The Hell

The Hell
Berakhirnya masa-masa magang



Amira berdiri di dalam salah satu toilet, bibirnya melengkung dengan sudut yang jatuh ke bawah, beberapa kali bibir itu bergetar tak terkendali.


“Hkk, huuu”, Amira berusaha menenangkan dirinya, mencoba untuk mengusir kesedihannya yang tanpa dia sadari ternyata sangat menyakitkan.


Air mata tak bisa di bendung, wajahnya terasa panas karena di banjiri air mata yang terus keluar. Setengah jam Amira berdiri di bilik kamar mandi itu, Amira mencoba mengintip ke luar, dan memastikan tidak ada siapapun di toilet tersebut samain dirinya. Dengan cepat Amira berpindah ke area wastafel berjejer dengan cermin panjang terpampang di depannya.


Dengan terburu-buru Amira membasuh muka yang sudah berantakan itu, merasakan dinginnya air keran mengambil alih rasa tak nyaman sebelumnya.


“Haah, bisa gila aku”, Amira mendengus kesal kepada dirinya sendiri.


Padahal terakhir kali tak sesakit ini, tapi melihat Arthur bertingkah seolah benar-benar tak mengenali dirinya, membuat Amira benar-benar merasa kesal dan sakit.


Di banding berjalan ke arah kantin, Amira berbelok dan naik menggunakan lift, menuju ke ruang kerjanya, dan duduk di meja kerjanya, menelungkup sembari memejamkan mata. Tapi sialnya airmata hangat sepertinya belum juga reda.


Amira bergegas ke pantry dan membuka kulkas, dia mengambil sebuah kotak bertuliskan Tya, dan mengambil sebuah kompres mata.


“Pinjam kompres mata ya”, Amira mengirimkan pesan itu sebelum kemudian memakai kompresan itu dan bersandar di kursi kerjanya sembari menyilangkan tangan.


“Eh minggu ada festival musik, pergi bareng yuk”, terdengar suara Mawar dan yang lain mengobrol dan berjalan memasuki ruangan.


“Loh enak bet tu kayaknya kak Amira”, Mawar berceloteh saat melihat Amira yang masih di posisi yang sama seperti tiga puluh menit yang lalu.


“Amira dengan jelas merasakan beberapa pasang mata memandanginya, tapi dirinya terlalu malas untuk bereaksi atau menyapa teman-temannya saat itu.


“Mungkin sepuluh menit lagi”, Itulah yang Amira pikirkan, dan berusaha untuk terus berpura-pura tidur.


“Oh iya pak, siap.. baik”, suara bu Jesi yang sedang menerima panggilan itu membuat Amira terkejut. Tanpa di sadari dirinya malah beneran tertidur.


Amira melepaskan kompresan mata yang sudah tak dingin lagi, dan langsung menatap ke arah jam dinding menggantung.


“Hahh”, Amira memegangi area jantungnya yang terasa sangat berdebar, ternyata dirinya hanya tidur sekitar lima menit, dan masih ada lima menit lagi sebelum jam masuk kerja.


“Kak?”, suara seruan itu entah mengapa membuat Amira merasa kaget lagi. Mungkin karena Amira baru menyadari Azka berdiri di samping mejanya dan menatap Amira yang terlihat masih setengah sadar dari tidurnya.


“Y.. ya?, apa?”, Amira menjawab sembari meminum seteguk air dengan cepat.


“Kakak sakit?”, Azka bertanya.


“Hah?, enggak kok”, Amira menjawab sembari mengerutkan dahi karena bingung. Dan tiba tiba kursi kerja Amira di putar dari sisi lain, dan Amira mendapati Tya menatapnya dengan tangan yang masih memegangi pegangan kursi Amira.


“Waaah, kakak kelilipan cabai atau apa?”, Tya terlihat berekspresi berlebihan.


Amira mengambil cermin kecil di laci meja miliknya.


“Emangnya kenapa?”, Amira bergegas bercermin dan langsung menatap matanya. Mata yang memerah dan kelopaknya yang jelas bengkak tentu saja sudah Amira bayangkan, dirinya sebenarnya merasa pemandangan itu terlihat lebih baik di bandi keadaan matanya saat mencuci muka di toilet sebelumnya.


“Aahh, aku kayaknya tidur kelamaan”, Amira mengatakan kebohongan tak perlu itu entah mengapa.


“Apa?, ada perlu apa?”, tanya Amira saat menyadari Azka masih berdiri di sampingnya tanpa mengucapkan apapun dan hanya menatap Amira.


“Oh, monggo”, Amira menyerahkan penghapus kepada Azka lalu kemudian menyalakan komputer di depannya dan bersiap bekerja.


waktu terus berjalan, Amira tak pernah lagi berpapasan dengan Arthur sejak terakhir kali, dan hari itusudah hampir tiga bulan berlalu Amira dan teman-temannya magang di UTH Groupe, hari itu adalah hari yang di tentukan untuk penerimaan mereka sebagai pegawai tetap.


Amira dan Tya berjalan menuju kantor HRD. Sejak beberapa hari yang lalu, para anak magang itu memang terlihat gelisah dan lebih pendiam, mungkin karena memikirkan dan menebak-nebak apakah mereka lulus atau harus keluar dari perusahaan.


“Amira ya?, menurutmu bagaimana kamu bekerja selama tiga bulan terakhir?”, seorang pegawai HRD menanyai Amira sembari membereskan beberapa berkas.


“Oh, ya cukup baik bu, saya belajar banyak hal”, Amira menjawab.


“Hmm, sebenarnya kamu memiliki nilai yang cukup bagus, dan cukup kompeten dan bertanggung jawab juga”, orangan itu mulai mengungkapkan penilaiannya.


“Tapi pada akhirnya ini jadi keputusan kamu, kami bisa mengangkat kamu jadi pegawai tetap. Jika bersedia kamu bisa tanda tangani kontrak yang sudah kami persiapkan ini”, Amira di suguhi beberapa lembar kertas.


“A, oh saya pikir, saya akan menolaknya”, Amira menjawab dengan tenang, terlihat jelas bahwa Amira sudah memikirkannya.


“Benarkah?, coba pikirkan lagi dengan benar”, bagian HRD itu tampak tak menyangka Amira akan mengambil keputusan itu.


“Oh sebenarnya, saya sudah memikirkannya hampir selama sebulan terakhir”, jelas Amira yang memang sudah memutuskan.


“O, emm, tapi kamu masih memiliki satu tanggung jawab yang tertunda bukan?, jika dilihat dari data yang di berikan oleh bu Jesi”, bagian HRD itu terlihat agak gusar.


“Tanggung jawab?, aah tentang outing yang di undur”, Amira yang awalnya bingung, berhasil mengingat kegiatan outing yang entah kenapa di undur dua bulan.


“Oh tapi outing di kerjakan oleh saya dan pak Ramlan bersama, jadi saya kira tidak akan ada masalah, belum lagi terkadang bu Ratih juga membantu di beberapa hal”, Amira menjelaskan.


“Hmm, itu agak..”bagian HRD itu terlihat beberapa kali ragu berbicara.


“Saya kira anda bisa mencoba masa percobaan sampai outing berakhir”, ucap HRD.


Amira terdiam beberapa saat. Di dalam kepalanya, Amira memikirkan banyak hal, mengetahui perusahaan itu adalah milik Arthur sudah cukup membuat Amira tak nyaman, belum lagi kalau harus tak sengaja berpapasan dengan Arthur seperti saat mengejar bola basket, walau tak pernah berpapasan lagi setelah saat itu, tapi hal itu benar-benar tak nyaman.


Namun di sisi lain, saat melihat bagian HRD di depannya membicarakan tentang tanggung jawab proyek yang belum selesai, membuat Amira merasa tak enak juga.


“Emmm, kalau begitu apa saya bisa bekerja tanpa kontrak?, setidaknya sampai bulan depan, saat Outing selesai di laksanakan”, tanya Amira.


Bagian HRD itu terdiam beberapa saat, dan kemudian membuka mulutnya lagi.


“Baik, saya akan diskusikan hal itu dengan kepala HRD terlebih dahulu”, jelas bagian HRD itu, mengakhiri diskusi di antara mereka.


Amira berjalan ke arah pantry, dia berniat untuk mengambil beberapa minuman dingin sebelum kembali ke ruang kerja, Amira berjalan setengah melayang, pikirannya mengambang pada beberapa hal.


“memangnya Outing itu sepenting itu ya?, rasanya seperti sedang di suruh mengerjakan proyek dengan profit besar, padahal pada kenyataannya, kegiatan outing lebih terasa seperti liburan perusahaan”, Amira bergelut dengan pemikirannya.


“Hahh, apa aku terlalu menyepelekan?”, Amira merasa tak enak hati bersamaan dengan rasa kagum.


“Jadi begini ya bekerja di perusahaan profesional”, itulah ungkapan kekaguman yang Amira pikirkan. Walau di beberapa hal, Amira merasa ada hal yang salah.