The Hell

The Hell
Dilema



Arthur duduk di sebuah mobil kecil yang tak terlalu mencolok di sebuah tanah lapang terbengkalai di sekitar rumah keluarga Amira. Hari itu adalah hari ke tujuh pengajian yang di adakan Amira untuk ayahnya. Arthur memang seringkali melihat dari kejauhan, memarkirkan mobilnya di sana sejak sore hari, dan kemudian pergi saat pagi tiba untuk mengurus beberapa urusan yang tidak bisa di wakilkan.


Mobil kecil itu mengeluarkan asap dari celah kaca yang terbuka sedikit, tepatnya kaca di bagian supir. Kegiatan pengajian itu biasanya dimulai dari jam tiga sore hingga jam lima sore. Walau sebenarnya Arthur jarang melihat Amira keluar dari rumah itu, namun Arthur terus dengan konsisten berada di sana.


“Hmm?”, Arthur berkutik saat menyadari Amira keluar dari rumahnya sambil berjalan.


“Hah, untung saja aku tidak sedang ke toilet umum”, itulah yang terlintas di pikiran Arthur sembari memperhatikan Amira, lalu kemudian keluar dan mengikuti Amira saat jarak mereka terpaut cukup jauh.


“Biasanya dia akan sadar dan setidaknya berbalik melihatku”, Arthur bergumam saat Amira hanya menunduk lemas sembari berjalan.


Arthur terus menyesuaikan irama langkahnya agar selaras dengan Amira, sembari menyesap rokok Arthur terlihat sudah terbiasa menjadi penguntit akhir-akhir ini. oh tidak, lebih tepatnya sejak bertemu dengan Amira.


Namun saat Amira berbelok ke arah kanan jalan, Arthur berdiam diri sebentar di dekat pertigaan itu, memastikan dirinya tidak terlalu dekat dengan Amira.


Beberapa saat kemudian Arthur mengintip dengan tenang, mencoba memastikan sudah sejauh mana Amira berjalan. Namun seketika Arthur terbelalak, jantungnya terasa berhenti, rokok di tangannya terjatuh tanpa ia sadari. Semuanya terasa cukup cepat, dan tiba-tiba saja dirinya sudah terjatuh di himpit oleh Amira, dan tentu saja Arthur lah yang menarik Amira. Rasa takut itu membuat Arthur tanpa sadar berlari ke arah Amira, rasa takut yang tiba-tiba itu muncul karena Arthur mendapati Amira menaiki pagar penghalang jembatan di jalanan sepi dengan tubuh yang condong ke bawah jembatan.


Nafas Arthur terengah-engah, itu karena sulit mengatur nafas dan rasanya hampir saja dirinya menangis, namun tiba-tiba suara tawa Amira menyadarkan Arthur.


“Ah.. dia memancingku keluar, pantas saja dia bertingkah seolah tak menyadari keberadaan ku”, pikir Arthur dalam diamnya yang sesaat.


“Apa yang kamu lakukan?!”, Arthur merasakan rasa kesal sekaligus rasa lega bersamaan.


“Kamu gila?”, namun kini rasa kesalnya mendominasi seiring kembalinya akal sehat Arthur.


“Itu karena kamu terus mengikuti ku tapi saat aku memanggilmu kamu selalu kabur”, Arthur melihat Amira menatapnya dengan senyuman samar. Melihat pemandangan itu sesuatu menyetrum perasaan Arthur entah kenapa.


“Tetap saja!”, Arthur kembali memikirkan tindakan berbahaya Amira walau itu hanya candaan sembari mendengar suara gemuruh air yang sangat kencang di bawah sana, hal itu membuat Arthur merinding tak bisa membayangkan bagaimana jika Amira kelepasan dan terjatuh kebawah, terseret air deras.. , bagaimana jika ada batu tajam di bawah?, semua pemikiran itu mencekik Arthur untuk beberapa saat.


Arthur kemudian berdiri lalu menjulurkan tangannya berniat membantu Amira yang masih terduduk agar berdiri. Namun beberapa saat Amira hanya terdiam dan Arthur menyadari lengannya masih bergetar karena sisa-sisa rasa kaget dan takut.


Tapi tiba-tiba Amira menggenggam lengannya sambil tersenyum lebar, Arthur bisa merasakan rasa rindu yang teramat sangat dari tatapan Amira kepadanya.


“Apa yang kamu lakukan?, cepat berdiri!”, desak Arthur, sembari merasakan perasaan hangat menjalar ke dadanya.


“Aku benar-benar merindukanmu”, ucapan Amira itu cukup menyenangkan hati, namun tindakan Amira yang tiba-tiba menempelkan tangan Arthur ke keningnya membuat Arthur kebingungan dan merasa tak bisa lagi menahan perasaan salah tingkahnya.


“Kenapa sulit sekali untuk bertemu denganmu?”, Arthur merasakan kening Amira menurun dan menunduk, wanita itu juga terdengar seperti putus asa.


“Kita..”, hampir saja Arthur mengajak Amira untuk bersamanya lagi. Namun Arthur tiba-tiba teringat kenangan dimana Amira dengan sekeras tenaga berusaha meninggalkannya karena merasa tak bisa hidup di lingkungan Arthur yang waktu itu adalah The Hell. Rasa sakit atas kenangan itu membuat Arthur perlahan melepaskan tangan Amira.


“Kita sudah berakhir, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat”, Arthur dengan terburu-buru membelakangi Amira, sembari berpikir bahwa dirinya harus lebih bersemangat agar bisa dengan cepat membuat lingkungan yang nyaman disekelilingnya, agar Amira bisa bersamanya tanpa ingin berpisah darinya sampai kapanpun.


“Maafkan aku, kamu mungkin marah karena aku melaporkanmu, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan agar kamu tak terus menerus terluka oleh orang yang menendang mu dai The Hell”, teriakan Amira itu membuyarkan pikiran Arthur yang sedang menata semangat juangnya tadi. ‘Aah, Amira sepertinya merasa sangat bersalah karena kejadian itu’ pikir Arthur sembari terdiam dari langkahnya.


“Lalu kenapa kamu terus mengikuti ku?”, Arthur melihat Amira bertanya dengan sorot mata sedih, tentu saja pandangan matanya itu sampai juga kepada Arthur. Sampai-sampai Arthur merasakan takut, takut jika Amira benar-benar menyudahi perasaannya kepada Arthur.


“Karena, aku berhutang budi”, Arthur bahkan sepertinya tak terlalu mengingat apa yang diucapkan mulutnya saat itu, dia mengalami jalan buntu menanggapi pertanyaan Amira, tapi dia merasa belum waktunya, dan jika dirinya membawa Amira kembali ke pelukannya hari ini, bisa dipastikan Amira mungkin akan meninggalkannya lagi jika semua masalah yang belum beres itu sampai menimbulkan masalah.


Dengan terburu-buru Arthur kemudian berjalan meninggalkan Amira, dia takut jika Amira sampai menanyakan hal yang lebih sulit lagi.


Beberapa minggu berlalu, Arthur tak lagi mengikuti Amira lebih tepatnya tak berani, dia lebih memilih mengawasi Amira lewat Heru yang mempekerjakan beberapa orang untuk mengawasi Amira dari kejauhan. Juga lewat Farhan dan bu Jesi yang merupakan atasan Amira baru-baru ini.


“Bagaimana dia bekerja?”, Arthur bertanya sembari menyetir mobil kesayangannya. Akhir-akhir ini dia memilih mobil sebagai kendaraan untuk menghindari dikenali para karyawan di perusahaan yang baru dia pimpin secara langsung beberapa bulan terakhir itu. Namun walau begitu sebenarnya Arthur sudah sedikit banyak faham dengan sistem dan cara perusahaan itu bekerja.


“Siapa?”, Farhan yang duduk di sampingnya mengerutkan alis karena tak tahu siapa yang Arthur maksud.


“Amira”, Arthur berbicara sembari memutarkan setir mobilnya cukup banyak saat hendak belok ke arah jalan masuk area perusahaan.


“Yaa, dia baik. Tidak buruk tapi tidak mengesankan juga”, Farhan merapikan poninya perlahan sembari berkaca di layar ponsel yang gelap.


“TEEEEETTTT!!!!!”, tiba-tiba Arthur menekan klakson berderet dan membuat Farhan terperanjat.


“Heii, aku mengatakan kenyataan tanpa maksud menjelaskannya!”, Farhan mengeluh sembari mengerutkan kening, sembari berpikir padahal Arthur biasanya tak pernah mempermasalahkan penilaian jujurnya mengenai Amira sebelumnya, bahkan saat dia berkata bahwa Amira memiliki penampilan biasa saja dan cenderung tak memiliki daya tarik menurutnya. Lalu biasanya Arthur hanya akan berkata ‘aah, begitu?, baguslah, kalau kamu menganggapnya cantik akan sulit untukku menganggap dirimu teman karena takut kamu akan merebutnya’. Seperti itulah Arthur biasanya, bahkan saat itu Farhan berpikir Arthur akan berkata ‘baguslah, kalau Amira bekerja terlalu bagus, aku takut dia akan terlalu banyak bekerja dan mendapat terlalu banyak perhatian dari orang lain’, begitulah Farhan berpikir Arthur akan menjawab.


“TEEEETTTTT!!!!, TEEETTTT!”, Arthur menekan klakson dengan lebih menyebalkan lagi, hingga Farhan dengan cepat menengok dan menyadari Arthur menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang terlihat buruk.


“Haaah yang benar saja”, Farhan mendecak sembari melemaskan ekspresinya yang tadi sempat mengira kalau klakson pemancing emosi itu untuknya. Namun pemikiran Farhan itu jelas terbantah saat Farhan melihat Amira yang sedang berduaan dengan seorang lelaki muda dengan ekspresi kaget yang mungkin persis seperti ekspresi dirinya tadi.


Farhan menatap Amira yang melihat ke arah mobil yang mereka tumpangi dan kemudian melihat ke arah jalanan yang terbuka lebar dan kemudian kembali menatap lelaki di depannya tanpa mempedulikan kecemburuan buta dari Arthur.


“TEEETTTT”, lagi Arthur menekan klakson seolah sepeda motor yang ada di depannya adalah mobil bus yang menghabiskan tempat dan menghalangi jalan.


Terlihat Amira dengan wajah di tekuk melambai-lambaikan tangannya yang jelas menyuruh temannya itu untuk lebih meminggirkan motornya lagi.


Melihat wajah kesal Amira itu bisa di tebak Arthur merasa Amira sedang berpihak kepada lelaki itu di bandingkan dirinya, padahal jika dipikir dengan nalar, Arthur jelas tahu bahwa kaca mobilnya terlihat gelap dari luar.


“TEEEEETTTTTT”, kini Arthur sepertinya sudah gila, sedangkan Farhan hanya berkali-kali menahan nafas, Farhan kemudian tak sengaja melihat seorang satpam mendekat dari belakang dengan langkah yang ragu-ragu dan ekspresi yang bertanya-tanya dari spion kiri.


“Sial!, bajingan!!”, celaan Arthur itu membuat Farhan membelalak, pasalnya Arthur adalah orang yang sangat jarang mengumpat bahkan saat berada di situasi yang sangat buruk sekalipun, itu karena Arthur cenderung menyakiti perasaan orang lain melalui perkataan halus yang menusuk.


“Haahhh”, Farhan mengeluh saat melihat Amira yang ternyata malah naik ke motor bersama lelaki itu dan pergi ke parkiran. Sementara Arthur menginjak gasnya sembari terus menerus menekan klakson dengan menyebalkan.


“Dasar gila!”, Farhan merungut pelan sembari memijat kedua sisi pelipisnya menggunakan satu tangan.


“Bukan cuma berpenampilan biasa saja, nasibnya yang terlahir memiliki ayah ringan tangan juga sangat malang,tak cukup kini dia harus menghadapi lelaki umur tiga puluhan yang baru pubertas sepertinya”, ucapan Farhan ini tentunya hanya di dengar oleh pikirannya saja, bahkan telinganya sendiri tidak mendengarnya.