The Hell

The Hell
Kekalahan Arthur



“Orang tadi siapa Mir?”, Rani berdiri di Ambang pintu kos sembari menatap Amira yang dengan susah payah memasukan motor besar milik Arthur ke dalam lingkungan kos.


“Kenalan”, Amira menjawab sekenanya.


“Ganteng yak”, Rani terkekeh menatap lekat ke Amira yang berjalan melewatinya memasuki kamar kos.


“Kenalan macam apa Mir?”, Rani kembali bertanya setelah menutup pintu kamar kos.


“Aku mandi duluan ya, udah ngantuk banget”,Amira tak menghiraukan pertanyaan Rani.


Pagi tiba, walau diluar masih terasa gelap, tapi Rani yang baru tersadar dari tidurnya mendapati Amira sudah memakai pakaian seragam kerjanya dengan rapi.


“Udah mau berangkat?”, Rani berbicara dengan suara serak.


“Iya, nanti antar kunci kamar ke mini market yang ada di persimpangan kampus ya”, Amira secara tidak langsung membiarkan temannya untuk tinggal lebih lama.


“Hemm”, Rani berdengung menjawab instruksi Amira sembari kembali merekatkan matanya yang memang masih sulit untuk di buka.


Siang hari membuat udara lebih hangat di banding pagi tadi, Amira melayani beberapa pelanggan sembari merasakan beberapa bulir keringat mengalir di punggungnya, padahal ada pendingin ruangan di sana, namun mungkin karena pelanggan yang cukup banyak Amira jadi lebih banyak bergerak secara intens.


“Terimakasih”, Amira mengantar pelanggan di hadapannya dengan ucapan terimakasih.


Amira terpaku beberapa saat, menatap mata yang sedang menatapnya juga.


“Ada yang bisa di bantu?”, Amira bertanya menyadarkan Arthur yang mematung terpaku menghalangi pelanggan lain yang sedang mengantri di belakangnya.


“Ah, i..ini”, Arthur mengambil coklat yang ada di hadapannya secara random.


“totalnya 23.000 rupiah pak, mau pakai kresek pak?”, ucap Amira setelah menscan barcode coklat itu.


“Tidak perlu”, Arthur menjawab sembari menyodorkan satu lembar uang.


“Baik, ini kembaliannya”, Amira menyodorkan kembalian beserta kunci motor Arthur yang memang sudah dia siapkan.


“Terimakasih”, Amira kemudian fokus kepada pelanggan lain yang memang sudah mengantri.


Arthur berjalan perlahan, menghampiri motornya yang memang sudah terparkir di depan minimarket itu.


“Haah”, Arthur menghela nafas panjang sembari menatap Amira dari luar minimarket.


Seminggu berlalu, Amira berjalan di gang menuju kosnya , dia melihat seorang lelaki berdiri di depan gerbang kosnya dari kejauhan.


Amira sudah mengira siapa itu, dan berniat mengabaikannya dan bergegas masuk ke kosan saja. Namun rencananya itu buyar, Amira setengah berlari menghampiri Arthur setelah dia melihat jelas ada banyak luka di wajah Arthur, terutama karena melihat tangan Arthur yang sedang memegangi pinggang di penuhi noda merah yang cukup banyak.


“Apa yang terjadi?”, Amira bertanya dengan panik menatap pinggang Arthur yang terlihat semakin jelas mengeluarkan banyak darah.


“Amira..”,Arthur berucap dengan suara yang bergetar, entah menahan air mata, atau menahan rasa sakit. Amira semakin panik saat melihat seberapa pucatnya Arthur malam itu.


“Arthur, ayo ke rumah sakit!”, Amira mengeluarkan ponselnya berniat memesan taksi online.


“Amira, hancur sudah semuanya..”,Arthur menutup layar ponsel Amira dengan tangannya yang lengket oleh darah.


“Mereka bersekongkol mengeluarkan ku dengan tidak adil, dan merebut semua yang sudah aku bangun selama ini”, Arthur mengeluh dengan suara yang tidak stabil.


“Kamu gila?, sekarang bukan waktunya untuk membahas hal seperti itu, nyawamu terancam!”, Amira menepis tangan Arthur sembari hampir berteriak menahan tangis.


“Arthur!!”, Amira yang memang sudah panik, semakin panik saat Arthur tersungkur di hadapannya.


“Arthur, bangun!”. Amira hampir menangis.


“Kenapa mba?”, seorang lelaki mengintip dari dalam gerbang.


“Ah, mas maaf, tolong..”, Amira dengan cepat meminta tolong.


“Ya ampun kenapa ini mba?”,beberapa penghuni kos yang lain ikut keluar, dan segera membantu Arthur, membawanya ke rumah sakit.


“Pasien mengeluarkan banyak darah, untungnya ada cukup persediaan darah yang cocok dengan pasien. Tapi Apa yang terjadi?”, dokter yang sedang mengecek kembali kondisi Arthur setelah sebelumnya dilakukan penanganan di IGD bertanya kepada Amira.


“Hmm, kamu juga harus berhati-hati, mungkin ada penyerangan begal, akhir-akhir ini sering terjadi pembacokan oleh begal. Bisa saja temanmu ini juga karena hampir di begal”, Dokter mengira-ngira sembari mengingatkan Amira, karena beberapa minggu ini sang dokter cukup sering mendapatkan pasien yang mendapatkan luka parah akibat serangan dari begal.


Amira menatap Arthur yang masih belum sadarkan diri dengan lekat, darah mengalir melalui selang intravena ke pembuluh darah di tangan Arthur.


“Haah”, Amira menghela nafas panjang sembari bersandar di kursi, memijat-mijat pelipisnya, menenangkan dirinya yang masih teringat seberapa panik dirinya beberapa jam lalu. Dan memutuskan untuk sedikit memejamkan mata.


“Kamu baik-baik saja?”, Amira bertanya sesaat setelah dia menyadari Arthur sadarkan diri.


“Ya”, Arthur menjawab dengan lesu.


Amira berjalan ke arah ranjang pasien yang di tempati Arthur.


“Sebaiknya kamu menyiapkan alasan kenapa kamu bisa di tikam di perut”, Amira berucap sembari menekan bel yang biasa digunakan untuk memanggil perawat.


“Teman saya sudah sadar kak”, Amira segera berucap saat seorang perawat masuk ke kamar rawat yang berisi 3 pasien itu.


“Oh”, sang suster segera kembali keluar dengan bergegas.


“Ada yang tidak nyaman?”, Dokter yang segera datang sesaat setelah perawat tadi memanggilnya memeriksa keadaan Arthur.


“Tidak”, Arthur menjawab, walau sebenarnya dia merasa ngilu setiap bergerak di area luka yang sudah di jahit.


“Jika ada yang aneh, seperti gatal-gatal, sesak nafas, nyeri atau jantung berdebar-debar secara berlebihan, segera panggil perawat”, dokter mengganti kantung darah yang sudah habis dengan yang baru.


“Terimakasih dok”, Amira berucap.


“Dimana ponselku?”, Arthur bertanya.


Tanpa menjawab Amira mengambil ponsel Arthur dari dalam ransel miliknya dan menyerahkannya kepada Arthur.


“Kamu bisa pulang”, Arthur berucap sembari menyalakan ponselnya.


“Dan apa yang akan kamu lakukan sendirian?”, Amira duduk di kursi.


Arthur menatap Amira beberapa saat,”berapa nomor rekeningmu?, biar ku ganti biaya rumah sakit yang sudah kamu bayar”, ucapan Arthur itu membuat Amira terdiam.


“Kukira kamu sudah kehilangan segalanya, tapi sepertinya kamu masih memiliki beberapa”, Amira menyalakan ponsel miliknya.


“Sudah ku kirimkan no rekeningku, totalnya 530.000, biaya pendaftaran , tindakan di IGD dan biaya jahit luka. Sedangkan biaya rawat inap, transfusi darah dan nanti mungkin ada infus, belum di bayar”. Amira menjelaskan dengan kesal, entah kenapa.


“Kamu bisa sendirian di sini?”, Amira kembali bertanya sembari mengaitkan ransel di pundaknya.


“Aku memanggil temanku”, Arthur mengalihkan perhatiannya ke ponsel di tangannya.


“Baiklah, kuharap kamu jangan muncul lagi di depan kos ku, merepotkan saja!”, Amira pergi keluar dari ruangan sembari bergerutu kesal.


“Kenapa juga datang ke kos ku?, kenapa tidak langsung ke rumah temanmu saja!, dasar menyebalkan!”, Amira masih melanjutkan gerutunya di lobi rumah sakit, tanpa sengaja Amira menatap tiga orang lelaki yang rasanya familiar. Setelah di ingat-ingat kembali Amira ingat kalau orang-orang itu adalah orang-orang yang seringkali dia lihat datang di rumah Arthur. Orang-orang yang lebih sering mengobrol dengan Arthur di gajebo di belakang rumah Arthur.


“Terserah lah”, Amira yang sempat terpaku itu kembali berjalan keluar dari rumah sakit.


“Amira, boleh bicara sebentar di belakang?”, Supervisor yang baru saja masuk ke toko berucap kepada Amira.


Amira menatap rekan kerjanya yang sedang membereskan produk, dengan peka lelaki muda itu berdiri dan menggantikan Amira yang sedang melayani di bagian kasir.


“Ada apa pak?”, Amira bertanya dengan gestur grogi, karena sangat jarang atasannya itu mengajaknya berbicara dengan serius.


“Kamu bersedia tidak, jika di pindahkan ke cabang di daerah XXX”, supervisor itu berucap tanpa basa-basi.


“Daerah XXX?”, Amira tanpa sadar kembali bertanya, karena sebenarnya walau masih di lingkungan yang sama, tapi cukup jauh jika pergi bekerja dengan berjalan kaki.


“Ya, pegawai di sana resign mendadak, jadi kami berniat mentransfer pegawai lama dari beberapa cabang lain yang paling dekat”, Lelaki paruh baya itu menjelaskan alasannya.


“Hmm begini pak, sepertinya kalau saya bekerja di daerah sana, saya harus mengeluarkan ongkos lebih. Kalaupun pindah kos, di daerah sana biayanya tak ada yang semurah tempat kos saya yang sekarang”, Amira mengemukakan keluhannya.


“Oh, tenang saja, selama di sana kamu akan mendapatkan insentif tambahan, karena kamu posisinya pegawai yang di pindah tugaskan, jadi kamu bisa pakai untuk kos atau bisa di pakai untuk transfortasi. Lagian cuma untuk sekitar tiga bulan”,Jelas san supervisor. Dan hal itu membuat Amira tak bisa menolak.