The Hell

The Hell
Sebuah kebetulan



“Amira, kamu bisa coba kerjakan proposal outing untuk ulang tahun perusahaan bulan depan?”, Bu Jesi bertanya kepada Amira.


Beberapa detik sebelum menjawab, Amira menatap ke arah dua teman magangnya yang lain, yang ternyata memang sedang melihat ke arahnya.


“Oh, ah iya, akan saya coba”, Amira mengangguk setengah ragu namun di ikuti rasa semangat.


“Ini untuk referensi dari tahun lalu dan dua tahun lalu, kamu bisa contoh dan sesuaikan sendiri. Jika ada yang tak di mengerti atau sulit, kamu bisa tanya ke pak Ramlan yang duduk di ujung sana”, bu Jesi menunjuk ke arah seorang lelaki berumur tiga puluhan yang sedang tersenyum lebar kearah mereka berdua. Terlihat jelas dia seperti kegirangan, mungkin karena berpikir di tahun itu akhirnya dia akan menikmati outing lebih bebas di banding dua tahun sebelumnya. Hal itu karena jelas di dua proposal yang Amira baca, tertulis nama Ramlan di sana. Amira tertawa cekikikan saat menyadari situasi lucu itu.


“Pak maaf, boleh saya tanya beberapa hal?”, Amira bertanya dengan ragu setelah menghampiri pak Ramlan yang sedang duduk bersantai sambil mengompres mata lelahnya dengan air dingin.


“Oh iya kenap..pa..?”, Ramlan terdiam saat menyadari suara perutnya sendiri terdengar begitu keras.


“Ayo kita bicarakan di kantin”, Ramlan berdiri dari duduknya sembari membawa dompet di tangannya.


"Maaf ya, aku ga tahan lapar”, Ramlan meminta maaf kepada Amira sembari meniup isi sendoknya yang siap meluncur ke mulut.


“Ah tidak apa-apa, padahal nanti setelah pak Ramlan makan juga gak papa”, Amira tersenyum.


“Tidak, aku berniat menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin agar bisa cuti seminggu, minggu depan”, ungkap Ramlan yang memang sudah tersiar kabar bahwa orang itu akan menggelar pernikahan minggu depan.


“Oh iya”, Amira kemudian membuka beberapa lembar berkas yang dia pegang, dan kemudian bertanya tentang hal yang dia tak mengerti, sembari Ramlan menjawab dan menjelaskan pertanyaan dari Amira, Amira akan menandai dan membubuhkan keterangan dengan menggunakan pensil.


“Ada lagi?”, Ramlan bertanya dengan mulut yang di penuhi nasi, hingga pipinya menonjol ke salah satu sisi.


“Sampai sini sepertinya sudah pak, terimakasih banyak”, Amira menatap piring Ramlan yang hampir kosong tanpa sadar.


“Oh, bu Amira juga langsung makan saja, sudah jam istirahat”, Ramlan mengusulkan.


“Ah iya, sekalian saya menunggu Mawar dan Tya, biar bareng”, jawab Amira.


“Ohh, oh iya, apa kamu pernah masuk sejenis geng motor?”, tanya Ramlan tanpa ragu.


“Hah, ap?”, Amira kebingungan apakah dirinya harus jujur atau harus berbohong.


“Soalnya, kamu benar-benar familiar, setelah di ingat-ingat kamu mirip dengan salah satu anggota geng motorku dulu yang menampar-nampar mantan kekasihnya di tengah banyak orang, hahaha”, tubuh Ramlan bergetar menahan tawa.


“Hah?”, Amira ternganga dengan wajah memerah.


“Apa?, itu beneran kamu?”, Ramlan yang melihat wajah Amira memerah dan menyadari Amira yang salah tingkah tertawa terbahak-bahak.


“Pak Ramlan mantan anggota The Hell?”, Amira mencoba mengalihkan pembicaraan memalukan itu.


“Ya, aku di distrik tiga, tapi aku punya teman di distrik empat, dan siapa yang tahu aku melihat tontonan menarik hari itu karena ikut nongkrong dengan anak-anak distrik empat”, Ramlan sepertinya sangat senang menggoda Amira yang sudah semerah tomat.


“Aku dengar kamu bahkan jadian sama Arthur”, Ramlan melanjutkan percakapan yang menurutnya menarik sembari menghabiskan sisa makanan di piringnya.


“Hah, ah ya”, Amira menjawab sembari tersenyum tipis.


“Kamu dapat rekomendasi bekerja disini dari Arthur langsung?”, Ramlan bertanya.


“Tidak, memangnya apa hubungannya perusahaan dan Arthur?”, Amira bertanya perlahan sembari mencari inti dari pertanyaan Ramlan.


“Loh, kamu tidak tahu?, perusahaan ini kan sembilan puluh persen sahamnya milik Arthur, itu sudah bisa di artikan sebagai milik pribadi”, Ramlan menjelaskan setengah berbisik.


“Pak Ramlan masuk kesini dapat rekomendasi dari mana?”, Amira bertanya.


“Saat perpecahan The Hell, aku ada di kubu Arthur dan memutuskan keluar dari The Hell bersama dengan yang lain, walau jadi jarang kumpul tapi kami membuat grup yang berisi hampir sembilan ribu orang di aplikasi tele**am”, jelas Ramlan sembari dengan semangat memperlihatkan grup chat itu kepada Amira.


“Awalnya cukup sepi, dan hanya saling sapa biasa, tapi jadi memanas saat ada berita Arthur di tangkap polisi, dan akhirnya grup chat jadi seperti chanel terupdate tentang Arthur dan pembubaran The Hell serta penangkapan keluarga Allan”, Ramlan menjelaskan lebih banyak.


“Itu mengagumkan, aku jadi mengerti kenapa Arthur sempat beberapa kali melakukan himbauan keras kepada semua anggota agar tidak menggunakan narkoba, dan ternyata memang ada alasannya, dan hal itu menjadi konflik serius dengan keluarga gembong”, Ramlan sepertinya melupakan niatnya untuk cepat kembali bekerja.


Amira mendengarkan cerita-cerita itu sembari menscroll chat yang cukup ramai itu setelah meminta izin dari Ramlan.


“Jadi anda bisa masuk ke perusahaan ini karena dapat info lowongan kerja dari sini?”, Amira menebak-nebak karena dirinya tak sanggup menscroll chat yang sangat banyak itu, dan memutuskan mengembalikan ponsel milik Ramlan kepada pemiliknya.


“Ya, tak disangka ternyata ada gunanya juga aku masuk geng motor selain untuk hiburan”, Ramlan menjawab.


“Hah!, udah hampir jam setengah satu”, Ramlan berdiri dengan panik saat melihat jam di layar ponselnya.


“Oke bye Amira”, Ramlan bergegas menyimpan piring ke tempat pengumpulan piring kotor dan kemudian pergi meninggalkan kantin.


Amira melamun beberapa saat, dia mengingat-ingat bagaimana dirinya bisa tahu dan melamar ke perusahaan itu. Amira, dia dengan jelas ingat di rekomendasikan oleh dosennya bersama dengan beberapa teman kuliahnya, dan ada dua mahasiswa yang di terima menjadi karyawan magang, salah satunya di tempatkan di bagian akunting.


“Hmm, ini pasti kebetulan”, Amira bergumam sembari sebenarnya kesal, dia sempat berpikir mungkin Arthur meninggalkannya karena merasa Amira tidak selevel dengan Arthur. Tanpa di sadari, Amira terus membuat berbagai opini mengenai alasan Arthur benar-benar menyudahi hubungan mereka, namun saat Amira hampir menyimpulkan bahwa Arthur sudah tak lagi menyukainya, Amira segera berhenti memikirkan hal itu, karena perasaannya berdecit perih membayangkan hal tersebut.


“Kak!”, Terdengar suara mawar memanggil Amira yang sedang melamun.


“Oh sejak kapan?”, Amira segera beranjak saat menyadari Mawar, Tya, Rudi dan Azka sedang menatap ke arahnya dari meja sebrang.


“Kita sudah hampir setengah jam disini, tapi kakak terus fokus saat mengobrol dengan pak Ramlan”, Rudi menjelaskan.


“Sebentar”, Amira bergegas setengah berlari mengambil makanan dan kembali bergabung dengan persatuan pemagang di tim perencanaan itu.


“Apa yang kalian berdua bicarakan, pak Ramlan yang sering muram karena pekerjaan terlihat sangat riang dan bersemangat tadi”, Tya bertanya dengan penasaran.


“Oh, itu karena ternyata kita pernah satu perkumpulan”, Amira menjawab ragu.


“Hah?, perkumpulan apa?”, Azka tercengang karena agak sulit membayangkan Amira dan Ramlan memiliki hobi yang sama.


“Hmm, pecinta motor semacam itu”, Amira mencoba membiaskan kata geng motor.


“Kakak suka motor?, kakak punya motor?”, Azka tiba-tiba bersemangat.


“Ah ya, aku bolak-balik ke rumahkan pakai motor”, Amira menjawab.


“Memangnya motor kak Amira itu motor jenis apa?”, Azka mengerutkan alis saat dirinya mencoba mengingat-ingat kondisi parkiran yang jarang terlihat ada motor antik atau motor mencolok yang parkir.


“Motor bebek”, Rudi menjawab sembari menahan tawa.


Azka terdiam beberapa saat sembari menahan tawanya, terlihat dirinya merasa tak enak kepada Amira.


“Hahaha, tak apa ketawa aja”, Amira tersenyum dan di respon tawaan yang membeludak dari Azka dan Mawar entah kenapa.