertanya.


“Tidak, eh, emm saya sempat di tawari oleh teman saya, tapi kemudian di tegur oleh kekasih saya saat itu, sehingga saya tidak mengkonsumsinya”, Amira mencoba berhati-hati namun tatapan para polisi sudah cukup membuatnya gugup dan memuntahkan beberapa kebenaran yang dia tahu tanpa sadar.


“Apa kamu tahu dan kenal dengan Allan?”, pertanyaan ke sekian dari polisi, namun Amira terdiam dengan ekspresi mencoba mencari tahu ingatannya di masa lalu.


“Saya kurang yakin, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya”, Amira menjawab dengan yakin.


beberapa pertanyaan dan jawaban lain bergulir bergantian selama 30 menit.


“Pak, kalau saya boleh bertanya, bagaimana kabar Arthur di kantor polisi?”, Amira bertanya dengan hati-hati saat para polisi itu hendak keluar dari kamar kos Amira.


“Terakhir kali saya melihatnya, dia baik. Sebenarnya kami hanya pernah bertemu dengan dia sekali, jadi kami tidak terlalu tahu”, ujar kedua polisi itu.


“Apa saya bisa menjenguknya?”, Amira bertanya lagi.


“Hemm, mungkin bisa, dia di pindahkan dari lapas ke rutan, karena kasus perampokannya sudah di cabut dan kini dia sedang menjalani proses penyelidikan mengenai keterlibatannya dengan beberapa kejahatan geng motor, jadi mungkin kamu bisa mencoba membuat surat permohonan kunjungan ke rutan XXX”, jelas salah satu polisi itu.


“Oh dan di mohon untuk tidak memberitahukan mengenai penyelidikan ini kepada siapapun, karena penyelidikan ini di lakukan secara rahasia untuk menghindari beberapa tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti”, lanjut sang polisi menegaskan kalimat yang sebenarnya sudah mereka tegaskan kepada Amira beberapa kali sebelumnya.